ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 17 Aku Akan Tinggal Di sini!


__ADS_3

"Iya, mas akan cepat pulang kalo semuanya sudah beres. Kalo kamu ngantuk, kamu tidur duluan saja, mas bawa kunci cadangan." Ucap Adam yang tengah mengobrol di telepon.


Aisyah yang samar samar mendengar pembicaraan Adam dengan seseorang yang Aisyah yakini ialah Erika, kembali merasa lesu. Seakan tahu bahwa dirinya akan kembali di tinggalkan lagi.


Setelah mengakhiri teleponnya, Adam pun masuk ke dalam kamarnya, ia menutup pintu menuju balkon dan berjalan mendekati Aisyah.


"Mas akan pergi lagi?" Ucap Aisyah tiba-tiba yang sedikit mengejutkan Adam dengan pertanyaannya.


Adam terdiam tak berniat menjawab, ia tahu pasti Aisyah tadi mendengar percakapannya dengan Erika.


Aisyah yang kini duduk di atas ranjang hanya bisa diam menatap suaminya itu yang masih enggan menjawab pertanyaannya.


Ia menundukkan kepalanya, menahan air mata yang tiba-tiba datang tanpa di undang, rasanya berat, Aisyah merasa bahwa Adam, memang jauh lebih mencintai Erika di bandingkan dirinya.


"Kalo mas memang mau pergi, pergi saja, aku gak akan mencegah mas untuk pergi." Ucapnya lagi, dengan suara yang sedikit berat karena menahan isak tangisnya.


Adam yang menyadari perubahan suara Aisyah kini dengan cepat menjatuhkan tubuhnya berjongkok di hadapan Aisyah.


Ia membawa tangannya ke pundak Aisyah. "Mas gak akan pergi, mas akan temani kamu malam ini." Seru Adam, tangannya menggapai wajah sayu Aisyah.


Adam jelas melihat buliran buliran air mata yang sudah menghiasi pipi merah Aisyah.


Rasa salah juga sedih menjalar di dada Adam, mengetahui bahwa Adam sudah salah kepada istri satunya itu. Adam tahu ia sudah sedikit tak adil kepada Aisyah.


"Mas tidak akan kemana mana, maafkan mas." Ucapnya lagi, sembari mengusap air mata Aisyah.


Aisyah mendongak melihat wajah tampan Adam yang kini menatap nya dengan tatapan iba.


"Bagaimana dengan mba Erika? Bukannya mas tadi sudah janji akan secepatnya pulang? Bagaimana jika mba Erika marah?" Aisyah seakan tak memperdulikan hatinya malah mempertanyakan keadaan Erika kepada Adam.


Padahal ia bisa saja bodoh amat dengan istri lain suaminya itu. Namun, itulah Aisyah, wanita yang selalu memikirkan perasaan orang lain terlebih dahulu di bandingkan perasaannya.


Maka dari itu, ia lebih sering tersakiti.


"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, biar aku yang tangani, yang lebih penting, malam ini aku milikmu." Ujar Adam, ia menatap dalam mata indah Aisyah.


Lalu menelusukkan jari jemarinya ke dalam helai rambut Aisyah, membawa wajahnya semakin mendekat sehingga tak menyisakan jarak.


Kecupan demi kecupan jatuh di bibir ranum Aisyah, yang membuat Aisyah melupakan segala hal dan memilih untuk menikmati malamnya ini.


"Aku mencintaimu mas," ucap Aisyah di sela sela kegiatan panas mereka berdua.


"Aku juga mencintaimu Aisyah."


Sedang di sisi lain, kini Erika masih sibuk mengecek ponselnya. Sedari tadi ia mengirimi pesan kepada Adam, namun tak kunjung mendapat balasan.


"Kemana sih kamu mas! Kenapa jam segini belum juga pulang! Apa si wanita busuk itu yang cegah kamu! Dasar wanita sialan!" Erika yang tengah terbakar emosi, membuat pikirannya kacau, ia mengutuk Aisyah yang sebenarnya tak bersalah.


Nyatanya Erika dan Aisyah sama-sama wanita yang membutuhkan kasih sayang suaminya. Mereka tak ingin Adam terbagi menjadi dua, namun apalah daya, nasi sudah menjadi bubur, hidup mereka sudah terlanjur menjadi satu.


Erika maupun Aisyah tetaplah istri Adam, kini keduanya hanya perlu berdamai dengan keadaan.

__ADS_1


"Tega kamu mas! Kamu lebih memilih wanita itu daripada aku! Aku ini wanita pertama yang kamu cinta!" Seru Erika, tak ayal kini air matanya pun ikut menghiasi malamnya yang sepi.


Malam itu, Erika menangis sendirian di kamarnya. Rasa kesal, marah dan sedih bercampur menjadi satu, tanpa tahu harus bagaimana, yang membuatnya memilih untuk menangis semalaman, sampai matanya lelah dan pada akhirnya, ia pun terlelap.


Keesokan paginya, Erika terbangun dengan mata sembab, ia terperanjat ketika sadar bahwa sinar matahari sudah masuk ke dalam kamarnya melalui celah celah gorden.


Ia menengok ke samping tempat tidurnya, berharap sosok yang ia dambakan ada di sana, namun nyatanya nihil.


Erika tak mendapati sosok suaminya itu, tetapi seakan tak berputus asa. Erika langsung turun dari atas ranjang. Ia berjalan ke kamar mandi di kamarnya.


"Mas, kamu udah bangun?" Ujar Erika, seakan percaya bahwa suaminya itu ada di dalam kamar mandi.


Di saat Erika membuka pintu, ia kemudian kembali tak mendapati sosok Adam.


Erika seperti tak mau menerima kenyataan bahwa suaminya itu tak pulang, ia kembali mencari Adam ke seluruh penjuru apartemennya.


"Mas, mas! Kamu dimana sih?"


"Iya, mungkin mas Adam lagi beli sesuatu ke bawah, gak mungkin kan dia gak pulang semalaman! Gak mungkin," ucapnya, seakan menenangkan dirinya sendiri.


Namun, semua kata katanya itu tak mampu menyembunyikan rasa gundah dalam hatinya. Erika terjatuh, duduk di lantai. Ia mengacak rambutnya frustasi, seakan tak bisa menerima kenyataan bahwa suaminya tak pulang semalam tadi.


"Tega kamu mas! Kamu lebih pilih wanita itu! Lihat saja! Aku akan bawa kamu kembali mas! DASAR WANITA GILA!" Teriak Erika dengan sorot mata merahnya.


Erika langsung saja bangun, ia berjalan dengan hentakkan kaki yang sangat berat, sehingga menimbulkan bunyi yang sedikit keras.


Ia berjalan kembali menuju kamarnya, membuka lemari bajunya, Erika mengeluarkan sebuah koper besar berwarna merah menyala.


Setelah di anggap siap, Erika langsung turun dari apartemennya dengan koper merah menyalanya itu.


Ia tersenyum menyeringai, "tunggu saja, akan aku perlihatkan bahwa mas Adam itu milikku! Wanita sok alim seperti dirinya itu gak akan pernah bisa merebut mas Adam dariku!" Ucapnya.


Akhirnya Erika pergi meninggalkan apartemennya itu.


Di kediaman Aisyah, kini satu keluarga kecil itu tengah menyantap sarapan mereka di meja makan, di selingi dengan obrolan kecil, terlihat seperti keluarga yang sangat harmonis.


"Abi! Ali mau telur nya lagi!" Ucap Ali kepada Adam.


Adam pun dengan sigap langsung menyodorkan sebuah telur mata sapi yang sudah Aisyah buat.


"Nih, ternyata anak Abi ini suka sama telur yah."


Sedang Aisyah kini tersenyum melihat anak dan suaminya bisa berkumpul kembali, melewati pagi hari, selayaknya dulu.


Disaat keluarga kecil ini tengah menyantap sarapan dengan tenang, tiba tiba suara ketukan pintu yang sangat keras terdengar.


TOK... TOK... TOK...


Adam dan Aisyah pun sedikit terkejut dengan suara ketukan itu, pasalnya siapa orang yang datang berkunjung ke rumah orang lain dan mengetuk sekeras itu.


"Biar aku saja, kamu temani Ali disini yah," ujar Adam mendahului bangun dan berjalan ke depan.

__ADS_1


Aisyah pun akhirnya mengangguk, mengiyakan perintah suaminya itu, walau hatinya kini sedikit merasa tak tenang.


"Siapa itu Umma?" Tanya Ali, Aisyah pun segera mengenyahkan rasa gundah nya itu, ia mencoba tersenyum dan menenangkan Ali.


"Bukan siapa-siapa, yuk lanjut makan lagi nak," ujarnya.


Adam kini sudah ada di depan, ia mencoba membuka pintu dan melihat siapa orang yang sepagi ini sudah membuat ribut di rumahnya.


Dan ternyata,


"TEGA YAH KAMU MAS! AKU TUNGGU KAMU SEMALAMAN! KAMU MALAH ENAK-ENAKAN DI RUMAH WANITA SIALAN INI!" Teriak Erika tiba-tiba di saat Adam sudah ada di depan wajahnya.


Adam tentu terkejut, ia tak menyangka Erika bisa berbuat hal seperti ini.


"Erika, apa-apaan ini, tunggu dulu, mas bisa jelaskan!" Adam mencoba menghentikan tangan Erika yang sudah memukul-mukulnya.


"Jelaskan apa! Mas sudah sangat jahat, kenapa mas tidak pulang semalam? Apa karena wanita sok alim itu yang menggoda mas untuk diam disini dan menemaninya tidur! Hah!" Jawab Erika, masih dengan amarahnya.


Adam yang takut jika teriakan Erika terdengar tetangga mencoba menenangkannya, ia membawa Erika untuk masuk terlebih dahulu ke dalam rumah.


"Sudah, hentikan! Erika! Mas tidak suka kamu berbicara kelewatan seperti itu!"


"Kelewatan! Kelewatan bagaimana! Apa yang aku katakan memang kenyataan! Pasti wanita itu kan! Wanita itu yang menggoda mas!" Erika masih terus berteriak-teriak mengomeli Adam, dengan matanya yang tak henti menatap Adam dengan tajam.


"Sampai-sampai mas tidak pulang tadi malam!" Lanjutnya, ia seakan tak puas-puasnya untuk mengeluarkan semua kekesalannya.


Aisyah yang masih berada di ruang makan bersama Ali mulai mendengar semua teriakan teriakan itu.


Bahkan, Ali yang mendengar teriakan Erika merasa ketakutan sampai-sampai dirinya menangis.


"Sudah, Umma disini, Ali gak usah takut," Aisyah mencoba kembali menangkan puteranya itu.


Ia pun segera membawa Ali ke kamarnya, agar tidak lebih jauh mendengar teriakan, teriakan itu.


"Nah, Ali tunggu sebentar disini yah, jangan buka pintu sebelum Umma atau Abi datang, Umma mau lihat Abi dulu yah nak," ucap Aisyah sebelum meninggalkan Ali di kamarnya.


"Iya Umma, tapi Umma jangan lama!" Balas Ali, Aisyah pun mengangguk cepat.


Kemudian ia segera menghampiri asal dari keributan di rumahnya itu. Tentunya Aisyah sudah tahu siapa orang yang sepagi ini sudah membuat keributan di rumahnya.


Siapa lagi jika bukan, Erika.


Dan benar saja, kini Aisyah melihat mas Adam yang tengah sibuk mencoba menangkan istrinya itu. Bak orang kesurupan, Erika berteriak-teriak, mencaci maki mas Adam juga dirinya.


"Astaghfirullah," ucap Aisyah dengan nada lirih.


Padahal hanya baru satu malam Adam menginap di rumahnya, dan Aisyah tahu bahwa ia juga berhak atas hal itu. Namun, kenapa Erika seperti tak ikhlas dan tak rela jika Adam ada bersamanya.


"POKONYA MULAI HARI INI! AKU TINGGAL DI RUMAH INI!" Teriak Erika kembali yang kini mampu membuat Adam dan Aisyah tergemap.


"Mulai hari ini, aku akan tinggal di rumah ini! Kamu bilang mau bersikap adil kan! Ya sudah, biarkan aku dan wanita itu tinggal serumah, agar kita bisa terus bersama setiap hari!" Lanjutnya lagi, sedang Aisyah dan Adam masih diam tak bergeming.

__ADS_1


Masalah apalagi yang akan datang?


__ADS_2