
"Astaghfirullah!" Ucap Bu Fatimah, ketika melihat Erika keluar dari rumah dengan memakai pakaian yang menurut Bu Fatimah kekurangan bahan.
Bagaimana tidak kekurangan bahan, kini Erika hanya memakai crop top sebagai atasan dan celana sebatas paha, yang menampakkan paha mulusnya terang-terangan, di tambah kardigan transparan yang sama sekali tak memperbaiki keadaanya.
Erika yang ditatap nyalang oleh mertuanya kini hanya bisa mengernyitkan keningnya kebingungan, ia bertanya dalam hati apa yang salah dengan dirinya sampai-sampai di tatap begitu oleh mertuanya itu.
Sebenarnya hari ini Adam berniat mengajak keluarganya untuk pergi bermain keluar, nampak sudah Bu Fatimah dan Pak Alam menunggu di halaman bersama Ali dan Aisyah yang sudah siap.
Lalu tiba-tiba Erika datang mengejutkan Bu Fatimah, tak ayal Pak Alam juga Aisyah terkejut dengan penampilan Erika kini.
"Ya Allah! Apa-apaan kamu ini! Sekalian saja kamu tidak pakai baju kalo begitu!" Ucap Bu Fatimah dengan nada sedikit tinggi, ia menatap Erika dengan kobaran api di matanya.
Adam yang baru keluar dari dalam rumah pun ikut terkejut, terkejut dengan penampilan Erika juga dengan tatapan tajam ibunya itu.
Ia langsung saja berlari kecil mendekat ke arah mereka. "Astaghfirullah Bu, ada apa?" Tanya Adam dengan cepat, ia dengan cepat merangkul ibunya itu, mencoba meredakan amarah Bu Fatimah.
Bu Fatimah langsung saja menatap Adam dengan tajam, "Lihat istrimu yang satu ini! Bagaimana bisa ia pergi keluar dengan pakaian telanjang seperti itu! Adam! Kamu itu suaminya! Perhatikan pakaian yang ia pakai! Apa bisa baju yang ia pakai itu di sebut baju! Apa yang ia tutupi dengan baju itu!" Omel Bu Fatimah, Adam yang mengikuti arah telunjuk ibunya itu, melihat Erika yang kini berdiri di tempatnya tak bergeming.
Adam mengusap wajahnya dengan sedikit kasar, ia merasa jengah dengan sikap Erika. "Iya Bu, Adam minta maaf, Adam yang akan berbicara kepada Erika, ibu sabar dulu yah Bu." Ucap Adam dengan lembut, mencoba bersabar menghadapi ibu nya yang tengah dalam amarah besar.
"Iya Bu, ibu sabar dulu, jangan marah-marah seperti itu, nanti kalo ibu sakit bagaimana." Sambung Pak Alam, kini menengahi.
Adam pun langsung berjalan mendekat ke arah Erika, ia menatap tajam istrinya itu.
"Apa-apaan kamu ini!" Seru Adam, dengan suara kecil namun beriringan dengan gemeretuk di gigi Adam seakan menahan emosinya.
Erika menatap Adam yang sudah di ambang amarah, ia seakan tak tahu apa salahnya, "Apa, apanya sih mas! Memangnya aku salah apa! Toh mas tahu kan aku sudah biasa berpakaian seperti ini! Apa aku salah!" Balas Erika tanpa merasa bersalah.
Bu Fatimah dan Pak Alam yang mendengar jawaban Erika kini menggelengkan kepalanya bersamaan, Bu Fatimah yang masih berada di puncak amarahnya berniat untuk kembali mengomeli menantunya itu.
Namun, hal itu dengan cepat di cegah oleh Pak Alam yang kini mencoba membiarkan Adam sebagai suaminya saja yang mengurusi perilaku tidak sopan istrinya itu.
"ERIKA!" Bentak Adam, Erika yang mendapati bentakan itu pun terkejut dan langsung menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Bahkan Aisyah, yang kini berada sedikit jauh terkejut dengan suara suaminya itu, ia dengan cepat membawa Ali masuk ke dalam mobil karena tak ingin Ali melihat perselisihan itu.
"Mas," lirih Erika, ia begitu terkejut melihat suaminya yang kini menatap dirinya dengan sorot amarah.
Adam langsung saja menarik lengan Erika masuk ke dalam rumah, Adam membawa Erika ke dalam kamar.
Di sana, Adam menghempaskan lengan Erika yang kini terasa panas, akibat cengkeraman kuat yang Adam berikan.
"Mas!" Ucap Erika memanggil suaminya yang sudah terlanjur marah itu.
"Sudah aku bilang sebelumnya! Perhatikan pakaianmu itu! Bagaimana bisa kamu berpakaian seperti itu di rumah orang tuaku!" Ucap Adam, ia memarahi Erika yang kini terduduk di ranjangnya.
"Memangnya kenapa mas! Apa harus aku berpakaian seperti wanita busuk itu! Apa aku tidak bisa menjadi diriku sendiri! Hah! Aku ini ya aku! Bukan wanita itu!" Teriak Erika membalas ucapan Adam.
Adam mengacak rambutnya dengan sedikit kasar, ia merasa sangat frustasi kepada Erika yang keras kepala.
"Aku tidak menyuruhmu untuk berpakaian seperti Aisyah, tapi tidak bisakah kamu berpakaian sedikit sopan! Kamu sudah dewasa, seharusnya kamu harus bisa melihat kondisi! Aku mungkin tidak apa-apa dengan gaya pakaian mu itu! Tapi lihat lah, kamu sedang berada dimana!" Adam serasa di buat kepayang dengan tingkah laku Erika yang seperti anak kecil.
"Kamu kan tahu ibu ku tidak suka dengan pakaian-pakaian terbuka seperti ini, seharusnya kamu mengerti, tolong mengerti sedikit saja!" Lanjut Adam, ia mendengus kasar.
Erika mencoba bangun dari duduknya, ia berjalan mendekati suaminya itu, alih-alih menjawab ucapan sang suami, Erika kini memilih untuk memeluk tubuh Adam.
Walau awalnya Adam sedikit menolak, tetapi Erika terus menerus mengencangkan pelukannya, membuat Adam luluh dan membiarkannya terus memeluk tubuhnya itu.
"Maafkan aku mas," lirih Erika yang baru sadar akan kesalahannya.
"Aku memang keras kepala dan kekanak-kanakan, maafkan aku," lanjutnya masih dengan suara lirihnya.
Membuat Adam kini menghela nafasnya luluh akan ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Erika.
"Aku minta maaf mas, aku tahu aku tidak seperti Aisyah yang lebih dewasa, aku tidak seperti Aisyah yang bisa berpakaian sopan dan tertutup, aku bukan Aisyah yang ibumu sukai, maafkan aku mas, maafkan aku yang selalu membuat kamu pusing." Erika kembali mengucapkan kata-kata yang kini membuat Adam merasa bersalah sudah memarahi istrinya itu.
Kini Adam membawa tubuh Erika untuk melepaskan pelukannya, disana Adam melihat wajah Erika yang sudah bersimbah air mata.
__ADS_1
Ia tahu sudah sangat begitu kasar kepada istinya itu, sampai-sampai membentaknya di hadapan kedua orang tuanya tadi. Bahkan Adam membentak Erika di hadapan Aisyah, Erika pasti sangat malu.
Bagaimanapun Erika itu tetaplah istrinya, Adam harus sabar dan memahami sifat istrinya yang sedikit keras kepala ini.
Adam menangkup wajah Erika. "Sudah jangan menangis lagi, mas minta maaf sudah membentak kamu tadi, maafkan mas." Ucap Adam kini balik meminta maaf.
"Aku yang seharusnya meminta maaf, karena aku mas jadi kena marah ibu tadi, maaf." Erika menampakkan wajah bersalahnya, dengan mata berlinangan air mata yang semakin membuat Adam merasa iba.
"Sudah-sudah, aku tahu kamu juga pasti terkejut, ya sudah biarlah, sekarang kamu ganti baju yah, pilih baju yang lebih tertutup dari ini." Ucap Adam mencoba membuat Erika berhenti menangis.
Ia mengusap lembut pipi istrinya itu, membawa wajahnya mendekat dan akhirnya sebuah kecupan kecil ia berikan di kening Erika.
"Mas tunggu di luar yah, sudah jangan menangis lagi, kita kan akan bersenang-senang hari ini," Adam pun membiarkan istrinya itu untuk mengganti pakaiannya.
Ia berjalan keluar, melihat ibu dan bapaknya yang kini duduk di bangku halaman rumah. Adam berjalan mendekati kedua orang tuanya itu, ia melihat sorot tajam ibunya yang kini menatapnya.
"Bu, maafkan Erika, dia memang masih belum terbiasa, tapi Adam selalu usahakan merubah sifatnya itu." Ucap Adam ketika sudah berdiri di hadapan ibunya.
Bu Fatimah memalingkan wajahnya, ia mendengus kecil seakan meragukan ucapan anaknya itu.
"Apa sih yang kamu suka dari wanita itu! Ibu sudah memilihkan Aisyah yang jauh lebih sempurna dari dia, tapi kenapa kamu malah mencintai wanita yang jauh di bawah Aisyah." Seru ibunya seakan belum reda dari amarahnya.
Adam hanya bisa menghela nafasnya berat. "Bu, Adam mencintainya, Adam juga tahu Aisyah itu wanita yang sangat sempurna yang ibu pilihkan untuk Adam, tapi Erika itu pilihan Adam Bu, wanita yang Adam cintai." Balas Adam dengan nada serius.
Tanpa Adam tahu, kini Aisyah tengah meremas gamisnya dengan sedikit keras, merasa sakit dengan ucapan yang suaminya itu lontarkan.
"Aku ini pilihan ibunya, sedangkan mbak Erika, itu pilihan mas Adam sendiri, ternyata akhirnya aku bukanlah siapa-siapa di mata mas Adam." Ucap Aisyah lirih, ia dengan cepat menyeka air matanya yang sebentar lagi terjatuh.
Aisyah dengan cepat melangkahkan kakinya untuk kembali masuk ke dalam mobil, menyusul Ali yang sudah berada di dalam mobil.
Aisyah kini hanya bisa diam termenung dengan pikirannya, pria yang berstatus sebagai suaminya itu, ternyata hanya menganggap dirinya sebagai pilihan dari ibunya saja.
Sudah lima tahun rumah tangganya berlangsung, tapi seakan semua tak ada artinya, nyatanya wanita yang suaminya itu cintai hanya satu, yaitu wanita pilihannya sendiri.
__ADS_1
Sakit rasanya, ingin Aisyah menangis sekencang-kencangnya, namun ia tahan semua itu, rasanya berat dadanya ini, menahan segara amarah berkecamuk sendirian di dalam dirinya.
Namun, Aisyah tetaplah Aisyah wanita yang lebih memilih memendam semuanya daripada harus berterus terang akan perasaannya kepada Adam.