ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 42 Siapa Dia!


__ADS_3

Beberapa alat medis kini menempel di wajah Aisyah, para tenaga medis mencoba sekuat tenaga mengembalikan keadaan Aisyah agar kembali stabil.


Kelalaian dirinya yang terus menunda-nunda pengobatannya, kini malah berakibat fatal dan membuat tubuhnya tak lagi bisa menahan beratnya rasa sakit di dalam sana.


Hari itu, tubuh Aisyah limbung, jatuh pingsan di hadapan Rizal. Untung saja, dengan cepat Rizal langsung membawa Aisyah ke Rumah sakit untuk cepat mendapatkan penanganan.


Walau sudah secepat mungkin Rizal mencoba, kini Aisyah dalam keadaan kritis, tubuhnya lemas tak berdaya, terbaring tak sadarkan diri dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya.


Isak tangis terdengar di luar ruangan, Abi dan Ummi Aisyah kini saling berpelukan, menguatkan diri melihat putri mereka yang terlihat begitu menyedihkan. Dengan wajah pucat dan banyaknya alat yang menancap di tubuh putrinya.


Melihat hal itu, sungguh menyayat hati kedua orang tuanya. Bahkan, ada seseorang yang kini ikut terpaku, menatap kosong ke arah tubuh Aisyah.


Ia seakan tak percaya, dengan keadaan wanita yang pernah ada di hidupnya itu.


"Aisyah,"


Adam, pria yang kini berdiam diri dari kejauhan, melihat mantan istrinya yang terbaring lemas.


Ia tak mengindahkan bentakan juga cacian mantan mertuanya itu, ia kukuh ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Aisyah.


"Suster," panggil Adam.


Mencoba memberhentikan salah satu perawat yang melewati dirinya. Perawat perempuan itu menoleh, tersenyum tipis lalu berjalan mendekat kepada Adam.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanyanya.


Adam membawa matanya ke arah Aisyah, membuat sang perawat tersebut turut mengikuti arah sorot mata tersebut.


"Bapak keluarganya Ibu Aisyah?" tanyanya lagi.


Adam dengan cepat mengangguk, "I-iya, kalo boleh tahu, kenapa Aisyah bisa sampai seperti itu?" balas Adam sedikit kikuk.


Ia mencoba mencari tahu sendiri keadaan Aisyah, karena menurutnya, ia berhak tahu atas apa yang terjadi kepada mantan istrinya itu.


"Ibu Aisyah mengidap Leukemia Pak," balas perawat itu.


Detak jantung Adam terasa berhenti, ia terkejut dengan balasan yang ia dapatkan dari perawat itu.


"Le-leukemia?" ujar Adam mengulang.


Perawat itu mengangguk, "Benar Pak," sahutnya singkat.


Adam mencoba mengerjap matanya beberapa kali, menyadarkan dirinya. Lalu ia menarik sebuah senyuman tipis, berterima kasih kepada perawat tersebut, memperbolehkan perawat itu untuk pergi.


"Apa ini, bagaimana bisa Aisyah mengidap penyakit seperti itu?" lirih Adam.


"A-apa jangan-jangan, selama ini ia menyembunyikan hal itu dariku?"

__ADS_1


Adam menerka, mencoba mengingat keadaan Aisyah sebelumnya. Ia mengingat saat-saat Aisyah masih tinggal bersamanya, Adam ingat Aisyah memang terlihat begitu berbeda dan ia juga sering mendapati istrinya itu mimisan.


Namun, mengapa dulu Adam seakan acuh dan cuek dengan hal besar seperti itu. Kini, ia hanya bisa merutukki dan menyesal sudah membuat Aisyah merasakan rasa sakit itu sendirian.


Adam menyesal, ia merasa sudah sangat bodoh menjadi seorang suami yang sangat tidak pengertian kepada istrinya.


"Bagaimana aku bisa sebodoh itu!" rutuknya.


"Aku membiarkannya, merasakan rasa sakit itu sendirian! dasar bodoh!" cecar Adam kepada dirinya sendiri.


Kakinya seakan melemas, ia menyandarkan tubuhnya di tembok, matanya memerah, dadanya terasa sesak, menyesal sudah memperlakukan Aisyah dengan sangat buruk.


"Maafkan aku," lirihnya.


"Aku sudah sangat jahat kepada kamu, sampai-sampai membuatmu menanggung semua rasa sakit itu sendirian, suami macam apa aku ini Aisyah,"


Tangannya mengepal, terlihat beberapa urat yang tercetak di lengannya. Ia kesal, marah kepada dirinya sendiri. Satu pukulan ia layangkan ke tembok di belakang tubuhnya.


"Aku memang lelaki brengsek!"


Kini, Adam hanya bisa menyesali semua perbuatannya, mengetahui bahwa Aisyah selama ini menutupi sebuah hal besar yang sangat membuat Adam terpukul. Merasa sesak telah berlaku cuek dan kejam kepada Aisyah.


Namun, apalagi yang bisa ia lakukan, semuanya sudah terlambat. Kata maaf tak lagi bisa mengobati luka di hati mantan istrinya itu.


***


Sebuah tas terlempar begitu saja ke atas ranjang berukuran king size. Terlihat jelas kerutan di keningnya, menandakan bahwa dirinya tengah merasa kesal.


Bagaimana tidak kesal, Adam membuat ia pulang sendirian dan Erika tahu jika suaminya itu kini tengah mengkhawatirkan seorang wanita yang mana adalah mantan madunya.


"Sialan!" umpat Erika.


"Kenapa sih Mas, kamu masih saja peduli dengan wanita itu!" kecamnya.


Erika menghempaskan bokongnya ke atas kursi meja riasnya, menatap wajahnya yang kini terpampang jelas di depan cermin.


"Hh! aku harus bagaimana lagi agar kamu bisa melupakan wanita itu!"


Erika terus mengutarakan isi hatinya yang merasa kesal atas sikap Adam yang masih peduli kepada Aisyah.


"Hah, sudahlah. Aku harus bisa memikirkan bagaimana caranya aku menghapus semua jejak diriku yang telah menabrak bocah itu!" ujarnya.


"Bagaimanapun, aku tidak mau masuk ke dalam penjara!" lanjutnya.


"Aku harus menjual mobilku itu! aku harus menghilangkan semua hal yang berhubungan dengan bocah itu!" serunya lagi.


"Bocah itu?" sahut seseorang.

__ADS_1


Erika tercengang, ia membeku di tempatnya. Jantungnya berdebar dengan cepat, berpikir suara siapa yang kini telah menyahuti ucapannya.


Tubuh Erika membatu, sulit untuk menoleh ke arah suara itu muncul. Ia juga seakan kesulitan bernafas, takut jika saja Adam lah orang yang kini tengah berdiri di belakangnya.


"Apa yang kamu maksud, Ali? anaknya Adam dengan Aisyah?" ujarnya lagi.


Erika semakin membeku di tempatnya, siapa pria yang kini terus-menerus berucap itu, dan siapa orang yang bisa masuk ke dalam Apartemennya!.


Dengan sekuat tenaga, Erika membalikkan tubuhnya, menatap ke arah pria yang kini berdiri di ambang pintu, sembari menyandarkan kepalanya ke tangan yang bertumpu pada tembok kamarnya.


"Si-siapa kamu!" Erika membelalakkan matanya, melihat pria asing yang berada di dalam Apartemennya.


Pria itu kini menarik sudut bibirnya, tersenyum menyeringai ke arah Erika.


"Sepertinya, aku mendapatkan seorang pembunuh di rumah ini." ujarnya.


Erika seketika bangkir dari duduknya, ia membulatkan matanya terkejut dengan ucapan pria itu.


"Apa maksudmu!" pekik Erika tak terima.


"Keluar dari sini atau akan aku laporkan kepada polisi!" lanjut Erika, mengancam pria itu.


Namun, bukannya takut, ia malah terkekeh geli melihat tingkah Erika yang sangat terkesan mengancamnya.


"Polisi?" katanya. "Silahkan, kamu panggil saja Polisi itu kesini," lanjutnya, tak takut dengan ancaman Erika.


Ia melangkah maju, mendekat ke arah Erika. Membuat Erika kini terpojok dengan langkah kakinya yang terus mendekatkan tubuhnya itu ke tubuh Erika.


"A-apa yang kamu lakukan! me-menjauh dariku!" pekik Erika ketakutan.


Alih-alih menjauh dari Erika, kini pria itu semakin mendekatkan tubuhnya, menyisakan beberapa jengkal jarak antara tubuhnya dengan Erika.


Membuat Erika kini terpojok, sampai tubuhnya menempel ke meja riasnya sendiri.


Pria itu kini menyeringai, lalu membawa wajahnya semakin maju, mendekat ke arah telinga Erika.


Lalu, ia berbisik, "Panggil saja Polisi, lalu aku akan berikan rekaman suara ini kepada mereka, agar mereka tahu bahwa di Apartemen ini ada seorang pembunuh."


Mata Erika membulat, tubuhnya menegang. ia melihat tubuh pria itu yang kemudian menjauh, membawa tangannya terangkat dengan sebuah ponsel di genggamannya.


Ia menggerakkan ponselnya itu, seakan memberikan isyarat bahwa ia telah mereka semua ucapannya dalam ponselnya itu.


Sebuah seringai juga tercetak jelas di bibirnya, membuat Erika semakin bergidik ketakutan. Takut jika benar pria itu telah merekam semua ucapannya.


"Siapa dia!"


Siapakah pria itu?

__ADS_1


__ADS_2