ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 46 Aisyah yang Berbeda.


__ADS_3


3 Bulan Kemudian


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, keadaan Aisyah semakin membaik walau masih tetap rutin check up, kini Aisyah sudah bisa menjalani rutinitasnya kembali.


Tak berlarut-larut dalam kesedihan dan keterpurukan ia memilih untuk memulai kembali hidupnya, berjalan ke depan melihat kembali akan sesuatu yang entah apa tengah menunggunya.


Walau sudah tak terbilang muda, paras Aisyah masih sangatlah cantik bak remaja-remaja lainnya, apalagi melihat dirinya yang kini hanya seorang diri sering membuat orang-orang terkejut jika tahu statusnya sebagai seorang 'janda'.


Mengisi hari-harinya yang kosong, Abi dan Ummi menyuruh Aisyah untuk pergi melanjutkan pendidikkanya. Namun, Aisyah merasa dirinya sudah sangat terlambat dan menolak usulan orang tuanya itu. Aisyah lebih memilih untuk ikut les privat jahit di salah satu butik kenalannya.


Aisyah juga memiliki hobi baru, membuatnya sering mengunjungi perpustakaan untuk sekedar membeli buku-buku baru yang hendak ia baca mengisi jam-jam jenuhnya di rumah.


Seperti kini, Aisyah berjalan menyusuri rak-rak tinggi berisikan buku yang beragam. Kerudung hitam yang menutupi kepalanya menjulur sampai ke dada, di serasikan dengan balutan gamis berwarna hijau botol di tambah tas selempang yang bertengger di tangan kirinya.


Terlihat bak seorang mahasiswi muda yang tengah mencari buku untuk mengerjakan makalahnya. Beberapa kali seorang lelaki muda berjalan mendekat berbasa-basi untuk meminta nomornya, beberapa kali pula Asiyah menolak dengan cara halus agar tak menyakiti perasaan lelaki-lelaki itu.


Aisyah tak menyadari ada dua sorot mata yang sedari tadi tertuju kepadanya dengan lengkungan di bibir tipis nan manis itu. Tak seperti lelaki lainnya, ia memilih diam mengamati Aisyah dari jauh, enggan untuk mengganggu waktu Aisyah yang tengah asyik sendiri.


Siapa gerangan pria itu?.


Rizal, pria yang tak juga lelah menunggu Aisyah untuk membalas perasaannya. Baginya, hanya dengan melihat wanita itu tersenyum dan menjalani kembali hari-harinya dengan gembira sudah menjadi suatu kebahagiaan.


Bukan artian Rizal puas menyukai Aisyah dalam diam, ia hanya menunggu waktu yang tepat. Sampai pada waktunya, Rizal tak akan berlama-lama menyimpan rasanya itu sendirian.


***


Apartemen Adam dan Erika


"ERIKA!" teriak Adam dari arah dapur.


Wanita yang kini masih berbalut piyama, menggeliat kecil saat mendengar teriakan yang lolos masuk ke dalam indera pendengarannya.


"CK! Masih pagi udah teriak-teriak aja sih Mas Adam!" kesalnya.


Erika bangkit walau dengan rasa kesal, ia segera berjalan menghampiri Adam yang sudah siap duduk di meja makan dengan raut wajah masam.

__ADS_1


"Apaan sih Mas?!" rutuknya.


Adam menoleh, menatap sinis istrinya itu yang masih bertanya ada apa, tanpa sadar jika kini jam sudah menunjukkan pukul 09.00 siang.


"Kamu gak lihat sudah jam berapa sekarang?!" ujar Adam sinis.


Erika mengucek sebelah matanya, menarik wajah untuk melihat jam di dinding. Bukannya terkejut, ia malah membuka lebar mulutnya menguap seakan tak begitu mengambil pusing semuanya.


"Jam 9, masih pagi kali Mas. Aku masih ngantuk Mas, apalagi semalem kan aku pulang jam 12. Mas tahu sendiri kan!" balasnya acuh balik menyembur Adam.


Erika berjalan dengan langkah lunglai menuju kulkas untuk mengambil air es, sedangkan Adam sudah tak tahan dengan sifat lengah juga malas istrinya itu.


BRAKK!


Erika menyemburkan air yang baru saja masuk ke dalam tenggorokan-nya. Ia terkejut bukan main saat Adam tiba-tiba menggebrak meja makan dengan sangat keras.


"SIAPA YANG SURUH KAMU KELAYAPAN SETIAP MALAM! ISTRI MACAM APA YANG KERJAANNYA PULANG LARUT MALAM SEPERTI ITU!" teriak Adam.


Adam beralih bangkit, menatap istrinya itu dengan tajam. Saking kesal dan marah ia sampai tak bisa berkata-kata lagi dan memilih berjalan meninggalkan Erika yang diam menatap punggung Adam dengan jengkel.


***


Cafe Mawar


Aisyah duduk di ujung Cafe, secangkir kopi latte menjadi teman setianya. Wangi kopi hangat begitu menenangkan, Aisyah fokus membalik lembar demi lembar kertas dari buku yang baru saja di pinangnya dari toko sebelumnya.


Denting bel menjadi penanda akan seorang pelanggan baru yang memasuki Cafe, namun Aisyah masih terus terpaku ke dalam tiap kata yang teramu di dalam bukunya.


Seorang pria memasuki Cafe dengan raut wajah masam, ia langsung memesan beberapa makanan berat juga secangkir kopi hitam untuk sarapannya. Hendak menunggu pesanannya, Adam si pria yang keroncongan dengan mood hancur menangkap sosok wanita yang sudah lama tak terdengar kabarnya.


Melihatnya yang terlihat baik juga semakin cantik di matanya membuat Adam tak jadi menjatuhkan bokongnya. Ia memilih berjalan mendekat walau dengan berat hati takut jika wanita itu menolaknya.


"A-aisyah," panggilnya ragu.


Aisyah yang merasa di panggil menoleh, menengadah melihat siapa gerangan pria yang kini tersenyum kikuk dengan kedua tangan tertaut seakan menahan rasa canggung.


"Mas Adam?" ujar Aisyah.

__ADS_1


"Boleh Aku duduk disini?" tanyanya sedikit ragu.


Aisyah menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, melihat masih banyak meja kosong di Cafe tersebut. Walau dulu pernah menjadi seseorang yang begitu dekat bahkan berstatus sebagai suaminya, tapi Aisyah tak bisa mengelak bahwa kini Adam hanyalah orang lain yang tak lagi memiliki ikatan apapun dengan dirinya.


"Masih banyak tempat kosong, Mas bisa duduk di bangku lain." Aisyah berucap dengan acuh enggan memperpanjang obrolannya.


Adam menggaruk kepalanya, merasa semakin canggung tapi memberanikan dirinya untuk segera duduk di hadapan Aisyah yang kini menatap jengah ke arahnya.


"Sebentar saja, sampai pesananku sampai." bujuk Adam, Aisyah hanya diam enggan membalas.


Adam melihat Aisyah yang kini semakin berparas cantik, ia juga terlihat bahagia. Tak seperti dirinya yang setiap hari merasa mumet dengan pikiran pekerjaan juga masalah-masalah kecil yang selalu di timbulkan oleh Erika.


"Bagaimana kabar Abi dan Ummi?" tanya Adam mencoba memecah keheningan.


"Baik."


Adam tersenyum tipis, Aisyah membalas tanpa melepaskan pandangannya dari buku yang bertengger di kedua tangannya.


"Bagaimana dengan kamu?" Adam kembali mengajukan pertanyaan.


Kini Aisyah menutup bukunya dengan sedikit keras sampai-sampai mengeluarkan bunyi yang mengejutkan Adam. Aisyah segera memasukkan bukunya itu ke dalam tas, ia juga segera bangkit seraya menatap Adam.


"Aku sangat-sangat baik Mas, dan juga sepertinya Mas lupa bagaimana hubungan kita setelah bercerai."


Adam ikut bangun, ia menggelengkan kepalanya enggan membuat Aisyah merasa terganggu. Adam hanya ingin mengobrol ringan, menyapa Aisyah yang sudah lama tak berjumpa.


Namun, nyatanya Aisyah masih belum melupakan semua kenangan-kenangan menyakitkan yang telah Adam berikan.


"B-bukan, Aisyah, apa kita tak bisa bersikap layaknya teman walau sudah bercerai?" ujar Adam menahan langkah Aisyah yang hendak pergi.


Satu tarikan di sudut bibir Aisyah terpampang jelas, ia tersenyum sinis seraya menoleh ke arah Adam.


"Teman? hahaha," tawa Aisyah geli.


"Kita bercerai bukan dengan cara yang baik, ataupun alasan yang baik, dan aku harap Mas ingat hal akan itu."


Adam hanya bisa melihat punggung wanita yang begitu ia rindukan, wanita yang dulu selalu bersama bahkan bermanja ria kepadanya. Namun, kini ia serasa melihat Aisyah yang berbeda, yang begitu jauh tak bisa ia raih.

__ADS_1


__ADS_2