
Di saat adzan Maghrib berkumandang, di saat itu juga lah Aisyah baru saja selesai memasak. Setelah semua siap tertata rapih di meja makan, Aisyah berniat untuk memanggil Adam, mengajaknya untuk menunaikan ibadah sholat Maghrib juga memberitahukan bahwa makanan sudah siap.
Aisyah berjalan menuju ruang tengah, di sana Aisyah melihat Adam yang masih duduk bersaingan dengan Erika.
"Mas, makan malam nya sudah siap. Mas mau makan atau sholat dulu?" Seru Aisyah, sembari bertanya kepada suaminya itu.
Adam menoleh, ia melihat Aisyah yang berdiri di sampingnya. "Kita sholat berjamaah dulu saja." Jawab Adam.
Aisyah pun mengangguk, mengiyakan jawaban suaminya itu. Namun, di saat Adam hendak bangun, Erika tiba-tiba melingkarkan tangannya di lengan Adam.
"Aku laper mas, kita makan dulu aja yuk." Ujar Erika.
Aisyah yang baru saja melangkahkan kakinya kini terhenti, ia kembali menoleh ke belakang. Melihat Erika yang kini bergelayutan manja di lengan suaminya.
"Astaghfirullah," lirih Aisyah, ia langsung saja meneruskan langkahnya menuju kamar Ali, berniat mengajak puteranya itu untuk ikut melaksanakan sholat Maghrib.
"Erika, lebih baik kita sholat Maghrib dulu yah, lagian sholat Maghrib itu gak makan waktu lama ko." Balas Adam, membujuk Erika.
Erika menggelengkan kepalanya. "Biasanya juga kita makan dulu mas, lagian kamu gak kasian sama aku, aku tuh laper, belum makan dari tadi." Seru Erika dengan nada ketus.
Adam menghembuskan nafasnya berat. "Ya sudah, kalo gitu kamu makan duluan aja, aku sholat Maghrib dulu."
Erika kembali menggelengkan kepalanya, kemudian ia melangkah maju ke hadapan Adam, melingkarkan tangannya di tubuh Adam.
"Aku gak mau makan sendirian, lagian apa susahnya sih mas, kan bisa sholatnya abis makan." Balas Erika lagi, dengan suara memelas sembari memeluk tubuh Adam.
"Tapi, Aisyah, dia sudah menunggu mas di mushola."
"Aisyah lagi Aisyah lagi! Memangnya istri mas itu cuman Aisyah!" Erika melepaskan pelukannya dengan sedikit kasar.
Adam yang melihat hal itu sedikit khawatir jika saja Erika akan membuat suatu keributan lagi. Akhirnya Adam pun memilih mengalah, daripada nantinya Erika terus merajuk dan membuat masalah dengan Aisyah.
"Iya sudah, ayo makan, tapi setelah itu kita sholat Maghrib sama-sama yah."
Erika bersorak ria, merasa menang kembali dari Aisyah. "Ya sudah, ayo kita makan mas!" Ajak Erika.
Adam mengangguk patuh, tetapi ia meminta ijin sebentar kepada Erika untuk memberitahu Aisyah bahwa dirinya akan makan terlebih dahulu dengan Erika.
Aisyah yang sudah siap di mushola bersama Ali, menunggu sosok imam yang kini tengah berjalan ke arah mereka.
"Aisyah," ucap Adam memanggilnya.
Aisyah pun menoleh, ia tersenyum melihat sosok suaminya itu, namun ia langsung mengerutkan keningnya, merasa keheranan.
"Mas belum siap-siap?" Tanya Aisyah.
__ADS_1
Adam menggaruk kepala kecil, walau nyatanya tak terasa gatal. "Mas mau makan dulu dengan Erika, kamu mau ikut makan dulu? Apa, mau sholat duluan saja?" Ujar Adam sembari bertanya dengan nada ragu.
Senyuman yang awalnya tercetak jelas di bibir ranum Aisyah kini perlahan hilang. Namun, dengan cepat Aisyah kembali mengulas kan sebuah senyuman kecil yang terlihat semu.
"Mas duluan aja, biar aku sholat dulu." Balas Aisyah, mencoba terlihat baik-baik saja.
Ali yang berada di samping Aisyah kini berlari kecil menuju Abi nya itu.
"Ali mau ikut Abi makan!" Ucapnya, sembari minta di gendong.
"Ya sudah, mas duluan saja sama Ali, Umma sholat dulu yah nak, nanti Umma nyusul." Ujar Aisyah, Adam pun mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan Aisyah sendirian.
Setelah kepergian Adam, Aisyah merasakan sesak di dadanya. Walau hanya sebuah hal kecil, namun rasanya begitu menyesakkan dada. Aisyah pun dengan cepat mengenyahkan rasa itu, ia mencoba khusu menjalankan ibadahnya.
Di sisi lain, Adam, Erika serta Ali kini tengah duduk bersama di meja makan. Mereka tengah menyantap makanan yang sudah Aisyah siapkan.
"Hai, Ali." Sapa Erika kepada Ali yang kini duduk di hadapannya.
Ali hanya menunduk, setelah peristiwa waktu itu dimana Erika membuatnya menangis, Ali seakan takut dengan Erika. Maka dari itu, Erika mencoba akur dengan anak dari suaminya ini.
Mungkin, suatu saat Ali akan berguna untuknya, pikir Erika.
"Ali sayang, hai, Ali mau makan sama apa?" Tanya Erika lagi, sembari menawari Ali.
Namun, Ali masih diam menunduk tak menoleh sedikitpun.
Adam yang melihat hal itu hanya diam memperhatikan keduanya. Ia juga berharap Erika dan Ali bisa saling akur layaknya Ali dengan Aisyah.
"Mas, kapan yah aku bisa punya anak dari kamu?" Ucap Erika tiba-tiba bertanya kepada Adam.
Adam pun menoleh, melihat raut wajah Erika yang terlihat sedih. "Sudah, jangan terlalu di pikirkan. In shaa Allah, kalo sudah waktunya pasti Allah kasih." Jawab Adam.
"Tapi kan, aku pengen cepet-cepet punya anak dari kamu! Aisyah aja bisa punya Ali, sedangkan aku? Aku cuma punya kamu mas." Ujarnya lagi.
"Kita kan sudah berusaha, biarkan Allah yang mengatur selanjutnya. Jika belum ada hasilnya, berarti memang belum waktunya saja." Balas Adam, sembari menyantap makanannya.
Erika terlihat tidak suka dengan balasan Adam yang terdengar sangat cuek kepadanya. Bagaimana bisa Erika tenang ketika Aisyah sudah memiliki anak terlebih dahulu di bandingkan dirinya.
"Kamu dengar kan kata dokter kemarin, kita itu masih muda dan sehat, kita hanya tinggal menunggu, kalo memang sudah rezekinya pasti bisa ko." Ujar Adam lagi mencoba menenangkan istrinya itu.
Tetapi Erika masih tidak puas dengan jawaban Adam, dirinya memilih diam dan meneruskan menyuapkan makanannya itu.
Tak mereka sadari Aisyah tengah berdiri di sisi tembok mendengar percakapan suaminya itu. Ia memegangi dadanya yang kembali terasa sesak, mendengar Erika yang ingin cepat-cepat memiliki anak dari suaminya.
"Mba Erika juga istri mas Adam, mereka berhak berencana memiliki anak, tapi mengapa rasanya aku seperti tidak rela?" Ucap Aisyah dengan nada pelan nan lirih.
__ADS_1
Apalagi melihat suaminya itu duduk bersama wanita lain beserta anaknya dalam satu meja makan, hatinya seakan merasa tak rela. Mengapa harus ada wanita lain di rumah tangganya ini.
Aisyah dengan cepat mengucap istighfar, bagaimana pun ini adalah jalan hidupnya, takdir yang sudah Allah berikan, Aisyah yakin, dirinya pasti bisa menjalaninya.
Ia pun kembali melangkahkan kakinya, mendekat ke arah suami dan anaknya itu. Aisyah langsung mendudukkan bokongnya di samping Ali.
"Umma!" Seru Ali kegirangan melihat Umma nya.
Aisyah pun tersenyum menanggapi buah hatinya itu, lain dengan Erika yang memancarkan sorot mata sinis dan tak suka.
"Mas aku udah kenyang, kamu udah kan makannya?" Erika menyimpan sendoknya dengan sedikit kasar sampai terdengar suara berdenting.
Adam menoleh, melihat Erika yang baru menghabiskan setengah dari makanannya itu. "Makanan kamu belum habis, habiskan dulu!" Suruh Adam.
Namun, Erika terlihat enggan menuruti ucapan suaminya itu. "Aku udah kenyang mas, kalo mas udah beres ayo kita sholat, mas tadi ajak aku sholat kan." Jelasnya.
Aisyah kini hanya bisa diam sembari sibuk mengisi alas piringnya dengan makanan.
"Aku sudah selesai tapi kita tunggu dulu disini, Aisyah belum selesai makan." Balas Adam, berniat menunggu Aisyah.
Namun, lagi-lagi Erika tak akan membiarkan suaminya itu memberi perhatian kepada Aisyah.
"Ya udah kali, Aisyah juga bukan anak kecil, dia bisa makan sendiri kenapa harus di temenin? Lagian ada Ali juga, kita mending sholat yuk, daripada keburu waktunya habis mas." Ujar Erika.
Adam merasa kebingungan, apa yang harus ia lakukan. Ternyata menyatukan Aisyah dengan Erika bukanlah suatu hal yang mudah.
"Kalo mas mau sholat, sholat dulu aja mas, aku gakpapa sendiri disini. Lagipula benar kata mba Erika, takut waktu sholat nya keburu habis, kalo mas tunggu aku, nanti keburu isya." Timpal Aisyah.
Erika tersenyum puas, dirinya seakan selalu di bantu oleh Aisyah. "Ternyata memisahkan kamu dengan wanita itu begitu mudah! Untung saja kamu itu bodoh Aisyah, jadi aku tidak perlu cape cape untuk memisahkan kamu dengan suamiku!" Batin Erika kesenangan.
"Tuh kan mas, ayo!" Ajak Erika.
Awalnya Adam enggan untuk pergi, namun Erika terus menarik lengan Adam. Membuat Adam kewalahan. Akhirnya Adam bangun dari duduknya, ia menatap wajah Aisyah yang kini sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Tanpa menoleh ke arahnya, Adam merasa Aisyah begitu acuh kepadanya. Akhirnya Adam pun melangkah pergi berjalan bersamaan dengan Erika yang kembali bergelayutan manja di lengannya.
Tanpa Adam tahu, kini Aisyah menangis dalam diam sembari menyantap makan malamnya.
"Apa boleh aku cemburu mas? sholat pun sendiri, bahkan sekarang, aku harus makan sendirian." ucap Aisyah dengan nada yang sangat pelan.
"Sedangkan mba Erika, selalu bisa bersamaan dengan kamu mas! aku iri mas, aku juga istrimu." lanjutnya dengan air mata yang tak lagi bisa di bendung.
"Umma," ucap Ali, keheranan melihat Umma nya yang menangis.
Tak lagi bisa terlihat kuat, Aisyah memilih membawa kedua tangannya untuk menutupi wajahnya itu dari tatapan sang anak.
__ADS_1
ia menangis, merasakan sakit, di balik tangannya itu.