
TAMAN DUNIA LAUT
Sampailah Aisyah bersama Ali di sebuah tempat bernamakan Taman Dunia Laut. Hampir sama dengan Kebun Binatang, yang berbeda hanyalah, hewan-hewan yang ada di sini adalah hewan yang hidup di laut.
Ali berjingkrak-jingkrak kegirangan, melihat gerbang besar berwarna biru dengan patung cumi-cumi besar beserta patung ikan-ikan lainnya yang menghiasi gerbang tersebut.
"Umma, Umma cepet, Ali pengen liat ke dalam!" Serunya tak sabar.
Tentu Aisyah sangatlah senang bisa melihat Ali yang begitu gembira. Namun, sebelum mengikuti ajakan Ali, Aisyah berbalik menghadap ke arah Rizal yang kini masih setia menunggunya.
Aisyah sedikit menunduk sungkan, "terima kasih Mas, sudah mau mengantarkan saya bersama Ali, maaf sudah merepotkan Mas Rizal." Aisyah tersenyum kecil.
Rizal menggaruk tengkuknya, tau bila Aisyah dengan halus menyuruhnya untuk pergi. Namun, berbeda dengan Rizal yang masih ingin mengikuti anak dan Ibu satu ini.
"Emm, saya juga mau lihat-lihat," ucap Rizal ragu sembari mengalihkan pandangannya tak menatap Aisyah.
Aisyah bingung, ia mendongak dan melihat Rizal yang kini terlihat sedikit salah tingkah.
"Mas Rizal mau lihat ke dalam?" Tanya Aisyah, Rizal langsung mengangguk.
"I-iya, soalnya saya juga belum pernah ke tempat seperti ini, sepertinya seru. Bolehkan kalo saya ikut?" Balas Rizal.
Aisyah hanya bisa tersenyum kecil, mendengar penuturan Rizal yang terdengar sedikit tergagap. Aisyah hanya berpikir mungkin Dokter Rizal malu, sampai tergagap seperti itu.
Maka dari itu, Aisyah tak terlalu memikirkannya, ia juga akhirnya membolehkan Rizal untuk ikut masuk ke dalam.
"Asyik, makasih yah Umma, sudah ajak Ali main ke rumah ikan-ikan." Ali bersorak ria sembari berterima kasih, di saat ia masuk ke dalam Gerbang pintu Dunia Laut.
"Iya sayang, Ali suka nak?"
Ali mengangguk dengan mata yang berbinar, "iya Umma, Ali senang sekali, makasih yah Umma." Balasnya.
Rizal menatap keduanya dengan tatapan kagum, mendengar anak seusia Ali yang bertutur kata baik kepada Ummanya. Sungguh hebat Aisyah sebagai Ibu mendidik anaknya batin Rizal.
"Kalo saja, aku adalah bagian dari keluarga kecil mereka," batinnya.
Rizal seketika tersadar, "astaghfirullah," ucapnya, mengingat sudah sangat kelewatan sampai berpikir hal seperti itu.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun terus masuk ke dalam taman bermain itu, melihat banyak ikan-ikan Seperti ikan badut atau nama lain ikan ini yang tengah Ali sebut-sebut dari tadi.
"Umma! Itu ikan Nemo, iya kan, yang ada di Tv!" Seru Ali antusias.
Aisyah terkekeh, "iya sayang, itu ikan badut, Ali suka?" Ucapnya sambil mengusap lembut rambut Ali.
Ali mengangguk, "suka Umma, Ali suka, ayo Umma kita lihat ke dalam lagi!" Sahutnya mengajak Ummanya itu.
Rizal hanya dapat mengikuti Aisyah dan Ali dari belakang, mengekori mereka berdua sedari tadi dengan senyuman yang terus-menerus mengembang di bibirnya.
Sampai pada satu kolam yang berisikan beberapa ekor ikan hiu berukuran sedang. Ali berlari menuju kolam itu, membuat Aisyah panik dan berteriak memanggil Ali untuk berjalan hati-hati.
"Ali, jalannya pelan-pelan nak," teriak Aisyah.
Ali yang terlalu senang tidak mendengar suara Ummanya itu. Ia terus berlari menuju kolam yang kini di kerumuni beberapa orang.
"Ya Allah, Ali." Aisyah menghela nafasnya kewalahan melihat Ali yang begitu aktif.
Sebuah kekehan terdengar dari belakangnya, Aisyah langsung berbalik, melihat Rizal yang malah tertawa melihatnya yang tengah kelelahan.
"Ya karena lucu aja, melihat kamu yang kewalahan sama tingkah anak kamu itu," balasnya masih terkekeh pelan.
"Iya Mas, Masya Allah, Ali itu anaknya memang aktif sekali, setiap hari ada aja tingkahnya yang luar biasa, buat saya pusing." Aisyah ikut terkekeh, sadar dengan sikap anaknya itu.
Aisyah melihat Ali yang kini menjinjit-jinjit kakinya, mencoba melihat ke dalam kolam. Di saat itu Rizal berjalan mendahului Aisyah yang seketika membuat Aisyah terlihat terkejut.
Melihat Rizal yang kini mencoba membawa Ali ke dalam pangkuannya, membantu Ali untuk melihat isi kolam tersebut.
Tentu Aisyah terkejut melihat itu, karena Aisyah tahu, Ali bukanlah anak yang mudah berbaur dengan orang lain, apalagi orang baru.
Sontak Aisyah berlari kecil ke arah mereka, ia terlihat tidak enak melihat Rizal yang kini memangku Ali.
"Ya Allah Mas, sini biar saya saja yang gendong Ali." Aisyah mencoba membawa Ali ke dalam gendongannya.
Namun, bukannya cepat meraih tangan sang Umma, Ali malah berbalik dan memeluk leher Rizal, membuat Aisyah membulatkan matanya.
"Ali, gak boleh gitu nak. Om Dokter pasti berat gendong Ali, yuk Ali sini Umma yang gendong." Bujuk Aisyah lagi, tapi tetap saja, Ali kini menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Gak, Ali maunya sama Om Dokter!" Serunya tegas.
Rizal tertawa, melihat Ali yang nyaman dalam pangkuannya dan kini malah menolak mentah-mentah bujukan Ummanya.
"Gakpapa, biar saya saja. Gak berat ko, lagipula saya juga suka gendong Ali," sahut Rizal membuat Aisyah menggeleng kecil.
"Ta-tapi Mas, apa gakpapa? Ali itu berat loh Mas, sudah biar saya saja." Aisyah masih kukuh mencoba untuk membawa Ali kembali kepadanya.
Namun, apalah daya, kini hampir sudah setengah jam mereka mengelilingi taman itu dan Ali masih anteng di dalam pangkuan Rizal.
Raut wajah Aisyah menjelaskan bahwa dirinya merasa tidak enak, berbeda dengan Ali yang kini terus berteriak menyebutkan nama setiap hewan yang ia lihat sambil menunjuknya.
"Om Dokter itu Penguin!" Pekiknya.
Rizal pun terus menyahutinya dengan sama antusiasnya dengan Ali, mereka terus berlarian kesana-kemari tanpa menghiraukan Aisyah yang kini berada jauh di belakang mereka.
"Masya Allah, itu anak kenapa yah ko bisa nempel gitu sama Mas Rizal, aku kan jadi gak enak." Gumam Aisyah yang melihat Rizal berlari ke arah kolam Penguin bersama Ali yang masih dalam pangkuannya.
"Om Dokter suka Penguin?" Tanya Ali, Rizal pun mengangguk menyahuti pertanyaannya.
"Suka, Ali suka?" Rizal bertanya balik, yang juga di balas sebuah anggukan antusias dari Ali.
"Ali suka, soalnya Umma juga suka Om!" Seru Ali.
"Umma Ali suka?" Rizal kembali bertanya yang lagi-lagi di balas dengan anggukan oleh Ali.
"Iya, Umma suka sekali sama Penguin, Umma bilang hewan kesukaannya Penguin!" Sahut Ali, menceritakan hewan kesukaan Ummanya itu.
Rizal pun kini hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya, setelah itu ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Umma dari anak yang tengah ia gendong ini.
Kedua mata Rizal akhirnya menangkap sosok Aisyah yang kini berdiri tak jauh darinya, ia tampak takjub melihat beberapa Penguin yang ada di dalam kolam.
Mata Aisyah terlihat begitu berbinar, benar apa kata Ali, bahwa Penguin adalah hewan kesukaan Ummanya. Tak sadar kini bibirnya melebar, tersenyum melihat Aisyah yang terlihat begitu cantik di mata Rizal.
"Sayang, aku baru bertemu wanita secantik dia setelah di miliki pria lain," gumam Rizal menyayangkan keadaanya.
Rizal masih memandangi Aisyah dengan tatapan hangat, terpana dengan kecantikan Aisyah.
__ADS_1