ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 47 Izinkan aku meminangmu


__ADS_3


"Assalamualaikum," ucap Aisyah saat baru saja memasuki sebuah Butik tempat dimana ia bekerja.


Seorang wanita tak begitu tua namun lebih berumur di bandingkan Aisyah menoleh lalu menyunggingkan sebuah senyuman lebar.


"Aisyah," panggilnya dengan gembira.


"Mbak Rika, aku kira Mbak pulang Senin depan."


Aisyah menyambut wanita itu dengan sebuah pelukan hangat, wanita bernama Rika yang sudah ia anggap selayaknya Kakak sendiri. Begitu baik sampai mau mempekerjakan dirinya yang masih pemula di bidang fashion.


Rika menggeleng seraya melepaskan pelukan kecilnya, "-tadinya sih iya, cuman Mbak punya berita gembira yang gak sanggup Mbak simpan sampe Senin depan." balasnya.


Aisyah mengerutkan keningnya, "Berita apa Mbak?" tanyanya penasaran.


Bukannya menjawab, Rika malah tersenyum-senyum kecil lalu membawa Aisyah untuk duduk dahulu sebelum ia membuka mulutnya, memberitahukan apa berita gembira yang ia bawa jauh-jauh dari Jakarta.


Butik Muslimah, salah satu Butik ternama di Kota Bandung, tempat Aisyah bekerja sembari ikut belajar tentang 'fashion'. Rika adalah pemilik Butik tersebut, dulu Rika adalah santriwati lulusan Pesantren yang dimiliki oleh Abi dan Ummi-nya Aisyah.


Rika membawa kedua lengannya memegang lembut tangan Aisyah, tatapannya yang berbinar tak hentinya menatap dua sorot indah tenang Aisyah.


"Ada apa sih Mbak?" tanyanya lagi dengan sedikit terkekeh, "-Mbak keliatannya seneng banget." lanjut Aisyah mampu menebak raut wajah Rika yang kini tak mampu menyembunyikan rasa gembiranya.


"Aisyah, selamat yah-" ujarnya.


Kening Aisyah berkerut bingung, mendapat kata selamat atas sesuatu yang tak tahu tentang apa.


"Selamat buat apa Mbak?" tanya Aisyah kebingungan.


berkali-kali Rika tersenyum lebar sampai memperlihatkan deretan giginya, "Selamat! desain baju yang kamu buat di sukai designer ternama dan besar kemungkinan akan di jadikan project barunya tahun ini!" jelas Rika.


Kedua mata Aisyah membulat, ikut terkejut juga senang seakan tak percaya dengan setiap kata yang keluar dari mulut Rika.


"A-apa Mbak? Mbak gak bohong kan?" Aisyah menggerak-gerakkan kedua tangannya meminta kejelasan dari apa yang sudah ia dengar.


Rika mengangguk penuh, "Untuk apa aku bohong Aisyah,"

__ADS_1


Aisyah menutup mulutnya yang terbuka lebar tak percaya. Beberapa kali Aisyah mengucap kalimat syukur di dalam hatinya, mendapat sebuah hadiah besar yang Allah berikan.


"Alhamdulillah, MasyaAllah Mbak, makasih banyak Mbak, makasih." Aisyah membawa Rika ke dalam pelukannya, melepaskan rasa gembira yang teramat.


"Selamat yah,"


***


Musik begitu keras memekakkan telinga, lampu berwarna-warni berkelap-kelip menemani irama musik memandu orang-orang yang kini beradu tarian di lantai dansa.


Erika terduduk lemas dengan segelas minuman beralkohol-nya, mata yang sedikit kabur menatap ke arah kerumunan orang yang masih asyik berjoget ria, dentuman musik sayup-sayup hilang bersamaan dengan kesadarannya yang memudar.


Seorang pria di sampingnya tersenyum ria, melihat Erika yang kini jatuh ke dalam dekapannya, wanita bodoh yang mau saja masuk ke dalam perangkap seekor buaya darat.


Erdy menatap teman-temannya, memberi isyarat bahwa ia akan pergi sembari mengangkat tubuh Erika ke dalam pangkuannya.


"Gue cabut yah!" serunya sedikit berteriak.


"Wih, maen pergi aja, awas lu ketauan lakiknya." ujar Andrew salah satu sahabat Erdy.


Erdy berbalik, menyeringai tipis lalu kembali melangkahkan kakinya menuju salah satu kamar yang sudah ia pesan. Malam-malam seperti ini sudah sangat biasa, tiga bulan lamanya Erika menjadi teman tidur Erdy.


Erdy melempar tubuh Erika ke atas ranjang, membuat si pemilik tubuh menggeliat. Ia berjalan ke arah depan ranjang, memasang sebuah tripod bersamaan dengan satu kamera yang langsung menyorot ke arah ranjang.


Erika tentunya tak tahu dan tak sadar, jika selama ini Erdy selalu merekam aksi panas mereka setiap malam. Karena itu adalah hobi tersembunyi seorang Erdy dan menjadi sebuah ancaman besar bagi korbannya agar selalu menutup mulutnya dan diam menurutinya.


"Ayo kita mulai, malam panas penuh gairah ini." kekeh Erdy mendekati Erika yang sudah terbaring lemas di atas ranjang.


***


Rumah Aisyah


Kening Aisyah berkerut, melihat banyak sepatu yang berjejer di pintu masuk rumahnya. Mungkin memang Abi dan Ummi sedang menerima tamu, ia tak banyak berpikir.


Langsung saja Aisyah melepaskan sepatu flat nya, lalu melangkah masuk seraya mengucapkan salam, "Assalamualaikum,".


"Waalaikumsalam," balas beberapa orang yang kini terlihat tengah duduk bersama di ruang tamu. Keadaan berubah hening sejenak, menunggu Aisyah berjalan mendekat dengan wajah tertunduk.

__ADS_1


Tak berselang lama, wajah yang kian tertunduk kini terangkat, menampakkan wajah berseri, putih hangat, dua bola mata hitam bulat di tambah bibir mungil berwarna pink juga rona merah di kedua pipi yang jelas terlihat membuat pria di samping Abi Aisyah tertegun menatap kagum.


"MasyaAllah," ujarnya memuji kecantikan akan paras Aisyah.


"Mas Rizal?" ucap Aisyah, melihat pria yang tak asing di matanya.


Aisyah menolehkan wajahnya, melihat ke arah seorang wanita juga pria paruh baya yang duduk di samping Rizal. Ia dengan cepat menyunggingkan sebuah senyuman hangat, menyapa keduanya.


"Ini Ibu dan Bapakku," ujar Rizal memperkenalkan orang tuanya.


Aisyah pun mengangguk dan langsung saja menyalami keduanya, tak langsung pergi Aisyah melihat Ummi-nya yang kini memberikan sebuah isyarat untuk segera ikut duduk di sampingnya. Tentu saja, tanpa bisa menolak Aisyah langsung mendudukkan bokongnya di atas sofa empuk di samping Ummi.


"Aisyah, nak." panggil Abi.


Aisyah menoleh, menatap Abi-nya dengan tanda tanya besar di wajahnya.


"Sebenarnya, kedatangan Dokter Rizal dan kedua orang tuanya malam ini untuk meminang kamu," balas Abi.


Keadaan yang hening menjadi semakin hening, Aisyah bak mendengar suara petir yang langsung mengejutkannya. Bukan untuk yang pertama kalinya, Aisyah ingat betul saat ia masih berada di Rumah sakit, saat itu Rizal sempat meminangnya.


Namun kini, seakan memberi tanda bahwa Rizal tak sedang bercanda dengan perasaanya. Ia kembali dan langsung membawa kedua orang tuanya ke hadapan Aisyah, seakan memberitahu Aisyah akan keseriusannya.


"M-meminang?" ulang Aisyah.


Rizal tersenyum manis, menatap dalam pada kedua sorot mata Aisyah. "Aku bersungguh-sungguh Aisyah," ujarnya.


"T-tapi Mas, bukankah ini terlalu cepat?" Aisyah terdengar sedikit kikuk.


"Beberapa bulan yang lalu aku baru saja bercer-"


"Aku tidak masalah Aisyah, aku juga tidak merasa ini terlalu cepat." balas Rizal memotong ucapan Aisyah.


"Aisyah, izinkan aku meminang dirimu."


Aisyah tak tahu harus berkata apa lagi, ia kini hanya bisa menatap kearah Ummi dan Abi-Nya, meminta saran akan hal apa yang selanjutnya akan ia lakukan.


"Itu terserah padamu Nak, Ummi dan Abi mendukung segala keputusanmu." ujar Ummi Aisyah.

__ADS_1


Semua mata kini tertuju pada Aisyah, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Aisyah, tentunya Aisyah kini tengah memikirkan dalam-dalam kalimat apa yang akan ia ucapkan.


"Aku-"


__ADS_2