ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 30 Maafkan Mas


__ADS_3

Adam berjalan tergesa-gesa, hatinya terasa begitu cemas, memikirkan Aisyah yang lagi-lagi jatuh pingsan.


Instalasi Gawat Darurat, itulah bacaan yang kini tertera di atas pintu yang akan Adam masuki. Ia dengan telaah mencari sosok istrinya itu di dalam ranjang-ranjang yang tertutup tirai.


Sampai, matanya menangkap anak kecil yang sangat ia kenali.


"Ali!" Ucap Adam, melihat Ali yang kini tengah dalam pangkuan seorang pria.


Langsung saja Adam berlari menuju putranya itu, di sana ia juga melihat Aisyah yang masih terbaring di ranjang, tapi Aisyah sudah sadarkan diri.


"Mas?" Aisyah berucap ketika melihat Adam yang tiba-tiba datang di depan ranjangnya.


Adam menoleh, menatap Ali yang masih dalam pangkuan pria yang samar-samar ia kenal. Adam mencoba mengingat-ingat siapa pria di hadapannya ini.


"Do-dokter?" Ucap Adam seakan teringat dengan Dokter yang telah menangani Aisyah sebelumnya.


Rizal tersenyum, ia juga sedikit menundukkan kepalanya, membalas sapaan Adam.


Namun, Adam mengerutkan keningnya, merasa janggal dengan kehadiran Dokter Rizal. Bukan karena Rizal yang berada di Rumah sakit, tetapi Rizal terlihat memakai pakaian biasa, tidak seperti setelan Dokter biasanya.


Membuat Adam berpikiran bahwa tadi, mungkin Rizal lah yang sudah mengangkat telponnya.


"Apa, Dokter Rizal yang tadi mengangkat telpon?" Batin Adam.


"Dokter yang tadi angkat telpon saya?" Akhirnya daripada penasaran, Adam pun langsung menanyakannya kepada Rizal.


Rizal mengangguk, "benar, tadi saya yang angkat telpon." Balasnya berterus terang.


Balasan Rizal tentu membuat Adam kini semakin kebingungan, kenapa bisa Rizal bersama dengan Aisyah, pikir Adam.


"Bagaimana bisa Dokter bersama istri saya?" Tanya Adam lagi, seakan masih penasaran.


Rizal tersenyum tipis, "tadi kebetulan, saya ada di tempat yang sama di saat Aisyah pingsan, makanya saya langsung bawa dia kesini." Rizal kembali membalas dengan santai.


Walau nyatanya ada sedikit kebohongan di dalam balasan itu. Tapi, akhirnya Adam hanya bisa mengangguk percaya dengan apa yang Rizal katakan.


Adam pun segera tersadar jika kini Ali masih berada dalam pangkuan Rizal, ia langsung saja mencoba membawa Ali dari pangkuannya.


"Terima kasih Dok, sudah menjaga istri dan anak saya." Adam berucap sembari membawa Ali dari pangkuannya.


Ali yang sudah kelelahan kini langsung menyandarkan kepalanya di bahu sang Abi. Terlihat kedua matanya seakan sudah tak kuat menahan kantuk yang teramat.


"Sama-sama." Balas Rizal sembari terkekeh pelan melihat Ali.


"Sungguh menggemaskan," ucap Rizal.


Adam hanya bisa ikut tersenyum, melihat Ali yang akhirnya sudah tertidur pulas dalam pangkuannya.


"Kalo begitu, saya pamit pergi." Rizal akhirnya berpamitan, lagipula sudah ada Adam pikir Rizal.


Sebelum melenggang pergi, Rizal menoleh dan menatap Aisyah, ia mengembangkan senyumannya.

__ADS_1


"Semoga cepat sembuh yah Aisyah," ucapnya dan akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu.


Aisyah pun membalasnya dengan sebuah senyuman tipis. Adam lalu menoleh, merasa ada sesuatu di balik perkataan Rizal.


Sebagai seorang pria, Adam merasa bahwa Rizal seperti menyimpan sedikit perasaan kepada istrinya.


"Jangan terlalu dekat dengan Dokter itu." Seru Adam, ia melangkah mendekat ke samping Aisyah.


Aisyah hanya diam, tak berniat membalas. Masih teringat akan sakitnya tamparan keras yang suaminya itu layangkan.


"Huh," Adam menghela nafasnya.


"Maafkan Mas, Mas sudah sangat keterlaluan menampar kamu tadi." Lanjutnya, dengan raut wajah bersalah.


Namun, rasa sakit yang Adam torehkan begitu besar. Satu kata maaf itu tidak dapat mengobati luka yang terjaga besar di hatinya.


"Untuk apa Mas meminta maaf?" Sinis Aisyah.


Adam kembali menghembuskan nafasnya dengan sedikit berat, tahu jika istrinya itu sangatlah marah.


"Tapi, apa yang sudah kamu lakukan kepada Erika memanglah tidak benar, walaupun aku tahu kamu pasti cemburu. Tapi, hal itu tidaklah baik." Ujar Adam seakan masih percaya bahwa semua hal yang terjadi di pagi itu adalah mutlak kesalahan Aisyah.


Tentu kini Aisyah menatap Adam dengan mata sedih bercampur amarah. Kesal, mendengar apa yang suaminya itu ucapkan.


"Mas memang menganggap aku yang melakukannya?" Aisyah menatap kedua mata Adam dengan rasa perih.


Sedih, tahu jika Adam memang benar mempercayai semua yang Erika katakan.


"Kamu pasti kesal, Mas mengerti." Sahut Adam.


Aisyah kini memejamkan matanya, tak tahu harus berkata apa lagi. Tenggorokannya terasa berat, dadanya terasa sesak, bahkan matanya kini memanas.


Rasa sakit kembali menjalar, kesal dan marah kepada pria di hadapannya.


"Jahat!" Ucap Aisyah dengan suara yang bergetar.


Walau Aisyah tahan sekuat apapun, air mata Kini tetap jatuh begitu saja mencurahkan isi hatinya.


"Mas tau, Mas sudah jahat, tapi perbuatan kamu hari ini memang sudah sangat keterlaluan."


"Mas akan maafkan kamu, toh Erika juga sudah memaafkan semuanya. Tapi, Mas minta ini terakhir kalinya kamu berbuat hal keterlaluan seperti ini."


Aisyah menoleh, kembali menatap Adam dengan mata memicing. Tak terima dengan semua kata-kata yang ia ucapkan.


"Lebih baik Mas pergi dari sini, aku bisa sendirian di sini." Ucap Aisyah akhirnya, enggan untuk lanjut mendengarkan semua omong kosong yang akan terus keluar dari mulut suaminya.


"Aisyah!" Sentak Adam, yang turut ikut kesal dengan perlakuan istrinya.


"Tolong jangan kekanak-kanakan seperti ini!" Adam terlihat jengah.


Niat awalnya yang akan meminta maaf justru semakin memperburuk keadaan. Ia malah terpancing emosi kembali, membuat Adam yang kini malah meninggikan suaranya di hadapan sang istri.

__ADS_1


Aisyah kini terdiam menunduk, air mata terus berjatuhan, membasahi selimut yang menyelimuti kakinya.


"Tolong, jangan bersikap seperti ini. Mas gak mau kalo harus terus berdebat dengan kamu." Jelas Adam.


"Sudah, lebih baik kita lupakan kejadian tadi pagi. Toh, Erika juga sudah memaafkan semuanya, bayi yang ia kandung juga baik-baik saja." Lanjutnya.


"Jadi, lebih baik kita lupakan semuanya," Adam membawa tangannya, berniat mengelus wajah istrinya itu.


Namun, Aisyah dengan cepat memalingkan wajahnya. Enggan menerima sentuhan Adam, ia terus terdiam tanpa walau hatinya berkecamuk tak terima dengan semua yang suaminya itu ucapkan.


"Melupakan? Bagaimana bisa aku lupakan hal yang sangat menyakitkan itu!" Batin Aisyah.


"Memaafkan? Siapa yang memaafkan siapa! Mbak Erika yang memaafkan aku? Memangnya salahku apa? Aku sama sekali tak melakukan kesalahan!" Teriak Aisyah dalam hatinya.


Ia menggigit bibirnya, menahan amarah yang kian membludak. Ingin rasanya berteriak kepada suaminya itu, tapi Aisyah sadar dimana kini ia berada.


Tak baik jika harus terus melanjutkan pertengkaran ini, di sini bukanlah tempat yang tepat untuk mereka berselisih.


Drrtt... Drrtt... Drrtt....


Ponsel Adam berdering, ia langsung saja merogoh saku celananya dengan susah payah karena tengah memangku Ali.


Sampai akhirnya, Adam berhasil mendapatkan ponselnya itu. Ia melihat nama Erika jelas tertera, langsung saja ia angkat telponnya itu.


"Assalamualaikum," jawab Adam.


"Mas dimana sih! Lama banget, katanya Mas bakalan sebentar, Mas juga janji bakalan pulang kesini. Awas aja kalo Mas bohong!" Seru Erika dari dalam ponsel.


Samar-samar Aisyah bisa mendengar suara Erika yang terdengar begitu melengking. Hatinya kembali sesak, tahu jika Adam akan kembali meninggalkannya.


"Iya, tapi Aisyah-"


Belum selesai Adam mengucapkan kalimatnya.


"Mas pulang saja, bawa Ali bersama Mas. Aku akan tinggal di sini sendiri sampai besok, lagipula Dokter bilang, besok aku harus menjalani pemeriksaan." Ucap Aisyah memotong ucapan Adam.


Tentu Erika mendengar hal itu dengan sangat jelas.


"Aisyah di rumah sakit lagi? Ngerepotin banget sih. Ya udah Mas, biarin aja Aisyah di Rumah Sakit, lagian dia kan masih sakit, daripada Mas bawa pulang nanti sakit lagi, makin ngerepotin." Ucap Erika.


"Udah, Mas pulang aja, kasian Mas pasti cape. Besok kan mas ada meeting sama klien, udah Mas, Aisyah aja bolehin kamu pulang." Tambahnya, seakan tak memikirkan perasaan Aisyah yang kini mendengar semua ucapannya.


"Benar apa kata Mbak Erika, Mas pulang saja. Aku bisa sendiri di sini, aku gak mau merepotkan Mas." Aisyah berucap dengan sebuah senyuman tipis yang begitu menyayat hati.


Akhirnya, entah karena kebodohan Adam atau apa. Di hari itu, Aisyah kembali terbaring sendirian di dinginnya ranjang rumah sakit.


Adam pergi meninggalkannya, membuat Aisyah semakin merasa bahwa dirinya memang sangat tidak berarti bagi Adam.


Walau nyatanya Aisyah lah yang menyuruh Adam pergi, tapi setelah kepergian suaminya itu. Hatinya terasa di tusuk-tusuk, semakin sakit, melihat Adam yang melenggang begitu saja.


Meninggalkan Aisyah yang kini hanya bisa meringkuk menangis sendirian.

__ADS_1


__ADS_2