
ERIKA POV
"POKONYA MULAI HARI INI! AKU TINGGAL DI RUMAH INI!"
Aku berteriak, dengan sorot mata tajam yang kutujukan kepada mas Adam.
Mas Adam diam tak bergeming, wajahnya nampak terkejut, namun tak ada tanda ia akan mengucapkan sepatah kata.
"Mulai hari ini, aku akan tinggal di rumah ini! Kamu bilang mau bersikap adil kan. Ya sudah, biarkan aku dan wanita itu tinggal serumah, agar kita bisa terus bersama setiap hari!" Jelas ku, merasa bahwa mas Adam masih belum mencerna semua ucapan ku.
Terlihat mas Adam yang kini menatapku dengan mata nyalang. Tapi, aku sama sekali tidak takut, niatku sudah bulat, aku bersumpah akan membuat hubungan mas Adam dengan Aisyah hancur, sehancur-hancurnya.
Tiba-tiba mas Adam menarik tanganku, "Ayo pulang!" Ujarnya.
Ku hempaskan tangannya itu, ku tatap wajah suamiku itu. "Aku tidak akan pergi kemana-mana, sudah aku bilang! Mulai hari ini aku akan tinggal di rumah ini!" Ucapku lagi.
Mas Adam terlihat menahan amarahnya. Ia terus menatapku dengan wajah merah padamnya.
"Erika ayo pulang! Mas tau mas salah, tapi tinggal bersama? Apa maksudmu!"
Aku tersenyum menyeringai. "Aku akan tinggal disini! Bukankah aku juga istrimu mas, rumah ini kamu yang beli kan mas, dan kamu itu suamiku juga, maka aku juga berhak untuk tinggal di rumah ini." Jelas ku.
"Aku tak mengerti apa yang kamu pikirkan! Jangan membuat keributan di sini! Dan jangan menambah-nambah masalah! Ayo pulang!"
Mas Adam kembali meraih tanganku, ia mencoba menarik ku keluar rumah. Aku mencoba melepaskan cekalannya itu, namun cekalan tangannya kini jauh lebih kencang dari pada sebelumnya.
Bak anak kecil yang tak mau di suruh pulang, aku mencoba melepaskan cekalannya, sedangkan mas Adam terus mencoba menarikku keluar rumah.
"Lepaskan aku mas!"
"Ayo pulang Erika! Pulang!"
"Aku gak mau mas! Biarkan aku tinggal disini! Lepaskan aku!"
Aku terus menerus berteriak, mencoba melepaskan diri dari mas Adam. Sampai akhirnya, suara wanita sok suci itulah yang membuat mas Adam seketika melepaskan cekalan tangannya dariku.
"Sudah! Cukup!" Teriak Aisyah.
"Lepaskan mba Erika mas, jika memang mba Erika mau tinggal di sini, aku tidak apa-apa, biarkan saja." Ujarnya, yang tentu saja membuatku tertawa puas di dalam hati.
"Aisyah!" Ucap mas Adam seperti tak setuju dengan keputusan wanita bodoh itu.
__ADS_1
"Aku gakpapa mas, lagipula mba Erika memang berhak tinggal di sini, dia juga istrimu mas. Jangan bersikap kasar kepadanya." Jawabnya lagi, seperti membelaku.
Tentunya aku sangat berterima kasih, namun pikirannya terlalu bodoh, membiarkan aku masuk ke dalam rumahnya, membuatku semakin dekat dengan rencana ku.
Aku memutar bola mataku jengah mendengar ucapannya yang terdengar seperti wanita baik. Padahal, nyatanya dia adalah wanita sok suci yang sudah merebut suamiku.
"Kamu dengar mas! Aisyah saja tidak keberatan! Kamu dengar apa yang dia bilang, aku ini istrimu juga, jadi aku juga berhak tinggal di sini." Timpal ku.
Mas Adam seperti tidak bisa membalas ucapan ku, aku terselamatkan karena kebodohan Aisyah.
"Aisyah, dengarkan mas. Kamu tidak perlu memaksakan jika tidak mau, lagipula Erika sudah punya apartemen." Ucap mas Adam kepada Aisyah, tetapi wanita bodoh itu malah menggelengkan kepalanya.
"Aku gakpapa mas, lagipula masih ada kamar kosong di lantai atas, mba Erika bisa tinggal di sini kalo mba mau." Jawabnya.
Aku pun mencoba tersenyum ke arah wanita bodoh itu. "Ya Tuhan, Aisyah kamu itu memang wanita yang baik sekali, kamu tahu bahwa aku juga berhak tinggal disini bukan, karena aku ini istri pertama mas Adam. Iya kan," ucapku dengan nada sedikit mengoloknya.
"Erika!" Bentak mas Adam kepadaku.
"Ya sudah, di mana kamarku? Di lantai atas?" Tanyaku, sembari membawa koperku.
Aisyah pun menunjukkan arah kamar yang bisa aku tempati, sungguh aku ingin cepat-cepat masuk ke dalam kamar untuk tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa ada yang wanita sebodoh Aisyah.
Membiarkan wanita lain masuk ke dalam rumahnya, ia benar-benar membuat rencana ku jauh lebih mudah.
AUTHOR POV
Kini Aisyah dan Adam tengah duduk berdua di ruang tamu. Setelah Erika pergi menuju kamarnya.
"Apa yang kamu pikirkan!" Bentak Adam.
Tentu Aisyah sedikit terkejut, tapi ia tahu mengapa bisa suaminya itu membentak dirinya.
"Aku baik-baik saja mas, lagipula benar apa kata mba Erika. Dia istri pertama mu, dia jauh lebih berhak tinggal di rumah ini." Balas Aisyah dengan wajahnya yang menunduk.
Aisyah tahu dirinya memang bodoh. Tapi, dirinya seakan teringat akan ucapan Adam tentang Erika yang adalah cinta pertamanya.
Hatinya seakan merasa layu, dirinya merasa rendah. Aisyah berpikir, mau bagaimana pun akhirnya Erika lah yang pertama untuk Adam.
"Arghhh... , aku benar-benar tidak percaya dengan pemikiran mu, bagaimana bisa kamu biarkan Erika tinggal di rumah ini. Dia memang istriku tapi, entahlah, Aisyah. Mas benar-benar di buat bingung dengan cara pikir mu." Ujar Adam.
Ia lalu meninggalkan Aisyah sendirian di ruang tamu. Tanpa ia tahu Aisyah tengah merutuki dirinya sendiri, sebenarnya Aisyah tak mau jika Erika tinggal serumah dengannya, namun hatinya seperti merasa menciut.
__ADS_1
"Apa yang aku lakukan ini benar?" Lirihnya.
Air mata kembali terjatuh, ia merasa bingung dengan keadaanya kini.
Akhirnya sehari itu, Aisyah menyibukkan dirinya dengan mengurus Ali. Tentu banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Ali ketika melihat Erika berada di rumahnya.
Aisyah pun mencoba menjelaskan hal itu dengan cara yang ringan agar Ali bisa mengerti.
Di hari itu, Adam sama sekali tak bertanya atau berbicara kepadanya. Aisyah tahu pasti Adam kesal, namun apa lagi yang bisa ia perbuat.
Sore hari pun tiba, setelah Aisyah melaksanakan ibadah sholat Ashar, tiba-tiba Aisyah mendengar Erika memanggilnya.
"Aisyah!" Teriak Erika.
Aisyah pun dengan cepat melepaskan mukena nya dan memakai kerudungnya lagi. Ia berjalan menghampiri Erika yang berada di dapur.
"Ada apa mba?" Tanya Aisyah.
Aisyah melihat Erika yang kini tengah duduk di meja makan sembari menatap kepadanya.
"Kamu gak masak? Biasanya jam segini mas Adam sama aku makan. Mending sekarang kamu masak deh, kamu kan istrinya mas Adam juga." Ujar Erika, menyuruh Aisyah untuk segera memasak.
Aisyah mengerutkan kedua alisnya, merasa ada yang tidak benar. Tanpa berucap kembali Erika akhirnya beranjak dan melenggang pergi meninggalkannya sendirian di dapur.
"Kalo udah selesai panggil aja yah!" Seru Erika sebelum pergi terlalu jauh.
Ada sedikit rasa kesal dan tak enak, Aisyah tahu dirinya memang istri Adam tapi, mendapati dirinya di suruh-suruh oleh Erika adalah hal yang tidak tepat.
Namun, lagi-lagi Aisyah hanya bisa bersabar dan menuruti apa yang di suruh Erika tadi. Ia langsung bersiap untuk memasak, menyiapkan makan malam.
Selama Aisyah memasak, Aisyah melihat Adam dan Erika yang tengah berbincang di ruang tengah, di mana letaknya tak begitu jauh dari dapur.
Ada rasa cemburu, melihat suaminya itu tengah bercanda ria dengan wanita lain.
Aisyah melihat Adam yang sesekali tertawa ketika mengobrol dengan Erika. Tak segan Erika menyandarkan kepalanya di bahu Adam, mereka seakan acuh dengan kehadiran Aisyah.
"Astaghfirullah," lirih Aisyah.
Sebuah pemandangan yang benar-benar membuat hatinya tersayat-sayat. Apalagi setelah pagi tadi Aisyah dan Adam sama sekali tak saling sapa, dirinya malah melihat Adam yang sangat dekat dengan Erika.
Membuat rasa cemburu yang begitu besar. Sedangkan Erika, tersenyum menang. Memang inilah yang ia harapkan, ia terus bergelayutan manja di dalam dekapan Adam.
__ADS_1
Berharap Aisyah melihat hal itu, Erika ingin Aisyah merasa cemburu dan tahu bahwa Erika lah wanita satu satunya yang Adam cintai.
"Kamu lihat Aisyah, mas Adam ini milikku! Lihat saja, aku akan membuat kalian berdua berpisah, dan mas Adam hanya akan menjadi milikku seorang." Batin Erika.