ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 41 KETERLALUAN!


__ADS_3

"Mau apa kamu kemari!" ujar Ibu Fatimah sembari menarik wajahnya enggan untuk melihat putranya itu.


Adam menghela nafasnya, ia baru saja mendapat kabar bahwa Ibu nya masuk ke rumah sakit. Setelah hari perceraiannya, Adam seakan di benci dan di musuhi oleh Ibu nya sendiri.


"Bu, Adam dan Erika kemari untuk menjenguk Ibu," balasnya lembut.


Namun, Ibu nya itu enggan untuk mendengar juga menatap wajahnya, ia terus saja berbalik memunggungi Adam juga Erika.


"Apaan sih Ibu nya Mas Adam! Emang sih, orangnya dari waktu itu nyebelin banget!" kesal Erika membatin.


Adam membawa tangannya, memegang pundak sang Ibu, berharap ia mau berbalik dan memaafkan anaknya ini.


"Maafkan Adam Bu, Ibu jangan terus marah seperti ini," pinta Adam memohon, berharap sang Ibu bisa sedikit luluh.


Bu Fatimah masih diam, enggan untuk membalas. Ia masih kesal juga marah kepada sikap putranya itu yang telah membuatnya kehilangan menantu kesayangannya.


Bahkan Bu Fatimah juga kecewa akan sikap Adam yang ternyata sudah sangat menyakiti Aisyah hanya demi wanita murahan seperti Erika, geram Bu Fatimah.


"Bu, sudah dong marahnya," bujuk Adam terus.


Sedang kini, Pak Adam hanya bisa duduk di ujung ruangan sembari membaca sebuah koran yang terbentang di kedua tangannya dengan secangkir kopi di atas meja. Bersikap cuek melihat anaknya yang masih mencoba meredamkan amarah Istrinya.


Erika tentu hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, merasa jengah dengan keadaan ini. Jika bukan untuk mendapatkan hati mertuanya itu, ia pasti lebih memilih tinggal di Apartemen, enggan untuk terus berdiri dengan senyuman palsu di bibirnya kini.


"Bu, memangnya Ibu sudah tidak sayang sama Adam?" ujarnya. "Jangan terus bersikap dingin seperti ini Bu, Adam sedih melihat Ibu seperti ini," sambungnya.


Bu Fatimah kemudian menoleh, ia bangkit mencoba duduk. Adam tentu langsung membantu Ibu nya itu dengan sangat telaten.


Namun, sebuah kerutan di kening Ibu nya itu tak bisa terelakkan. Alisnya kini bertautan, menatap ke arah Adam juga Erika dengan tatapan tajam.


"Ibu kecewa, Ibu sangat kecewa kepada kamu Adam!" seru Bu Fatimah akhirnya mau membuka suara.


Adam menundukkan kepalanya, mengerti akan apa yang Ibu nya maksud. Berbeda dengan Erika yang kini memutar bola matanya semakin jengah.


"Ibu malu! bagaimana bisa Ibu membesarkan anak seperti kamu!" marahnya.


"Anak yang bisanya melukai perasaan istrinya sendiri! bahkan, sampai menceraikannya! suami macam apa kamu ini Adam!" bentak Bu Fatimah.


Adam masih tertunduk, mendengarkan setiap kecaman yang keluar dari mulut Ibu nya.


"Maafkan Adam Bu, tapi memang mungkin sudah jalannya yang seperti ini,"


Bu Fatimah menarik matanya, membulat tak setuju dengan balasan putranya itu.


"Sudah jalannya?" ujar Bu Fatimah.


"Kamu yang bodoh Adam! kamu menceraikan istri sempurna seperti Aisyah hanya demi wanita seperti dia!" pekik Bu Fatimah, melemparkan tatapannya kepada Erika.


"Ibu!" sergah Adam.


Tahu jika sang Ibu tengah mengejek istrinya. Melihat Erika jauh lebih rendah di bandingkan Aisyah.


"Jangan berkata seperti itu Bu, Erika adalah istriku," Adam mencoba sabar, membela Erika di hadapan Ibu nya.


"Istrimu! apa kamu tidak dengar apa yang Aisyah ucapkan?"


"Wanita itu yang telah membunuh anakmu! cucuku!" pekik Bu Fatimah lagi, tak bisa menahan emosinya.


Pak Alam yang melihat istrinya itu yang sudah tak bisa menahan lagi emosinya, kini menyimpan lembaran koran di tangannya, lalu beralih bangkit dan melangkah mendekat ke arah Bu Fatimah.


"Sudah, sudah Bu, jangan berteriak-teriak seperti itu," ujar Pak Alam.


Pak Alam membawa tubuh istrinya itu untuk kembali berbaring, menenangkannya, membawanya untuk kembali bernafas dengan teratur.


Adam kini hanya terdiam, mendengar ucapan Ibu nya itu yang masih terus saja menganggap Erika sebagai pembunuh. Tentu saja, Adam merasa tak terima. Namun, ia sadar bahwa orang yang kini di hadapannya itu adalah Ibu nya sendiri.


Ia hanya bisa mengepal tangannya, menahan gejolak api yang bergemuruh di dadanya. Merasa tak terima jika istrinya terus-menerus di salah pahami seperti ini.


Sama halnya dengan Erika yang kini menatap dengan sorot api di matanya ke arah mertuanya itu.

__ADS_1


"Bisa-bisanya wanita tua ini masih percaya dengan omongan Aisyah!" kesalnya dalam hati.


"Aku harus bisa menghilangkan semua bukti agar sampai kapanpun, aku bukanlah penyebab kecelakaan itu terjadi!" tekadnya.


"Ibu sudah sangat keterlaluan, Erika itu istriku Bu, jangan Ibu sebut Erika sebagai pembunuh seperti itu!" ujar Adam.


Bu Fatimah yang baru saja mencoba mengatur nafasnya, menahan amarah di dadanya kini kembali menatap putranya itu dengan tatapan tajam.


"Ibu lihat, Erika sekarang ada di sampingku. Jika Erika adalah pembunuh anakku, tidak mungkin sekarang dia ada di sini!" jelas Adam.


"Aisyah bahkan sudah melapor kepada pihak kepolisian tentang hal ini, tapi apa?" Adam menghentikan ucapannya, menatap Ibu nya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Erika bukanlah seorang pembunuh, semua yang Aisyah ucapkan hanyalah omong kosong!" lanjutnya.


"Apa kamu bilang!" Bu Fatimah kembali menyahuti dengan suara tinggi.


"Sudahlah Bu, Adam tidak mau terus bertengkar dengan Ibu seperti ini,"


Adam membawa tangannya menggenggam tangan Erika, mengangkatnya ke atas, memperlihatkan genggaman tangan itu ke arah kedua orang tuanya.


"Erika adalah istriku Bu, mulai sekarang, tolong perlakukan dia layaknya Ibu memperlakukan Aisyah dulu."


"Karena sampai kapanpun, Ibu mau berkata apapun, aku akan tetap ada di samping istriku." Adam berucap yakin dengan nada penuh tekad.


Entah sebesar apa cinta Adam kepada Erika sampai bisa membuatnya menjadi seorang pria yang buta.


Bu Fatimah juga Pak Alam hanya bisa menatap putranya itu dengan tatapan menohok. Benar-benar kebal telinga dan hati putranya itu, seakan tak bisa lagi melihat hal lain selain Erika.


"Adam dan Erika pamit Bu, semoga Ibu cepat sembuh," ujar Adam sebelum akhirnya membawa Erika keluar dari ruangan itu.


Tentu kini Erika tengah bersorak ria, bahagia dengan perlakuan Adam yang selalu saja membelanya. Membuat Erika tenang, karena sampai kapanpun, ada Adam yang akan selalu menjadi tamengnya.


"Terima kasih Mas," ungkap Erika.


Adam menoleh, menatap wajah istri tercintanya itu. melihat Erika yang kini membuat raut wajah terharu bercampur sedih.


Adam langsung saja melepaskan genggaman tangannya itu, beralih membawa tubuh Erika ke dalam pelukannya.


"Sudah, jangan dengarkan semua perkataan Ibu, jangan masukkan ke dalam hati." ujar Adam.


"Aku akan selalu ada untukmu, apapun yang mereka katakan, aku akan selalu percaya, kamu tidak akan mungkin melakukan hal itu." lanjut Adam.


Ia berkata akan selalu percaya kepada istrinya itu. Di dalam dekapan tubuh Adam, kini Erika tersenyum menyeringai, berhasil membuat Adam luluh dan percaya kepadanya.


Adam dan Erika akhirnya kembali melangkahkan kaki mereka, berjalan keluar dari rumah sakit.


Namun, belum sempat langkah itu selesai keluar dari bangunan besar yang harum obat-obatan itu, kedua mata ada menangkap sosok yang tak asing lagi di matanya.


Ia melihat mantan mertuanya itu kini tengah berlari masuk dari pintu luar, mengikuti pria di depannya yang kini tengah memangku seorang wanita yang terkapar lemas dalam pangkuannya.


"Mas, ayo kenapa berhenti?" tanya Erika melihat suaminya yang malah terdiam di ambang pintu keluar rumah sakit.


Melihat suaminya yang tak kunjung membalas, Erika mengikuti arah tatapan Adam, melihat kepada seorang pria yang kini tengah menurunkan wanita dari pangkuannya ke atas brankar.


Erika memicing, mencoba melihat dengan jelas siapa wanita itu.


"Aisyah," ujar Erika.


Seketika genggaman tangan Adam terlepas, Erika kini melihat Adam yang berlari dengan cepat ke arah brankar, yang mana wanita itu adalah Aisyah.


Bagaimana Erika tidak kesal sekarang, baru saja dirinya bebas dari kehadiran Aisyah di hidupnya. Kini, ia malah harus kembali bertemu dan melihat Adam yang terlihat masih begitu khawatir dan cemas akan mantan istrinya itu.


"Mas Adam!" panggil Erika kesal.


Namun, Adam tak menghiraukan panggilan dari istrinya itu, ia terus berlari mengejar brankar yang kini sudah di dorong masuk ke IGD.


"Aisyah, aku yakin yang aku lihat tadi adalah Aisyah!" seru Adam dalam hatinya, ia terus mencoba berlari mengikuti brankar itu.


Sampai sebuah pintu membuat Adam harus menghentikan langkahnya, bersamaan dengan kedua orang yang mana adalah mantan mertuanya.

__ADS_1


"Adam!" ujar mereka berdua bersamaan terkejut dengan kehadiran Adam.


"Ta-tadi itu Aisyah kan?"


Dengan nafas yang memburu karena kelelahan, Adam terbungkuk memegang lututnya, wajahnya menengadah, menatap Abi dan Ummi Aisyah, bertanya dengan nafas yang terengah-engah.


"Mau apa lagi kamu!" bentak Abi Aisyah.


Adam mencoba meluruskan tubuhnya, walau masih sedikit terengah-engah, ia mencoba mengatur nafasnya, menatap kedua orang tua Aisyah dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Adam minta maaf Abi, tapi apa benar yang tadi itu Aisyah?" Adam seakan tak takut dan tak mengindahkan bentakan dari mantan mertuanya itu.


Jelas kini, Adam hanya ingin tahu apakah benar wanita yang terbaring lemas itu adalah Aisyah?.


"Memangnya kamu mau apa lagi! tidak puas kamu sakiti anakku! sampai dia menderita seperti ini!" pekik Ummi Aisyah yang kini menitikkan air matanya.


"Tidak puas kamu lukai anakku! sampai-sampai selama ini dia memendam penyakitnya sendirian!" Ummi Aisyah terus berteriak, mencecar Adam yang hanya bisa diam tak mengerti dengan apa yang Ummi Aisyah ucapkan.


Ummi Aisyah terus menangis, merasa kasihan dengan putrinya itu. kakinya bergetar lemas untung saja ada Abi yang sigap memegangi tubuh istrinya itu.


"Sudah, sudah, Abi yakin Aisyah pasti kuat, dia pasti baik-baik saja," tutur Abi menenangkan Ummi.


Adam semakin tak mengerti, apa Aisyah kecelakaan atau kenapa?.


Adam semakin penasaran dengan keadaan mantan istrinya itu.


"Lebih baik kamu pergi Adam, kamu bukanlah siapa-siapa lagi di sini," ujar Abi, menyuruh Adam untuk pergi.


"Mas! kamu tega tinggalin aku!"


Erika yang baru saja datang langsung memukul kecil bahu suaminya itu, kesal. Tentu kehadiran Erika semakin membuat Abi dan Ummi kesal, tidak senang melihat wanita yang sudah membuat hidup putrinya itu hancur.


"Cepat pergi, kamu tidak perlu pura-pura perhatian kepada anak kami!" Abi kembali mengusir Adam.


Adam dengan cepat menggeleng, "Adam harus tahu kenapa Aisyah sampai di bawa ke rumah sakit seperti ini,"


"Bagaimanapun, Aisyah pernah menjadi istri Adam." sahutnya, enggan mengikuti suruhan Abi Aisyah.


"Peduli apa kamu dengan anak saya!" pekik Ummi.


"Apa kamu tahu! anak saya menderita selama ini, sampai-sampai dia mengidap penyakit seperti ini pun, kamu tetap saja melukai hatinya!" Ummi terus menangis dalam pelukan Abi, wajahnya merah padam, menahan amarah.


Memikirkan putrinya yang selama ini menahan rasa sakit yang bertubi-tubi.


"A-apa maksud Ummi?" Adam terbata, "pe-penyakit?" tanyanya.


"Kamu tidak tahu!" Ummi Aisyah semakin naik pitam saat melihat Adam yang tidak tahu menahu tentang penyakit yang di derita Aisyah.


"Suami macam apa kamu ini! anak saya sakit parah seperti ini saja kamu tidak tahu!"


"Ya Allah, jadi selama ini putriku menahan rasa sakit ini sendirian! di tambah menerima semua perlakuan menyakitkan dari kalian!"


Adam mencoba berpikir, apa yang salah, apa yang tak ia ketahui.


"Ma-maksud Ummi apa? Adam sama sekali tidak mengerti," balas Adam.


Kini, bukan lagi Ummi Aisyah yang mengeluarkan suara. Abi melangkah maju, laku sebuah pukulan mendarat di pipi Adam, membuat Erika berteriak terkejut melihat hal itu.


Bahkan kini ada beberapa orang juga perawat yang turut memisahkan Abi dari Adam.


"KETERLALUAN KAMU ADAM! JADI SELAMA INI KAMU PERLAKUKAN ANAK SAYA SEPERTI APA!"


"Sudah Pak, sudah, jangan bertengkar di sini, ini rumah sakit!" lerai salah satu perawat yang ikut membawa Abi untuk menjauh dari Adam.


Adam jatuh terduduk di bawah lantai, ia memegangi bibirnya yang kini mengeluarkan darah sebab bogem mentah dari mantan mertuanya itu, lagi-lagi Adam kembali mendapatkan pukulan dari mantan mertuanya itu.


Adam semakin bingung, ia merasa tak tahu apa-apa. Dirinya semakin berpikir, apa yang sudah ia lewatkan?.


Apa yang terjadi kepada Aisyah!

__ADS_1


__ADS_2