ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 33 Ketakutan


__ADS_3

Selepas melaksanakan shalat Isya bersama Mas Adam, aku langsung saja kembali ke kamar dan membaringkan tubuhku ini.


Jangan tanyakan dimana Mas Adam, tentu saja ia berada di kamar lain bersama Mbak Erika. Mereka akhirnya menginap di rumahku, karena Mas Adam yang kukuh ingin menemaniku.


Tapi, nyatanya Mbak Erika tak akan membiarkan hal itu terjadi, Ia terus menempel kepada Mas Adam. Membuatnya kini ikut tidur, menginap di kamar bawah.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Mata ini seakan masih segar tak berniat untuk terpejam, entah mengapa sangat sulit untuk memejamkan mata ini.


Rasa kantuk seakan hilang entah kemana, sampai akhirnya Ku dengar pintu kamarku seakan di buka dari luar.


Aku sontak menoleh, melihat siapa gerangan yang berniat masuk ke dalam kamarku.


"Mas," ucapku, melihat Mas Adam yang datang sembari berjalan berjinjit dengan jari telunjuk yang Ia simpan di bibirnya.


"Sssttt...," desisnya, menyuruhku untuk tidak berisik.


Aku mengerutkan keningku, aneh.


Mas Adam langsung saja naik ke atas ranjang, membaringkan tubuhnya di sampingku. Ia juga merentangkan tangannya, memberi kode agar aku mendekat ke arahnya.


"Kemari," ucap Mas Adam. "Cepat kemari." ulangnya, di saat melihat aku yang masih terdiam di tempat.


Tanpa banyak tanya, aku menggeser tubuhku mendekat ke arahnya, menyandarkan kepala ini di lengannya.


"Ada apa Mas?" ucapku, bertanya merasa aneh dengan sikapnya.


Terlihat Mas Adam yang kini mencebikkan bibirnya cemberut.


" 'Ada apa?', kenapa bertanya seperti itu? aku hanya ingin tidur dengan istriku ini," ujarnya dengan wajah yang ia tekuk.


Ku ulaskan sebuah senyuman tipis di bibir, "Memangnya Mbak Erika tidak akan mencari Mas?" tanyaku.


"Dia sudah tertidur, makannya Aku berjalan mengendap-endap kesini. Hanya untuk bertemu Istri manisku ini." balasnya.


Mas Adam langsung membawaku ke dalam pelukannya. Pelukan erat, yang kini membawa wajahku tepat menatap wajahnya.


"Maafkan Mas, belakangan ini Mas sudah sangat sering melukai kamu," Mas Adam menatapku dengan sorot mata sayu.


"Aku sangat rindu di saat dulu kita selalu menghabiskan waktu bersama, di saat Ali menginap di rumah Ibu dan Bapak."


Mas Adam membawa sebelah tangannya mengusap rambutku tanpa melepaskan pelukannya.


"Mas minta maaf, jika belum bisa bersikap adil kepada kamu dan Erika." jelasnya.


"Kamu mau kan, memaafkan suamimu yang masih banyak kurangnya ini?" ucap Mas Adam tanpa melepaskan tatapannya dariku.


Tak terasa, air mata lolos dari mata ini. Mungkin karena sudah sangat lama tidak bisa berbicara sedekat ini dengan Mas Adam.

__ADS_1


Rasanya hati ini seakan menghangat, mendengar semua ucapan yang terucap dari bibir Mas Adam.


"Kenapa menangis, jangan menangis lagi," ujar Mas Adam. "Perbuatan Mas pasti sangat melukai hatimu yah," lanjutnya.


Aku tak dapat membalas semua pertanyaan itu, kini yang bisa keluar dari mulutku hanyalah Isak tangis.


"Sudah, sudah, jangan menangis lagi," tangan Mas Adam menyeka air mataku. "Mas janji, Mas akan berusaha bersikap adil," ucapnya.


Kemudian Mas Adam mengecup keningku beberapa kali. Membuat hati ini semakin menghangat.


"Bukan aku," ucapku dalam tangisan ini.


Mas Adam melonggarkan pelukannya, kembali menatapku dengan raut wajah bertanya.


"Bukan aku yang buat Mbak Erika jatuh," ucapku lagi, masih sesenggukan.


Mas Adam terlihat terdiam.


"Mas tidak percaya kan," seruku melihatnya yang tak bergeming.


Mas Adam menggeleng, "Mas percaya, Mas percaya."


"Bohong!" tukasku, melihat wajah Mas Adam yang seakan tak benar-benar tulus mengucapkan kata itu.


"Mas percaya, Mas akan percaya dengan semua yang kamu katakan," ujarnya.


Setelah mendengar kalimat itu, rasanya hati ini semakin tenang. Mas Adam yang dulu seakan kembali ke sisiku, membuatku akhirnya bisa memejamkan mata ini dan larut dalam mimpi yang indah dalam pelukannya.


***


Keesokan paginya, aku terbangun mendengar suara adzan Subuh. Masih ku lihat dengan jelas Mas Adam yang tertidur pulas dengan tangan yang memelukku.


Senyuman mengembang begitu saja di bibir ini, aku beberapa kali mengucap syukur. Bersyukur bahwa kenangan di malam tadi bukanlah sebuah mimpi.


Semoga, hubunganku dengan Mas Adam bisa kembali membaik, pikirku berharap.


Seperti biasanya, aku langsung membangunkan Mas Adam dan melaksanakan ibadah shalat Subuh bersamanya.


Sungguh pagi hari yang penuh nikmat dan indah.


Aku pun menjalani hariku seperti biasanya.


Siang hari, Mas Adam bersiap berangkat ke Kantor bersama Mbak Erika yang turut ikut pulang ke Apartemennya.


Aku kembali ditinggal, namun berbeda rasanya. Mas Adam tak lupa memeluk juga mengecup bibirku sebelum pergi.


Ia berjanji akan cepat pulang setelah urusan kantor selesai dan berniat mengajakku menjemput Ali sore hari nanti.

__ADS_1


Tak lupa sebuah senyuman manis ia layangkan sebelum akhirnya pergi meninggalkan pekarangan rumahku.


Aku kembali masuk ke dalam rumah, mencoba mencari aktifitas menunggu sore hari tiba.


Ku bawa tubuh ini menuju dapur, membereskan barang dan bahan bekas tadi pagi membuat sarapan.


Sekalian menyortir barang apa saja yang sudah habis, agar sekalian nanti sore pergi ke swalayan sehabis menjemput Ali, pikirku.


Aku pun mencuci piring, mengelap meja, lanjut menyapu dan mengepel. Hingga tak terasa yang awalnya berniat membereskan kekacauan di dapur, berlanjut hingga seluruh ruangan rumah.


Aku menghempaskan tubuhku ke sofa, merasa sedikit lelah. Di saat tengah terdiam duduk di sofa ruang tamu, ku rasakan rasa hangat yang tiba-tiba mengalir di hidung.


Langsung saja ku bawa tangan ini menyeka air yang ku pikir hanyalah air keringat karena kecapean.


Namun, betapa terkejutnya aku melihat noda merah yang kini membekas di tanganku.


"Astaghfirullah," ucapku, sembari bangkit dan terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, kulihat di cermin darah segar yang terus mengalir dari hidungku.


Jantung ini berdegup dengan kencang, merasa takut dan panik. langsung ku ambil tissue untuk menyumbat lubang hidungku ini.


Mencoba menghentikan darah yang terus-menerus keluar.


Aku basuh beberapa kali tanganku yang terkena noda darah. Karena saking banyaknya darah, aku tak cukup mengganti satu tissue untuk menyeka hidungku.


Aku semakin panik ketika darah ini tak kunjung berhenti, sampai beberapa menit kemudian, darah yang keluar tak terlalu banyak seperti sebelumnya.


Kembali ku basuh wajahku ini. Aku melihat pantulan diriku di cermin. Wajah yang terlihat pucat, dengan sisa-sisa merah di hidung.


Membuatku merasa sangat menyedihkan.


"Apa aku harus bilang yang sejujurnya kepada Mas Adam?" gumamku.


Berpikir untuk memberitahukan keadaanku yang sebenarnya kepada Mas Adam.


"Apa Mas Adam akan tetap mencintai aku?" lirihku, "apa Mas Adam tidak akan meninggalkan aku?" tangisku pecah.


Takut, takut Mas Adam akan meninggalkan aku jika Mas Adam tahu aku mengidap Leukemia.


Apakah wajar bagiku untuk ketakutan seperti ini. Aku hanya takut, takut jika Mas Adam akan meninggalkan aku.


Aku sadar, tubuhku semakin kurus karena penyakit ini, wajahku kini kian memucat, bagaimana jika Mas Adam tidak lagi suka dan memilih meninggalkan aku.


Apalagi, dengan kehadiran Mbak Erika, pasti dengan mudah Mas Adam melepaskan Aku.


Untuk apa mempertahankan istri yang tak cantik dan merepotkan seperti Aku ini, pikirku.

__ADS_1


Maka dari itu, Aku hanya takut, takut di tinggalkan Mas Adam.


__ADS_2