
DI RUANGAN LAIN
Rizal, Dokter muda itu tengah duduk di depan layar komputer, fokus mengecek setiap data pasiennya.
Tok, tok, tok,
Sebuah ketukan berhasil mengalihkan perhatiannya. Ia berhenti sejenak, lalu berucap mempersilahkan orang di depan ruangannya itu untuk masuk.
"Masuk," ucapnya.
Lalu, masuklah seorang suster sembari membawa beberapa berkas yang langsung ia serahkan kepadanya.
"Ini hasil darah juga rotgen Ibu Aisyah Dok," jelas suster tersebut, yang di jawab dengan sebuah anggukan.
Setelah itu sang suster langsung pamit undur diri, membiarkan Rizal untuk kembali berkutik dengan berkas juga komputernya.
Rizal langsung saja membaca lembaran kertas itu, sampai pada satu lembar yang berisikan hasil tes darah pasiennya.
Ia terdiam begitu lama, mengamati kertas itu dengan seksama.
"Kasian," gumamnya.
Rizal lalu bangkit, meraih jas putihnya, lalu berjalan keluar, ia melangkahkan kakinya menuju bangsal IGD. Sampai pada ranjang salah satu pasiennya, seorang suster jaga langsung berlari mendekat.
"Ada apa dok?" Tanya suster itu.
"Dia belum siuman?" Rizal bertanya, dan di balas dengan gelengan kecil sang suster.
"Lalu keluarganya?" Lanjutnya kembali bertanya.
Lagi-lagi sang suster menggeleng, "tadi keluarganya menitipkan Ibu ini sebentar, dia bilang ada urusan sebentar." Balas suster itu.
Rizal, mengangguk, lalu menyuruh suster itu untuk kembali ke tempatnya. Ia kembali menatap pasiennya itu dengan wajah iba, merasa kasian dengan keadaan pasien yang baru ia temui itu.
Kedua mata Aisyah mulai mengerjap, Rizal yang melihatnya hanya bisa diam sembari mengawasi, menunggu pasiennya itu untuk sadarkan diri.
Akhirnya kedua mata itu terbuka, pemiliknya sedikit mengerjap, menetralisir cahaya yang langsung masuk ke indera penglihatannya.
Rizal tersenyum tipis, entah kenapa, tapi wanita yang berstatus sebagai pasiennya itu, seakan sudah menarik perhatiannya dari awal ia melihatnya.
"Ma-maaf, sa-saya ada dimana?" Kata yang pertama kali terucap dari kedua bibir Aisyah.
Tentu ia merasa kebingungan, apalagi saat pertama ia sadar, wajah yang ia lihat adalah wajah asing yang tak ia kenal.
Aisyah melihat wajah sang Dokter yang tepat berada di depannya. Rizal tersenyum, Aisyah yang kebingungan mengalihkan pandangannya, menoleh ke kiri dan ke kanan, ia juga membawa tangannya memijat pelan pelipisnya.
"Sa-saya ada dimana?" Ulang Aisyah kembali bertanya, karena belum mendapatkan jawaban yang bisa menjelaskan keadaanya kini.
Masih tersenyum lebar, Rizal kemudian menenangkan Aisyah, "kamu ada di rumah sakit, setahu saya kamu pingsan dan di bawa ke sini," jelas Rizal.
Aisyah mencoba bangun, tentu Rizal berniat untuk membantu, tapi dengan sopan Aisyah menolak hal itu, "tidak apa-apa, saya bisa sendiri," tukasnya.
Merasa tidak enak harus bersentuhan dengan pria yang bukan mahramnya.
Aisyah duduk sembari kembali menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, seakan tengah mencari seseorang.
__ADS_1
"Sepertinya, orang yang membawa kamu ke sini pergi sebentar," sahut dokter itu seakan tahu apa yang Aisyah sedang lakukan.
Anggukan menjadi balasan yang membuat keadaan menjadi sedikit canggung, Aisyah merasa Dokter di hadapannya ini bersikap tak aneh.
Ia terus tersenyum lebar kepada Aisyah, juga menatapnya dengan tatapan yang tak bisa Aisyah jelaskan, membuat Aisyah merasa sedikit risih dan canggung.
"Hm, kalo begitu, saya pamit undur diri," Rizal menggaruk tengkuknya, ikut merasa canggung.
Aisyah hanya terdiam, tak berniat menjawab, ia hanya mengangguk pelan, juga mengembangkan sebuah senyuman tipis.
Rizal berbalik, bersiap untuk melangkah pergi. Namun, suara itu membuat Rizal mengurungkan niatnya.
"Dokter,"
Ia kembali membalikkan tubuhnya menghadap Aisyah, menarik ke atas sebelah alisnya, seperti bertanya, "ada apa?".
"Kalo boleh tahu, sa-saya sakit apa?" Tanya Aisyah to the point, yang terdengar ragu.
Rizal terdiam sejenak, ia kembali menggaruk tengkuknya, merasa kebingungan dengan pertanyaan yang Aisyah lontarkan.
"Hm, saya akan jelaskan setelah walimu kembali, untuk sekarang, saya tidak bisa memberitahukannya dulu," jelas Rizal dengan pelan.
Aisyah menunduk lesu, seakan tak puas dengan jawaban yang di berikan oleh Rizal.
"Saya sakit keras?" Tebak Aisyah sedikit bergetar.
Rizal mendongak, menatap Aisyah dengan wajah kebingungan.
"Akhir-akhir ini, saya sering mimisan, juga terkadang timbul memar-memar di bagian tubuh saya, padahal hanya terbentur pelan," jelas Aisyah yang merasa aneh dengan tubuhnya.
Rizal lagi-lagi terdiam, penjelasan yang terucap dari mulut Aisyah kini semakin meyakinkan Rizal akan diagnosisnya terhadap penyakit yang di derita Aisyah.
Aisyah mengalihkan pandanganya, matanya berkaca, seakan menahan ketakutan yang akan segera menjadi kenyataan.
"Leukemia?" Lanjut Aisyah menebak penyakit yang tumbuh di tubuhnya.
Hening, tak ada sahutan dari kedua mulut Rizal. Dirinya benar-benar bingung, apa ia harus memberitahukan tentang keadaanya, Rizal takut jika hal itu akan membuat pasiennya hancur.
Ia menunduk, merasa iba, "benar," akhirnya, Rizal membenarkan tebakan Aisyah dengan berat hati.
Aisyah tersenyum dengan air mata yang terus lolos jatuh membasahi pipinya.
"Tapi, kamu tenang saja, banyak orang yang sudah kembali sehat setelah melakukan pengobatan, jangan putus asa, kamu pasti bisa melewatinya." Rizal mencoba menyemangati Aisyah.
"Maka dari itu, saya harus bertemu dengan wali kamu, agar kamu bisa secepatnya mendapatkan pengobatan." Tambah Rizal.
Aisyah dengan cepat menolak, "Tidak, Dokter jangan sampai bilang pada suami saya, saya mohon," pinta Aisyah, wajahnya menatap Rizal memelas.
"Saya mohon Dok, biar saya saja yang mengetahui penyakit ini," mohonnya lagi.
Aisyah terus meminta Rizal untuk menyembunyikan penyakitnya, padahal penyakit yang di derita nya itu bukanlah penyakit biasa.
"Tidak, Leukemia bukanlah penyakit biasa yang bisa kamu tanggung sendiri, kamu butuh penyemangat dalam menjalani pengobatan ini,"
Namun, Aisyah kembali menggelengkan kepalanya, "sa-saya mohon dok, in shaa Allah, saya bisa jalani ini semua sendiri, saya tidak mau membuat suami saya khawatir,"
__ADS_1
Rizal tak habis pikir, ada wanita seperti Aisyah yang mau menyembunyikan keadaan dirinya kepada suaminya sendiri.
"Maaf, saya tidak bisa," tolak Rizal, walau merasa berat hati, Rizal merasa tidak bisa menyembunyikan berita sebesar ini.
Kecewa, mendengar balasan sang Dokter yang tak mau mengabulkan permintaanya. Aisyah tidak mau Adam tahu bahwa dirinya tengah sakit keras, sudah cukup rumah tangganya kacau karena satu masalah besar, jangan sampai berita kesehatannya ini menjadi masalah yang akan semakin memperburuk keadaan, pikir Aisyah.
Di saat Aisyah tengah terus memohon, samar-samar Aisyah mendengar teriakan yang tak asing di telinganya.
"Umma!"
Aisyah menoleh ke belakang, mencari asal suara itu, sampai matanya menangkap wajah Ali yang kini berlarian kecil ke arahnya sembari terus berteriak memanggilnya.
"Umma! Umma! Umma udah bangun!" Serunya senang.
Aisyah juga melihat Adam yang berjalan di belakang Ali, bersama dengan Erika yang juga ikut berjalan di samping Adam.
Ada sedikit rasa kecewa, melihat Erika yang terus menempel di samping suaminya. Namun, apa boleh buat, Aisyah hanya bisa bersabar dan menerimanya dengan lapang dada.
Rizal kini hanya bisa terdiam melihat pasiennya yang sudah berkumpul dengan keluarganya. Ia tersenyum, tetapi ada sedikit rasa sedih melihat wanita yang menarik perhatiannya itu sudah berkeluarga.
"Umma! Umma udah bangun? Umma gakpapa?" Ali langsung saja mencoba naik ke atas ranjang.
Tentu Rizal yang melihat Ali kesusahan, membantu anak berusia lima tahun itu, sampai akhirnya Ali bisa naik dan memeluk Umma nya.
"Masya Allah, kenapa anak Umma ini, kangen banget yah sama Umma," goda Aisyah yang mendapat pelukan erat dari putranya.
"Ali takut Umma, untung Umma bangun lagi, Umma jangan tidur lama lagi!" Sahut Ali, sembari kembali menangis karena takut kehilangan Umma nya.
Sedih sekaligus terharu, sebegitu sayangnya dan takutnya Ali kehilangan Aisyah.
"Bagaimana jika aku benar-benar pergi, apa Ali akan begitu sedih?" Batin Aisyah.
"Cup,cup, udah sayang, Umma kan udah bangun, Ali gak usah nangis lagi." Aisyah mengusap lembut punggung Ali.
Sedangkan kini Erika tengah memutar kedua bola matanya jengah, melihat kemesraan antara Aisyah dengan Ali.
"Dasar lebay, pingsan aja harus lebay gitu!" Gumam Erika sinis.
Adam yang melihat pemandangan di depannya hanya bisa tersenyum hangat, sampai matanya menangkap sosok Rizal dan tersadar akan kehadirannya.
"Ah, maaf Dok, tadi saya pergi sebentar," ucap Adam kepada Rizal.
"Tidak apa-apa Pak, tenang saja," balasnya.
"Jadi, bagaimana keadaan istri saya Pak?" Adam bertanya tentang keadaan Aisyah.
Sontak pertanyaan itu membuat Aisyah seketika memegang. Takut jika Rizal akan mengatakan yang sebenarnya.
Ia langsung saja menoleh, menatap Dokternya itu dengan tatapan memelas, memohon agar Rizal menyembunyikan penyakitnya.
Rizal yang sadar dengan tatapan Aisyah kini kembali bingung dan ragu, apa yang harus ia katakan.
"Dok?" Adam menyadarkan Rizal yang kini diam melamun.
"A-ah, ma-maaf, tidak apa-apa Pak, Ibu Aisyah hanya kecapean, harus banyak istirahat, makannya tadi dia pingsan," bohong Rizal akhirnya.
__ADS_1
Aisyah pun bisa bernafas lega, untungnya Dokter itu mau membantu dirinya pikir Aisyah, kini biarlah hanya dia yang tahu tentang keadaanya. Aisyah tidak mau menambah beban untuk suaminya, Aisyah takut jika Adam tahu Aisyah sakit, dirinya hanya akan menjadi beban saja.
Maka dari itu, menyembunyikan kebenaran adalah pilihan terbaiknya. Semoga saja, pilihan ini menjadi pilihan yang tepat, pikir Aisyah.