
Di balik selimut ini, ku keluarkan semua rintihan hati ini. Rasa pedih di akibatkan perlakuan mas Adam yang telah mengiris hati.
Mungkin bila hati ini bisa menampakkan wujudnya, ia sudah lemas tak berdaya di hiasi darah yang terus mengalir dari luka yang tak terhitung banyaknya.
Pedih, sangat pedih rasanya, kian hari, kian terluka juga hati ini.
Aku seakan teringat oleh kata-kata mas Adam yang berucap bahwa mbak Erika adalah pilihannya, dan aku, wanita yang di pilih oleh Ibunya.
Dada ini sesak, merasakan pilu yang teramat, sulit untuk menerima kenyataan. Hubungan suami istri di antara aku dan mas Adam yang awalnya baik-baik saja, kini menjadi begitu kacau dan hancur.
Aku yang dulu berpikir bahwa suamiku hanya mencintaiku seorang, kini terpatahkan dengan hadirnya wanita lain yang jauh lebih berarti di matanya.
"Pada akhirnya, aku tahu bahwa mas sangat mencintai mbak Erika di bandingkan aku," lirihku.
Aku kembali terisak di dalam pelukan selimut ini. Berharap rasa sakit ini bisa sedikit terhapus dengan semua derai air mata yang turut menetes.
Tak berlama-lama larut dalam kesedihan, aku bangkit dan keluar dari balik selimut ini. Ku langkahkan kakiku ini menuju kamar mandi di kamarku, berniat untuk membasuh wajahku yang pastinya sudah terlihat bengkak.
"Sangat menyedihkan," gumam ku. Di saat melihat pantulan diriku di cermin.
Mata yang terlihat memerah juga sembab, tak lupa hidung yang kini terisi banyak ingus, membuatku terlihat begitu berantakan.
Apalagi, kerudung yang sudah tak karuan bentuknya. Mungkin jika aku tak memikirkan Ali putraku, aku sudah memilih untuk terus berdiam diri di balik selimut itu.
Namun, kini aku tidak hidup sendiri. Ada Ali yang selalu menungguku dan membutuhkanku, aku harus kuat.
Karena jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi dan Ali masih belum bangun. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali membasuh tubuhku dengan air dingin. Semoga setelah itu, aku bisa kembali merasa lebih segar dan melupakan sedikit rasa sakit di hati ini.
Setelah siap, dengan tubuh yang terasa segar kembali, ku coba mengalihkan rasa pedih ini dengan menunaikan dua rakaat shalat Dhuha, mengadukan rasa sakit hati ini kepada sang pemilik, berharap hati ini akan sedikit terobati.
"Assalamualaikum, Warahmatullahi, Wabarakatu ..." Ucapku di akhir shalat.
Tak terasa, air mata kembali berlinang, tak kuat menahan pilu yang tak ada redanya. Kembali teringat dengan kejadian di pagi hari tadi, di saat mas Adam meloloskan tamparannya.
"Ya Allah, sakit hati ini ya Allah," lirihku, mencurahkan semua isi hati ini.
"Maafkan hamba ya Allah, jika hamba tidak bisa menjadi istri yang baik untuk suami hamba," aku terisak dalam setiap kata yang terucap.
Mencoba mengeluarkan seluruh rasa pedih yang mengganjal di hati, memasrahkan diri kepadanya.
"Maafkan suami hamba, yang mungkin telah terhasut hawa nafsunya, sehingga melakukan hal yang tak ia sadar."
Ku tatap kedua tangan ini yang terangkat memohon ampunan ya.
"Tabahkan lah hati hamba, kuatkan hamba, semoga hamba bisa sabar dalam menjalani segala cobaan ini ya Allah,"
"Engkaulah yang Maha mengetahui, pemilik hati ini ya Allah, ku pasrahkan seluruhnya kepadamu, semoga apa yang telah terjadi atas kehendakmu, menjadi yang terbaik bagi hambamu ini,"
Ku bawa kedua tanganku, menyapu lembut wajah ini, hingga terasa sampai ke dalam dada yang kini merasa sedikit ringan.
"Umma," panggil Ali yang kini terlihat berjalan sedikit linglung sembari mengucek-ucek matanya.
Segera ku seka air mata ini, lalu mengembangkan sebuah senyuman ke arahnya. "Selamat pagi anak Umma, sini nak, sini, Umma peluk." Ucapku.
Ku rentangkan tangan ini menyambut putra manisku yang kini berjalan ke arahku dengan senyuman lebarnya.
Ke peluk Ali ke dalam dekapanku, satu-satunya alasanku untuk bisa kuat menjalani hari yang sudah hancur.
"Umma, Ali laper," ujarnya.
Membuatku seketika tertawa geli mendengar penuturannya. "Masya Allah, anak Umma yang ganteng ini udah laper?" Ku gelitikki perut buncitnya itu.
__ADS_1
Ali tertawa keras, menahan tanganku untuk menjauh dari perutnya. "Ahahahha, Umma geli, hahhahhah..." Tawanya.
Membuatku kini bisa tertawa lepas melupakan segala rasa sakit yang sebelumnya terus mengganjal.
Memang, Ali adalah malaikat yang Allah titipkan untukku, yang selalu ada dan selalu bisa menghiburku di kala sedih.
Terima kasih ya Allah, sudah menitipkan malaikat kecil ini ke dalam hidupku. Membuat hidup ini jauh terasa lebih ringan dengan kehadirannya.
"Ya sudah, siapa yang mau makan?" Tanyaku, ia langsung mengacungkan jarinya ke atas dengan sangat antusias.
"Ali! Ali! Ali! Aku mau makan Umma!" Balasnya dengan kencang.
"Siap, ayo kita turun, setelah makan, kita langsung mandi yah sayang. Nanti Umma ajak jalan-jalan, Ali mau?" Tawarku, dengan sedikit menggodanya.
"Asyik! Ali mau Umma, Ali mau!" Pekiknya sembari meloncat-loncat kegirangan.
Yah, memang tak ada salahnya untuk pergi keluar hari ini kan, daripada aku harus terus berdiam diri di rumah meratapi kesedihan yang tak akan ada ujungnya.
Lebih baik aku pergi mencari angin bersama anakku, lagipula sudah lama juga aku tak membawa Ali pergi jalan-jalan.
"Oke, kalo begitu, siapa yang sampai duluan di bawah, bisa dapat hadiah puding coklat setalah makan, Ali siap?" Ajakku, sembari membuka mukena dan membereskan nya kembali.
Ali mengangguk antusias, lalu sembari mengambil ancang-ancang, "satu, dua, ti.... Ga!"
Aku langsung berlari kecil, melihat Ali yang kini berlari di depanku. Ku biarkan dia berjalan mendahuluiku, agar anak itu akhirnya menang dan bersorak ria di bawah sana.
Memang seperti inilah hidup sebagai seorang Ibu dari satu anak.
Sehari-hari bak tengah berganti peran sebagai guru TK. Harus selalu bersemangat dengan ide-ide yang luar biasa menguras tenaga.
Tapi, walau terkadang lelah dengan keseharian yang begitu melelahkan ini, aku tetap menyukainya karena kelak hari-hari melelahkan ini akan menjadi kenangan-kenangan indah di masa tua nanti.
Maka dari itu, semua Ibu di dunia itu sangatlah hebat, bisa membelakangkan perasaanya demi mengasuh sang buah hati.
Di kala hatinya kesal, lelah sampai sedih pun. Ketika sang anak datang, semua rasa itu seketika mereka sembunyikan dengan sebuah senyuman lebar.
Hanya untuk membuat sang buah hati merasa nyaman dan tahu, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tak berlangsung lama, Ali kini sudah siap di hadapanku dengan ransel kodoknya. Sudah tampan, perutnya sudah terisi, aku juga tak lupa membawa pakaian ganti untuk Ali, karena anak seusia Ali itu banyak tingkah yang tak bisa di tebak.
Maka pakaian ganti harus selalu siap, juga ada cemilan dan dompet tentunya.
Di pikir sudah siap, aku pun langsung melangkahkan kaki keluar rumah sembari memegang tangan mungil Ali.
Sesaat, setelah menutup pintu dan menguncinya, aku baru tersadar dan teringat akan sesuatu yang sangat penting.
"Astaghfirullah," ucapku sembari menepuk jidat ini.
Ali menatapku bingung, "kenapa Umma?" Tanyanya.
Aku hanya bisa tersenyum menyengir, memperlihatkan deretan gigiku ini, begitu bodohnya aku.
Bagaimana bisa pergi kalo aku saja tidak tahu harus pergi memakai apa?.
Di rumah sebenarnya ada satu mobil lagi yang jarang di pakai mas Adam, dulu aku juga pernah di ajarkan mas Adam untuk mengendarainya.
Tapi, ini sudah terlalu lama, aku bahkan sudah melupakan semua cara mengendarainya.
"Naik kendaraan umum aja?" Gumamku.
"A-aisyah?" Panggil seseorang.
__ADS_1
Aku menoleh, mencari arah suaranya, dan ternyata seseorang yang memanggilku itu adalah,
"Dokter?" Ucapku dengan sebuah kerutan di kening ini, memicingkan mataku menatapnya dengan jelas.
"Benarkan, Dokter Rizal?" Tanyaku lagi memastikan.
Terlihat Dokter Rizal kini tersenyum lebar, ia juga menganggukkan kepalanya.
"Iya, benar. Panggil Rizal saja, saya bukan dokter jika di luar sini." Balasnya.
Aku hanya bisa mengulas kan sebuah senyuman kecil, merasa sedikit canggung. Namun, aku sedikit terkejut dengan kehadirannya. Mengapa bisa ada dokter Rizal di depan rumahku?.
"Mm, saya baru pindah hari ini," ucapnya seakan membalas pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepalaku ini.
Ia juga terlihat menunjuk rumah yang berada tepat di seberang rumahku. Seketika aku pun mengangguk, mengerti dengan maksudnya.
"Oh, mas Rizal yang membeli rumah Bu Indri toh." Ucapku dengan tak sengaja memanggilnya dengan sebutan mas.
Mata ini seketika membulat, terkejut dengan apa yang keluar dari mulut ini. Seolah-olah keluar begitu saja tanpa beban.
Terlihat Dokter Rizal yang kini menahan senyumannya, membuatku semakin malu.
"Mas Rizal? Oke, kamu boleh panggil saya mas Rizal." Ujarnya, membuat pipi ini semakin memerah.
Malu sangat rasanya diri ini, ingin cepat-cepat pergi dari hadapannya.
"Umma! Ayo cepet, Ali udah gak sabar!" Seru Ali, sembari menarik-narik lenganku.
Ali menyadarkanku, kembali memutar otak ini berpikir bagaimana caranya menepati janjiku kepada putraku ini.
"Bentar yah, Umma pikir dulu caranya,"
"Oh, Umma tahu," seruku setelah mendapatkan sebuah pencerahan.
"Kita pesan GowCar aja," ucapku yang baru terpikirkan.
"Memangnya mau kemana?" Tanya Dokter Rizal, yang masih setia berdiri di depan pagar rumahku.
Aku yang mendapati pertanyaan itu sedikit ragu untuk menjawabnya, lagipula untuk apa dia tau, aku juga merasa sedikit risih sejujurnya.
"Mm, mau ke taman bermain di kota mas," akhirnya balasku terus terang.
"Ya sudah, mati saya antar." Ujarnya yang semakin membuat kedua mataku membulat tak percaya.
Ku gelengkan dengan cepat kepala ini, menolak tawarannya.
"Ga-gak usah repot-repot mas, saya mau pesan GowCar aja." Tolak ku dengan halus.
"Udah, saya antar saja gakpapa, gak merepotkan ko, ayo!" Ajaknya lagi, sembari langsung melenggang pergi ke arah mobilnya tanpa menunggu balasanku.
Aku yang kini melihat Dokter Rizal sudah melajukan mobilnya terparkir di rumahku merasa tidak enak jika harus menolaknya.
"Apa tidak apa-apa?" Batinku.
Sungguh ini pertama kalinya aku menaiki mobil dengan lelaki lain selain dengan mas Adam juga Abi. Maka dari itu, aku merasa takut juga sedikit canggung.
"Aisyah, ayo!" Panggilnya dari dalam mobil.
Ali juga terus menarik tanganku untuk cepat masuk ke dalam mobil. Dalam hati aku terus berdoa, semoga saja apa yang aku lakukan kini tidak salah.
"Bismillah," gumamku sebelum melangkahkan kaki ini masuk ke dalam mobil.
__ADS_1