
Sirine ambulance memekakkan telinga, sebuah brankar turun dengan tubuh mungil yang kini terbaring lemas bersimbah darah. Aisyah ikut turun dari dalam mobil, melangkah cepat mengikuti brankar yang di dorong masuk ke dalam Rumah Sakit.
"Ali, nak, Ali sayang harus kuat yah nak," ucap Aisyah beberapa kali sembari memegangi tangan mungil yang terasa dingin.
Aisyah kini hanya bisa menatap nanar kepada sosok putranya yang tengah di tangani tenaga medis, jantungnya terasa berdebar dengan kencang, nafasnya memburu tak karuan.
Ia ketakutan, kaki dan tangannya bergetar tak kuat menahan semua yang telah terjadi. Aisyah limbung, tak kuat menahan rasa sesak di dadanya.
Untungnya, sebuah tangan dengan sigap menahan tubuh Aisyah.
"Aisyah, sadar!"
Aisyah menoleh, melihat wajah yang kini menatapnya khawatir, air mata yang sudah kering kini kembali bercucuran.
"Mas, tolong Mas, selamatkan Ali Mas, Mas Rizal pasti bisa kan selamatkan Ali Mas,"
Aisyah memohon, mengguncang tubuh pria yang kini hanya bisa menatapnya dengan raut wajah iba.
"Aisyah, tenangkan dirimu, Ali sedang di tangani. Kamu harus tenang dan bersabar, kita berdoa semoga Ali baik-baik saja,"
Rizal menatap kedua bola mata yang terlihat hampa itu, mencoba menenangkannya. Aisyah terlihat begitu menyedihkan, ia beralih menatap putranya yang masih di kelilingi banyak tenaga medis.
Dengan air mata yang terus-menerus tak ada habisnya, baju yang kini di hiasi noda merah, membuat orang akan langsung menatapnya dengan tatapan iba.
Rizal mencoba membawa Aisyah untuk duduk, menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Tak lama, suster mengabari jika Ali harus cepat mendapatkan tindakan operasi, tanpa banyak bicara Aisyah mengangguk menyetujuinya, ia hanya ingin putranya itu selamat.
Kini, Aisyah hanya bisa terduduk lemas, menatap nanar kepada pintu yang tertutup. Tak bisa melihat putranya yang kini berjuang sendirian melawan rasa sakit di dalam sana.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Rizal.
Aisyah menunduk, tak kuat mengangkat wajahnya menatap Rizal.
Ia menggeleng, "A-aku tidak tahu Mas, kejadiannya begitu cepat, tiba-tiba Ali mendorongku, membuatku jatuh ke pinggir jalan, melihatnya-"
Suaranya tercekat, mengingat kembali apa yang sudah terjadi. Melihat putranya itu tertabrak di depan matanya sendiri, sungguh memilukan.
"Dia melakukan itu karena aku Mas, A-ali tertabrak karena aku, a-aku tidak bisa menjaganya Mas," Aisyah terus menangis, merutukki dirinya yang tak bisa menjaga putranya itu.
Rizal menghembuskan nafasnya berat, ia memberanikan diri untuk duduk di samping Aisyah.
"Jangan menyalahkan diri seperti itu, Ali melakukan hal itu karena menyayangi Ummanya. Aku yakin, Ali pasti kuat, ia bisa melewati hal ini demi Ummanya." ujar Rizal.
Pintu operasi terbuka, menampakkan suster yang kini terlihat cemas.
"Maaf Bu, kita butuh donor darah secepat mungkin, apa ada keluarga pasien yang memiliki golongan darah sama seperti pasien?" Suster itu bertanya dengan mimik cemas.
Aisyah yang mendengar hal itu di buatnya panik, ia dengan cepat berpikir, siapa yang memiliki golongan dara sama seperti Ali.
"Mas Adam!"
Aisyah teringat bahwa Adam memiliki golongan darah yang sama seperti Ali, ia dengan cepat merogoh tasnya, mencari benda pipih itu untuk segera menghubungi suaminya.
***
Di sisi lain, kini Erika tengah terdiam di dalam mobil, menenangkan dirinya sendiri.
Erika terkejut melihat Ali yang tiba-tiba muncul di samping Aisyah, ia berniat menghentikan mobilnya, tapi semuanya terlambat.
Akhirnya tabrakan itu tak terhindarkan, tubuh mungil itu terpental ke depan, membuat Erika terbanting ke depan setir karena berusaha menginjak rem. Erika terpaku, melihat Ali dari kaca mobilnya, melihat putra dari suaminya itu yang kini terbaring tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari kepalanya.
Tangan Erika bergetar, takut melihat apa yang sudah ia lakukan. Nafasnya tersengal tak beraturan, ia melihat sekitar, tidak banyak orang yang melihat kejadian ini.
Dengan sedikit kesadaran, Erika langsung saja memundurkan mobilnya, lalu menginjak pedas gas melarikan diri dari perbuatannya.
__ADS_1
Erika kini mengacak rambutnya frustasi, mengingat apa yang baru saja ia lakukan, ia terus menoleh ke kiri dan ke kanan, takut jika saja ada orang yang mengikutinya.
"Gak! gak mungkin, gak mungkin aku nabrak anak laki-laki itu!" gumam Erika, mencoba mengelak dari perbuatannya.
"A-aku gak sengaja, lagipula gak ada yang lihat, mereka pasti gak tau!"
Erika mencoba menenangkan dirinya, berharap tak akan ada yang tahu akan perbuatan kejinya itu.
"AKHHH!"
Erika berteriak kesakitan, merasakan sebuah rasa sakit yang kini menjalar di perutnya. Ia meremas perutnya, menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
Mata Erika membulat, merasakan sebuah cairan yang turun ke kakinya, Ia dengan cepat menunduk, memastikan apa yang terjadi.
Erika tercekat, melihat darah yang kini menghiasi kakinya. Erika menggeleng, tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Ng-gga, gak mungkin! kenapa aku berdarah seperti ini!"
"Akhh!"
Dengan tangan yang bergetar, Erika mencoba meraih tasnya, mencari ponsel untuk segera menghubungi suaminya.
"Mas, angkat Mas!"
Erika frustasi di buatnya, Adam tak kunjung mengangkat panggilannya.
"Mas! angkat Mas!"
***
Kini, Adam tengah sibuk melakukan rapat dengan kliennya, karena klien ini adalah salah satu klien pentingnya. Adam sedari awal sudah memilih mode silent di ponselnya.
Membuatnya tak mengetahui, jika kini kedua istrinya tengah berjuang untuk menyelamatkan putra dan calon anaknya.
Ponsel terus bergetar, namun Adam sama sekali tak mengindahkannya, ia hanya fokus menjalani sesi rapat ini dengan tenang dan damai.
Adam bergegas mengecek ponselnya, melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari kedua wanita yang sangat berarti di hidupnya.
Jelas Adam kini bingung, ia menjadi was-was apa yang terjadi, sehingga membuat keduanya berburu menghubungi dirinya.
Adam mencoba membuka pesan, namun satu panggilan masuk, membuat Adam langsung saja mengangkatnya.
"Mas! Mas tolong Mas,"
Adam terkejut, ia mengerutkan keningnya, mendengarkan jelas apa yang istrinya itu ucapkan.
"Kenapa? kamu dimana sekarang?" Adam bangkit dari duduknya, bersiap pergi setelah mendengar balasannya dari salah satu istrinya itu.
"Gilang! berikan kunci mobil!"
Adam menerima kunci mobil tersebut, ia langsung saja pergi melajukan mobilnya dengan hati yang cemas.
Sampailah Adam di sebuah jalan, ia melihat mobilnya terparkir di pinggir jalanan tersebut. Adam dengan cepat berlari, melihat Erika yang kini terduduk lemas di dalam mobil.
"ERIKA!" teriak Adam, terkejut melihat kondisi istrinya yang sudah tak berdaya itu.
"Mas, tolong Mas, selamatkan calon anak kita Mas," Erika berucap lemas dengan air mata yang kini membasahi pipinya.
Adam dengan sigap langsung membawa Erika ke dalam pangkuannya. Membawanya masuk ke dalam mobil, ia langsung saja melajukan mobilnya, membelah jalanan menuju rumah sakit.
Di sepanjang perjalanan, ponsel Adam terus-menerus bergetar, menandakan sebuah panggilan masuk.
Namun, karena panik dan cemas akan keadaan Erika, Adam tak mengindahkan panggilan tersebut dan beralih fokus kepada Erika.
Tanpa Adam ketahui, jika kini dirinya tengah mengabaikan satu panggilan yang akan memutuskan nyawa putra kecilnya.
__ADS_1
Aisyah gusar, ia terus saja melajukan panggilan itu sampai beberapa kali, berharap Adam akan mengangkatnya.
"Mas! angkat, dimana kamu Mas!" Aisyah terlihat frustasi, ia semakin panik ketika salah satu Dokter ikut keluar dari ruang operasi, menanyakan kabar tentang donor darahnya.
Rizal mencoba maju, ia bertanya kepada salah satu teman Dokternya itu, apa donor darah yang di butuhkan. Namun, apalah daya Rizal tak dapat membantu untuk kali ini.
Donor darah bagi pasien bergolongan darah O memang sulit, mereka bisa melakukan transfusi darah kepada banyak gol darah lainnya, tetapi tidak bisa menerima transfusi dari golongan darah lain, selain golongan darah O.
"Aku akan coba umumkan, semoga saja ada salah satu orang di Rumah sakit ini yang memiliki golongan darah yang sama."
Rizal berlari, mencoba mencari orang yang bisa mendonorkan darahnya. Aisyah Kemabli terduduk lemas, ada rasa marah dan kecewa melihat nama suaminya yang terus tertera di layar ponselnya itu.
"Kenapa kamu gak angkat Mas? Ali butuh kamu Mas," lirih Aisyah.
***
Adam berjalan sembari memangku Erika ke dalam rumah sakit, ia langsung meminta pertolongan kepada suster.
Erika langsung saja di pindahkan ke brankar, ia di bawa menuju ruang tindakan karena pendarahannya yang sudah sangat banyak.
Adam kini hanya bisa berdiri, melihat Erika yang tengah di tangani medis, ia terus-menerus berdoa semoga Erika dan calon anaknya baik-baik saja.
Padahal, ada anaknya yang kini membutuhkan dirinya, membutuhkan sosok Abi nya. Di dalam rumah sakit yang sama, Adam tak tahu jika putranya itu tengah berjuang sendirian mempertahankan hidupnya.
Adam terus saja fokus menemani Erika, mengacuhkan semua panggilan yang terus-menerus masuk ke dalam ponselnya.
"Maaf, janin yang di kandung Bu Erika tidak dapat terselamatkan."
Erika dan Adam seketika melemas, mendengar penuturan Dokter yang mengatakan bahwa calon anaknya kini telah pergi.
Benturan yang terjadi di saat Erika menginjak rem tadi membuat perutnya terbentur sedikit keras ke depan setir. Kini, Erika langsung mendapatkan balasannya, mendapatkan balasan karena membuat anak orang lain terluka.
Erika termenung, terdiam menatap sendu ke arah perutnya. Ia mengepal kesal, "Ini semua karena Aisyah! jika saja dia tidak muncul di hadapanku, aku tak akan kehilangan janinku!"
Erika membatin, menyalahkan semuanya kepada Aisyah, tanpa ia sadari jika perbuatannya juga sudah membuat seorang Ibu kehilangan anaknya.
Benar, Ali tak dapat di selamatkan.
Aisyah jatuh di depan pintu operasi, tubuhnya seketika lemas, air mata tak dapat lagi keluar, hidupnya seakan berhenti, mendengar penuturan Dokter yang memberitahukan bahwa kini putranya sudah pergi untuk selama-lamanya.
Hancur,
Hancur sudah semuanya, Aisyah tak lagi bisa berpikir jernih. Ia kini hanya bisa terdiam, mencoba menetralisir semua kejadian yang terjadi begitu cepat ini.
Kepalanya terasa kosong, tak lagi bisa berpikir, entah apa yang harus ia lakukan sekarang.
Rizal yang baru saja mendapat kabar, langsung berlari kembali menuju ruangan operasi.
Di sana, ia melihat Aisyah yang kini terduduk lemas tak berdaya, kedua Dokter di hadapannya hanya bisa menunduk meminta maaf, ikut prihatin dengan apa yang sudah terjadi.
Rizal ikut terdiam, hanya bisa menatap punggung wanita itu dengan tatapan sendu. Tak ada keberanian untuk mendekat, kakinya terasa berat untuk melangkah.
Padahal saat ini, Rizal sangat ingin berlari dan membawa tubuh Aisyah ke dalam dekapannya, menenangkan wanita yang tengah hancur itu.
Namun, apalah daya, Rizal cukup paham dan sadar diri siapa dirinya itu. Rizal hanya bisa diam mengamati Aisyah dari jauh, berharap wanita yang ia cintai itu bisa kuat menerima semua ini.
Dari kejauhan, terdengar derap langkah kian mendekat. Ia menoleh, melihat Adam yang baru datang setelah semuanya selesai, tak ada yang bisa ia ubah, keterlambatannya membuat satu kenangan pilu yang tak akan pernah bisa Aisyah lupakan.
"Aisyah!"
Adam melangkah mendekat, mencoba membawa Aisyah ke dalam dekapannya. Ia sangat terkejut dengan semua panggilan juga pesan yang baru ia baca beberapa saat yang lalu.
Membuatnya langsung berlari berharap masih bisa menyelamatkan putranya itu.
Tapi,
__ADS_1
"Sudah terlambat Mas," Aisyah berucap dengan nada yang memilukan.