ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 44 Mainan Baru


__ADS_3

Aku terpaku, pupil mataku membesar, jantungku juga berdetak tak karuan. Terkejut, mendengar sebuah penuturan dari mulut pria yang kini menatapku dengan raut wajah yang tak bisa ku utarakan.


'Menikah', apa aku tidak salah dengar?.


Bagaimana bisa pria yang notabene nya sebagai Dokter ku kini mengajak aku untuk menikah. Dia bahkan tahu bahwa aku baru saja bercerai, ini tidak masuk akal!.


"Aisyah," panggilnya.


Membuyarkan semua lamunanku, kembali menatapnya walau dengan rasa tak enak di hati. Merasa semua ini begitu tiba-tiba dan tak masuk di akal.


"Aisyah, aku bersungguh-sungguh," tuturnya.


Mas Rizal kian membuatku terpana, dengan kata juga tatapannya yang mengatakan bahwa ia benar-benar tulus.


Namun, apa yang harus aku lakukan?.


Semua ini begitu tiba-tiba, aku mencoba mengalihkan pandanganku darinya. Mencari arah lain untuk ku tatap selain wajahnya.


"Jangan bercanda Mas," ujar ku, menolak percaya dengan ucapannya.


Terdengar Mas Rizal yang kini menghela nafasnya, lalu ia beralih duduk di ranjang ku, ia membawa wajahnya menatapku tepat di depan wajahku.


Ia seakan kembali membuatku tak bisa lepas dari tatapannya itu.


"Aisyah, aku bersungguh-sungguh, aku ingin menikah denganmu."


"Aku tahu, aku tahu kamu pasti tidak akan pernah percaya dengan ajakan ku ini, tapi-" ucapannya terpotong.


Mas Rizal menundukkan kepalanya sesaat, lalu ia tarik kembali wajahnya, menatapku dengan dua bola mata yang terlihat dalam dan lembut.


"Aku benar-benar ingin mempersunting kamu, aku ingin hubungan kita ini lebih dari sekedar hubungan Dokter dan pasien," lanjutnya.


Setiap kata yang masuk ke dalam telinga ini seakan sulit untuk ku tafsirkan, sebenarnya apa maksud pria di hadapanku ini!.


Aku menggelengkan kepalaku, "Mas, a-aku rasa semua ini terlalu tiba-tiba," Mas Rizal yang kini menggelengkan kepalanya, seakan tak setuju dengan ucapan ku.


"Lalu haruskah aku terus melihat kamu terpuruk dengan masa lalu kamu itu? aku ingin membantumu, aku ingin membawamu melihat masa depan yang indah,"


Mas Rizal membawa tangannya menggenggam tanganku ini, membuatku terhenyak, terkejut dengan sentuhannya.


"Menikahlah denganku Aisyah,"


Aku terdiam, bingung dengan balasan apa yang harus keluar dari mulutku ini.


"Aku berjanji, aku akan menjadi suami yang baik," ucapnya.


Namun, ucapannya masih belum selesai, ia terus mengucapkan sebuah kalimat yang kini mampu membuatku membelakak, semakin tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.


"Aku juga berjanji, akan membuat wanita itu menebus perbuatannya, aku tahu apa yang sudah ia perbuat dan aku tak akan tinggal diam."


Mata yang awalnya mencoba menghindar kini langsung bertemu, terlihat jelas sorot tajam juga dalam, tatapan yang kian lama membuat hati ini terasa hangat.


Darimana Mas Rizal tahu tentang itu, qpa wanita yang Mas Rizal maksud adalah Erika?.


"Menikahlah denganku Aisyah,"


Jawaban apa yang harus aku berikan?.




**Apartemen Erika**


__ADS_1


"A-apa yang kamu lakukan!" pekik Erika.



Tubuhnya tersudut, terkurung oleh kedua lengan kekar yang kini bertumpu di kedua sisi tubuhnya.



Erika tak lagi bisa bergerak, tubuhnya menempel dengan tembok, juga tubuh pria yang kini tersenyum menyeringai ke arahnya.



"Le-paskan aku!"



"Jika tak mau kebusukanmu terbongkar, diamlah dan nikmati saja." bisik pria itu di samping telinga Erika.



Erika bergidik ngeri, tubuhnya kian mematung pasrah menerima setiap sentuhan dari tangan pria itu. Ingin rasanya ia berteriak meminta pertolongan, tapi mulutnya seakan rapat tertutup tak bisa mengeluarkan kata-kata yang terus menyeruak di dalam kepalanya.



"Hhh,,,"



Erdy menyeringai penuh, "Aku tahu kau pasti suka, jadi nikmati saja, jangan berpura-pura menjadi wanita polos," ujarnya.



Lalu ia kembali melanjutkan aktifitasnya yang kian membuat Erika jatuh dalam buaiannya.




Erika bak wanita yang haus akan belaian, walau awalnya menolak, kini Erika terlihat menikmati setiap sentuhan juga cumbuan yang Erdy berikan.



"Hhh..."



Hari itu, Erika jatuh dalam sebuah lubang yang sangat dalam, membuatnya menjadi seorang wanita murahan yang kini hanya bisa terkulai lemas tak berdaya di bawah kukungan pria yang nyatanya adalah sahabat dari suaminya sendiri.



Entah harus bagaimana nantinya, yang pasti Erika hanya ingin memejamkan matanya kini. Merasa lelah dan lemas, setelah melayani pria yang kini terdengar terkekeh kepadanya.



"Kau suka?" seringai Erdy melihat Erika yang kini terlihat begitu kelelahan di bawah sana.



Tak ada jawaban yang terdengar dari bawah sana. "Aku mendapatkan mainan baru," lirih Erdy ia membawa tangannya membelai lembut wajah Erika, mata yang terpejam menandakan bahwa wanita itu telah terlelap.



"Dasar wanita murahan, darimana Adam menemukan wanita seperti ini," ujarnya, tentu Erika tak lagi bisa mendengar ucapannya itu.


__ADS_1


"Bodohnya, dia membuang berlian hanya untuk sebuah kerikil." lanjutnya, terdengar sinis sebagai sebuah sindiran keras kepada sahabatnya itu.



Dengan cepat ia bangun dan melepaskan dirinya dari Erika, meninggalkannya yang masih tertidur tanpa sehelai benang di kamarnya.



Erdy berjalan keluar kamar dengan santai seperti tak takut jika saja Adam akan memergokinya, itu karena ia tahu bahwa sahabatnya itu sedang pergi ke luar kota untuk mengadakan sebuah meeting penting.



**Rumah Sakit**



Rizal menjatuhkan tubuhnya tepat di atas sofa, sebuah hembusan nafas berat dapat menggambarkan dirinya yang begitu frustasi.



"Harus sampai kapan aku menunggu jawabanmu itu Aisyah," lirihnya kesal.



Ia masih jengkel mengingat Aisyah yang enggan membalas pinangannya, Rizal tahu ia harus sabar. Dirinya telah memilih jalan yang memang benar-benar rumit yang nyatanya tak mudah dan ia sadar itu.



"Bagaimana pun, aku akan berusaha membuatmu menjadi milikku Aisyah," tekadnya.



Rizal yakin dan tentunya sangat bertekad bulat untuk menjadikan Aisyah sebagai pasangan hidupnya.



Tok... Tok... Tok...



"Masuk," ujar Rizal.



Ia mempersilahkan seseorang yang kini membuka pintu ruangan kerjanya.



Masih duduk sembari bersandar santai, Rizal hanya menolehkan wajahnya melihat pria yang kini berdiri di hadapannya. Terlihat kini pria bersetelan jas hitam itu menyodorkan sebuah amplop cokelat yang langsung fi terima oleh Rizal.



"Secepat itu?"



Rizal menyungging kan senyumannya, merasa puas dan senang akan bawahannya itu.



"Baiklah, terima kasih, kau bisa pulang." Rizal langsung saja mempersilahkan pria itu untuk pergi selagi dirinya sibuk membuka isi amplop coklat itu.



Lagi dan lagi, Rizal tersenyum senang melihat beberapa lembar foto yang kini ada dalam genggamannya.

__ADS_1



"Kau tak akan bisa lari lagi, pembunuh haruslah masuk ke dalam penjara." ujarnya tersenyum menyeringai.


__ADS_2