
Rizal Ramadhan, pria yang kini tengah duduk di meja kerjanya. Dengan balutan jas putih yang dapat menggambarkan dirinya sebagai seorang Dokter.
Rizal kini tengah termenung, merenungi nasib cintanya yang luar biasa rumit. Mencintai wanita yang nyatanya sudah di miliki pria lain, bagaimana tidak rumit?.
Tapi, bagi Rizal cinta tetaplah cinta. Walau baru beberapa kali bertemu, Rizal seakan di buatnya tergila-gila tak kuasa menahan perasaannya.
Rizal bertekad, sampai kapanpun ia akan menunggu wanitanya itu, apalagi mengetahui jika rumah tangga wanita itu terlihat tidak baik-baik saja.
Rizal hanya perlu menunggu waktu yang tepat, untuk mengambil sebuah permata yang di buang oleh orang bodoh.
"Arya," panggil Rizal. Seseorang pun masuk ke dalam ruangannya, berbalutkan sebuah jas layaknya seorang pengusaha.
"Saya minta kamu untuk cari tahu mengenai pria ini. Cari tahu semuanya, jangan sampai ada yang tertinggal." ujar Rizal, memberikan sebuah foto yang akhirnya di bawa pria bernama Arya itu.
"Baik, Pak." sahutnya. Lalu melenggang pergi setelah mendapat aba-aba dari Rizal.
"Sial, lama-lama bisa gila aku karena menginginkan kamu Aisyah." umpat Rizal, ia bak anak kecil yang kini kukuh ingin mendapatkan sesuatu milik orang lain.
***
Di sisi lain, kini Adam tengah membawa Erika berjalan-jalan di sebuah tempat perbelanjaan. Mereka berdua terlihat sangat bahagia, memilih baju-baju bayi untuk janin yang masih berusia 2 bulan itu.
"Mas, lihat ini! lucu bukan?" seru Erika sembari memperlihatkan sebuah baju bayi bermotif kodok kepada Adam.
Adan menoleh, ia tersenyum melihat istrinya yang sangat senang memilih-milih baju untuk calon anaknya.
"Bagus, kalo kamu suka ambil aja." balas Adam.
Mereka terus melanjutkan sesi belanja dengan berkeliling-keliling mencari banyak hal yang Erika inginkan.
Mulai dari baju bayi, padahal ia masih sangat lama menuju proses lahiran. Baju-baju yang Erika mau, lanjut menuju toko tas-tas bermerek, sepatu, semua yang terlihat indah di mata Erika, pasti ia masukan ke dalam keranjangnya.
Sore itu Erika terus membuat Adam menggosokkan kartu ATM-nya, tanpa memikirkan biaya yang ia keluarkan.
Di saat Erika dan Adam hendak keluar dari tempat perbelanjaan itu, Adam menoleh dan melihat sebuah toko pakaian yang menarik perhatiannya.
Ia berjalan ke arah toko itu tanpa menghiraukan Erika yang kini memanggilnya.
"Mas, mau kemana sih? Mas?" panggil Erika.
__ADS_1
Melihat Adam yang tak mendengarnya, ia langsung saja mengikuti suaminya itu. Adam masuk ke sebuah toko pakaian dan berhenti pada satu pakaian cantik berwarna biru.
Erika berjalan mendekat, "Ya ampun Mas, ini bukan style aku banget, aku gak suka sama baju yang kaya beginian." ucap Erika, berpikir jika Adam berniat membelikan baju itu untuknya.
"Mas juga tau, ini bukan buat kamu." sahut Adam, tanpa mengalihkan pandangannya dari baju berwarna biru tersebut.
"Mbak, tolong bungkus baju ini yah." Adam memanggil salah satu karyawan toko tersebut, memintanya untuk membungkus baju yang telah menarik perhatiannya itu sembari memberikan kartu ATM-nya.
"Baik Pak," jawab shopkeeper itu sembari langsung membawa baju yang Adam maksud.
Erika kini mengerutkan keningnya, "Lalu, untuk siapa baju itu?" tanya Erika.
Adam berbalik, menatap Erika yang kini menatapnya penasaran.
"Tentu saja untuk Aisyah, memangnya siapa lagi selain Aisyah yang suka memakai gamis seperti itu." balas Adam.
Setelah mendengar jawaban Adam, seketika raut wajah Erika berubah masam. Kesal bahwa Adam masih saja memikirkan Aisyah di saat seperti ini.
"Ngapain sih Mas beliin Aisyah segala!" ketus Erika.
Adam menghela nafasnya, "Karena Aisyah juga istriku, lagipula Aisyah cuman aku belikan satu baju, sedangkan kamu-" ujar Adam sembari membawa matanya kini menuju tas belanjaan yang menumpuk di sebuah troli.
"kamu lihat sendiri, belanjaan kamu itu tak terhitung di bandingkan satu baju yang aku belikan untuk Aisyah." lanjut Adam.
"Sudah, jangan cemberut seperti itu." tutur Adam.
Erika kini memilih memalingkan wajahnya kesal, walau hanya satu barang saja hal itu tetap tak menutupi hal bahwa Adam masih peduli kepada Aisyah.
"Ini Pak," Shopkeeper itu kembali dengan satu tas belanja juga kartu ATM Adam.
"Terima Kasih." Adam akhirnya membawa satu tas belanjaan itu.
Adam langsung saja mengajak Erika yang kini masih cemberut untuk kembali berjalan menuju parkiran.
Erika semakin kesal ketika melihat Adam yang terus memegangi kantung belanjaan yang berisikan baju untuk Aisyah, sedangkan kantung-kantung belanjaannya harus ia bawa dengan mendorong troli yang berat ini sendirian.
Di saat tengah berjalan menuju mobil, Adam dan Erika memberhentikan langkahnya ketika sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka.
Keluarlah Gilang dari mobil itu, orang kepercayaan Adam di perusahaan. Ia dengan cepat menunduk memberi salam kepada atasannya.
__ADS_1
"Maaf Pak, Bapak harus secepatnya kembali ke Kantor, ada klien penting yang kini menunggu Bapak," ujar Gilang.
Dengan berat hati, Adam kini menoleh dan menatap Erika yang semakin menekuk wajahnya kesal.
"Ya sudah, pergi saja. Aku gakpapa ko." seru Erika, sebelum Adam berucap.
"Ya sudah, biar Gilang antar kamu ke Apartemen yah." Adam menyuruh Erika untuk pulang bersama Gilang.
Namun, dengan cepat Erika menolak. Ia menggelengkan kepalanya, "Gak usah, aku naik mobil aja. Lagian aku juga bisa sendiri, Mas pergi aja sama Gilang ke Kantor." sahut Erika.
Awalnya Adam menolak, tak mau meninggalkan Erika yang tengah mengandung pulang sendirian menyetir mobil. Tapi, karena Erika yang tetap kukuh tak mau di antar, akhirnya Adam membiarkan hal itu dan pergi meninggalkan Erika sendirian dengan berat hati.
Setelah kepergian Adam, Erika langsung saja masuk ke dalam mobilnya. Ia segera memasukkan semua kantung belanjaannya ke dalam mobil.
Erika kini tengah melajukan mobilnya sembari terus menggerutu kesal. Sudah di buat kesal dengan Aisyah lalu kini di tinggal pergi, rasanya ingin Erika berteriak mengumpat di hadapan suaminya itu.
"Kesel! Mas Adam nyebelin banget sih, terus masih aja Mas Adam perhatian sama cewek sok alim itu!" ocehnya.
Erika terus saja melajukan mobilnya, sampai saat matanya menangkap sosok yang tak asing di depan sana. Erika terlihat mencengkeram setir mobil dengan kuat.
"Dasar cewek sok alim! udah bikin kesel, pake muncul di depan mata lagi!" gumam Erika dengan gemeretuk gigi.
Karena tengah kesal dan marah, Erika bak kerasukan setan, ia menatap Aisyah di depan sana dengan api membara di matanya.
"Lihat ini, ini semua karena kamu sudah mengusik rumah tanggaku dengan Mas Adam! kamu pantas mendapatkan ini!" ucapnya, Erika bersiap menginjak gas, melihat Aisyah yang kini bersiap menyebrang.
Ketika mata itu menangkap Aisyah yang sudah berada di tengah jalan, Erika langsung saja menginjak pedal gas, melajukan mobilnya dengan cepat ke arah Aisyah.
"UMMA! AWAS!" teriak Ali, ketika melihat mobil yang melaju cepat ke arah mereka.
Anak usia lima tahun itu dengan sigap mendorong Umma nya ke pinggir jalan, ia tak memikirkan dirinya sendiri, yang ia mau hanyalah melindungi Ummanya dari bahaya.
Aisyah terdorong jatuh ke pinggir jalan, sedangkan kini, tubuh mungil itu terbanting jauh tertabrak wajah mobil yang membuatnya terpental dan tergeletak bersimbah darah di dinginnya aspal.
BRAKKKK!
Aisyah duduk tak bergeming, membatu di tempatnya dengan kedua tangan yang kini menutup mulutnya.
Matanya membulat, terpaku melihat malaikat kecilnya yang terbaring bermandikan darah, tenggorokannya seakan tercekik tak bisa mengeluarkan satu patah kata pun.
__ADS_1
Jantungnya berhenti berdetak, matanya memerah tak sadar menjatuhkan air mata.
Dunia seakan berhenti berputar, Aisyah berhenti bernafas, tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.