
PLAKKK ...
Sebuah tamparan akhirnya membuat suasana menjadi hening. Bahkan Erika kini menutup mulutnya terkejut, melihat Aisyah yang kini diam tak bergeming setelah mendapat tamparan keras dari suaminya.
"Astaghfirullah," ucap Adam, tersadar jika dirinya baru saja menampar sang istri.
Aisyah meringis, merasakan pipinya yang terasa panas. Bukan hanya pipinya, kini matanya juga memanas, menatap sang suami yang begitu tega menamparnya.
"A-aisyah, mas, mas tidak sengaja," Adam melangkah mendekat, ia membawa tangannya berniat menyentuh wajah Aisyah.
Namun, dengan cepat Aisyah menghempaskan tangan suaminya itu. Air mata tak lagi bisa ia tahan, merasa kecewa dengan apa yang sudah Adam lakukan.
Aisyah tak bisa berkata apa-apa, rasa sakit di hatinya seakan membuatnya bisu, sulit untuk mengucapkan satu patah kata pun. Hanyalah rasa sesak juga perih yang kini terasa di dalam dadanya.
Berbeda dengan Erika yang kini tengah bersorak ria di dalam hatinya, senang dengan apa yang sudah ia lihat.
Erika tak pernah membayangkan bahwa Adam bisa marah seperti ini, tapi karena sudah terjadi, Erika kini kesenangan karena bisa merusak hubungan Aisyah dan Adam semakin cepat.
"A-aisyah, ma-maafkan mas, mas tidak sengaja," Adam terus meminta maaf, ia terbakar amarahnya dan tak sadar sampai melayangkan tamparan itu.
Adam merasa sangat menyesal, ia tak sadar sampai bisa melakukan hal kasar tersebut. Tentu, Adam tahu ia sudah sangat bersalah, Adam tahu Aisyah pasti sangat terluka dengan perlakuannya.
Tanpa berkata sepatah kata pun, kini Aisyah melenggang pergi, meninggalkan Adam dan Erika.
Adam mencoba mengikuti Aisyah, tetapi Erika langsung saja mencekal lengan Adam, lalu berpura-pura meringis kesakitan sembari memegang perutnya. Alhasil, Adam hanya bisa terdiam menatap punggung Aisyah yang melenggang pergi.
"Mas, jangan tinggalin aku mas, perut aku sakit!" Seru Erika, mencoba menahan Adam untuk tidak mengikuti Aisyah.
Adam yang melihat Erika kesakitan langsung saja menggendongnya, membawanya ke mobil untuk cepat pergi ke rumah sakit.
"Sekarang, aku harus menyelamatkan Erika dulu, jangan sampai janinnya kenapa-kenapa. Setelah itu, aku akan meminta maaf kepada Aisyah." Batin Adam, sebelum akhirnya menginjak gas, melajukan mobilnya.
Meninggalkan Aisyah yang kini terisak di balik selimutnya, meratapi nasibnya yang sangat menyedihkan. Padahal, semua itu bukanlah perbuatan Aisyah, Erika sudah menjebaknya.
Sekuat apapun Aisyah membela dirinya sendiri, Adam terus menutup telinganya, sudah termakan omongan Erika.
Sampai akhirnya, tamparan keras itu berhasil jatuh di pipi Aisyah. Sakit rasanya, mendapatkan tamparan keras dari suaminya sendiri.
Begitu tidak percayanya kah Adam kepada Aisyah, sampai bisa berpikir Aisyah melakukan hal keji seperti itu kepada Erika.
"Kenapa sih mas? Kenapa mas gak percaya sama aku mas?" Isak Aisyah.
"Mas memang jauh lebih mencintai mbak Erika di bandingkan aku!" Serunya lagi.
Kesal, kecewa dan rasa sakit bercampur aduk, ingin rasanya meneriaki suaminya itu. Tapi, nyatanya tadi ia hanya bisa terdiam, tak bisa mengucapkan satu patah kata pun.
Apalagi, melihat Adam yang tak berniat mengejarnya, meminta maaf atas perbuatannya. Dirinya malah pergi meninggalkan Aisyah sendirian dalam pelukan selimut.
"Jahat kamu mas, tega kamu lakuin hal itu ke aku mas!" Ucapnya masih terisak.
__ADS_1
Ia sangat kecewa kepada Adam, sangat-sangat kecewa. Bisa-bisanya Adam menamparnya di hadapan Erika. Jatuh harga diri Aisyah, merasa di permalukan, apalagi semua ini hanyalah akal busuk Erika yang membuat dirinya menjadi tersangka.
Di Rumah sakit
Erika tengah berjalan di bantu oleh suaminya, mereka akhirnya bisa bernafas tenang, setelah mendengar penjelasan dokter yang mengatakan bahwa janin di dalam perut Erika baik-baik saja.
"Syukurlah mas, anak kita baik-baik aja." Ucap Erika, sembari tersenyum ke arah Adam.
Adam pun membalas senyuman itu, ia mengelus lembut perut Erika, lalu berucap, "Iya sayang, Alhamdulillah, Allah masih melindungi anak kita."
Erika kini terus tersenyum di sepanjang jalan menuju mobil, apalagi hatinya yang bersorak ria, karena rencananya telah berhasil.
"Terima kasih yah nak, kamu sudah bantu Ibu untuk memisahkan wanita benalu itu dari Ayahmu." Batin Erika sembari mengelus perutnya.
"Ayo naik," ucap Adam menyadarkan Erika dari lamunannya.
Mereka akhirnya menaiki mobil, kembali melajukan mobilnya untuk segera kembali ke rumah.
Di sepanjang perjalanan, Adam terus memikirkan cara untuk meminta maaf kepada Aisyah. Adam erus merutukki perbuatannya yang pasti sudah sangat melukai perasaan istrinya itu.
"Aku sudah sangat kejam, bagaimana bisa aku melakukan hal bodoh seperti itu." Rutuk nya dalam hati.
Sedang Erika kini Erika yang melihat Adam tahu, pasti suaminya itu akan segera meminta maaf kepada Aisyah sesampainya di rumah.
Namun, bukan Erika jika tidak punya cara untuk mencegah semua itu. Ia tersenyum menyeringai, mendapat sebuah ide untuk semakin memisahkan Adam dan Aisyah.
"Mas," panggil Erika.
"Mas!" Panggilnya lagi dengan sedikit keras.
Adam sedikit terperanjat, terkejut dengan suara Erika. Ia langsung saja menoleh dan menatap istrinya itu.
"Mas lagi mikirin apa sih? Jangan melamun seperti itu, mas sedang bawa aku bersama calon anak kita, kalo sampai kita kecelakaan bagaimana?" Seru Erika terdengar kesal.
"Astaghfirullah, kamu ko berkata seperti itu, gak baik Lo." Balas Adam.
"Ya terus emangnya mas mikirin apa sih sampe gak denger aku panggil?" Erika mencebikkan bibirnya kesal.
"Iya maafin mas, mas tadi melamun. Memangnya kenapa kamu panggil mas? Mau apa?" Tanya balik Adam.
Erika terdiam, tak menjawab Adam. Adam yang menoleh melihat istrinya itu memanyunkan bibirnya kesal, ternyata Erika tengah merajuk.
Adam sedikit tersenyum kecil, lucu melihat tingkah Erika yang menurutnya menggemaskan.
"Maaf dong, sayang, istriku, istri mas yang paling cantik, paling lucu, maafin mas. Iya-iya mas bakalan fokus nyetir, gak akan ngelamun," bujuk Adam, meminta maaf dengan suara yang memelas.
Membuat Erika kini terkekeh kecil, melihat tingkah suaminya itu. "Iya, aku maafin." Balasnya singkat.
"Nah, gitu dong. Jangan ngambek terus, nanti cepet tua." Goda Adam, yang membuat Erika kembali mencebikkan bibirnya kesal.
__ADS_1
"Mas ih!" Pekiknya kesal.
Tapi, hal itu malah membuat Adam kini tertawa lepas, melihat Erika yang kembali kesal sembari mencubit kecil pinggangnya.
"Aw, aw, ma-maaf dong, bercanda sayang." Ucap Adam saat menerima cubitan maut dari Erika.
"Makannya, jangan bikin kesel terus!" Kesalnya.
"Iya sayang, maaf. Jadi, tadi kamu mau ngomong apa?" Tanya Adam, kembali pada topik utama.
Erika terdiam sebentar, lalu merubah raut wajahnya menjadi terlihat memelas sembari menundukkan wajahnya.
"Mas, sebenarnya aku mau minta sesuatu mas," ucap Erika dengan nada yang di buat-buatnya, terdengar ragu dan menyedihkan.
Adam dengan cepat menoleh, "kenapa? Kamu mau minta apa sayang?" Balasnya.
"A-aku mau pindah aja mas," Erika kini membawa wajahnya terangkat menatap Adam dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Hah? Maksud kamu, kamu mau pindah ke apartemen lagi?" Tanya Adam.
Erika mengangguk, "iya mas, aku gak mau tinggal sama Aisyah lagi,"
"A-aku takut mas," lanjutnya dengan air mata palsu yang kini terjun dari matanya.
Padahal dalam hati ia tersenyum lebar, berharap Adam menatapnya dengan rasa iba.
"Kamu takut kenapa?" Tanyanya lagi, Adam pun mulai memberhentikan mobil di pinggir jalan.
Ia menatap juga membawa tangannya menangkup wajah Erika. "Coba kamu bilang sama mas, kenapa kamu mau pindah? Bukannya kamu yang dari awal mau tinggal di rumah Aisyah?" Adam kembali berucap menanyakan alasannya.
"Aku takut mas, aku takut Aisyah bakalan lakuin hal jahat lagi ke aku. Aku gak mau kehilangan anak aku sama kamu mas, aku tahu Aisyah itu cemburu sama aku mas," balas Erika dengan tangisan palsunya.
Adam menatap Erika, ia tahu bahwa istrinya itu pasti ketakutan. Perihal hal yang sudah Aisyah lakukan kepadanya, ia pasti trauma dan Adam sangat mengerti itu.
"Mas tau kamu pasti sangat takut, mas juga tak habis pikir Aisyah bisa melakukan hal jahat seperti itu kepada kamu," balas Adam, ia membawa Erika ke dalam pelukannya.
Dalam pelukan itu, Erika tersenyum lebar. Akhirnya Adam begitu percaya dengan tipuannya, ia sudah membuat Adam melihat Aisyah sebagai wanita jahat.
Walau tersenyum lebar, Erika kini berpura-pura menangis sesenggukan di dalam dekapan Adam. Membuat Adam semakin merasa sedih juga bersalah.
"Maafin mas yah, kalo kamu mau pindah, ya sudah, kita akan pindah ke apartemen lama, kamu gak usah khawatir." Adam menenangkan Erika.
"A-aku mau pindah sekarang mas, aku gak mau ke rumah itu lagi," Isak Erika dalam seringainya.
Adam mengangguk, "iya, iya sayang, sudah yah jangan menangis lagi, kita pindah sekarang juga." Adam terus mencoba menenangkan Erika, padahal nyatanya semua itu hanya tipu daya Erika saja.
"Mas janji akan lindungi kamu dengan calon anak kita, mas gak akan buat kamu dalam bahaya lagi." Seru Adam, ia mengelus lembut puncak kepala Erika, lalu ia kecil kening istrinya itu.
Adam benar-benar sudah tertipu oleh air mata palsu Erika. Bahkan percaya dengan semua omong kosong Erika yang membuat Aisyah kini menjadi orang jahat di mata Adam.
__ADS_1
Erika memang sudah keterlaluan, tapi Erika memanglah Erika, yang akan melakukan apapun demi memiliki Adam.
"Kamu lihat saja Aisyah, perlahan, aku akan membuatmu menjadi janda. Mas Adam hanyalah milikku seorang!" Batin Erika menyeringai.