
"Kalian berdua, sudah resmi bercerai." ujar hakim yang kini memegang sidang perceraian Aisyah dengan Adam.
Aisyah juga Adam hanya bisa diam, mendengar peresmian perceraian hubungan pernikahan mereka berdua. Berbeda dengan Erika yang kini mengepal satu tangannya dengan sunggingan senyuman di bibirnya, seakan begitu senang dengan perceraian ini.
Semuanya seakan terjadi begitu cepat, tali pernikahan yang dulu mengikat di antara keduanya, kini telah terputus, menyisakan banyak luka dan kenangan untuk mereka ingat.
Ummi meremas pundak putrinya itu, mencoba menguatkannya. Aisyah menoleh, mengapa Ummi nya itu, lalu menarik sebuah senyuman tipis, mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Syukurlah, semuanya berjalan dengan lancar," ujar Abi Aisyah yang turut ikut menemaninya.
Setelah hari itu, semuanya kacau, kedua orang tua Aisyah turut kecewa atas sikap Adam yang mereka dengar dari putrinya.
Apalagi mengetahui bahwa Aisyah telah mendapatkan perlakuan tidak adil selama ini, membuat Abi nya itu naik pitam dan melepaskan sebuah bogem mentah ke arah menantunya.
Namun, tak ada seorang pun yang kini berpihak di belakang Adam. Bahkan Ibu dan Bapaknya sendiri pun menatap Adam dengan tatapan kecewa, karena sudah membuat Aisyah begitu terluka karena keserakahannya.
Hari ini pun, Adam hanya di antar oleh Erika juga Bapaknya saja, Ibu tidak ikut karena masih merasa kesal dan kecewa kepada Adam.
Apalagi, Aisyah adalah menantu kesayangannya, tapi kini ia harus merelakan perpisahan kedua anaknya itu.
Semuanya berdiri, berjalan keluar dari ruang sidang. Aisyah di bantu oleh Ummi nya yang sigap terus menemani putrinya itu di ikuti Abi yang berjalan di samping kanannya.
Semuanya hanya terdiam, berjalan tanpa menoleh juga menyapa, Adam dan Aisyah bak orang yang tak kenal, enggan untuk saling menukar kata setelah peresmian perceraian mereka.
Padahal kini, mereka berjalan bersamaan keluar gedung. Sama halnya dengan Abi dan Bapak Adam yang hanya bisa saling menukar senyuman, mereka juga ikut bersedih karena perceraian ini.
Walaupun begitu, keduanya sadar bahwa ini di luar kehendak mereka. Bapak Adam bahkan meminta maaf berpuluh-puluh kali setelah kejadian di hari itu, meminta maaf atas kesalahan putranya sendiri.
"Aisyah,"
Langkah Aisyah terhenti, bersama dengan kedua orang tuanya, mereka ikut menoleh, mengikuti tatapan Aisyah yang menuju kepada pemilik suara.
Adam berdiri tepat di belakangnya, dengan Erika yang kini bergelayut manja di tangan mantan suaminya itu.
"Ada apa?" balas Aisyah singkat.
"A-aku ingin meminta maaf," sahut Adam.
Adam melepaskan genggaman tangannya dari Erika, ia menatap sendu ke arah Aisyah dengan wajah yang sedikit tertunduk.
"Aku sadar sudah sangat melukai perasaan kamu selama ini," ujarnya. "Maafkan aku," lirih Adam merasa bersalah setelah semua ini terjadi.
Aisyah menatap Adam kosong, sebuah kata maaf itu tak lagi berarti di hatinya. Telinga Aisyah seakan sudah muak dengan semua kata maaf, ia kini hanya menarik sebuah senyuman miris di bibirnya.
"Lupakan saja," balas Aisyah.
Acuh dengan rasa sedih yang terlihat jelas dari raut wajah mantan suaminya itu.
"Sudahlah, jika tak ada lagi yang ingin kamu katakan, Aisyah akan pulang kembali ke rumah bersama kami, jangan harap untuk menemuinya kembali."
Abi terlihat begitu geram, ia seakan masih menyimpan amarah kepada Adam, terlihat jelas dari raut wajah juga nada suara yang sedikit tinggi ketika menegur mantan menantunya itu.
Adam hanya bisa menunduk, tak berniat untuk membalas lebih.
"Baiklah, saya pulang duluan yah Pak, terima kasih untuk selama ini," Abi Aisyah berpamitan kepada Bapak Adam yang kini berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Bapak Adam hanya bisa mengangguk kecil dengan sebuah senyuman tipis di bibirnya.
Kini, Adam hanya bisa melihat punggung Aisyah yang kian menjauh darinya. Bukan hanya menjauh seperti biasanya, tapi kini dirinya tak bisa lagi meraih ataupun menggenggam wanita itu.
Adam sudah melepaskan satu istrinya yang dulu sangatlah ia cintai, hanya karena satu wanita yang kini kembali melingkarkan tangannya di lengan Adam.
"Ayo Mas, udah kenapa jangan di liatin terus!" sergah Erika. Kesal melihat Adam yang terus saja menatap punggung Aisyah.
Hari ini tentu menjadi sebuah hari yang sangat menyedihkan, tapi berlainan dengan Erika. Hari ini, adalah hari paling bersejarah di hidupnya, hari kemenangannya.
Karena semua rencananya, akhirnya bisa terpenuhi, perpisahan di antara Adam dan Aisyah terjadi, membuat Adam kini menjadi miliknya seorang.
Walau harus melibatkan sebuah tragedi yang akhirnya merenggut nyawa putra dari suaminya, Erika tentu saja ketakutan, tapi melihat sampai sekarang dirinya masih bisa bebas dan lepas dari cekalan polisi membuatnya bisa bernafas tenang.
Ia justru mensyukuri semuanya, Erika bersyukur bisa secepat itu dirinya membuat rumah tangga Adam dan Aisyah hancur berantakan.
Walau dirinya juga harus kehilangan janin yang ia kandung, tapi melihat semua ini terjadi, bisa sedikit mengobati rasa sedih atas kehilangan calon anaknya itu.
***
Hari terus berganti, Aisyah kini hanya bisa duduk termenung di teras rumahnya. Bukan rumah di mana dulu ia tinggal bersama Adam, Aisyah enggan kembali ke rumah itu.
Karena di rumah itu, banyak kenangan antara dirinya dengan Ali, membuat Aisyah tak bisa melupakan sosok putranya itu.
Jadi, setelah proses perceraian, Aisyah kembali pulang ke rumah Abi dan Ummi nya. Mencoba mengenalkan pikirannya.
Kini, ia duduk di sebuah kursi kayu, dengan wajah yang menatap lurus ke arah kolam ikan di depannya.
Aisyah benar-benar tengah pusing, juga kesal dengan apa yang sudah terjadi beberapa hari yang lalu, di saat ia pergi ke kantor polisi. Melaporkan semua hal yang telah terjadi, tentang kasus tabrak lari anaknya dan dalang di balik semuanya.
Namun, keinginan Aisyah untuk memasukkan Erika ke dalam penjara tak bisa tercapai. Bukti yang Aisyah berikan kurang kuat untuk membuatnya masuk ke balik jeruji. Sebuah omongan belaka dari dirinya sendiri tak bisa di jadikan sebuah bukti, apalagi di hari itu, hanya Aisyah lah yang melihat Erika seorang diri di balik mobil.
Namun, tenang saja. Pihak kepolisan kini tengah mengusut dan menyelidiki semuanya, Aisyah hanya berharap ada bukti lain yang bisa membuat Erika terbukti bersalah dan bertanggung jawab atas semua perbuatannya.
Sejak hari itu, Aisyah hanya bisa terdiam murung di rumah Abi dan Ummi nya. Ia merasa sedih karena tak bisa membuat penjahat itu masuk ke dalam balik sel tahanan.
Aisyah merasa bersalah, membuat pembunuh putranya masih berkeliaran di luar sana.
"Aisyah, Nak," panggil Ummi.
Aisyah sontak menoleh, menyadarkan dirinya dari lamunan panjangnya.
"Iya Ummi, kenapa?" sahut Aisyah.
"Ada tamu Nak, coba kamu lihat ke depan,"
Aisyah langsung saja bangkit dan berjalan menuju ruang tamu, melihat siapa sosok tamu yang Ummi nya maksud.
Aisyah sedikit terkejut, melihat sosok pria yang kini duduk di sofa ruang tamu, sembari menyengir ke arahnya.
"Mas Rizal?"
Rizal, pria yang kini duduk dengan sebuah cengiran di bibirnya. Rizal membawa tangannya menggaruk tengkuknya merasa sedikit canggung.
"Aisyah," panggil Rizal.
__ADS_1
Aisyah langsung saja duduk di sofa yang berada di depannya, ia menarik sebuah senyuman tipis yang terlihat sedikit canggung pula.
"Ada apa Mas jauh-jauh kesini?" Aisyah berucap, dengan tatapan menunduk ke arah meja di hadapannya.
Ia seakan malu, melihat Rizal yang kini menatapnya dengan mata yang berbinar.
"Cantik,"
Mata Aisyah membulat, ia mendongak, menatap Rizal yang kini terlihat salah tingkah setelah mengucapkan satu kata itu.
"A-apa Mas?" tanya Aisyah yang tak yakin dengan pendengarannya tadi.
"A-ah, bu-bukan apa-apa," elak Rizal malu, ia merutukki dirinya yang tidak bisa menahan rasa kagum terhadap wanita di hadapannya kini.
Tapi, Rizal memanglah tidak salah, wanita yang duduk di hadapannya kini memang memiliki paras yang begitu cantik. Sangatlah bodoh Adam karena sudah melepaskan sebuah berlian yang sangat indah dan mahal ini.
"Lalu, ada keperluan apa Mas sampai datang kemari?" Aisyah kembali bertanya.
"Aku kemari sebagai Dokter yang menangani kamu," balas Rizal.
Ia kini mengubah tatapan kagum itu dengan sorot yang kian menyipit, menatap Aisyah dengan sedikit tegas.
"Bagaimana ini, sudah lewat beberapa Minggu, kapan jelasnya kamu akan melakukan pengobatan?" Rizal berbalik bertanya.
Aisyah yang mendengar hal ini kembali teringat akan janjinya yang akan menjalani pengobatan, ia tentu juga merasakan dampak atas kelalaiannya mengobati penyakitnya ini.
Sejak beberapa Minggu kebelakang, Aisyah lebih sering merasakan pusing, mimisan yang terus-menerus datang dan sulit untuk berhenti, bahkan tubuhnya seakan merasa lemas tak bertenaga.
Kedua tangannya kini bertaut, dengan air keringat yang membasahi telapak tangannya.
"Maaf Mas, in shaa Allah aku akan cepat kembali ke rumah sakit," ujar Aisyah.
Ia benar-benar lupa, atau mungkin sengaja melupakannya. Karena dengan semua hal yang terjadi belakangan ini, hidup Aisyah terasa sedikit kacau.
"Berjanjilah, jangan terus-menerus mengulur waktu, keadaanmu sekarang sudah sangat parah," Rizal mengatakan itu untuk kebaikan Aisyah.
"Aku tidak mau kamu terus mengulur pengobatan ini. Kamu tahu, kamu berhak untuk hidup bahagia Aisyah." jelasnya.
Aisyah kembali mendongak, menatap kedua mata yang kini menatapnya dengan sorot teduh. Seakan begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Terima kasih Mas," Aisyah tersenyum.
Mendengar perkataan Rizal membuat Aisyah sedikit bergetar, hatinya seakan memberontak membenarkan kata bahagia yang Rizal ucapkan.
"Aku berhak untuk bahagia?" batin Aisyah.
Benar, dirinya seakan lupa apa tujuan dari perpisahan yang telah terjadi. Ia memiliki tujuan untuk hidupnya ke depan, ia berjanji untuk memiliki hidup yang lebih bahagia.
Terlepas dari cekalan pernikahan yang begitu membuatnya terpuruk. Lalu, mengapa Aisyah malah lupa dan terus terpuruk dalam semua masalah dalam hidupnya.
Aisyah kembali menarik sudut bibirnya, menyuguhkan sebuah senyuman manis kepada pria di hadapannya.
"Terima kasih Mas, aku pasti akan hidup lebih bahagia, mulai hari ini." sahut Aisyah dengan senyumannya.
Rizal tentu membalas senyuman itu, ia begitu senang melihat Aisyah tersenyum lebar seperti itu.
__ADS_1
Bahkan, senyuman Aisyah telah menjadi candu baginya. Selalu saja, jantung Rizal berdetak semakin kencang setelah melihat senyuman dari bibir Aisyah.
Membuat sebuah rasa yang aneh di tubuhnya, membuat dirinya seakan terus menginginkan wanita itu tersenyum.