ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 37 CUKUP MAS!


__ADS_3

Air mata tak lagi bisa menetes, semuanya terasa seperti mimpi. Aku hanya ingin cepat terbangun dari mimpi ini dan berlari membawa tubuh kecil itu ke dalam pelukanku.


Namun, sekuat apapun aku memejamkan mata ini, berharap kembali terlelap dan akhirnya bangun di atas ranjang kamar. Mata ini tak juga tertutup, aku terus menatap sebuah pintu yang kian membuat hati ini semakin tercekik.


Apa benar, apa ini bukan mimpi?.


Tidak, jangan katakan jika ini semua bukanlah mimpi. Aku tidak bisa, aku tak sanggup jika harus kehilangan malaikat kecilku itu.


Kenapa, kenapa harus Tuhan ambil dia dariku?.


Apa aku tak bisa menjaganya, kenapa harus dia yang engkau ambil Ya Allah...


Rintihku, entah harus bagaimana lagi aku meminta, aku berserah aku memohon, aku hanya ingin putraku kembali.


Bisakah jika aku memutar kembali waktu?. Masih banyak kekuranganku sebagai seorang Ibu nya. Masih banyak tempat yang ingin ku kunjungi dengannya, masih banyak hal yang belum ku lakukan dengannya.


Aku ingin putraku kembali, aku ingin Ali ku kembali...,


Sebuah derap langkah terdengar dari kejauhan, dari pinggir mata ku lihat pria yang sedari tadi ku tunggu baru saja menampakkan wajahnya.


Hati ini semakin teriris rasanya, apalagi ketika melihat wanita yang juga ikut mengekori dirinya di belakang.


Tanganku mengepal kuat, aku jelas mengingat dan melihat siapa yang sudah membuat anakku terbaring seperti itu.


Mas Adam berjalan mendekat, ia berjongkok mencoba membawa ku ke dalam rangkulannya.


"Sudah terlambat Mas!"


Aku berucap sembari memaksakan sebuah senyuman getir ini. Ku tatap wajahnya, bertanya di mana ia tadi di saat putraku membutuhkannya.


"Aisyah, Maafkan Mas, Mas tidak tahu kalo Ali-"


Belum sempat Mas Adam menyelesaikan ucapannya, aku langsung saja menepis tangannya dari pundakku.


Aku mencoba bangkit, memaksakan tubuh ini untuk menopang rasa sakit yang begitu berat.


"Cukup Mas,"


"Aku sudah bilang, semuanya sudah terlambat,"


Aku tatap terus wajahnya, tanpa mengalihkan pandangan ini sedetik pun. Merasa kecewa dengan apa yang ia lakukan.


"Mas tahu, sedari tadi aku menghubungi Mas? di mana kamu Mas? kenapa Mas tidak mengangkatnya?" tanyaku masih mencoba berbicara dengan halus.


Walau nyatanya sulit, hati ini mencoba mendengar apa penjelasan yang akan ia berikan.


Mas Adam menundukkan kepalanya, ia terlihat sulit untuk menjawab pertanyaanku.

__ADS_1


"Maafkan Mas, tadi Erika-"


"Erika lagi! Erika lagi! terus saja Mbak Erika yang Mas utamakan!" teriakku tak bisa lagi menahan semua gejolak di dada ini.


Apalagi di saat mendengar nama wanita itu, rasanya aku tak kuat. Ku alihkan wajahku kini, menatap wanita yang beringsut menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh Mas Adam.


Aku tersenyum getir, menatap nyalang ke arahnya. Begitu kejam dan kebal mukanya itu, masih bisa berdiri di hadapanku.


Aku yang sudah sangat murka, akhirnya gelap mata dan melangkah maju ke arahnya.


PLAKK!!!


Sebuah tamparan ku layangkan tepat di pipinya.


Puas?,


Tentu saja tidak!.


Satu tamparan itu sama sekali tak membuat hati ini tenang, aku malah semakin mengurut dada ketika melihat Mas Adam yang kini berdiri di samping wanita itu dengan khawatir dan menatapku tajam.


"Apa-apan ini Aisyah!" Mas Adam membentak ku.


Padahal, baru saja tadi ia memohon maaf, berkata lembut, tapi hanya karena satu wanita itu, kini Mas Adam balik membentak diriku ini.


Aku tertawa, dengan air mata yang terus jatuh membasahi pipi.


Sudah cukup bagiku untuk mengalah selama ini, aku yang bodoh sampai kehilangan putraku sendiri. Aku tak akan lagi diam dan bertingkah layaknya wanita bodoh terus-menerus.


Aku melihat Mbak Erika yang kini malah berpura-pura kesakitan, enggan memberitahu hal keji apa yang sudah ia lakukan.


"Aisyah cukup! memangnya Erika berbuat apa sampai kamu seperti ini? kamu tahu, Erika sedari tadi bersamaku, ia baru saja keguguran."


"Harusnya kamu ikut prihatin, Erika tidak salah apa-apa, dia baru saja kehilangan anaknya." jelas Mas Adam.


Entah reaksi apa yang harus aku berikan, tenggorokanku terasa tercekat mendengarnya


"Kehilangan?"


Aku terkekeh pilu, mendengar semua itu.


"Lalu? BAGAIMANA DENGAN AKU MAS! BAGAIMANA DENGAN ALI! BUKANKAH AKU JUGA KEHILANGAN ANAKKU! KEMBALIKAN ANAKKU SEKARANG JUGA!" pekik ku.


Aku mengarahkan jari telunjukku ini ke arah wanita itu, "Kamu lihat Mas, wanita yang kini kamu lindungi itu adalah seorang PEMBUNUH!" teriakku.


Mas Adam terkejut sama hal nya dengan Mbak Erika yang membulatkan matanya ketakutan.


"JAGA UCAPANMU AISYAH!"

__ADS_1


Mas Adam terus saja melindungi wanita itu, membuatku terus meremas jantung ini, merasa sesak dan pilu.


"A-apa maksudmu! Aisyah, aku tahu kamu baru kehilangan Ali, tapi aku juga baru saja kehilangan anakku, bagaimana mungkin aku menjadi pembunuh yang kamu maksud itu!"


Akhirnya, Mbak Erika mengelak semuanya, aku sudah sangat geram dengan ucapannya.


"Jangan mengelak lagi Mbak! saya lihat jelas dengan kedua mata saya! Mbak yang ada di balik setir mobil itu! menabrak tubuh Ali dengan sangat kejam!" Aku berteriak histeris, tak sanggup lagi mendengar semua omong kosongnya.


"Kembalikan Ali Mbak! kembalikan!"


Mas Adam memegang kedua pundakku, mengguncang tubuh ini, menyuruhku untuk sadar.


"AISYAH! SADAR AISYAH!"


"Harus sadar bagaimana lagi aku Mas! Ali pergi Mas! anak kita, anak kita pergi, bagaimana aku bisa sadar jika begini Mas!"


"Mas tahu, Mas tahu, Mas juga sangat sedih, tapi kamu tidak bisa menuduh Erika sebagai seorang pembunuh seperti itu."


"CUKUP MAS!"


"Erika lagi Erika lagi Erika lagi, nyatanya rumah tangga ini dari awal sudah hancur! Mas selalu mengutamakan wanita itu daripada aku!"


"Selalu aku, selalu aku yang harus mengalah, demi wanita yang kamu cintai itu!"


"Sudah cukup untukku mengalah Mas! karena semua itu aku kehilangan putraku satu-satunya! karena wanita itu!"


Aku menarik nafasku, mencoba mengaturnya, semuanya meluap begitu saja. Aku sudah sangat lelah, lelah dengan semuanya.


"Dimana Mas saat Ali membutuhkan Mas! dimana? Anakku berjuang sendirian di dalam sana menunggu sosok Abi nya, tapi dimana kamu Mas!" pekik ku.


Mas Adam terdiam, tak bisa menjawab semuanya. Kepalaku terasa sangat pening, kurasakan rasa dingin di hidungku.


Lagi, aku kembali mimisan seperti biasanya. Ku seka darah yang keluar dari hidungku ini, aku seakan sudah hilang akal, tidak apa jika aku mati pun, toh alasanku tak ada lagi alasanku untuk bertahan di dalam pedihnya hidup ini.


Hancur sudah,


Mas Adam begitu terkejut, ia berniat melangkah maju ke arahku, tapi sebuah cekalan di lengannya membuat Mas Adam terdiam di tempatnya, mengurungkan niat untuk mendekat ke arahku.


Aku terkekeh, sungguh menyedihkan.


"Seelah semua ini selesai, biarkan aku pergi Mas." Aku tersenyum getir, menahan rasa sakit di dada juga rasa pening yang kian menjalar.


Pandanganku mulai kabur, tanpa menolak ku pejamkan mata ini seiring hilangnya kesadaran ku, yang ku dengar untuk terakhir kalinya hanya teriakan Mas Adam yang memanggil namaku,


juga seseorang juga berteriak memanggilku,


"Mas Rizal..."

__ADS_1


__ADS_2