ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 38 Untuk Apa Terus Memaksa?


__ADS_3

Dengan hati yang hancur, Aisyah tetap harus mengikhlaskan kepergian putranya itu. Ia terus saja mencoba kuat, melihat Ali yang terbujur kaku dengan kain putih yang menutupi tubuhnya sampai ke kepala.


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un,"


Bibir Aisyah bergetar, menahan rasa pedih di hatinya. Melihat putra satu-satunya yang kini lebih dulu meninggalkannya, pulang kepada pemiliknya.


"Kenapa begitu cepat Ali tinggalkan Umma Nak?" lirihnya.


Satu tangan Aisyah bawa, mencoba meraih kain putih yang menutupi kepala putranya itu, dengan perlahan ia tarik kain itu, mencoba melihat wajah putranya untuk yang terakhir kalinya.


Air mata terus meleleh di pipinya, ia terisak merasakan sakit hati yang teramat lebih dari apapun.


Hal ini tentu sangat menyakitkan bagi Aisyah, kehilangan putranya di usia yang masih kecil, apalagi penyebab Ali meninggal karena ingin menyelamatkannya.


Aisyah merasa sangat bersalah, ia sempat menyalahkan dirinya sendiri, namun ia tersadar bahwa ini semua sudahlah menjadi takdir yang Allah berikan.


"Maafkan Umma yah, belum bisa menjadi Ibu yang baik untuk Ali,"


"Ali pasti senang di atas sana, semoga kelak kita bisa bertemu kembali di surganya Allah, yah Nak...," Aisyah menatap sendu wajah pucat Ali.


Berharap Ali mendengar semua ucapannya itu.


Setelah melengkapi berbagai data di Rumah Sakit, akhirnya Aisyah bisa membawa Ali pulang ke rumah.


Dimana Adam?.


Tentu saja Adam ada, ikut menemani Aisyah mengurus semuanya di Rumah Sakit, sampai akhirnya bisa membawa Ali kembali ke rumah untuk melaksanakan pemakaman.


Di sepanjang waktu mereka mengurus ini dan itu, Aisyah hanya diam tak berniat bertanya ataupun menatap suaminya itu.


Aisyah mencoba bersabar, menghargai proses pemakaman putranya. Ia tak ingin merusak ataupun membicarakan masalah itu sekarang.


Saat hendak pulang ke rumah, Aisyah dengan cepat menghubungi kedua orang tuanya, memberikan kabar yang sangat membuat kedua orang tuanya itu terpukul.


Sama halnya dengan kedua mertuanya, Aisyah tak lupa memberitahukan mereka juga tentang kabar duka yang datang dari cucunya.


Sontak semuanya langsung pergi menuju rumah Aisyah, melangsungkan acara pemakaman untuk cucu kecil mereka. Sungguh hal yang tak di sangka-sangka, membuat dua keluarga itu sangat terpukul atas kehilangan cucu manisnya itu.


Isak tangis terdengar di rumah Aisyah, banyak warga yang ikut datang turut berduka cita atas kepergian Ali.


Karena sudah malam, pihak keluarga memilih untuk mengebumikan Ali di keesokan harinya. Semalam itu, rumah Aisyah penuh, di kunjungi warga juga sanak saudaranya yang berniat melayat turut berbelasungkawa.


Sepanjang itu, Adam dan Aisyah sama sekali tak bertukar kata. Adam berniat memecah perang dingin di antara ia dengan istrinya itu, tapi Aisyah seakan sudah sangat marah dan geram kepadanya.


Setiap kali Adam mencoba mendekat dan mengajaknya berbicara, Aisyah langsung saja menghindar, enggan untuk mendengarkan ataupun hanya menatap wajah suaminya itu.


Akhirnya, Adam hanya bisa menghela nafasnya, mencoba bersabar dengan sikap Aisyah.


***


Keesokan harinya, setelah acara pemakaman selesai, Aisyah pulang dengan rangkulan Ummi juga Ibu mertuanya. Mereka bertiga seakan mencoba menguatkan diri bersama-sama.


Sedangkan kini, Adam hanya bisa melihat punggung istrinya itu yang masih terus tak mau berbicara kepadanya.


"Mas, sudah bereskan? Kita pulang yuk, aku cape banget nih," seru Erika.


Adam mengerutkan keningnya, menatap Erika dengan tatapan sedikit geram, bisa-bisanya ia meminta pulang di saat keadaan yang seperti ini.

__ADS_1


"Erika, aku baru saja kehilangan putraku, tidak bisakah kamu sedikit mengerti?" Adam menatapnya geram.


Mendengar hal itu, Erika kini menundukkan wajahnya, sedikit kesal dengan balasan dari suaminya. Padahal, Erika ingin cepat pulang karena merasa takut dan risih, ia serasa di kelilingi oleh bayang-bayang wajah Ali yang terus mengganggunya.


"A-aku cuman merasa gak enak badan Mas, ya sudah, maafkan aku," Erika enggan memancing amarah suaminya itu.


Memilih mengalah dan mengikuti langkah kaki Adam yang berjalan kembali menuju rumah yang kini membuatnya selalu bergidik ngeri, terbayang sosok Ali yang terbaring lemas di hadapan mobilnya.


Erika dengan cepat menggelengkan kepalanya, mengenyahkan semua pikiran-pikiran anehnya itu.


Langkah Aisyah terhenti, di saat melihat sebuah mobil yang terparkir di depan halaman rumahnya.


"Kenapa nak?" Ummi bertanya.


Aneh melihat Aisyah yang kini tertegun menatap mobil di hadapannya itu.


"Ada apa sayang? ayo kita masuk ke dalam," ajak Ibu mertuanya, yang ikut aneh melihat menantunya itu.


Air mata yang belum sempat selesai, kini kembali menetes, keraguan yang kemarin sempat mengganjal di hatinya, kini semakin di kuatkan dengan sebuah bukti yang tak lagi bisa di sangkal.


"Aisyah,"


Aisyah menoleh, membalikkan tubuhnya, menatap pria yang telah memanggilnya itu.


"Mobil siapa ini Mas?"


Kalimat pertama yang Aisyah ucapkan setelah melewati perang dingin selama dua hari ini.


Adam menoleh, ikut membawa wajahnya melihat ke arah mobil yang Aisyah maksud. Ia sedikit mengerutkan keningnya, melihat dengan jelas mobil yang tentunya ia tahu milik siapa mobil itu.


"Apa ini mobil Mbak Erika?" tanya Aisyah lagi.


"Sialan!" umpat Erika dalam hatinya.


"Iya, ini mobilku yang aku berikan kepada Erika, memangnya kenapa?" balas Adam akhirnya.


Aisyah terkekeh, namun terdengar sangat memilukan, membuat Adam, Ummi dan Ibu mertuanya bingung.


"Bodoh! kenapa bisa-bisanya aku lupa dan membawa mobil itu kesini!" batin Erika merutukki dirinya sendiri.


"Bagaimana jika akhirnya semua orang tahu bahwa akulah yang menabrak bocah itu!"


Tangan Erika basah dengan keringat, bahkan tubuhnya kini sudah berkeringat dingin. Dirinya ketakutan, cemas jika saja semuanya akan terbongkar.


"Memangnya kenapa Nak?" tanya Ibu mertuanya.


Aisyah masih terdiam, mengalihkan pandangan ke arah Erika dengan sorot mata nyalang.


"Mobil ini, aku ingat dengan jelas, mobil ini telah menabrak tubuh Ali di depan mataku!" sahut Aisyah. Membuat semua orang di sana membulatkan matanya terkejut.


Namun, berbeda dengan Adam yang kini kembali menghembuskan nafasnya berat.


"Aisyah, aku mohon-" Adam mengangkat wajahnya menatap Aisyah, "Sudah cukup, jangan lagi kamu menuduh Erika yang tidak-tidak," ujarnya tak percaya dengan perkataan Aisyah.


"Sampai kapan Mas tidak akan mempercayaiku!" Aisyah kalut.


Mau berapa kali Aisyah mengatakan kebenaran, sepertinya Adam tak akan pernah percaya.

__ADS_1


Namun, kini Erika bisa merasa sedikit tenang, melihat Adam yang terus percaya dan membelanya.


"Aisyah, mobil seperti ini bukan hanya satu di luar sana, ada banyak orang yang mempunyai mobil persis seperti ini!"


Adam sedikit mengacak rambutnya, ia merasa Aisyah sudah sangat keterlaluan, menuduh Erika dengan hal yang sangat tidak masuk akal.


"AKU MELIHATNYA DENGAN JELAS MAS!" pekik Aisyah.


"Aku lihat wanita itu!" Aisyah menunjuk Erika yang kini masih terdiam tak bergeming.


"Aku melihat dia duduk terpaku di dalam mobil ini!" Aisyah berteriak mencoba meyakinkan Adam.


"Dia yang sudah membuat Ali meninggal Mas!"


"Wanita yang Mas bela itu adalah seorang pembunuh! dia yang sudah membunuh anak kita!"


Aisyah terus menerus berteriak dengan air mata bercucuran, berusaha membuat semuanya percaya.


Namun, apalah daya, sepertinya Adam sudah di butakan oleh cintanya, sampai tak bisa melihat rasa sakit di balik sorot mata Aisyah.


"Aisyah, sudah Nak, sudah, jangan seperti ini," Ummi Aisyah melerai pertikaian di antara keduanya.


Ia juga merasa sedih melihat putrinya yang kini terlihat sangat terpukul dengan kepergian cucunya itu.


"Sudah, jangan bertengkar seperti ini, istighfar Nak,"


Aisyah menarik nafasnya, mencoba tenang seperti apa yang Ummi nya katakan. Namun, tatapan kecewa masih ia tujukan kepada suaminya itu.


Aisyah berjalan maju, mendekat ke arah Adam, menatapnya dengan sorot mata sendu.


"Apa Mas tidak akan mempercayaiku?" tanyanya masih menatap kedua mata itu.


Adam terdiam, bingung harus menjawab apa.


"Aisyah, aku mohon bukannya aku tidak percaya," sahutnya. "Tapi, jangan terus menuduh Erika seperti ini, semua ini tidak masuk akal." lanjut Adam.


Aisyah menundukkan kepalanya, menarik nafas, mencerna balasan dari Adam.


"Tidak masuk akal?" ulang Aisyah.


"Sampai kapanpun, Mas memang tidak akan pernah percaya," Aisyah masih menundukkan wajahnya.


Aisyah beralih, kembali membawa wajahnya menatap Adam, ia tersenyum tapi, sebuah senyuman yang kini kian mengiris hatinya sendiri.


"Lalu, untuk apa kita terus memaksa Mas?"


Aisyah berucap dengan kedua tangan yang mengepal, mencoba kuat mengucapkan kata per kata yang keluar dari mulutnya.


"Ma-maksud kamu apa Aisyah?"


Adam kebingungan tak mengerti dengan maksud perkataan Aisyah.


"Untuk apa kita terus memaksakan semua ini Mas, jika nyatanya," Aisyah menggigit bibirnya, "kita sudah tak lagi sejalan," lanjut Aisyah.


Adam tercekat, mengerti apa yang Aisyah maksud. Ia terkekeh tak percaya, mendengar apa yang Aisyah katakan.


"Maksudmu, kamu ingin kita berpisah?" Adam bertanya. Dengan kening yang berkerut, dan nada suara yang seakan tak terima.

__ADS_1


Sebuah air mata yang jatuh, menjadi jawaban dari pertanyaan yang Adam lontarkan. Aisyah terdiam, menatap suaminya itu dengan raut wajah yang tak bisa ia artikan.


Adam meremas jantungnya, merasakan sakit di hatinya, mendengar ucapan pisah yang kini keluar dari mulut istrinya.


__ADS_2