
Seusai melaksanakan sholat isya, aku langsung membawa Ali ke kamarnya. Menemaninya, untuk sekedar membacakan sebuah cerita yang akhirnya membuat Ali terlelap.
"Alhamdulillah, mimpi indah sayang." Ucapku, sebelum meninggalkan kamar Ali.
Aku pun beranjak menuju ruang tengah, di sana kulihat mas Adam yang tengah menonton tayangan di televisi. Alih-alih mendekatinya, kakiku melangkah berbalik dan berjalan menjauh.
Namun, seakan sudah tahu kehadiranku, mas Adam menoleh dan memanggilku. "Aisyah," panggilnya.
Mau tak mau, akhirnya ku hentikan langkahku, dan berbalik menoleh ke arahnya. "Ada apa mas?" Jawabku.
"Kemari sebentar, temani mas." Ujarnya meminta untuk ku temani.
Sebelum berjalan mendekat, aku menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan seseorang, tetapi nyatanya mas Adam memang sendirian di ruang tengah.
Akhirnya aku berjalan mendekati suamiku itu, ku lihat mas Adam menepuk-nepuk sofa di samping memberi aba-aba agar aku duduk di sampingnya.
Tanpa menolak, ku dudukkan bokongku ini di sampingnya. "Ada apa mas?" Tanyaku lagi.
Mas Adam menggeleng sembari mencebikkan bibirnya. "Mas cuma pengen di temani kamu, memangnya tidak boleh?" Jawabnya dengan raut wajah bak anak kecil yang sedang memelas.
Aku terkekeh kecil melihat wajahnya itu, "tidak boleh!" Jawabku bercanda.
Ia semakin mencebikkan bibirnya, dengan mata yang berbinar. "Masya Allah, anak siapa ini?" Ujarku bercanda sembari mencubit kedua pipinya.
"Hahaha," tawa ku.
Melihatku tertawa, mas Adam kini mulai mengulas sebuah senyuman di bibirnya. "Nah, gitu dong, ketawa. Masa dari tadi mas lihat istri cantik mas ini cemberut terus." Ucapnya.
Aku pun tertawa kecil, ternyata semudah itu mas Adam bisa membuatku tertawa dan melupakan kesedihanku sebelumnya.
"Memangnya siapa yang cemberut?" Elakku.
Mas Adam tersenyum lalu membawaku ke dalam pelukannya, ke dalam pelukan hangatnya. Aku merasa, semua kegundahan dan rasa sedih yang sedari tadi mengganjal kini seketika menghilang.
Aku pun membalas pelukannya itu, menelusukkan kepalaku di dadanya.
"Jangan cemberut terus, nanti cepet tua." Kata mas Adam, masih memelukku.
__ADS_1
Aku kembali tersenyum, mendengar gurauannya. Seperti tengah menghiburku dengan cara yang sederhana.
"Siapa juga yang tua, mas kali yang udah tua!" Balasku, dengan sebuah kekehan.
"Ekhmmm!" Sebuah suara yang tiba-tiba mengejutkan mas Adam, dan membuat pelukannya terlepas dariku.
Aku melihat mas Adam yang kini menatap seseorang yang berada di belakangku. Aku pun menoleh dan melihat siapa orang itu,
Tentu saja, ia adalah mba Erika yang kini berdiri sembari berkacak pinggang menatap tak ke arahku dan mas Adam.
"Oh enak yah, bisa peluk-pelukkan! Memangnya kalian lupa disini ada aku!" Ucapnya dengan nada yang terdengar menyindir.
"Bukan seperti itu," balas mas Adam, namun mba Erika seakan tak mau mendengar apa yang mau mas Adam ucapkan.
"Sstt! Sudah mas, jangan berbicara omong kosong! Aku malas mendengarnya!" Sela mba Erika.
Mas Adam akhirnya memilih diam, aku pun menjadi salah tingkah, padahal apa yang aku lakukan dengan mas Adam adalah hal lumrah yang bisa kami lakukan.
Namun, dengan keadaan mba Erika yang tinggal di rumahku, kini aku dan mas Adam seakan harus menjaga jarak, walau kami berdua adalah suami istri.
"Malam ini, mas Adam tidur denganku!" Ucap mba Erika tiba-tiba sembari menatapku.
Ia kembali bergelayutan manja di lengan mas Adam, dan baru aku sadari jika kini mba Erika tengah mengenakan baju yang menurutku sangatlah tidak pantas untuk di perlihatkan di depanku.
Mba Erika kini mengenakan lingerie berwarna merah cabai, dengan potongan pendek seatas lutut dan memperlihatkan belahan dadanya.
Mataku membelakak, merasa risih melihat hal itu. Melihat suamiku yang kini tengah di gelayuti wanita berpakaian sexy yang berstatus sebagai istrinya juga.
"Malam ini, mas Adam akan tidur denganku, kamu tahu kan Aisyah, aku dan mas Adam belum mempunyai momongan, jadi kami berdua harus rajin melakukan hubungan suami istri, kamu mengerti kan." Jelasnya.
Sungguh, perkataan mba Erika yang masuk ke dalam telingaku ini, membuat sebuah api tersulut di dalam hatiku.
"Erika!" Tegur mas Adam.
Terlihat mas Adam mencoba melepaskan tangan mba Erika namun, mba Erika memegang lengan mas Adam dengan sangat kuat.
"Ada apa mas? Memang kenyataannya begitu kan, lagian kita ini kan suami istri, Aisyah juga pasti mengerti, iya kan Aisyah." Ucapnya lagi.
__ADS_1
Aku mengangkat wajahku, menatap mas Adam juga mba Erika, kemudian ku ulaskan sebuah senyuman dengan sebuah tatapan semu. "Silahkan, mba bisa ambil mas Adam. Semoga, mba Erika bisa cepat Allah beri kepercayaan untuk memiliki anak." Ucapku, dengan sebuah senyuman yang terlihat menyindir.
Aku pun segera berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan mereka berdua, dan ku dengar hentakkan kaki yang sedikit keras, berasal dari kaki mba Erika, mungkin ia kesal.
"Apa kamu bilang! Kamu menyindir aku yang belum hamil kan! Iya kan Aisyah!" Seru mba Erika dengan nada tinggi, seakan tak terima dengan ucapan ku.
Aku yang sudah melangkah menjauh tak berniat untuk menoleh, dan melanjutkan langkahku menuju kamar.
Sedang mba Erika kini terus berteriak memaki maki diriku, dengan mas Adam yang sibuk mencoba menenangkannya.
"Awas kamu Aisyah! Kamu menyindir aku yang belum hamil kan! Keterlaluan kamu!"
"Lihat saja nanti! Aku pasti akan cepat hamil! Memberi mas Adam anak yang akan mas Adam sayangi jauh daripada anakmu!" Teriaknya.
Aku yang mendengar hal itu hanya dapat memejamkan mataku sejenak, menahan rasa kesal di dada dan mencoba bersabar, lebih baik aku segera masuk ke kamar dan berbaring.
Semalam itu, aku kembali tidur sendirian. Mas Adam kembali bersama mba Erika. Namun, berbeda dengan biasanya, kini walau tidak bersamaku, dia masih berada di dalam rumah ini, hanya saja berbeda kamar denganku.
Akhirnya, daripada menghabiskan satu malam sendirian, aku pun berjalan keluar menuju kamar Ali. Aku berpikir mungkin akan jauh lebih baik tidur bersama putera ku itu, di bandingkan harus tidur sendirian.
Sampai di kamarnya, aku langsung membaringkan tubuhku ini di sampingnya, menatap wajah polosnya, mengusap puncak kepalanya perlahan.
Tak terasa, setetes air mata pun jatuh begitu saja. Ada rasa sakit yang menjalar di hati ini, "maafkan Umma yah nak, Umma belum bisa jadi ibu yang baik, ibu yang sempurna untuk Ali." Ucapku.
"Apa bisa Umma bertahan? Apa bisa Umma kuat nak?"
Tetes demi tetes terus keluar membasahi pipiku. Aku yang selalu mencoba kuat, kini hancur di hadapan puteraku yang tengah terlelap. Hanya dengan menatap wajahnya, hatiku serasa sakit.
Takut, jika saja nanti aku yang lemah ini tak bisa bertahan, membuat Ali menjadi korban dari rumah tanggaku yang hancur.
"Umma sayang sekali sama Ali, Ali jangan tinggalkan Umma yah nak." Ucapku lagi, dengan nada pelan seraya mengusapnya dengan rasa takut kehilangannya.
Entah kenapa, semenjak siang tadi melihat Ali yang duduk bersamaan dengan mas Adam dan mba Erika di meja makan, membuat rasa takut yang teramat.
Takut akan kehilangan Ali, entah mengapa aku bisa berpikiran seperti itu. Namun, nyatanya hati ini tak bisa di bohongi. Rasa takut yang entah mengapa datang itu terus mengendap dan mengganjal di hatiku ini.
"Apa aku akhirnya akan sendirian?" Ucapku.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan Umma yah nak, Umma sayang sekali sama Ali, jika sampai Ali tinggalkan Umma, Umma gak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya." Lanjut ku dengan air mata yang semakin bercucuran.
Malam itu, aku terus memeluk Ali, sampai-sampai mata ini lelah dan akhirnya terlelap, sembari memeluk puteraku itu.