ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 22 Umma!


__ADS_3

"Mas! Mas!" Teriak Erika dari dalam kamar mandi, membuat Adam segera menghampirinya.


Aisyah yang juga masih ada di dapur kini ikut menoleh melihat suaminya itu yang berlari kecil ke arah kamar mandi. Ada rasa sedih juga sakit, sang suami sepertinya sebentar lagi akan memiliki anak dari istri lainnya.


"Aku hamil mas! Aku positif hamil!" Seru Erika dengan nada yang melengking, seakan sengaja agar bisa di dengar oleh Aisyah.


Adam membawa lengannya, membawa benda berwarna putih yang memiliki dua garis merah itu.


"Alhamdulillah, kamu hamil sayang? Alhamdulillah, terima kasih ya Allah." Ujar Adam sembari membawa Erika ke dalam pelukannya.


"Aku hamil mas, kita berdua bakalan punya anak mas!" Seru Erika lagi, ia membalas pelukan suaminya itu.


Keduanya kini tengah merasa bahagia akan kehadiran jabang bayi yang tumbuh di rahim Erika. Namun, mereka tidak sadar ada hati yang kini tengah pilu, ia memegang wastafel dengan sedikit kuat. Piring piring yang masih kotor belum sempat ia bereskan.


Aisyah langsung saja melangkah pergi, sembari menahan rasa sakit di dadanya. Atmosfer yang tiba-tiba berubah seakan membuat tubuhnya lemas seketika. Padahal, dirinya seakan menguatkan, tetapi nyatanya hatinya lemah juga.


"Aku harusnya bisa bersikap biasa saja, tapi apa ini? Hati ini malah terasa sakit. Aisyah, sadarlah!" Ujar Aisyah, di sela langkahnya menuju balkon kamarnya.


"Astaghfirullah, ya Allah, bisakah hamba mu ini bertahan? Mempertahankan rumah tangga yang begitu terasa menyakitkan di setiap harinya ini." Runtuh Aisyah, tak tahan membendung air matanya.


"Apa yang bisa aku lakukan? Kini keluarga mas Adam dan mba Erika sudah lengkap, dengan mba Erika yang mas Adam cintai dan anak yang kini mba Erika kandung,"


"Apa mas Adam akan perlahan meninggalkan aku?"


Aisyah menjatuhkan tubuhnya ke lantai, seakan kakinya yang terasa lemas sudah tak bisa menompang berat tubuhnya.


Tiba-tiba di saat Alesha tengah meratapi nasibnya itu, pintu kamar terbuka dan menampakkan Ali yang berlari kecil ke arahnya.


"Umma!" Teriak Ali kegirangan.


Namun, Ali terlihat mengerutkan keningnya kebingungan ketika melihat Umma nya itu yang tengah bersedih.


"Umma kenapa?" Tanya Ali, sembari ikut duduk di pangkuan Aisyah.


Aisyah menggeleng, "Umma gakpapa sayang, mungkin tadi ada debu yang masuk ke mata Umma makannya, sekarang agak pedih matanya." Bohong Aisyah kepada putranya itu.


Ali pun mengangguk, mengiyakan penjelasan ummanya itu. "Umma! Umma! Abi bilang sebentar lagi Ali bakalan punya adek bayi! Beneran Umma!" Seru Ali kegirangan.


Namun, Aisyah yang mendapati hal itu kini kembali merasakan sesak di dadanya. "Hmm, Abi bilang seperti itu?" Ujar Aisyah.


Ali pun kembali mengangguk, "iya Umma! Jadi adek bayi nya ada di perut Umma kan sekarang?" Balas Ali, kini tangan Ali mengarah ke perut Umma nya itu, mengusap perlahan bak percaya bahwa Umma nya lah yang tengah mengandung bayi yang di bilang Abi nya.


Sebuah tangisan kembali tak bisa Aisyah bendung, melihat Ali yang begitu kegirangan, menyangka bahwa dirinya lah yang tengah mengandung adek yang dimaksud Abi nya.


Tanpa berniat membalas ucapan Ali, Aisyah langsung saja memeluk putranya itu.

__ADS_1


Dua jam berlalu, ia habiskan dengan putranya di kamar, tanpa ada tanda-tanda akan kehadiran suaminya itu.


Aisyah hanya berpikir, mungkin Adam sedang sangat bahagia dengan kehamilan Erika sampai ia melupakan dirinya di sini.


"Umma, Ali laper!" Ujar sang anak dengan wajah melasnya.


Aisyah menoleh, "laper nak? Ya udah kita turun yuk, kita cari makanan di bawah." Balas Aisyah sembari mengajak puteranya itu turun ke lantai bawah.


Aisyah pun berjalan menuruni anak tangga bersama Ali, namun baru saja ia melangkahkan kakinya di anak tangga kedua, Aisyah merasakan pening yang teramat di kepalanya. Ia juga merasa tubuhnya seakan begitu lemas, tetapi Aisyah mencoba tetap kuat dan menyadarkan dirinya itu.


Ia memegang erat pegangan tangan, lanjut melangkahkan kakinya bersama Ali, sampai pada anak tangga terakhir.


Namun, pening di kepalanya ini semakin terasa menjadi-jadi, ia lepaskan genggaman tangannya pada Ali, kedua tangannya kini memijit-mijit pelipisnya.


"Astaghfirullah, kenapa ini?" Ujarnya kebingungan dengan rasa sakit yang tiba-tiba.


"Mas! Mas!" Panggil Aisyah berharap Adam akan datang ke hadapannya.


"Umma! Umma kenapa?" Tanya Ali yang cemas melihat ummanya terdiam kesakitan.


"Mas! Mas Adam!"


Namun, sekeras apapun Aisyah memanggil nama suaminya itu, Adam tetap tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya.


Aisyah pun mencoba berjalan menuju kursi di ruang tengah dengan sekuat tenaga diikuti Ali yang memegangi baju Aisyah.


Aisyah yang tengah merasakan sakit sama sekali tak berniat membalas pertanyaan anaknya itu, ia yang kini melihat sekitar dengan keadaan buram, juga sakit kepalanya yang tak kunjung membaik.


Bahkan, kini Aisyah merasa sekujur tubuhnya menjadi sangat lemas, kepalanya terasa seakan berputar-putar. Tak lagi kuat menahan rasa sakit, tubuh Aisyah limbung, jatuh di atas sofa.


"UMMA!" Teriak Ali, ia terkejut melihat Aisyah yang jatuh terkulai lemas di atas sofa.


Ali mengguncang guncang tubuh Ummanya itu, berharap Aisyah akan bangun. "Umma! Bangun Umma! Jangan tinggalin Ali!" Ujar Ali dengan tangisannya kini.


Namun, Aisyah yang sudah tak sadarkan diri tak bisa mendengar rengekan Ali yang menangis meminta dirinya untuk segera bangun.


Setelah beberapa menit, Ali segera mencari handphone, anak berusia lima tahun itu seakan tahu harus segara mencari bantuan. Ia awalnya memanggil-manggil nama Abinya, mencari sosok Abinya itu di rumah.


Namun, hasilnya nihil. Ali tak menemukan keberadaan Abinya itu di rumah. Sampai akhirnya ia segera mencari handphone untuk menghubungi Abinya itu.


"Assalamualaikum syah? Kenapa? Mas lagi Anter Erika ke dokter, maaf mas tadi gak kasih tau kamu dulu." Ujar Adam di seberang telepon sesaat sesudah mengangkat telepon.


"ABI! UMMA! UMMA GAK BANGUN BANGUN! ABI CEPET KESINI!" Teriak Ali membalas Abi nya itu masih dengan tangisan yang semakin membuncah.


Tentu saja hal itu membuat Adam membelalakkan matanya tak percaya. Bagaimana bisa anaknya itu menelepon dan berkata bahwa kini Umma nya tengah tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Siapa mas?" Tanya Erika yang kini berada di samping Adam, menunggu di panggil untuk masuk ke ruangan dokter.


Adam dengan cepat menoleh, melihat Erika dengan raut wajah yang tak bisa ia kondisikan, dan hal itu membuat Erika kebingungan.


"Kenapa sih mas!" Kesal Erika yang tak mendapati balasan.


"Abi! Cepetan pulang! Umma gak bisa bangun! Ali takut Abi!" Ucap Ali lagi di sebrang telepon.


Adam yang kembali mendengar rengekan putranya itu pun segera bangun dari duduknya, "iya nak, tunggu sebentar yah, sebentar lagi Abi pulang ke rumah, Ali jagain Umma dulu yah sayang, Ali tenang yah." Balas Adam mencoba menenangkan putra lima tahunnya itu.


"Mas! Kenapa sih!"


Adam menoleh, ia menggaruk kepalanya seakan bingung apa yang harus ia ucapkan.


"Erika, baru saja Ali telepon, dia bilang Aisyah gak bangun-bangun. A-aku juga gak tau kenapa tapi, setangkep aku Ali bilang Umma nya itu pingsan." Ucap Adam mencoba menjelaskan.


Namun, Erika tetaplah Erika. Ia menatap Adam dengan jengah. "Terus kamu percaya sama ucapan anak kamu itu!" Balas Erika dengan nada kesal.


"Ya, aku percaya, gimana kalo itu bener!"


"Hah! Kamu percaya sama omongan anak lima tahun! Mas! Bisa aja anak kamu itu bohong! Mungkin Aisyah pengen berduaan sama kamu! Gak mau kamu tinggal, makannya dia suruh anak kamu buat bohong!" Ujar Erika seakan tak percaya dengan ucapan Ali.


Adam menggeleng tak setuju, "Aisyah bukan orang yang seperti itu, pokonya mas harus pulang sekarang!" Balas Adam, hendak pergi.


Tetapi, Erika mencekal lengan Adam, membuat Adam kembali berbalik.


"Gimana dengan aku mas! Ini anak pertama kita, kamu mau tinggalin aku disini! Sendirian!" Erika berucap dengan matanya yang berair seakan tak rela jika suaminya itu pergi.


"Erika, aku mohon kamu mengerti, bisa saja Aisyah kini sedang dalam bahaya." Balas Adam mencoba membujuk dan menyadarkan Erika.


Erika menggeleng, "Aisyah! Aisyah terus yang kamu pikirkan, mas kapan kamu nomor satukan aku! Aku ini istri pertamamu mas! Lupakan Aisyah untuk satu hari ini saja, hari ini hari yang sangat istimewa mas!, setelah beberapa tahun, aku mengandung anakmu mas!" Seru Erika seakan tak mau mengalah.


Mereka berdua seakan tak memperdulikan keadaan sekitar, dan untung saja, pada hari itu tidak banyak pasien mengantri. Jadi, hanya ada beberapa orang yang kini menonton perdebatan Erika dan Adam di depan klinik dokter kandungan itu.


Adam mencoba melepaskan cekalan Erika. "Erika, mas tahu ini sangat berarti bagi kamu, juga aku. Tapi, bagaimana jika benar apa yang di katakan Ali, Aisyah mungkin tengah kesakitan. Aku tidak bisa meninggalkan dan menutup telingaku untuk hal itu, Aisyah juga istriku!"


"Mas minta maaf, tapi mas akan cepat kembali jika sudah selesai, in shaa Allah mas akan cepat kembali dan menemani kamu, tapi jika bukan hari ini, mas janji akan menemani kamu lain kali." Lanjut Adam, kemudian berlari keluar rumah sakit.


Dalam hati Adam benar-benar resah, ia bingung dengan keadaannya kini. Di satu sisi ia kembali mengecewakan Erika, namun di sisi lain ada istrinya yang kini membutuhkan dirinya.


"Ya Allah, apa yang hamba lakukan sudah benar?" Ucap Adam seraya berlari menuju mobilnya.


"Semoga saja kamu baik-baik saja Aisyah." Ucapnya lagi.


Adam pun dengan cepat melajukan mobilnya menuju ke rumahnya, berharap bahwa Aisyah baik-baik saja.

__ADS_1


Sedang Erika kini menunduk seraya menangis, merasa kesal akan suaminya itu yang tega meninggalkan dirinya sendirian, di saat-saat yang berharga bagi dirinya.


"Selalu saja Aisyah! Aisyah! Aisyah! Kenapa kamu harus peduli sama wanita sok alim itu sih mas! Aku yang berhak menjadi istrimu satu-satunya!" Batin Erika sembari mengepal lengannya kesal.


__ADS_2