ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 7 Kucing dan Anjing


__ADS_3

Kini Aisyah tengah duduk di ruang tamunya bersamaan dengan Adam dan Erika. Aisyah sedikit merasa senang dengan kepulangan suaminya itu, namun akhirnya semua rasa senang itu lenyap ketika melihat wanita yang berjalan di belakangan mengikuti Adam.


"Assalamualaikum," ucap Adam mengucapkan salam.


Aisyah pun tersenyum culas, "waalaikumsalam," balas Aisyah masih dengan senyuman yang ia paksakan.


Bukannya menyalami tangan suaminya, kini Aisyah membalikkan badannya untuk masuk ke dalam rumah, membuat Adam sedikit malu ketika sudah membawa tangannya untuk Aisyah salami.


Erika yang melihat hal itu terkekeh kecil, melihat suaminya yang sudah ke PD an akan di salami sang istri shalihahnya.


"Makannya jangan ke PD an," ujar Erika mendahului Adam masuk ke dalam rumah.


Terlihat Aisyah yang sudah duduk di sofa ruang tamunya. Erika yang melihat itu hanya bisa mendelik dan ikut duduk di sofa yang berada disampingnya, diikuti Adam yang kini berjalan masuk dan duduk di hadapan Aisyah.


Adam menatapi istrinya itu, Aisyah yang nampaknya tak senang dengan kehadirannya. Adam jelas tahu dia sudah kembali membuat istrinya itu tersakiti.


Ada rasa bersalah, namun apa lagi yang bisa ia lakukan, toh ia juga sudah berusaha sebisa mungkin.


"Ada apa mas datang kesini pagi-pagi sekali?" Tanya Aisyah memulai pembicaraan.


Aisyah pun menatap Adam dengan sedikit tajam.


"Mas mau mengajak kamu ke rumah Bapak hari ini." Balas Adam to the point.


"Ali masih tidur, mas berangkat saja sama istri mas yang lain." Ujar Aisyah dengan nada sinis seakan menyindir Adam.


Adam sedikit terkejut dengan balasan Aisyah, ia tahu bahwa istrinya yang satu ini adalah wanita shalihah yang selalu bertutur kata lembut. Namun, ia serasa kehilangan sosok itu.


"Bapak dan Ibu ingin bertemu dengan kamu dan Erika." Lanjut Adam, memang benar bahwa Bapak dan Ibunya ingin bertemu ke dua istrinya itu.


"Bilang saja aku sedang tidak bisa pergi, toh aku sudah sering pergi kesana, biarlah sekarang kamu dan istrimu yang lain saja yang menemui bapak dan ibu." Aisyah masih tetap tak mau ikut kepada ajakan Adam.


Adam pun sedikit kebingungan dan kesal di buatnya, namun ia tahu ini adalah bentuk kemarahan Aisyah yang membuatnya terus menolak ajakannya.


Erika yang melihat hal itu memutar kedua bola matanya jengah, "Halah, yaudah kali mas kalo dia gak mau ikut! Yaudah kita berdua aja!" Timpal Erika yang kini terlihat kesal.


"Kalo orangnya gak mau ikut yaudah, ngapain harus di paksa. Ayo dong, aku males nih lama lama disini! Lagian aku juga males kalo harus satu mobil sama PELAKOR." Lanjutnya lagi.


Mata Aisyah membelakak mendengar kata PELAKOR yang Erika ucapkan, "Apa! Maaf siapa yah yang kamu bilang PELAKOR! Saya itu istri sah nya mas Adam!" Balas Aisyah.


"Iya iya tau, tapi kan kamu tahu aku ini istri PERTAMA nya mas Adam! Istri yang di CINTAI nya! Bukan kaya kamu! Yang dinikahi hanya karena perjodohan! Hah!" Ujar Erika tak mau kalah.

__ADS_1


"Dengar yah! Saya ini bukan PELAKOR! Saya ini nikah sama mas Adam atas dasar agama dan negara! Sedangkan kamu! Kamu hanya menikah sebatas agama saja! Jadi disini saya istri sahnya mas Adam!" Ucap Aisyah yang semakin tak bisa mengontrol emosinya.


Adam yang melihat juga mendengar semua ucapan Aisyah dan Erika kini tengah memegangi kepalanya yang terasa berat. Melihat dua kelakuan istrinya yang entah mengapa seakan tak bisa akur sehari saja.


"SUDAH CUKUP!"


Adam berdiri sembari menatap kedua istrinya itu dengan wajah jengah.


Aisyah dan Erika pun sedikit terkejut akan teriakan Adam yang membuat mereka seketika terduduk diam di sofa.


"Aku mohon cukup, bisa tidak kalian berdua itu jangan terus seperti kucing dan anjing! Kalian berdua itu istriku dan aku bersumpah benar-benar menyayangi kalian berdua."


Adam membawa tangannya, memijit keningnya yang terasa pening.


"Kalian berdua itu istriku, tak ada yang aku bedakan, aku berusaha sebisa mungkin memperlakukan kalian dengan adil, jadi aku mohon, sedikit saja rasa pengertian kalian, tolong hargai aku." Lanjutnya.


Kini Adam kembali mendudukkan bokongnya di atas sofa empuk, ia masih memijat keningnya yang terasa sedikit pening. Membuat Aisyah dan Erika terdiam tak berniat menjawab.


Mereka kini hanya duduk dengan suasana hening, tanpa mereka tahu dari arah dalam rumah keluarlah Ali yang kini tengah mengucek kecil matanya.


"Abi," ucap Ali dengan suara bangun tidurnya.


Adam yang mendengar suara kecil nan lucu yang ia rindukan kini membawa wajahnya menoleh melihat ke arah suara itu berasal.


Namun, Ali menolak kedua tangan Umma nya itu, ia memilih berjalan ke arah Adam yang masih terduduk di sofa.


"Abi, Ali mau Abi!" Ucap Ali lagi sembari melebarkan kedua tangannya siap untuk Adam pangku.


"Masyaallah, anak Abi sudah bangun. Maafkan Abi, pasti karena Abi teriak teriak sampai Ali kaget yah." Adam membawa Ali ke dalam pangkuannya, mengecup-ngecup pipi putranya itu.


"Abi Ali kangen Abi!" Ucap Ali yang kini memeluk leher Adam dengan erat. Membuat Adam sedikit tercekik karenanya.


Aisyah tertawa kecil melihat tingkah anak dan suaminya itu, melihat hal itu membuatnya melupakan sedikit amarahnya tadi.


Sedangkan Erika kini mengepal erat tangannya, ia seakan tak suka melihat pemandangan di antara satu keluarga kecil di hadapannya ini.


Erika begitu kesal karena bagaimana pun ialah istri pertamanya Adam, ia yang lebih berhak atas semuanya.


Mengapa Aisyah yang lebih dulu memberikan Adam keturunan, bukan dirinya. Erika semakin kesal melihat kedekatan suaminya itu dengan anak dari istri lain suaminya.


"Anakku lebih berhak mendapatkan kasih sayang yang lebih darimu mas!" Ucap Erika dengan suara kecil.

__ADS_1


Erika membawa tangannya ke arah perutnya dan meremas kecil perutnya itu.


"Aku yakin, tak lama lagi aku akan mengandung anakmu mas! Dan merebut kamu dari wanita sialan ini! Kamu hanya milikku! Hanya milikku mas!" Batin Erika yang kini menatap Adam dan Ali dengan tatapan tak sukanya.


"Ya Allah anak Abi, kuat sekali tangannya, sampai Abi kehabisan nafas karena di peluk."


Ali pun tertawa kecil melihat Abi nya yang terbatuk batuk kecil karenanya.


"Ali mau ikut Abi tidak?" Tanya Adam, seakan mendapatkan ide dari awal permasalahannya.


"Kemana Abi?" Balas Ali kembali bertanya.


"Ke rumah kakek dan nenek, Ali sudah lama kan gak ketemu sama kakek dan nenek, mereka kangen sekali sama Ali." Ucap Adam mencoba membujuk Ali agar mau ikut, membuat Aisyah tak bisa lagi mengelak untuk tak mengikuti ajakannya.


"Mau Abi! Mau! Aku mau ketemu Kakek dan nenek!" Ujar Ali dengan senang.


Adam pun kini bisa tersenyum menang ke arah Aisyah yang duduk di depan sana sembari menghela nafas beratnya.


"Yasudah, aku ikut tapi ini karena Ali!" Imbuh Aisyah yang mengaku kalah, Adam pun mengangguk mengiyakan istrinya itu.


"Yasudah, ayo kita siap siap dulu nak," ajak Aisyah pada Ali yang akhirnya meninggalkan Adam dan Erika berdua di ruang tamu.


Adam yang melihat Erika kini menekuk wajahnya seakan masih kesal, mencoba mendekatinya dengan duduk di sebelah Erika.


"Kenapa?" Ucap Adam bertanya kepada Erika.


"Aku gak suka liat kamu sama anak kamu." Jawab Erika jujur, seakan tak sadar ucapannya kini membuat Adam mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Apa maksudnya?" Tanya Adam seakan tak paham apa yang Erika maksud.


"Ya aku gak suka liat kamu sama anak kamu itu mas!" Jelas Erika lagi dengan nada kesal.


"Kamu gak suka liat aku dengan Ali? Kenapa? Dia kan anakku, kenapa kamu bisa bicara seperti itu?" Tanya Adam lagi.


"Yah, aku gak suka aja, karena dia bukan anakmu denganku, namun anakmu dengan wanita PELAKOR itu!"


"Astaghfirullah, kamu gak boleh gitu, bagaimana pun dia anakku juga, kemarin kamu bilang kan anakku anak kamu juga," ujar Adam, sembari menangkup wajah Erika dengan kedua tangannya.


"Aku mohon, aku sangat menyayangi kalian berdua, lagipula bukankah kita berdua juga akan segera membuat perutmu itu berisi," goda Adam sembari mencubit kecil hidung Erika.


"Aku juga pasti akan sangat menyayangi anak kita berdua, dan aku ingin kamu dan Aisyah berbaikan, agar kita bisa sama sama hidup bahagia, bersama anak anak kita nanti." Ujar Adam, namun Erika hanya bisa diam mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


Erika tetap tak mau ada Aisyah dalam hidupnya, ia ingin hanya dirinya dan Adam saja.


Erika hanya mampu memberikan sebuah senyuman terpaksa kepada Adam, walau dalam hati ia bertekad akan membuat Adam menjadi miliknya seorang.


__ADS_2