ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 43 Menikahlah denganku.


__ADS_3

Aisyah mematut dirinya di cermin, menatap pada wajah pucat yang jelas terpantul di depan cermin. Satu tangan ia bawa menyentuh lembut pipinya.


"Sangat menyedihkan," ujarnya.


Sudah satu bulan ini Aisyah menjalani pengobatan di Rumah sakit, dengan sisa-sisa harapannya, Aisyah hanya mampu mencoba menjalani semua ini dengan hati pasrah.


Melihat tubuhnya yang semakin kecil juga wajahnya yang pucat pasi, bahkan rambutnya yang kian rontok.


Setiap harinya, Aisyah hanya bisa diam terbaring di atas ranjang yang dingin ini.


Keadaannya yang semula kritis, kini kian membaik, walau masih harus menjalani pengobatan lanjutan. Tapi, Aisyah sudah melewati masa kritisnya.


Abi dan Ummi Aisyah selalu menemaninya, tetapi hari ini karena melihat Ummi yang kecapean mengurusi dirinya, Aisyah menyuruh keduanya untuk pulang terlebih dahulu.


Aisyah merasa bisa mengurus dirinya sendiri disini, lagipula banyak perawat yang akan membantunya. Juga Kakak perempuannya akan segera datang dari luar kota, maka dari itu Aisyah menyuruh Abi dan Ummi nya itu untuk kembali pulang ke rumah.Tidak perlu untuk mengkhawatirkannya.


Dan, seperti inilah keadaan ruangannya kini, sepi.


Setelah puas menatap wajahnya di cermin, Aisyah memilih kembali memakaikan kain yang kini menutupi kepalanya. Ia lalu berjalan menuju ranjang, berniat membaringkan kembali tubuhnya yang masih terasa lemas.


Tok... Tok... Tok...


Pintu ruangannya di ketuk, Aisyah menoleh lalu membalas, memberikan ijin agar orang di luar bisa masuk.


Pintu ruangannya terbuka, menampilkan sosok pria tinggi dengan tubuh kekarnya. Manik hitam legam itu kini bertemu dengan kedua mata Aisyah.


Sebuah senyuman simpul juga terpampang jelas di bibirnya. "Assalamualaikum," ucap Rizal memberi salam.


Aisyah lalu tersenyum, "Waalaikumsalam," balasnya.


Tak terasa, mata Aisyah seakan terkunci menatap Rizal yang kini berjalan mendekat ke arahnya. Ia seakan baru sadar jika pria yang selama ini menemani dirinya, menjadi Dokter setia yang selalu sigap membantunya adalah seorang pria yang tampan.


Aisyah terpaku untuk sesaat, menatap dalam ke arah Rizal. Membuat si pemilik wajah tampan itu terkekeh geli.


"Ada apa? Apa kamu baru sadar jika Doktermu ini sangat tampan?" goda Rizal sembari fokus menyuntikkan sebuah cairan ke dalam infusan Aisyah.


Ucapan Rizal seketika membuyarkan lamunan Aisyah, ia langsung memalingkan wajahnya malu.


Terdengar kekehan yang terus keluar dari mulut Rizal, mengetahui kini Aisyah yang terlihat salah tingkah dan tersipu malu.


Rizal dengan cepat menyudahi aksinya memberikan obat kepada Aisyah, lalu menyimpan nampan berisikan obat itu di samping nakas.


Ia membawa tubuhnya duduk di atas kursi yang berada di samping ranjang Aisyah. Menatap wajah wanita yang kian memerah akibat malu.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Rizal.


"Ba-baik Mas," balas Aisyah terdengar kikuk, masih salah tingkah akan sikapnya tadi.


Rizal tersenyum lebar, lalu beranjak berdiri. Walau masih ingin terus duduk di kursi itu, dengan berat hati Rizal harus kembali mengemban kewajibannya sebagai seorang Dokter.


Masih banyak pasien lainnya yang harus ia tangani. Sebenarnya, bisa saja Rizal menyuruh perawat untuk memberikan obat ini kepada Aisyah, namun Rizal selalu melakukan hal ini untuk Aisyah, membuat Aisyah berbeda dengan pasien lainnya.


"Baiklah, istirahatkan tubuhmu, jangan terlalu banyak bergerak, tubuhmu masih belum stabil," ujarnya.

__ADS_1


"Aku pergi dulu, masih banyak hal di luar sana yang harus ku urus," lanjutnya.


Aisyah mulai memberanikan dirinya untuk menoleh, melihat senyuman lebar di wajah Rizal. Aisyah mengangguk, lalu mengembangkan sebuah senyuman tipis yang masih terlihat sedikit kikuk.


Rizal berbalik, melangkah pergi keluar dari ruangan Aisyah.


Satu bulan ini, ia terus menjaga, menemani wanita yang ia cintai itu, walau masih terus ia tutupi, perlakuan manis dan hangatnya itu mampu membuat semua orang tahu jika Rizal menyimpan rasa kepada Aisyah.


Bahkan, beberapa saat lalu, Rizal mendapatkan sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut Abi Aisyah.


Bertanya akan sikapnya yang terlihat sangat jelas itu, tentu Rizal tak bisa mengelak, ia akhirnya berterus terang akan perasaanya. Rizal ingat jelas hari itu, Abi Aisyah menatapnya dengan tatapan menelisik, mungkin ia takut jika putrinya itu akan kembali di sakiti oleh pria lain.


Maka dari itu, Rizal mencoba membuat kedua orang tua Aisyah yakin, akan perasaannya kepada Aisyah. Ia tahu, bahwa Aisyah baru saja berpisah dengan Adam, namun semua itu tak menjadi kendala bagi dirinya kepada Aisyah.


Kini, Rizal hanya mencari waktu yang tepat, untuk segera meminang wanita yang tengah dalam mas iddahnya itu.


***


Apartemen Erika


Semenjak kejadian di hari itu, kini Erika seakan tengah di awasi oleh seseorang. Seorang pria yang nyatanya adalah sepupu dari suaminya sendiri.


Erdy namanya, pria yang kini terus menumpang di dalam Apartemennya, berlaku semaunya seakan tinggal di rumahnya sendiri. Karena mendapat kerja luar kota, Erdy yang tahu Adam tinggal di sekitar sini akhirnya memilih untuk hidup menumpang.


Bukan karena tidak mampu, namun alasannya membuat Erika geram. Erdy beralasan malas mencari tempat tinggal, dan memilih untuk merepotkan sepupunya ini. Membuat Erika harus terkekang karenanya.


Hari itu pun, Adam sendirilah yang memberikan kata sandi Apartemennya kepada pria itu, membuatnya menangkap basah Erika di kamarnya.


Hari-hari Erika yang bebas kini terasa sesak, seakan terjebak di dalam rawa yang berisikan buaya. Erika harus terus mengelus dadanya akan sikap sepupu suaminya itu.


Erika tak bisa berbuat apa-apa, ia harus merelakan waktu dan tenaganya terkuras akibat perintah konyol yang terus keluar dari mulut Erdy. Hanya demi menutupi semua kesalahannya dari Adam.


Seperti hari ini, dengan hati kesal, ia harus mencuci setumpuk baju dan celana kotor yang Erdy sodorkan. Dengan alasan tak mau memakai jasa laundry karena sedang mengirit, membuat Erika harus turun tangan, membuat tangannya yang halus dan lembut, untuk pertama kalinya mencuci sebuah baju yang bukanlah kewajibannya.


Erika sedari tadi mengumpat dalam hatinya, berteriak geram karena semua hal konyol yang Erdy lakukan kepada dirinya. Tapi, apa boleh buat, Erika tak bisa melaporkan hal ini kepada Adam.


Ingin rasanya Erika mengusir sepupu suaminya itu dari Apartemennya.


"Sikat lebih keras lagi, tapi jangan sampai merusak bahannya." ujarnya, menyuruh Erika bak pembantunya saja.


Erika mengepal sikat yang berada di tangannya, alih-alih mencuci menggunakan mesin cuci, lagi-lagi pria itu membuat Erika kesusahan. Menyuruhnya untuk menggunakan tangan mulusnya itu, karena Erdy berkata bahwa bajunya tidak boleh di cuci memakai mesin.


Lagi dan lagi, Erika hanya bisa menuruti perkataan pria itu. Membuat hidupnya berubah dalam satu hati menjadi budak.


***


Rumah Sakit


Selepas pulang dari Kantor, Adam melajukan mobilnya menuju Rumah sakit. Ia berniat untuk menjenguk Aisyah, yang mana ia tahu bahwa Aisyah masih menjalani perawatan di Rumah sakit.


Langkahnya terhenti tepat di depan pintu ruangan Aisyah. Ia menarik nafasnya sejenak, mencoba menenangkan dirinya, berharap Aisyah dapat menerima kehadirannya.


Setelah di pikir siap, Adam mengetuk pintu kamar rawat Aisyah, terdengar jelas suara yang sudah lama ia rindukan itu.

__ADS_1


Adam langsung saja membuka pintu, melangkah masuk, melihat seorang wanita yang beberapa hari ini telah memenuhi pikirannya.


Aisyah menoleh, ia sedikit terkejut dengan kehadiran Adam. Namun, semua keterkejutannya itu ia sembunyikan dan memilih untuk membuat raut wajah datar di hadapan mantan suaminya itu.


"Ada apa Mas datang kemari?" tanya Aisyah dingin.


Adam terus melangkah mendekat, sampai akhirnya berdiri di samping Aisyah. Ia mencoba mengembangkan senyumannya, walah terlihat sedikit kikuk.


"Bagaimana keadaanmu?" balas Adam, berbalik bertanya.


"Baik."


Mendengar jawaban Aisyah yang terkesan dingin juga acuh, Adam semakin merasa bersalah juga menyesal.


"Maafkan aku," lirih Adam.


Aisyah membawa wajahnya, menatap pria yang kini menundukkan wajahnya dengan raut wajah sedih.


"Untuk apa Mas terus meminta maaf, hubungan kita sudah berakhir." balas Aisyah.


Adam menarik wajahnya, "Aku sudah sangat keterlaluan, lengah terhadap kondisi istriku sendiri,"


Aisyah terkekeh geli, "Aku bukan lagi istrimu, jadi lupakan saja." ia menarik sudut bibirnya seakan tersenyum mengolok.


Adam kembali menunduk, merasa sangat bersalah akan semua sikapnya selama ini. Namun, semua sudah sangat terlambat, Aisyah sudah sangat kecewa dan bukan lagi siapa-siapa untuknya.


"Tidak bisakah kita memperbaiki semua ini?" ujar Adam tiba-tiba.


Aisyah mengernyit, berpikir akan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Adam.


"Memperbaiki?"


"Iya, aku ingin membayar semua kebodohanmu selama ini, apa tidak bisa kita memperbaiki semua ini?" Adam menatap kedua manik indah Aisyah. "Memulai kembali semuanya dari awal?" lanjutnya.


Aisyah tercekat, mendengar hal itu. 'memulai', memang apa yang ia pikirkan. Dapat dengan mudah mengatakan hal seperti itu saat ini.


"Lebih baik Mas pergi, jika hanya ingin mengatakan omong kosong seperti ini!" ujar Aisyah.


"Aisyah-"


"PERGI!" Pekik Aisyah, menukas ucapan Adam yang belum selesai.


Akhirnya, dengan berat hati, Adam berpamitan dan melangkah pergi keluar dari ruangannya. Meninggalkan Aisyah yang merasakan nyeri di hatinya dengan air mata yang kembali mulai membasahi pipinya.


Tanpa ia sadari, jika kini seseorang tengah berdiri di ambang pintu, menyaksikan dirinya yang tengah terisak sedih.


Pria itu melangkah mendekat, dengan tangan yang mengepal merasa geram akan apa yang sudah ia lihat.


"Menikahlah denganku." ucap pria itu lantang.


Mata yang masih basah karena air mata, kini beralih membulat, ia menengadah membawa wajahnya melihat kepada pria yang sudah berdiri di sampingnya.


Aisyah terpaku, tak dapat berucap, ia tengah menetralisir ucapan yang baru saja masuk ke dalam indera pendengarannya.

__ADS_1


"Menikahlah denganku Aisyah."


__ADS_2