ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA : 8 Istrimu itu Aisyah


__ADS_3

Aisyah, Ali, Adam dan juga Erika kini sudah berada di dalam mobil. Suasana hening pun tercipta di dalamnya, sebenarnya sempat terjadi sedikit percekcokan antara Adam dan Erika sebelum berangkat.


Dimana Erika ingin duduk di samping Adam, sedangkan kini kursi itu sudah menjadi milik Aisyah. Adam yang tahu pastinya Aisyah tak mau pindah dan tahu Aisyah sedang dalam mood yang buruk, enggan untuk menambah masalah lagi.


Adam pun mencoba membujuk Erika untuk duduk di kursi belakang, toh sama saja pikir Adam. Namun, semua itu tak semudah yang Adam bayangkan.


Erika terus bersikukuh ingin duduk tepat di sampingnya, membuat Adam kembali memijit keningnya.


"Kamu mau duduk di belakang! atau aku tinggal! terserah padamu!" Ucap Adam sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil meninggalkan Erika yang terdiam di luar mobil.


"Mas Adam! ih kesel! ko jadi aku sih yang harus ngalah!" ucap Erika sembari menghentak hentakkan kedua kakinya ke tanah.


Begitulah akhir percekcokan tadi, yang akhirnya di menangkan Aisyah, tanpa harus turun tangan.


kini Erika duduk di kursi belakang sembari melipat kedua tangannya di dada, tak lupa bibirnya yang sedikit ia cebikkan karena masih merasa kesal.


Adam yang fokus menyetir, tak menghiraukan Erika yang menatapnya dengan tatapan tajam di sepanjang jalan.


Sedangkan Aisyah kini tengah bercanda ria dengan Ali yang di sepanjang jalan bertanya ini dan itu kepada Aisyah, dan hal itu membuat wajah Erika semakin suram.


Ada rasa cemburu yang Erika rasakan kepada Aisyah, dirinya terlihat begitu bahagia memiliki anak dari Adam. Erika kesal, dia seakan tak pernah Sudi melihat istri lain dari suaminya itu bahagia.


Akhirnya terbesit sebuah ide untuk membuat kesal istri kedua suaminya itu.


"Mas," panggil Erika kepada Adam yang tengah fokus menyetir.


"hmm," balas Adam dengan pandangan yang masih fokus ke depan.


Erika pun sedikit memajukan badannya ke depan, di belakang kursi jok Adam. "Nanti sepulang dari rumah Bapak dan Ibu mas janji Anter aku ke dokter kandungan yah." Ucap Erika dengan nada manja kepada suaminya.


Aisyah yang berada di samping Adam pun bisa mendengar dengan jelas apa yang Erika ucapkan.


"Memangnya kenapa?" tanya Adam, masih tetap fokus.


"Bukannya mas bilang ingin secepatnya punya anak dari rahimku? makannya nanti antar aku ke dokter kandungan, agar aku bisa ikut program hamil." Balas Erika, dengan sedikit membesarkan suaranya agar Aisyah mendengarnya.


Aisyah pun merasa sedikit risih mendengar pembicaraan Erika dan suaminya itu namun, ada sedikit goresan kecil saat mendengar kata kata yang Erika ucapkan.


"Mereka berencana memiliki anak." batin Aisyah, rasanya sakit mengetahui suaminya sendiri berencana untuk memiliki anak dengan wanita lain.


Namun apa daya, Aisyah tetap tak bisa ikut campur dan menolak hal itu.


"Kenapa harus ke dokter kandungan, dulu Aisyah juga tidak pergi ke dokter kandungan dan tidak ikut program-program seperti itu." Balas Adam seakan tak tahu jika salah satu wanita nya tengah tersakiti walau hanya dengan obrolan kecil ini.


"Ya, tapi kan beda mas, aku ingin cepat cepat beri kamu anak, lagian kenapa sih, gakpapa kan kita ikut program program gitu, ayolah mas." Bujuk Erika lagi, sembari memijit mijit pundak Adam dari belakang.


"Hmm, iya iya, nanti sepulang dari rumah bapak dan ibu kita pergi ke dokter kandungan." Akhirnya Adam pun mengalah dan mengiyakan keinginan Erika yang kini tersenyum lebar.


Sedangkan Aisyah kini terlihat sedikit menekuk wajahnya, dirinya seakan tak rela membayangkan suatu saat nanti Adam akan memiliki anak dari Erika. Walau tahu dirinya harus ikhlas, dan ia tahu bahwa Adam dan Erika berhak atas hal itu, namun hatinya seakan belum siap.

__ADS_1


"Ya Allah kuatkan lah hamba mu ini." Batin Aisyah, meminta pertolongan dari Tuhannya yang maha Esa.


Akhirnya setelah satu jam perjalanan, mereka pun sampai di sebuah rumah dengan halaman besar, yang berada di daerah pegunungan.


Rumah yang berbahan dasar kayu, namun tak terlihat kuno. Rumah dengan ukuran sedang yang di huni oleh Bapak dan Ibunya Adam.


Aisyah pun mencoba membangunkan Ali yang sedari tadi tidur karena kelelahan, ia menepuk kecil pipi gembul anaknya itu.


"Nak, bangun sayang, kita sudah sampai." Ucap Aisyah.


Ali pun menggeliat kecil lalu membuka matanya perlahan. Membuat Aisyah terkekeh melihat tingkah lucu anaknya itu.


Sedang Erika kini sibuk membenahi riasan wajahnya, ia sibuk memegangi sebuah bedak di tangan kirinya dan lipstik di tangan kanannya.


Beda dengan Adam yang kini sibuk mengeluarkan tas tas besar milik Aisyah dan juga Erika dari dalam bagasi mobil.


Aisyah pun turun dari mobil bersama Ali yang kini berlari cepat ke arah rumah kakek dan neneknya itu. Aisyah pun hanya bisa menggeleng kecil sambil tertawa melihat Ali yang begitu antusias ingin bertemu kakek dan neneknya.


Memilih membiarkan Ali, kini Aisyah berjalan ke arah belakang mobil, melihat Adam yang baru selesai menurunkan tasnya.


"Sini aku bantu Mas," tangan Aisyah langsung saja mengambil satu tas besar miliknya.


Adam yang baru sadar akan kehadiran Aisyah pun menoleh dan menggeleng kecil. "Biar aku saja, kamu masuk saja duluan, biar aku yang bawa semua tas ini." Ujarnya, menolak bantuan yang di tawarkan istrinya.


Namun, bukannya mendengarkan Adam, kini Aisyah malah menjinjing tas itu tanpa menghiraukan Adam.


"Biar aku bantu mas," ucap Aisyah sebelum pergi meninggalkan Adam.


Adam pun menutup pintu bagasi dan berjalan dengan membawa 2 tas besar yang ia yakini milik Erika. .


Adam berhenti sebentar di samping Erika yang masih sibuk merias dirinya di dalam mobil.


"Mau sampai kapan kamu berdandan terus seperti itu?" sindir Adam.


Erika pun menoleh melihat Adam dari jendela mobil. "Ya sabar dong mas, aku kan harus keliatan cantik di depan bapak dan ibu kamu! ko kamu gak ngerti sih, lagian aku dandan gini juga kan buat kamu, biar gak malu maluin." Balas Erika sembari mendelik kepada Adam.


"Ya sudah ayo, kamu sudah cantik ko, jangan terlalu berlebihan!" ucap Adam lagi membuat Erika yang langsung memasukkan alat alat make up nya ke dalam tas dengan kesal.


"Dasar, kamu tuh yah, gak sabar banget! berlebihan apa coba, aku tuh dandan yah buat kamu, coba kalo aku gak make up an! apa kamu bakalan suka sama aku!" ketus Erika, ia pun keluar dari mobil.


Adam hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, melihat istrinya yang satu ini. "Bukannya gitu, tapi kan tadi pagi juga udah kamu make up an di rumah, apa gak cukup?"


"Ya kan tadi pagi mas, tau kan tadi di jalan tuh panas, ya make up aku luntur kan, makannya harus aku benerin lagi."


Adam pun memilih diam dan mengikuti Erika yang berjalan masih dengan wajah yang ditekuk kesal.


"Astaghfirullah," ucap Adam mengucap istighfar, mencoba sabar dengan sikap Erika.


Adam dan Erika pun masuk ke dalam rumah menyusul Aisyah dan Ali yang kini sudah duduk anteng bersama bapak dan ibu Ali di ruang tengah.

__ADS_1


"Assalamualaikum, pak, Bu," salam Adam ketika melihat bapak dan ibunya yang tengah melepas rindu dengan cucunya.


Bapak dan ibu Adam pun menoleh, melihat Adam yang kini berjalan ke arahnya bersama sosok wanita yang masih asing di mata Ibu Adam.


"Waalaikumsalam," jawab Bapak dan Ibu Adam bersamaan.


Adam pun berjalan mendekat lalu menyalami kedua orang tuanya itu, diikuti Erika yang kini menyalami bapak dan ibu mertuanya.


Namun saat hendak mencium tangan Ibu mertuanya, Bu Fatimah seakan enggan menerima uluran tangan menantunya itu.


Erika pun dengan cepat menarik kembali tangannya dan menatap wajah mertuanya itu dengan jengkel. Sedangkan kini Bu Fatimah memalingkan wajahnya, berpura pura sibuk dengan Ali.


Adam yang melihat hal itu pun tahu jika sang ibu tidak begitu menyukai Erika.


"Kenapa sih sama ibu nya mas Adam, orang niat baik mau di salam in, eh ini malah jutek gitu! kesel kan jadinya." Batin Erika, yang tidak menduga akan sikap dingin yang ia dapatkan dari mertuanya.


"Bu, ini Erika, istri Adam." Ucap Adam mengenalkan Erika kepada Ibunya.


Bu Fatimah akhirnya menatap Adam dan juga Erika yang kini tersenyum lebar, Bu Fatimah pun menatap Erika, menelisik dari bawah sampai atas.


"Istrimu itu ya Aisyah." Balas Bu Fatimah dengan raut wajah tak suka yang ia berikan kepada Erika.


"Erika juga istri Adam Bu, Adam minta maaf, tidak memberitahu ibu sebelumnya, tapi Adam sudah lebih dulu menikahi Erika Bu, maafkan Adam." Adam meminta maaf sembari memegangi kedua tangan ibunya itu.


Bu Fatimah hanya diam, melihat putranya yang kini duduk bersimpuh di hadapannya.


"Maafkan Adam Bu, Adam mohon Ibu bisa menerima Erika seperti ibu menerima Aisyah sebagai istri Adam Bu." mohon Adam lagi, kini Adam sampai meneteskan air matanya.


"Adam salah Bu, tolong maafkan Adam Bu." isak Adam.


Sang Ibu yang tak bisa melihat seorang puteranya kini menangis bersimbah di pangkuannya. Kini mencoba membawa tangannya mengusap pelan puncak kepala Adam.


"Ibu maafkan nak, ibu maafkan." Bu Fatimah mulai mengucapkan kalimat yang kini membuat Adam mendongak melihat ke arah wajah ibunya.


"Ada minta maaf Bu," ucapnya lagi.


"Ibu maafkan kamu nak, ibu maafkan kamu." Bu Fatimah membawa tubuh Adam ke dalam pelukannya, ia tahu bahwa anaknya ini sudah melakukan sebuah kesalahan fatal.


Sebagai seorang ibu tentunya Bu Fatimah merasa gagal sudah mendidik anaknya, namun apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur, semua ini sudah terjadi.


Kini kita hanya bisa menjalani apa yang sudah terjadi, mencoba menata kembali atas kekacauan yang sudah terjadi.


Aisyah yang duduk di samping Ali kini ikut menyeka air matanya, melihat suaminya yang kini masih memeluk erat ibu nya.


Kesalahan fatal suaminya yang kini membawanya ke dalam kehidupan rumah tangga yang rumit. Awalnya semua baik baik saja, hidupnya terasa sempurna tanpa ada satu celah pun, tapi kini semua kesempurnaan itu hilang seketika.


Hadirnya Erika dalam rumah tangganya, membuat semua cerita indah dalam buku dongengnya hancur seketika.


"Apa aku bisa mas, melewati ini semua?" ucap Aisyah lirih.

__ADS_1


Ia menatap suaminya yang kini masih terisak, apa masih sanggup Aisyah menjalani rumah tangganya ini bersama Adam.


__ADS_2