
Sudah seminggu sejak Erika tinggal di rumah Aisyah. Sudah banyak permasalahan yang muncul di setiap harinya, membuat hari-hari Aisyah bak nano-nano.
Hari ini seperti biasanya, di pagi hari Aisyah akan menyiapkan sarapan juga bekal untuk Adam, karena sudah mulai kembali bekerja seperti biasanya.
Di saat Aisyah tengah sibuk menyiapkan bekal makan suaminya, Aisyah sedikit terkesiap mendapati sebuah lengan yang tiba-tiba melingkar di perutnya.
"Astagfirullah ? Mas, aku kaget tau!" Ucap Aisyah di saat menoleh dan melihat Adam yang tengah menelusukkan wajahnya di ceruk leher Aisyah.
Adam hanya terkekeh menanggapi ucapan istrinya itu. "Makasih yah sayang, udah mau siapin bekal setiap hari buat suamimu ini." Ujar Adam berterima kasih.
Aisyah pun tersenyum kecil, seraya terus menyiapkan kotak bekalnya itu.
"Hmm, ta-tapi, boleh gak aku minta dua kotak bekal makan untuk hari ini dan seterusnya?" Tanya Adam yang terdengar ragu-ragu.
Aisyah yang mendengar penuturan Adam kini menghentikan aktivitasnya sejenak, ia berbalik dan menatap wajah suaminya itu dengan sedikit bingung.
"Memangnya satu kotak bekal aja gak cukup?" Tanya balik Aisyah, dengan sebuah kerutan di keningnya.
Adam melepaskan pelukannya, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hm, bukan itu, tapi mulai hari ini, E-erika juga akan ikut berkeja di kantor." Jelas Adam.
Terlihat Adam yang ragu untuk mengatakan hal itu kepada Aisyah.
"Lalu, Erika juga sepertinya butuh bekal makan," lanjutnya.
Aisyah yang mendengar hal itu kemudian membalikkan kembali tubuhnya, ia merasa kembali di sadarkan, bahwa ada mba Erika selain dirinya.
"Boleh?" Tanya Adam.
Enggan untuk membalas, Aisyah memilih diam dan kembali menyiapkan kotak bekalnya. Sedang Adam kini merasa sudah salah mengatakan hal itu kepada Aisyah.
"Mba Erika ikut kerja di kantor mas?" Ucap Aisyah bertanya.
Adam pun sedikit terkejut, namun ia langsung menanggapi pertanyaan itu dengan anggukan kecil.
"I-iya, Erika bilang bosan diam di rumah jadi, dia melamar kerja di kantorku." Balas Adam.
Aisyah kembali sibuk, dan berniat membalas lagi. Adam pun merasa salah tingkah, akhirnya ia memilih duduk di meja makan menunggu sarapan siap.
Setelah beberapa menit, Erika muncul di dapur, ia langsung saja ikut duduk di samping Adam. Tak menghiraukan Aisyah, ia mengecup bibir suaminya itu dengan romantis.
__ADS_1
"Selamat pagi mas," ucapnya dengan senyuman yang menggoda.
Adam pun tersenyum balik, iya menyuruh Erika untuk menunggu sarapannya siap. Bak orang yang tidak tahu malu selama Erika tinggal, Aisyah lah yang selalu menyiapkan segala keperluan Adam. Hanya satu pekerjaan yang selalu Erika embat, yaitu urusan memuaskan Adam di ranjang.
Erika selalu membuat Adam bermalam bersamanya, dengan alasan bahwa dirinya yang ingin segera memiliki anak. Tetapi, jika untuk urusan yang lain, seperti makan, mencuci dan hal lainnya, Erika menyuruh Aisyah untuk mengerjakannya.
Erika bilang, sudah sewajarnya Aisyah sebagai istri yang baik mengerjakan hal itu untuk Adam.
Setelah seluruh makanan tersaji di meja makan, semuanya langsung menyantap makanan buatan Aisyah itu dengan lahap. Namun, ketika Erika baru saja menyiapkan satu sendok nasi dengan lauknya, Erika merasakan mual yang menyeruak di tenggorokannya.
Adam dan Aisyah yang melihat hal itu sontak terkejut. "Kenapa mba? Ada yang salah dengan makanannya?" Tanya Aisyah.
Erika bukannya menjawab, ia menutupi mulutnya itu dengan tangannya. Mencoba menahan rasa mual yang terus menyeruak.
Adam pun segera menghampiri Erika, ia memegangi pundak istrinya itu. "Kenapa sayang? Ada yang salah? Kenapa?" Tanya Adam.
Erika tiba-tiba bangkit, lalu berlari kecil menuju kamar mandi yang tersedia di dapur. Aisyah mendengar Erika yang memuntahkan isi perutnya.
Adam pun ikut menemani Erika yang kini tengah kewalahan dengan rasa mualnya itu. Sedangkan Aisyah kini merasa bingung bercampur khawatir juga resah.
"Apa jangan-jangan," ucap Aisyah pelan, menerka nerka apa yang terjadi pada Erika.
"Umma, Tante Erika kenapa?" Tanya Ali.
Aisyah menatap wajah anaknya itu. "Kayanya Tante Erika sakit, Ali makan yang banyak yah biar gak sakit kaya Tante Erika. Kita doakan biar Tante Erika cepet sembuh." Balas Aisyah.
Ali pun mengangguk patuh, lalu kembali menyuapkan makanannya ke dalam mulut.
Tak berselang lama, Erika muncul bersama dengan Adam. Adam terlihat begitu khawatir dengan keadaan istrinya itu.
"Mba gak apa-apa?" Tanya Aisyah.
Erika yang mendapati pertanyaan itu langsung saja menoleh dan menatap sinis padanya. "Memangnya kamu liat aku baik-baik saja!" Balasnya dengan nada yang sedikit tinggi.
"Sudah! Sudah! jangan bertengkar di waktu seperti ini!" Ujar Adam menengahi istrinya itu.
Aisyah pun memilih diam, ia hanya bisa mengamati Adam yang mengurus Erika dengan begitu telaten. Merasa cemburu?
Tentu saja!
__ADS_1
Aisyah merasa adam begitu mencintai Erika, bahkan Aisyah sampai berpikir. "Apakah mas Adam akan sama memperlakukan aku seperti itu jika aku dalam kondisi seperti mba Erika?" Pikirnya.
Apa Adam juga sama mencintainya seperti Adam mencintai Erika. Aisyah terus saja berpikir yang tidak-tidak, menerka nerka akan rasa cinta suaminya itu.
"Aisyah tolong ambilkan minyak angin, sepertinya Erika masuk angin." Ujar mas Adam menyuruh Aisyah.
Sebagai istri yang baik, Aisyah langsung menuruti perintah suaminya itu. Ia mencari keberadaan minyak angin itu dan langsung membawanya kepada Adam.
"Ini mas," ucap Aisyah sembari memberikan botol minyak angin yang langsung di terima oleh Adam.
Terlihat Adam yang kini menatap Erika dengan cemas, ia mengusap, mengolesi tubuh Erika dengan minyak angin yang di berikan oleh Aisyah.
"Ya sudah kamu diem di rumah aja yah, gak usah ikut ke kantor hari ini." Ucap Adam kepada Erika.
"Aku gak mau! Aku mau ikut kamu mas, ini cuman masuk angin biasa, aku gakpapa ko mas." Balas Erika, tak ingin menuruti perintah suaminya itu.
Aisyah yang kini hanya bisa mendengar obrolan suami dan madunya itu, ia pun segera melenggang pergi menuju dapur menemui kembali Ali yang masih asyik menyantap sarapannya.
"Mas apa aku hamil?" Ucap Erika kepada Adam yang kini terdengar sampai ke telinga Aisyah.
"Apa maksudmu?" Tanya Adam seakan tak mengerti maksud Erika.
"Aku hamil mas!" Ucap Erika lagi.
Adam seakan baru sadar dengan apa yang istrinya itu ucapkan. "Apa? Benar? Kamu udah tes?" Tanya Adam memastikan.
Erika menggeleng, "hm, belum sih mas, tapi harusnya bulan ini aku sudah datang bulan, tapi sampai sekarang belum datang juga. Apa aku tes dulu yah mas." Jawab Erika kegirangan.
"Ya sudah, mau mas belikan test pack nya? Tunggu sebentar yah, mas ke apotek di depan dulu." Tawar Adam sama antusiasnya dengan Erika.
Adam dan Erika yang kini terlihat begitu kegirangan jika benar apa yang mereka pikirkan itu benar bahwa Erika kini tengah mengandung buah hati mereka.
Sedang Aisyah, kini terdiam lesu mendengar segala ucapan yang keluar dari keduanya. Seolah dunianya berhenti berputar, mendengar dua orang yang tengah berbahagia namun membuatnya begitu terpuruk.
"Apa yang aku pikirkan, harusnya aku turut bahagia. Mereka tentu berhak memiliki keturunan, tapi aku tidak tahu jika mengetahui mas Adam akan punya keturunan dari mba Erika sangatlah sakit rasanya." Ucap Aisyah pelan.
Ia tidak tahu jika rasanya akan sesakit ini, mengetahui suaminya akan memiliki anak dari istri lainnya. Walau sudah berjalan beberapa bulan, hidup sebagai istri kedua Adam. Nyatanya Aisyah masih lah belum bisa sekuat baja menahan segala rasa cemburunya.
Aisyah tetaplah seorang wanita biasa, yang hanya bisa mencoba bersabar, walau nyatanya sakit. Ia tetap merasa cemburu, iri dan takut kehilangan suaminya itu. Namun, segala cara ia coba lakukan dengan ikhlas, hanya untuk mendapat ridho dari sang ilahi.
__ADS_1
Semoga apa yang ia perjuangkan kini, apa yang Aisyah usahakan, dengan rasa sabarnya bisa mendapat balasan amal yang kelak menjadi bekalnya di akhirat.