ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 11 Terbakar Api Cemburu


__ADS_3

Di sisi lain Erika melihat dengan jelas pemandangan yang sangat ia benci. Melihat suaminya berpelukkan dengan wanita yang juga berstatus sebagai istri dari suaminya.


Erika mengepal kuat lengannya, "Apa-apaan ini! Bisa-bisanya mereka berpelukan di hadapanku! Apa mas Adam tidak memikirkan bagaimana perasaanku! Lihat saja! Aku yakin, mas Adam hanya akan menjadi milikku! Tak akan aku biarkan wanita busuk itu memiliki kamu mas!" Gemeretuk di gigi terdengar, menandakan kekesalan yang teramat.


Setelah sarapan tadi Erika merasa sangat senang sudah bisa membuat Aisyah terbakar api cemburu, namun tak lama berselang kini dirinya yang malah terbakar api itu sendiri.


Erika yang enggan melihat lama-lama pemandangan di hadapannya itu pun langsung saja berjalan dengan langkah besar ke arah suaminya dan Aisyah.


"Oh, enak yah mesra-mesraan disini! Biar bisa di lihat sama aku gitu mas! Hah! Kamu gak mikirin apa gimana perasaan aku!" Teriak Erika ketika sudah berada di hadapan Adam dan Aisyah.


Membuat Adam dan Aisyah terlonjak kaget, mendengar teriakan Erika yang begitu memekakkan telinga.


"Erika! Kamu ini kenapa sih!" Ujar mas Adam dengan sedikit kesal, ia langsung saja melepaskan pelukannya pada Aisyah dan berbalik menghadap Erika yang sudah terbakar amarah.


"Apa! Kenapa! Mas tanya aku kenapa! Gimana aku bisa baik-baik saja disaat aku lihat mas berpelukan dengan wanita busuk itu! Mas gak mikirin gimana perasaan aku mas! Aku ini istrimu mas!" Teriaknya lagi.


Adam dibuat pusing, ia memijit keningnya, merasa kewalahan dengan sifat Erika.


"Aisyah itu istriku juga, wajar jika aku memeluknya, kamu harus mengerti, istriku bukan cuma kamu saja." Jelas Adam dengan nada lembut mencoba membuat Erika mengerti.


Namun, apalah daya, Erika bukanlah sosok perempuan yang mudah mengalah dan mengerti situasi.


Ia mengacak-ngacak rambutnya bak orang frustasi. "Aku gak mau tahu dan gak mau mengerti! Kamu kira aku boneka yang bisa diam saja disaat melihat suamiku bersama wanita lain!" Masih dalam emosinya, Adam yang melihat hal itu mencoba menenangkan Erika dengan membawa kedua tangannya memegang pundak istrinya itu.


"Ssstt, Erika tenang dulu! Dengar, aku minta maaf tapi jangan seperti ini, tidak baik jika bapak dan ibuku mendengarnya!" Adam mencoba kembali menenangkan Erika, ia membawa Erika ke dalam pelukannya.


Sedang Aisyah kini hanya bisa pasrah, melihat suaminya kembali ke sisi wanita lain.


"Aku gak suka liat kamu deket-deket sama wanita itu mas!" Ucap Erika dalam pelukan Adam.


Adam pun yang berniat menenangkan Erika kini mengangguk patuh, "Iya sayang, aku minta maaf, lain kali aku akan lebih berhati-hati menjaga perasaanmu, maafkan aku." Balas Adam, ia terus menenangkan istrinya itu.

__ADS_1


Tanpa ia sadar, satu istrinya yang lain terluka lagi hatinya.


"Sepertinya mas Adam memang jauh lebih mencintai mbak Erika di bandingkan aku. Tentu saja, mereka menikah karena cinta yang sudah tumbuh lebih awal, sedangkan aku?" Aisyah terkekeh kecil menertawakan kesedihannya.


"Siapa aku ini? Yang tiba-tiba hadir di dalam kisah asmara mereka berdua, pantas saja aku disebut perusak rumah tangga orang, sepertinya memang benar adanya." Batin Aisyah, ia pun melenggang pergi, meninggalkan Adam dan Erika.


Dengan air mata yang sudah enggan untuk terjatuh, karena terlalu lelah dengan semua ini. Namun tak ayal hatinya tetaplah terluka.


Di balik pelukan, sang empunya tengah tersenyum, ia tersenyum bangga melihat prianya sudah kembali dalam pelukannya lagi.


"Rasakan, emangnya enak melihat suami sendiri berpelukkan dengan wanita lain! Kamu pantas mendapatkan ini Aisyah! Karena mas Adam adalah milikku!" Batin Erika, ia menyunggingkan senyuman kemenangan atas apa yang sudah ia lakukan.


Membuat Aisyah kembali kehilangan sosok suaminya lagi dan lagi.


Setelah kejadian itu, Adam lebih sering bersama dengan Erika, ia takut jika-jika Erika akan mengamuk seperti tadi lagi.


Bagaimana jika sampai bapak dan ibu nya tahu, Adam yakin ibu nya akan sangat marah dan Adam tidak bisa diam saja, bagaimanapun Erika tetaplah istrinya, ia juga harus menjaganya sebagai seorang suami.


Namun, semua pemikiran Adam salah. Memang betul Aisyah bisa lebih mengontrol emosinya, tapi dalam lubuk hati, Aisyah sudah sangat terluka, bedanya ia hanya bisa memendam perasaan itu seorang diri.


Berbeda dengan Erika yang langsung mengutarakan semuanya di hadapan Adam. Padahal nyatanya Aisyah sama dengan Erika yang menginginkan suaminya itu untuk lebih menghargai perasaannya.


Adam seakan bodoh amat, ia terlalu percaya dengan sikap dewasa Aisyah, yang membuat Aisyah kini semakin terluka.


Aisyah pun menghabiskan sisa harinya itu bersama Ali, Adam pun yang terkekang oleh Erika akhirnya sedikit menjaga jarak dari Aisyah.


Tak sadar jika perilakunya itu sudah sangat tidak adil bagi Aisyah yang masih merupakan istrinya juga.


Sore ini Aisyah tengah asik mengobrol di teras depan rumah bersama ibu mertuanya. Obrolan santai di selingi canda tawa, memperlihatkan begitu baiknya hubungan ibu mertua dan menantunya itu.


Berbeda dengan Erika yang kini kembali menekuk wajahnya kesal, melihat kedekatan antara Bu Fatimah dengan Aisyah.

__ADS_1


"Lihat apa sih," ucap Adam di samping Erika, yang kini tengah duduk bersama di dalam rumah.


"Itu tuh lihat aja sama kamu, ibu kamu tuh pilih kasih! Masa sama Aisyah bisa ketawa-ketawa gitu sedangkan aku! Kamu ingat pertama aku datang kesini, ibu kamu itu gak mau aku salami!" Ketus Erika, masih menatap Aisyah dan ibu mertuanya itu.


Adam pun mengikuti kemana sorot mata Erika itu pergi, disana ia juga melihat Aisyah yang tengah asik mengobrol dengan ibu nya.


Ada rasa hati senang, namun mendengar ucapan ketus Erika, Adam hanya bisa menghela nafasnya.


"Ya mungkin kamu aja yang kurang komunikasi, coba aja kamu ajak ibu ngobrol kaya Aisyah, pasti dia sama aja ko." Balas Adam mencoba meyakinkan Erika.


Erika kini menatap Adam dengan kesal, "Mana ada sama, dari tadi pagi aja tuh ibu kamu natap aku kaya macan aja! Masa aku baru keluar dari kamar aja ibu kamu menatap aku dengan tatapan tajamnya." Ucapnya.


"Sedangkan Aisyah, ia sayang sayang, dengan tatapan sayangnya itu! Aku ini juga kan menantunya mas!" Sambung Erika masih dengan kesal.


"Astaghfirullah, kamu itu kalo ngomong kemana aja, masa ibu aku kamu samakan dengan binatang seperti itu. Itu gak baik, bagaimana jika ibu dengar." Balas Adam ia sedikit menasehati istrinya itu.


Bukannya merasa salah, Erika kini mendelik kesal. "Ya memang kenyataannya gitu! Terus kalo gak kaya macan kaya apa! Kamu tuh yah mas, gak bisa apa belain aku sedikit, toh yang salah kan memang ibu kamu tuh, ko jadi aku yang kamu nasehati! Tuh ibu kamu tuh nasehati!" Erika seakan tak mau kalah, Adam yang merasa kesal namun ia sadar jika istri satunya ini memang begitu sifatnya.


Ia pun mencoba menahan rasa kesalnya itu, mencoba memahami sifat Erika yang keras kepala. Adam pun beranjak pergi meninggalkan Erika sendirian di ruang tamu, ia enggan berlama-lama dengan istrinya itu.


Erika pun kini yang melihat suaminya pergi hanya bisa menghentakkan kakinya kesal, toh ia pikir dirinya itu memang tak salah apa-apa.


Erika membawa secangkir teh di hadapannya, menyeruput teh yang masih panas itu dengan perlahan.


Tatapan tajamnya tertuju pada Aisyah dan ibu mertuanya. "Awas saja! Kamu lihat saja Aisyah! Perlahan aku pasti akan mengambil semua hal yang seharusnya menjadi milikku! Kamu itu hanya penghalang! Dasar wanita busuk!" Ucap Erika kecil, ia menggenggam erat cangkir berisi teh panas itu.


Teriakan kecil pun keluar dari mulut Erika ketika teh panas itu tumpah mengenai tangan dan pahanya yang terekspos karena hanya memakai rok sebatas paha.


Adam yang mendengar teriakan Erika langsung saja mendekati istrinya itu, "Kamu gakpapa!" Ucap Adam dengan khawatir.


Erika kini tengah menepuk-nepuk pahanya kepanasan, sedangkan matanya tertuju ke arah Aisyah dan ibu mertuanya dengan tajam seakan kejadian naas itu terjadi karena ulah mereka berdua.

__ADS_1


"Awas saja kalian!" Batinnya kesal.


__ADS_2