
Apartmenen Erika
"Mas, Mas mau kemana sih?" Erika berjalan mendahului Adam yang baru saja berniat keluar dari kamar.
"Sayang, Mas harus pulang," balas Adam.
Erika mengerutkan keningnya, "pulang? Bukannya ini juga rumah kamu yah Mas, Mas mau pulang kemana lagi?" Ketus Erika merasa kesal.
Adam menghela nafasnya sejenak, "Mas harus pulang ke rumah Aisyah, Mas minta sebentar saja, nanti Mas pulang lagi kesini." Balas Adam dengan lembut.
Mencoba membuat Erika mengerti dan semoga saja begitu. Pasalnya, Adam tahu bahwa Erika sangat sulit untuk mengerti akan hal-hal yang bersangkutan dengan Aisyah.
"Bolehkan?" Tanya Adam, mengulang ketika melihat Erika masih terdiam sembari menatapnya tajam.
"Ck, yaudah! Tapi, Mas janji pulang ke sini lagi kan?" Balasnya.
Akhirnya menyetujui kesepakatan yang di tawarkan oleh Adam. Adam pun bisa bernafas lega, ia tersenyum lebar sembari membawa wajahnya mendekat dan mengecup lembut kening Erika.
"Iya sayang, Mas janji pulang ke sini, tunggu Mas yah, gak akan lama ko." Sahut Adam, ia tersenyum lebar sebelum akhirnya pergi meninggalkan Apartemen Erika.
Di dalam Apartemen ini Erika kini duduk di sebuah sofa sembari menyeringai, ia juga tertawa kencang setelah kepergian Adam.
"Yey! Akhirnya, sedikit lagi aku pasti bisa membuat Mas Adam dan Aisyah berpisah untuk, selamanya!" Ucapnya terkekeh pelan.
"Hahaha... Kasian sekali kamu Aisyah, sampai di tampar seperti itu oleh Mas Adam, hanya karena drama kecil buatanku." Lanjutnya menertawakan Aisyah.
"Tenang saja, ini baru permulaan. Aku akan siapkan hadiah yang luar biasa untuk kamu Aisyah, sabar yah." Tawanya seakan memecah keheningan di dalam apartemennya.
Begitu puasnya Erika melihat Aisyah yang terluka karena perbuatannya. Bahkan, Erika lagi-lagi bersiap merencanakan hal lainnya untuk membuat hubungan Adam dan Aisyah semakin hancur.
***
Kini, Adam melajukan mobilnya menuju rumah Aisyah. Ia bersiap untuk meminta maaf atas semua perilaku kasarnya yang sudah kelewat batas.
Adam tahu pasti Aisyah sangatlah terluka atas apa yang sudah ia perbuat tadi. Bahkan, dirinya menampar Aisyah di depan Erika, yang pasti semakin membuat hati wanita itu semakin teriris.
Bodoh, Adam memang bodoh. Tapi, nyatanya memang sulit menjadi sosok suami dari dua istrinya itu. Adam sadar bahwa dirinya masih banyak kekurangan, banyak kesalahan.
Namun, selama ini Adam juga sudah sangat berusaha menjadi suami yang baik untuk keduanya. Dan hal itu juga tak mudah bagi Adam, wajar saja jika ada sedikit kesalahannya.
Mobilnya terus melaju membelah jalanan di sore itu. Sampai satu jam kemudian, Adam memarkirkan mobilnya di depan rumah Aisyah.
__ADS_1
Di saat ia hendak masuk, ternyata pintu rumahnya terkunci. Jelas Adam bingung, berpikir kemana perginya istri dan anaknya itu.
Adam merogoh saku celananya, mencari benda pipih yang kini ia genggam. Ia langsung saja menghubungi nomor Aisyah, mencari tahu keberadaan istrinya itu.
Tapi, tak kunjung mendapat balasan. Membuat Adam semakin cemas, takut jika apa yang ia perbuat tadi pagi membuat Aisyah begitu terluka hingga akhirnya memilih pergi dari rumah.
Adam terus mencoba menghubungi Aisyah, sampai beberapa kali, hasilnya tetap saja nihil. Tak ada satupun panggilan yang terangkat.
***
Di sisi lain, kini Aisyah tengah tertawa melihat Ali yang berjingkrak-jingkrak kegirangan saat masuk ke dalam Aquarium besar.
Ali kini berpegangan tangan dengan Rizal, melihat ubur-ubur yang ada di atas kepala mereka. Ubur-ubur yang terlihat begitu indah dalam kegelapan, membuat semua orang menatapnya dengan kagum.
Sampai-sampai Aisyah tak sadar dengan dering telpon yang sedari tadi berbunyi di tasnya.
Akhirnya, jalan-jalan untuk hari ini selesai, mereka bertiga keluar dengan wajah sumringah, senang dengan perjalanan di bawah lautnya.
"Umma, jalan-jalannya udah selesai?" Tanya Ali dengan sedikit cemberut.
"Iya sayang, udah sore. Nanti, kalo ada waktu lagi, kita jalan-jalan lagi yah nak, sekarang kita pulang dulu oke." Balas Aisyah mencoba menghibur Ali.
"Umma janji yah, nanti ajak Ali jalan-jalan lagi!" Seru Ali dengan kedua alis yang bertautan.
Aisyah pun mengangguk, "iya sayang, in shaa Allah, nanti kalo ada waktu kita jalan-jalan lagi yah."
Ali kemudian menoleh, menatap Rizal, lalu ia berucap, "tapi, nanti jalan-jalannya sama Om Dokter lagi yah Umma!" Ucap Ali yang membuat Aisyah terdiam sejenak.
Aisyah membawa matanya ke arah Rizal, mereka bertukar pandang beberapa detik sampai akhirnya Aisyah dengan cepat menundukkan kepalanya.
"Astaghfirullah," gumam Aisyah.
"Umma, nanti ajak Om Dokter lagi yah Umma!" Seru Ali masih kukuh dengan ucapannya.
Akhirnya Rizal pun kini turun tangan, ia membawa tubuhnya berjongkok menyetarakan tingginya dengan anak usia lima tahun tersebut.
"Siap, nanti Om Dokter bakalan ajak Ali main lagi, tapi sekarang kita pulang dulu yah, kasian Umma Ali udah cape." Sahut Rizal, menatap Ali dengan lembut.
Ali pun berjingkrak kesenangan mendengar penuturan Rizal. Ia mengangkat tangannya ke arah Rizal, memberikan sebuah jari kelingking di hadapannya.
"Om Dokter janji yah!" Ucap Ali, menyodorkan kelingkingnya.
__ADS_1
Rizal tertawa kecil, ia pun membalas jari kelingking mungil itu, lalu mengangguk menyetujui janjinya dengan bocah kecil manis yang kini terlihat sangat senang.
Di saat melihat Ali yang masih mengobrol bersama Rizal, Aisyah merasakan pening di kepalanya. Awalnya, ia mencoba untuk menghiraukan rasa pening itu, menahannya agar tak di sadari oleh Ali juga Rizal.
Namun, kini pening itu seakan terus menjalar dan mencengkeram kepalannya dengan sangat keras. Aisyah pun mencoba memijat pelan pelipisnya, berharap akan segera membaik.
Aisyah juga mencoba menahan tubuhnya agar tidak limbung, matanya kian berkabut, melihat Ali dan Rizal semakin tidak jelas. Hingga ia harus beberapa kali, memejamkan mata hanya untuk menetralisir matanya yang semakin buram.
Sampai akhirnya, hanya suara teriakkan Ali dan Rizal lah yang terakhir ia dengar.
"AISYAH!"
"UMMA!"
Pekik keduanya, di saat melihat Aisyah yang limbung. Untungnya Rizal dengan cekatan menangkap tubuh Aisyah, Rizal melihat Aisyah yang sudah tak sadarkan diri di dalam rangkulannya.
"Aisyah! Aisyah!" Panggil Rizal, mencoba menyadarkannya.
Namun, Aisyah seakan sudah kehilangan kesadarannya. Terlihat darah yang kini mengalir dari hidung Aisyah, membuat Rizal semakin panik.
"Om Dokter, Umma kenapa?" Tangis Ali, ketakutan melihat Ummanya pingsan.
Rizal langsung saja membawa satu tangannya mengusap punggung Ali, mencoba menenangkannya.
"Ali sayang, Umma Ali kecapean, jadi sekarang kita bawa Umma ke Rumah sakit yah, Ali jangan nangis yah sayang, kan ada Om Dokter disini." Ucap Rizal dengan tenang kepada Ali.
Ali mengangguk, ia dengan cepat menyeka air matanya itu. Bersikap tegar setelah mendengar penuturan Rizal.
Rizal pun dengan cepat membawa Aisyah ke dalam pangkuannya, di bantu beberapa orang yang kini mengerumuni Aisyah.
Rizal membaringkan Aisyah di dalam mobilnya, bersama dengan Ali yang kini duduk menjadi bantal kepala Ummanya. Ali terus mengusap lembut wajah Ummanya itu, berharap Ummanya bangun.
Rizal, kemudian masuk ke dalam kursi kemudi. Namun, di saat ia hendak melajukan mobilnya, Rizal mendengar suara dering telpon yang berasal dari tas Aisyah, ia pun mencoba mencari ponsel Aisyah di dalam tasnya.
"Assalamualaikum," Rizal langsung saja mengangkat panggilan itu tanpa melihat nama yang tertera di ponselnya.
"Siapa kamu?" Balas Adam, terkejut mendengar suara lelaki yang mengangkat telponnya.
"Aisyah pingsan, saat ini ada bersama saya. Saya mau membawanya ke Rumah Sakit."
Rizal langsung saja menjelaskan keadaan Aisyah tanpa basa-basi, ia tahu dengan jelas bahwa kini ia tengah berbicara dengan suami Aisyah.
__ADS_1
Sontak Adam terkejut, ia langsung mematikan telpon dan masuk ke dalam mobilnya, hendak menyusul Aisyah yang kini masih terbaring tak sadarkan diri.
Sama halnya dengan Rizal yang kini langsung melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit tempat ia bekerja.