ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 14 Tidak Sendirian lagi


__ADS_3

"Malam ini biarkan aku menemani Aisyah!" Seru Adam, ia kini tengah berada di kamar bersama Erika.


Tatapan tajam terpancar dari kedua mata Erika, ia seperti kesal mendengar penuturan suaminya itu.


"Tidak! Malam ini mas tidur disini! Denganku!" Ucap Erika dengan penekanan di setiap katanya.


Adam menghela nafasnya, ia berkata, "Aku tidak bisa terus-menerus menemanimu di setiap malam, kamu harus paham, Aisyah juga istriku, ia berhak ku perlakukan sama denganmu."


"Apa! Siapa yang berhak! Aku yang lebih berhak mas! Aku yang lebih berhak atas dirimu dibandingkan wanita busuk itu!" Jelas Erika tak terima, ia mendengus kesal.


Adam kini mencoba bersabar, ia memejamkan matanya sejenak, menetralisir emosinya. "Aisyah, namanya Aisyah! Bukan wanita busuk, tolong jangan ucapan mu itu." Ucap Adam, masih dengan mata terpejam.


Seakan menahan emosi yang siap menerkam mangsanya.


"Hah! Tetap saja dia itu wanita busuk bagiku! Pokoknya aku tidak mau tahu! Mas harus tidur malam ini disini denganku!" Erika yang keras kepala kembali, membuat rasa pening yang menjalar di kepala Adam.


"Astaghfirullah, Erika. Mas sudah tidak tahu lagi harus bagaimana dengan kamu ini, terserah padamu, malam ini mas akan menemani Aisyah." Setelah berucap, Adam langsung saja berbalik meninggalkan Erika yang kini berteriak memanggil-manggil namanya dari dalam kamar.


Erika pun kini hanya bisa mengacak rambutnya frustasi. "Tega kamu mas! Akhhh! Bagaimana bisa kamu lebih memilih wanita sialan itu! Lihat saja! Lihat saja! Aku pasti akan membuatmu kembali lagi padaku!"


Sedang Adam kini sudah berada di kamar Aisyah, melihat istri shalihah nya itu yang sedang bersiap untuk menunaikan sholat isya.


"Aisyah, tunggu mas dulu," ucap Adam dan dengan cepat ia pun pergi ke arah kamar mandi yang ada di kamarnya untuk mengambil air wudhu.


Aisyah pun tersenyum kecil, melihat suaminya yang ingin ikut shalat berjamaah bersamanya, Aisyah langsung saja menyiapkan sarung juga kopiah untuk suaminya itu.


Tak berselang lama, Adam pun kembali, ia pun tersenyum melihat Aisyah yang sudah menyiapkan pakaian shalatnya. "Terima kasih sayangku." Ucapnya.


Ia langsung saja memakai perlengkapan shalatnya itu dan segera menunaikan shalat isya bersama Aisyah.


"Assalamualaikum, warahmatullahi wabarakatu," ucap Adam mengucap salam di akhir shalatnya, diikuti Aisyah yang kini duduk di belakang Adam sebagai makmum.


Setelah berdoa, meminta ampun kepada-Nya, Aisyah juga berdoa, semoga dirinya bisa kuat menjalani semua cobaan dalam rumah tangganya ini. Aisyah berdoa, semoga ia bisa ikhlas atas apa yang sudah menjadi kodratnya ini.


Adam pun berbalik, ia tersenyum hangat, membawa tangannya terulur ke arah istrinya itu, yang kini menyambut ulurannya itu dan mengecup lembut punggung tangannya.


"Semoga, kita bisa selalu seperti ini, maafkan aku, sebagai seorang suami, masih banyak kekuranganku yang membuat kamu terluka." Ucap Adam, ia menatap Aisyah dengan mata sayup.


"Aamiin, semoga Allah memberikan nikmat indah dalam keluarga kita ini mas, aku juga, sebagi seorang istri, aku masih banyak kekurangan, semoga aku dan kamu bisa sama-sama melengkapi dan saling menutup kekurangan yang kita miliki mas." Balas Aisyah, ia berharap, rumah tangganya ini bisa ia pertahankan walau banyak rintangan yang menghalang.

__ADS_1


Malam itu pun akhirnya Adam menemani Aisyah, menemani istrinya yang sudah amat lama kesepian beberapa hari ini.


Adam membaringkan tubuhnya di samping Aisyah, ia mengulurkan lengannya, memberi isyarat agar Aisyah bisa tidur dalam dekapannya.


"Kemari, malam ini mas akan memelukmu sampai pagi nanti," ucapnya dengan menaikkan sebelah alisnya, menggoda Aisyah.


Aisyah pun tertawa kecil. "Apaan sih mas, ada-ada saja." Elak Aisyah masih terkekeh.


Ia pun membawa tubuhnya ikut berbaring di samping Adam, mencari tempat ternyaman di atas lengan suaminya itu.


"Bagaimana bisa kamu memelukku semalaman, jika kamu tidur saja tidak bisa diam." Ucap Aisyah meledek suaminya itu, ia tahu bahwa Adam adalah seseorang yang tidak bisa diam jika tertidur.


"Hmm, karena aku merindukan kamu, jadi malam ini aku pasti tidak akan melepaskan pelukanku ini padamu." Ucapnya sembari mengencangkan pelukannya pada Aisyah, sehingga terdengar kekehan kecil dari mulutnya.


"Apa kamu tidak merindukan aku?" Tanya Adam dengan mata yang berbinar, Aisyah kembali tertawa melihat wajah lucu suaminya itu.


"Apa aku merindukanmu? Hmm, bagaimana yah, rindu apa tidak yah?" Goda Aisyah, akhirnya dam pun melancarkan serangannya dengan menggelitik kecil pinggang istrinya itu.


"Akhhahaaahah,,, ahhahha,,, mas berhenti mas! Geli!" Tawa Aisyah, sembari meminta suaminya itu untuk berhenti.


Adam yang enggan untuk berhenti sebelum mendapatkan jawaban yang ia inginkan. "Jadi bagaimana, kamu merindukan suamimu ini atau tidak? Hmm?" Tanyanya lagi, masih dengan tangan yang tidak bisa diam di area pinggang Aisyah.


Kini Adam tersenyum puas, ia pun menghentikan jari-jarinya itu, membuat Aisyah kini bisa bernafas lega.


"Tentu saja, pasti kamu merindukan suami tampanmu ini kan, maka dari itu, ayo kita memadu kasih malam ini." Ucap Adam dengan nada lirih yang ia ucapkan tepat di samping telinga Aisyah.


Aisyah pun memekik kaget, ketika Adam tiba-tiba naik ke atas tubuhnya, ia nampak tersenyum menyeringai, seakan siap menerkam mangsanya.


"Ayo kita mulai!" Ucap Adam sebelum memulai aksinya itu, membuat Aisyah membelakak dengan apa yang dilakukan suaminya ini.


Akhirnya malam itu, Aisyah tidak sendirian lagi. Kini hanya ada malam hangat yang ia lalui dengan suaminya, walau masih ada sedikit rasa sakit hati, disaat ia teringat akan ucapan suaminya siang tadi.


Namun, Aisyah mencoba melupakannya dan tak berlarut-larut dalam kesedihannya itu.


Sedangkan kini, Erika masih terjaga di dalam kamarnya, matanya ini seakan enggan untuk terlelap. Pikirannya kacau, memikirkan suaminya yang kini tidur bersama Aisyah.


"Akhhh! Bagaimana bisa mas Adam meninggalkan aku sendirian disini!" teriaknya kesal, ia mengacak-acak rambutnya seperti orang depresi.


Malam itu, Erika terus terjaga, sampai pada pukul 5 pagi, ia baru bisa terlelap karena kelelahan setelah semalaman menangisi malamnya yang dingin tak bertemakan suaminya.

__ADS_1


Berbeda dengan kamar yang kini di tempati oleh Aisyah dan Adam, mereka baru saja selesai mandi, diakibatkan pertempuran mereka tadi malam, yang kini membuat keduanya harus mandi besar, sebelum melaksanakan ibadah shalat shubuh.


Dengan canda tawa, Aisyah dan Adam keluar dari kamar mandi, seakan tak ada masalah, mereka bak suami istri yang hidup bahagia.


Setelah itu, Aisyah pun seperti biasanya, ia pergi ke dapur untuk membantu ibu mertuanya menyiapkan makanan.


"Sudah sholat nak?" tanya Bu Fatimah ketika melihat Adam dan Aisyah berjalan bersamaan ke arahnya.


"Sudah bu," balas mereka bersamaan juga.


Bu Fatimah pun tersenyum, melihat anak dan menantu kesayangannya itu kembali akur. Namun, Bu Fatimah tak lupa pada menantunya yang satu lagi.


"Dimana Erika? apa dia belum bangun?" tanya Bu Fatimah, yang kini membuat Adam menengok ke kanan dan kiri mencoba mencari keberadaan Erika.


Sedangkan Aisyah kini ikut membantu ibu mertuanya itu memasak.


"Sepertinya masih di kamar Bu." Balas Adam.


"Ya sudah bangunkan istrimu itu! masa jam segini dia belum bangun, suruh dia sholat shubuh dulu!" perintah Bu Fatimah pada anaknya.


Adam pun mengangguk patuh, ia pun segera meninggalkan dapur dan berjalan menuju kamar yang Erika tempati.


Dan benar saja, kini Erika masih tertidur pulas di ranjangnya. Bagi Adam yang sudah tahu dengan kebiasaan Erika yang tak pernah bangun pagi, tentu ini menjadi hal wajar.


Namun, karena kini dirinya tengah berada di rumah orang tuanya, Adam mencoba membangun Erika, tanpa tahu bahwa istrinya itu baru saja terlelap.


Adam menatap wajah sembab Erika, ia seakan tahu bahwa istrinya itu sudah menangis semalaman. Di usapnya pipi Erika, dengan perlahan dan lembut.


"Maafkan aku," ucapnya pelan, seakan merasa bersalah.


"Maafkan aku telah membuatmu menangis semalaman," lanjutnya, tapi Adam seakan menjadi pria bodoh.


Ia sadar akan rasa sakit yang Erika derita, namun tidak dengan Aisyah. Padahal, kedua istrinya itu sama-sama tersakiti.


Apakah benar, Erika yang lebih Adam cintai, sampai-sampai Aisyah lah kini yang lebih sering menjadi korban dari perasaannya.


Atau, hanya karena sifat Aisyah lebih dewasa, Adam jadi lebih percaya dan tidak memperdulikan perasaan Aisyah. Karena ia terlalu percaya bahwa Aisyah bisa lebih mengerti dibandingkan Erika.


Namun, nyatanya hal itu tetaplah salah. Erika maupun Aisyah, tetaplah istrinya yang harus ia perlakukan dengan sama rata.

__ADS_1


__ADS_2