ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 34 Aku yang Mengalah


__ADS_3

Seperti apa yang Mas Adam janjikan, sepulang dari kantor, Mas Adam langsung mengajakku untuk menjemput Ali.


Senangnya, Mas Adam pulang hanya seorang diri, tanpa adanya Mbak Erika yang sebelumnya sangat suka menempel tak terpisahkan bak perangko.


"Mas, sendirian?" ucapku merasa aneh.


Mas Adam mengangguk, "Iya, Mas sendirian, memangnya kamu mengharapkan aku datang bersama siapa?" balas Mas Adam sembari mengerutkan keningnya.


Aku dengan cepat menggelengkan kepalaku, lanjut mengembangkan sebuah senyuman.


"Gak ada, yaudah ayo kita jemput Ali Mas," ajakku, langsung menggandeng tangan Mas Adam ke arah mobil.


***


Akhirnya setelah melewati perjalanan yang sedikit jauh, kami sampai juga di rumah Bapak dan Ibu mertuaku.


Aku melihat Ali yang kini tengah duduk di teras balkon bersama Ibu dan Bapak. Ia terlihat begitu senang ketika melihat mobil Mas Adam memasuki pekarangan rumah.


"Umma! Abi!" teriaknya terdengar jelas.


Aku hanya bisa terkekeh, gemas melihat tingkah putraku itu. Langsung saja aku langkahkan kakiku berlari kecil sembari merentangkan tangan ini ke arahnya.


Bersiap menerima sebuah pelukan dari putra kecilku itu.


"Umma!" Ali berteriak berlari ke arahku.


Akhirnya, walau hanya satu hari tak bertemu, rasanya rindu sekali dengan satu bocah mungil ini.


"Masya Allah, anak Umma kangen gak sama Umma?" tanyaku kepada Ali sembari terus memeluknya.


"Ali kangen Umma, Umma udah sembuh?" sahut Ali, ia melepaskan pelukannya, lalu membawa tangan mungil itu ke wajahku.


Ali menatapku dengan wajah yang terlihat sedih juga khawatir.


Aku ulaskan sebuah senyuman hangat, "Umma gakpapa sayang, Umma udah sembuh, udah sehat." Balasku, sembari mengangkat tangan bak orang yang tengah memperlihatkan ototnya.


Ali tertawa, melihat tingkahku ini. Aku tersenyum senang melihat tawa yang menggemaskan darinya.


Akhirnya, selepas menjemput Ali, aku meminta Mas Adam untuk mampir sebentar ke swalayan. Untuk membeli semua kebutuhan rumah yang sudah habis.


"Kita sekalian makan di sini aja yah, sudah lama kita tidak makan di luar." ajak Mas Adam.


Tentu aku dan Ali mengangguk setuju tak berniat menolak sedikitpun, merasa senang akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama kembali.


Setelah semua list belanjaan terpenuhi, kami langsung saja menuju tempat makan terdekat, dan disinilah kita bertiga sekarang.


Duduk bersama sembari mendengarkan celotehan Ali yang tengah menceritakan apa saja yang sudah ia lakukan bersama Kakek dan Neneknya.

__ADS_1


"Ali main bola sama Kakek, Ali juga main kejar-kejaran sama kelinci putih," celotehnya.


"Terus, Ali jatuh..." Ali mengubah raut wajahnya sedih.


Aku dan Mas Adam kini fokus menyimak semua ucapannya, menjadi pendengar setia dari cerita-cerita singkatnya.


"Ali nangis gak?" tanya Abi nya.


Ali mengangguk masih dengan bibir yang ia tekuk ke bawah dan mata yang kini berkaca-kaca, seakan kembali mengingat kejadian kemarin saat ia terjatuh.


Aku dan Mas Adam yang melihat hal itu malah terkekeh kecil, gemas melihat tingkah lucunya.


"I-iya, Ali nangis...," balasnya. "ta-tapi Kakek langsung gendong Ali, cuci luka Ali, terus Nenek kasih plester deh," tambahnya.


Tak terasa karena terlalu fokus menyimak celotehan Ali, kini pelayan datang menghampiri meja kami dengan makanan yang berada di nampannya.


"Permisi Pak-Bu, pesanannya sudah siap." ujarnya.


Mas Adam langsung mempersilahkan pelayan itu untuk memindahkan makanan di nampannya ke meja kami dan berterima kasih setelah semuanya tersaji dengan rapih.


Tak menunda-nunda lagi, Aku, Ali dan Mas Adam langsung saja menyantap makanan yang ada di meja, mengisi perut yang sudah keroncongan dari tadi.


Sebuah obrolan kecil menjadi selingan di saat mulut ini sibuk mengunyah. Suasana begitu tenang, terasa hangat dengan berkumpulnya keluarga kecilku ini.


Beberapa kali hati ini mengucap syukur, bisa kembali merasakan kebersamaan yang sudah lama hilang.


"Iya, iya, sebentar lagi Mas pulang," ujar Mas Adam membalas seseorang di seberang panggilan itu.


Hati ini kembali merasa sedih ketika mendengar ucapan itu. Baru saja semuanya terasa membaik, kini harus kembali hancur hanya karena satu panggilan telpon.


"Iya, Mas pulang sekarang," Mas Adam terus menyahuti panggilan itu, tanpa sadar bahwa jawabannya membuatku merasa kecewa.


"Lagi-lagi, pasti aku yang akan di tinggalkan," batinku kecewa.


Nafsu makan hilang begitu saja, akhirnya ku sudahi acara santap menyantapnya. Memilih untuk menyuapi Ali, karena tahu bahwa sebentar lagi Mas Adam pasti akan menyudahi acara makan bersama ini.


Terlihat dari pinggir mata ini Mas Adam menyudahi panggilannya, ia tak melanjutkan makannya. Ia beralih menatapku, aku tahu itu tapi, aku terus fokus menyuapi Ali tanpa berniat menoleh.


"Aisyah," panggil Mas Adam akhirnya.


"Iya Mas?" balasku pelan tanpa mengalihkan pandanganku ini dari Ali.


"Kita sudahi dulu acara makan-makannya yah, in shaa Allah, lain hari kita pergi makan bersama lagi." ucapnya.


"Benarkan!" batinku.


Kini ku bawa wajah ini menatapnya, Mas Adam terlihat merasa bersalah, namun tak membuat hati ini luluh.

__ADS_1


Aku yang selalu sabar merasa lelah, seakan harus aku terus yang mengalah. Mengapa bukan Erika saja yang mengalah, pikirku.


"Kalo Mas mau pulang, silahkan. Biarkan aku di sini bersama Ali. Mas lihatkan, Ali dan aku belum selesai makan." balasku terdengar sedikit sinis.


Aku melihat raut wajah Mas Adam yang kian merasa bersalah, mendengar jawabanku yang terkesan menyindir.


"Aisyah, maafkan Mas, Mas tahu kamu pasti kesal. Tapi, Mas janji lain kali kita pergi makan bersama lagi," ujarnya.


"Tapi, sekarang kita pulang dulu yah, Mas gak mungkin meninggalkan kalian berdua di sini." lanjut Mas Adam.


Aku memilih diam, mengacuhkan Mas Adam. Bukannya tidak percaya dengan janji Mas Adam, tapi kenapa harus selalu aku yang mengalah.


Aku tidak meminta Mas Adam untuk menjanjikan hal seperti itu, untuk apa berjanji jika akhirnya akan seperti ini lagi.


Maksudku, aku hanya ingin menikmati waktu ini tanpa harus mengalah demi wanita lain yang membutuhkan suamiku.


Tak bisakah Mas Adam sekali saja mengutamakan aku dan menghargai waktunya denganku.


Pasti, selalu saja Mbak Erika dan Mbak Erika yang Mas Adam utamakan.


"Aku sudah bilang, kalo Mas mau pulang silahkan. Mbak Erika pasti sudah menunggu, biarkan saja aku dan Ali disini, lagipula aku dan Ali masih betah dan belum selesai makan." ucapku lagi.


"Aisyah," panggil Mas Adam dengan nada lembut.


Tapi maaf, hati ini seakan sudah membatu. Tak luluh hanya dengan hal sepele seperti itu.


"Silahkan Mas pergi, aku bisa pesan GowCar. Mas tidak perlu khawatir." Aku berucap tanpa menatapnya.


Terdengar Mas Adam yang kini menghela nafasnya sedikit kasar, mungkin kesal dengan sikapku ini?.


Biarkan saja, aku tak peduli. Mas Adam saja tak memperdulikan perasaanku ini, jadi untuk apa aku terus-terusan memperdulikan perasaanya orang yang tak pernah peduli denganku.


"Aisyah, tolong...," Mas Adam membawa tubuhnya sedikit condong kedepan. "tolong mengerti, jangan memancing amarah Mas," ujarnya.


Deg!


Memancing, siapa yang Mas Adam maksud memancing amarahnya?.


Ku bawa wajah ini menatapnya, lelah hati ini, sangat lelah rasanya. Aku selalu menjadi tersangka utama, padahal nyatanya akulah yang disini korbannya.


Rasanya ingin memekik, berteriak bahwa aku sudah sangat lelah. Dimana janjinya yang berkata akan mencoba bersikap adil, jika nyatanya aku terus yang harus selalu mengalah.


Aku mencengkeram bajuku, menahan amarah yang kian membara. Aku sadar dimana aku sekarang, aku terus beristighfar, menahan api yang kian menyulut amarah ini.


Aku harus ingat jika ada Ali di sampingku, sabar, sabarlah Aisyah.


Akhirnya, aku kembali mengalah, melangkahkan kaki ini mengikuti Mas Adam di belakang bersama Ali.

__ADS_1


Lagi-lagi aku yang kalah, aku yang terus mengorbankan perasaanku ini, demi wanita lain yang menempati posisi pertama di hati suamiku.


__ADS_2