ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 25 Bukan Aku Mas!


__ADS_3

Erika menghentakkan kakinya kesal, di kamarnya ini, kini ia harus tidur sendirian dalam dinginnya malam.


Tak ada Adam yang menemaninya, Erika tentu kesal, di hari yang spesial ini, di hari ia tahu bahwa dirinya tengah mengandung, Adam malah meninggalkannya sendirian.


"Bukan ini yang aku mau!" Gerutunya tak terima.


Wajah yang memerah menahan amarah, kesal juga tangis, rasa yang bercampur aduk, tak terima dengan keputusan sang suami yang lebih memilih tidur dengan madunya.


"Kenapa sih mas! Selalu saja Aisyah yang kamu perhatikan, aku ini istri pertama kamu. Harusnya malam ini kamu tidur di sini, memeluk aku dengan erat, mengelus perutku yang akhirnya mengandung anakmu!" Erika terisak, merasa kecewa.


Erika tak bisa terus seperti ini, ia menggeleng, tak ingin terus hidup untuk berbagi suaminya dengan Aisyah.


"Aku gak bisa terus seperti ini! Aku harus bisa pisahkan mas Adam dengan wanita sok alim itu!" Pikirnya.


"Aisyah pasti cemburu, karena itu dia pura-pura sakit sampai aku di tinggal seperti ini oleh mas Adam! Ini semua pasti tipu dayanya agar mas Adam jauh dariku!" Seru Erika.


Ia terus melangkahkan kakinya, berjalan mondar-mandir tak tenang hati. Ia berpikir harus mencari cara untuk memisahkan suaminya itu dengan Aisyah.


"Aku harus bisa memisahkan mereka berdua, aku gak mau terus hidup seperti ini! Mas Adam itu hanya milikku seorang!"


"Tapi apa?" Ia terus berpikir, memikirkan cara untuk memisahkan madunya itu dari suaminya.


Tak lama, sebuah seringai tercetak di bibirnya, berlanjut dengan sebuah tawa yang memecah keheningan di kamarnya itu.


"Benar!" Serunya seakan sudah tahu apa yang harus ia lakukan.


"Dengan hadirnya janin di dalam perutku ini, aku harus bisa memanfaatkannya." Erika tersenyum lebar, ia membawa tangannya mengelus lembut perutnya.


"Aku akan buat kamu menjadi milikku seutuhnya mas," seringainya.


"Jangan salahkan aku, tapi ini adalah keinginan anakmu mas, dia tak mau melihat ayahnya dekat dengan wanita selain ibunya." Kini Erika bisa duduk dengan tenang di ranjangnya.


Memikirkan cara selanjutnya untuk menyukseskan rencananya.


"Aku akan menjauhkan kamu dari wanita sok alim itu, aku harus segera membawamu pergi dari rumah sialan ini!" Erika terus memikirkan dengan matang rencananya.


"Agar kamu tidak punya waktu dengan Aisyah, dan akhirnya berpisah untuk selamanya!"


"Hahaha....." Ia tertawa, begitu senang dengan rencananya.

__ADS_1


"Lihat saja Aisyah, aku yakin, kamu tidak akan hidup bahagia, sebelum kamu pergi dari kehidupanku dan mas Adam, aku bersumpah!"


Malam itu, Erika tak ada hentinya bersenang hati, memikirkan esok di saat ia akan melakukan aksinya. Berusaha untuk membuat Adam jauh dari Aisyah.


Malam pun berganti, menjadi awal bagi hari yang baru. Di pagi itu, adzan subuh berkumandang, Aisyah terbangun dalam pelukan suaminya.


Ia mengembangkan senyuman tipis, merasa senang melihat Adam yang masih memperdulikannya. Memilih menemaninya malam itu, walau harus mendapat sebuah kekesalan dari Erika.


"Terima kasih mas," lirihnya, Aisyah membawa tangannya mengusap lembut wajah tampan suaminya.


"Mas," Aisyah mencoba membangunkan suaminya itu.


"Sudah adzan mas, ayo kita sholat," ajaknya.


Adam pun mengerjap, perlahan ia buka matanya itu, mendengar suara Aisyah yang sangat lembut.


Pagi itu menjadi awal yang baik bagi Adam juga Aisyah, berbeda dengan Erika yang tidak bisa tidur nyenyak semalaman karena memikirkan suaminya.


Tapi, Erika tentu tengah tersenyum menyeringai kini, memikirkan hal yang akan menjadi awal hancur rumah tangga Aisyah dan Adam.


Seperti biasa, setelah Aisyah menunaikan ibadah sholat subuh, ia segera pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Setelah beberapa saat, Erika yang baru keluar dari kamar melihat Aisyah yang masih berkutik dengan peralatan masak.


Seringai terpampang jelas di wajahnya, ia lalu melangkah mendekat ke arah Aisyah. Entah apa yang ada di pikirannya, yang ia mau adalah menghancurkan Aisyah secepat mungkin.


Di saat Aisyah sibuk memotong-motong sayuran, Erika yang selesai dengan secangkir teh panasnya kini membawa teh itu, ia menatap Aisyah yang fokus dengan sayurannya.


Tak berlama-lama, Erika melangsungkan aksinya, "Akhhhh!" Teriak Erika.


Ia pura-pura terjatuh di hadapan Aisyah sembari menumpahkan tehnya sendiri ke atas tubuhnya. Tentu, Aisyah terkejut, ia langsung mencoba membantu Erika.


Namun, Aisyah tidak tahu bahwa itu hanyalah tipu daya muslihat Erika saja. Erika terus berteriak kesakitan sembari memegangi perutnya.


"Akhh! Sakit! Tega yah kamu Aisyah! Keterlaluan!" Ucapnya, seakan membuat Aisyah menjadi sosok yang telah melakukan hal kejam.


Aisyah terkejut, ia tergagap, bingung dengan apa yang Erika ucapkan.


"Ma-maksud mbak apa?" Bingungnya.


"Kamu pasti cemburu kan, melihat aku yang kini mengandung anak mas Adam!" Teriak Erika, menyuguhkan akting yang luar biasa.

__ADS_1


Dan, drama yang di buat Erika tidak sia-sia, Adam berlari dari ruang tamu menuju dapur, ia melihat Erika yang kini duduk bersimpuh sembari memegangi perutnya.


Tentu saja, ia juga mendengar semua kata yang terucap dari bibir palsu Erika.


"Jahat kamu Aisyah! Tega kamu, kenapa kamu sampe berbuat seperti ini!" Lanjut Erika yang masih terus mencoba membalikkan keadaan.


"Mbak, saya gak punya niat jahat sama mbak, lagian mbak jatuh sendiri, saya juga gak pernah iri dengan hamilnya mbak!" Balas Aisyah tak terima.


Adam langsung berjalan mendekat, ia membawa tubuh Erika untuk bangkit terlebih dahulu, dan membawanya menuju kursi meja makan.


"Kamu gakpapa?" Tanya Adam, ia menatap Erika dengan sangat khawatir.


"Mas! Sakit mas! Aisyah buat aku jatuh, ia juga siram aku pake teh panas! Dia gak suka aku hamil anak kamu mas!" Jelas Erika.


Seketika mata Aisyah membulat, terkejut dengan penuturan yang keluar dari mulut Erika. Aisyah dengan cepat mengelak, tentu saja ia tidak melakukan hal seperti itu.


"Gak mas! Aku gak mungkin lakuin hal seperti itu mas, mbak Erika itu jatuh sendiri, dia juga yang numpahin teh nya sendiri mas!" Aisyah mencoba membela dirinya.


Adam menoleh, menatap Aisyah, tetapi tatapan yang Adam berikan adalah tatapan tajam yang kini membuat Aisyah seketika menciut.


Ia tahu bahwa suaminya telah termakan dengan bualan Erika. Adam terus menghunuskan pedangnya yang tajam itu, menatap Aisyah tanpa berpikir panjang.


"Apa-apaan kamu ini Aisyah!" Adam membentak Aisyah, membuatnya kini semakin menciut.


Kecewa, suaminya tak lagi mempercayainya. Aisyah menggeleng, masih mencoba meluruskan semuanya.


"Mas, percaya sama aku mas, aku gak mungkin lakuin hal seperti itu,"


Erika tersenyum kecil, melihat Adam yang mempercayainya, "aw, mas sakit mas, perut aku sakit, mas, mana mungkin aku celakain diri aku sendiri mas?" Elak Erika.


"Mas tahu kan, aku sangat menginginkan anak ini, mana mungkin aku berpikir untuk melukainya, gak mungkin aku menyiramkan air panas itu ke perutku mas!"


"Aisyah mas! Aisyah yang sudah lakukan semua itu, aku yakin dia cemburu!" Erika terus-menerus memojokkan Aisyah.


"Jahat kamu Aisyah, mas tidak pernah berpikir kamu bisa bersikap seperti ini!" Adam semakin merasa marah, mendengar penjelasan yang Erika buat.


"Mas benar-benar tak habis pikir! Ternyata, mas sudah salah menilai, nyatanya, kamu tak lebih baik dari Erika!"


Aisyah terdiam, tersentak dengan ucapan suaminya. Air mata lolos begitu saja dari matanya, sebegitu marahnya Adam sampai mengucapkan kata yang kini menggores luka di hati Aisyah.

__ADS_1


Ia menunduk, tak tahu lagi harus berkata apa, toh, mau menjelaskan apapun, suaminya itu tidak akan percaya.


Sebegitu besar cinta Adam kepada Erika, sampai Aisyah tak lagi terlihat di mata Adam.


__ADS_2