ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 45 Bersikap Dewasa


__ADS_3

"Maaf Mas,"


Aisyah menundukkan kepalanya merasa bersalah mengucapkan kalimat itu kepada Rizal. Rizal yang paham dengan apa maksud dari ucapan Aisyah hanya bisa melepaskan sebuah senyuman tipis yang terkesan lesu.


"Baiklah, jika itu jawabanmu." balas Rizal.


"I-ini terlalu tiba-tiba, lagipula aku belum sama sekali berpikir jauh kesana." jelas Aisyah.


Rizal mengangguk lesu, ia mencoba menerima dengan ikhlas semua jawaban yang ia dapatkan dari Aisyah.


"Ya, aku mengerti."


"Tidak usah merasa bersalah, aku memang terlalu terburu-buru. Tak usah ambil hati, tolong maafkan kelancanganku kemarin," lanjut Rizal.


Aisyah yang mendengar hal itu malah semakin merasa bersalah, tapi apa boleh buat. Menikah? Aisyah tak berpikir jauh untuk cepat menikah setelah belum lama ini bercerai.


Pernikahan bukanlah hal yang mudah untuk di lakukan. Ini menyangkut tentang siapa yang akan menjadi pendampingnya dan masalahnya, ia baru saja berpisah dengan pendamping hidup yang sebelumnya ia pilih.


Rizal masih terdiam, ia memalingkan wajah enggan menatap wanita yang baru saja menolak lamarannya itu. Tapi, Rizal tahu betul akan alasan Aisyah menolaknya.


"Maafkan aku Mas," Aisyah kembali berucap.


Rizal menoleh, tak lagi memalingkan wajahnya. Ia berusaha terlihat baik-baik saja, walau nyatanya hati Rizal tengah berkecamuk merasa marah dan kecewa.


"Sudah aku bilang kan tidak apa, tak usah merasa bersalah."


Rizal tersenyum, "Baiklah, aku sudah selesai memeriksa mu. Jika butuh bantuan, kamu bisa memijit bel atau langsung menghubungiku," ujar Rizal dengan sebuah senyuman lebar.


Aisyah mengangguk pelan, lalu Rizal dengan cepat berbalik dan pergi meninggalkannya. Walau Aisyah tahu bahwa Rizal kembali menuju ruangannya, rasanya terasa berbeda.


Kepergian Rizal dari Kamarnya membuat sebuah luka kecil yang terasa pedih, namun Aisyah merasa aneh dan bingung.


Rasa apa ini sebenarnya?.


...****************...


Apartemen Adam dan Erika


Erika mengekori Adam masuk ke dalam kamar dengan wajah yang di tekuk muram. Ia menghempaskan bokongnya di atas ranjang dengan kasar.


"Mas, aku mohon aku gak mau kamu tinggal." pinta Erika ketika tahu bahwa suaminya itu akan pergi ke luar kota.

__ADS_1


Adam menghembuskan nafasnya berat, ia juga ikut menghempaskan bokongnya ke atas ranjang di samping Erika.


"Erika, Mas mohon jangan merajuk seperti ini."


Erika mencebikkan bibirnya kesal, merasa bahwa suaminya itu sedikit berbeda tak lagi memanjakannya seperti dulu.


"Ya sudah, kalo Mas gak mau aku merajuk, ijinkan aku ikut dengan Mas!" ujar Erika.


"Erika!" Adam mengacak rambutnya frustasi sedikit membentak Erika.


Tak peduli dengan amarah suaminya, Erika balik menatap kedua sorot mata yang siap menerkamnya itu.


"Apa! Mas mau tinggalin aku disini, aku gak mau Mas! aku mau ikut Mas! Pokoknya,aku bakalan tetep ikut walau Mas bilang ngga sekalipun." pekik Erika murka.


"Erika!" Bentak Adam.


Adam bangkit, ia menatap tajam ke arah Erika seakan muak dan kesal dengan tingkah laku manja istrinya itu.


"Tak bisakah kamu bersikap dewasa! Perasaan dulu Aisyah saja tak pernah merajuk seperti ini ketika aku harus pergi! belajarlah dewasa seperti dia!" ujar Adam kelewat kesal.


Erika terdiam, hatinya merasa di remas ketika mendengar semua penuturan Adam yang membandingkan dirinya dengan mantan istri suaminya itu. Ia seakan tercekat dan kehabisan kata-kata, bagaimana bisa Adam membandingkan dirinya seperti itu dengan Aisyah.


"A-apa Mas?"


Adam kembali mengacak rambutnya, merasa jengah. Walau ia tahu sudah kelewat batas membandingkan Erika dengan Aisyah, tapi itulah kenyataannya, Erika memang tak bisa bersikap dewasa seperti Aisyah.


"Aku mohon kamu jangan merajuk seperti ini, aku sedang banyak pikiran, aku mohon kamu mengerti." pinta Adam.


Terlanjur sakit hati, Erika kini hanya bisa diam dengan berlinangan air mata. Merasa sakit juga tak terima akan perkataan suaminya itu, Erika enggan untuk mengerti akan permintaan yang Adam utarakan.


"Aku memang kekanak-kanakan, aku memang tidak dewasa seperti Aisyah mu itu! lalu kenapa kamu memilih aku dan meninggalkan istri tercintamu itu!" sembur Erika.


Adam mengusap wajahnya kasar merasa jengkel.


"Terserah padamu, aku hanya ingin kamu mengerti! sampai kapanpun kamu memang tak bisa bersikap dewasa!"


Adam beranjak pergi meninggalkan Erika yang kini berteriak memanggil-manggil namanya karena kesal.


"Mas! jahat kamu Mas!" pekiknya.


Namun, bak angin lalu Adam terus berjalan tanpa menghiraukan semua teriakan dan pekikan yang keluar dari mulut istrinya itu.

__ADS_1


Adam terus melangkahkan kakinya menuju kamar kedua di Apartemennya itu.


"Ada masalah?" ujar Erdy yang memang masih menumpang di Apartemen Adam.


Adam yang lupa akan kehadiran Erdy hanya bisa menyunggingkan sebuah senyuman tipis di bibirnya membalas ucapan sepupunya itu.


"Aku akan menutup telingaku," ujar Erdy yang seakan mengerti tentang keadaan yang tengah terjadi di antara dua sejoli itu.


Di dalam kamar, kini Erika tengah mengeluarkan segala emosi dan amarah yang membeludak di dalam dadanya.


"Sialan! tega kamu Mas! Aisyah! Aisyah! Asiyah terus yang ada di pikiranmu itu!"


"Arghhhhhh!" teriaknya.


Erika melempar bantal juga guling yang ada di atas ranjangnya. Ia juga menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, menendang-nendang angin melepaskan rasa kesalnya.


"Sudah aku buat kalian berpisah pun yang ada dalam pikiranmu itu masih saja wanita sialan itu!"


"Haruskah aku membunuhnya juga!" pekik Erika.


Matanya memerah, tangannya terkepal kuat. Rasa ingin menampar wajah wanita yang masih terus membayang-bayangi suaminya itu.


"Lihat saja, akan ku buat kamu melupakan wanita itu sepenuhnya Mas!"


Malam itu, Erika menangis sesenggukan di balik bantalnya. Menahan segala amarah yang berkecamuk, mengingat Adam yang masih terus terbayangi mantan istrinya itu.


Berbeda dengan Adam yang malam itu bisa tidur nyenyak tanpa mendengar Omelan dan ocehan Erika. Adam sudah sangat jengah dan lelah, setiap hari mendengar ocehan-ocehan yang keluar dari mulut Erika.


Apalagi tingkah manjanya yang lebih dari seorang anak kecil. Adam memang suka dengan tingkah manja Erika, tapi terkadang ia juga butuh sifat dewasa layaknya Aisyah.


Kini, Adam seakan merindukan mantan istrinya itu. Merindukan sifat manis dan penurut Aisyah yang bisa membuat pikirannya jauh lebih tenang.


Berbeda dengan Erika yang selalu saja membuatnya jengkel dan kesal pada akhirnya.


Melelahkan, pikir Adam.


Malam itu, Erika tidur sendirian di kamarnya dalam rasa kesal juga jengkel terhadap Adam. Di malam yang dingin tanpa pelukan hangat suaminya, ia hanya bisa memeluk sebuah guling yang sudah ia lempar sebelumnya, sampai akhirnya ia pungut kembali untuk menemaninya malam itu.


Erika tak sadar jika ada seseorang di balik pintu yang kini tengah mengamatinya dari sedikit celah pintu kamarnya.


"Kamu memang tak bisa di bandingkan dengan Aisyah Erika, karna levelmu dan Aisyah jauh berbeda." ujar Erdy sembari menyeringai.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2