
"Assalamualaikum Pak," ucap Adam mengucap salam ketika mengangkat panggilan dari Bapak nya.
"Iya Pak, insha Allah Adam, Aisyah dan Erika akan secepatnya pergi kesana." Balas Adam lagi.
"Iya Pak, waalaikumsalam." Tutup Adam setelah panggilannya selesai.
Erika yang kini tengah duduk manis di sofa ruang tengahnya memperhatikan Adam yang baru saja selesai menelepon.
"Kenapa?" Tanya Erika pada Adam yang kini mulai berjalan mendekat ke arahnya.
Adam tersenyum kecil sembari menggeleng pelan. "Gakpapa, hanya Bapak yang ingin secepatnya bertemu kamu dan Aisyah di rumahnya." Balas Adam sembari mendudukkan bokongnya di samping Erika.
Erika yang mendengar jawaban Adam pun kini terlihat sedikit sumringah. Ia yang masih mengenakan lingerie nya kini beranjak naik ke atas paha Adam, sembari melingkarkan tangannya di leher Adam.
"Beneran mas? Jadi sebentar lagi aku bakalan ketemu sama Ibu kamu dong!" Ucap Erika dengan senyuman lebarnya.
Adam yang melihat itu pun tersenyum balik, melihat wajah Erika yang terlihat begitu bergembira bisa bertemu ibunya. "Iya, kamu seneng banget kelihatannya." Ucap Adam.
"Iya dong! Gimana gak seneng, ini tuh pertama kalinya aku bakalan ketemu sama Ibu kamu, dan akhirnya pernikahan kita gak usah di sembunyiin lagi dari keluarga kamu!" Balas Erika masih dengan nada antusiasnya.
Sebenarnya Adam juga senang akhirnya bisa mengenalkan Erika kepada Ibu nya, namun entah bagaimana nanti reaksi Ibu nya itu. Melihat Erika yang memang berbeda jauh dari tipe wanita yang Ibu sukai.
"Mas, kenapa bengong? Kamu gak suka aku ketemu Ibu?" Tanya Erika yang melihat Adam kini terdiam melamun.
"Hmm, ngga ko, masa aku gak seneng sih, yah aku seneng, tapi nanti saat kamu ketemu Ibu coba pakai, pakaian yang sedikit tertutup yah." Ujar Adam memberi sedikit saran kepada istrinya itu.
Erika yang mendengar saran yang Adam ucapkan sedikit mengernyitkan dahinya. "Memangnya kenapa? Apa harus aku pakai kerudung yang panjang seperti wanita itu! Hah! Apa harus aku berpakaian seperti dia! Iya!" Balas Erika dengan kesal.
__ADS_1
"Bukannya seperti itu, tapi Ibu memang tidak terlalu suka dengan wanita yang berpakaian terlalu terbuka, kamu mengerti kan." Jelas Adam mencoba membuat Erika mengerti.
"Dih, aku gak mau mas! Nanti malah dibilang aku ikut ikutin dia lagi! Lagian aku ini tahu fashion mas! Mana bisa aku pakai pakaian yang norak seperti wanita itu!" Ujar Erika masih enggan menuruti saran suaminya.
Adam pun hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat. "Kamu tuh yah, kalo aku kasih tahu susah sekali. Lagian baju tertutup itu gak norak! Dan sudah seharusnya kamu itu berpakaian tertutup, jangan terus menerus pakai baju yang terbuka, gak baik di lihat orang."
"Iya iya tau, tapi kan mas sekarang tuh udah beda! Kita udah hidup di jaman yang modern! Kalo aku pake baju yang norak kaya gitu bisa bisa aku jadi bahan Bulian temen temen aku dong mas! Coba dong kamu ngertiin aku." Erika masih tetap enggan untuk menerima saran dari Adam.
Erika merasa kalo pakaian syar'i itu sangatlah norak, apalagi Erika yang tidak mempunyai teman berpakaian seperti itu. Kalo dia tiba tiba memakai pakaian seperti itu bisa bisa Erika di buli habis habisan oleh teman temannya.
"Ya sudah terserah kamu, tapi tolong jangan yang terlalu terbuka yah." Akhirnya Adam hanya bisa mengalah, Adam berpikir mungkin suatu saat nanti Erika bisa berubah, namun hanya tinggal menunggu waktu yang akan membawanya kepada waktu tersebut.
"Iya mas, aku bakalan dandan yang cantik banget, aku kan mau ketemu mertua aku." Balas Erika sembari mengecup bibir Adam.
"Dasar, yasudah aku pergi dulu yah." Adam hari ini berniat untuk pergi ke rumah Aisyah, karena merasa tak tenang semalaman memikirkan istrinya itu.
"Mau kemana!" Tanya Erika yang masih terduduk anteng di kedua kaki adam.
"Temani aku mas," Erika terus memeluk leher Adam dengan manja, sembari menempelkan tubuhnya ke tubuh Adam mencoba menggodanya.
"Kan sudah aku temani tadi malam, hari ini aku pergi dulu yah, kasian Aisyah." Balas Adam terus terang bahwa dirinya akan menemui Aisyah.
"Gak mau! Aku maunya kamu temani aku hari ini!"
"Erika, mas harus pergi sayang, tolong kamu mengerti yah, besok mas janji akan temani kamu, lagi pula besok kan kita akan ke rumah bapak dan ibu." Balas Adam lagi mencoba membujuk Erika.
"Gak mau, aku masih rindu kamu mas."
__ADS_1
Erika kini membawa wajahnya mendekat ke arah wajah Adam, mencium Adam dengan mesra.
Adam yang mendapati ciuman itu hanya bisa membalas kecil, lalu mencoba melepaskan pangutannya itu.
"Sayang," ucap Adam sembari melepaskan ciumannya itu.
"Ayolah mas, aku masih rindu, temani aku satu hari ini lagi yah, lagian Aisyah kan punya Ali. Dia gak mungkin kesepian dengan anakmu, kalo aku, aku hanya punya kamu mas," ucap Erika memelas, mencoba membujuk balik Adam.
Adam pun mendapati kembali ciuman panas yang Erika lancarkan, membuat Adam kembali mengurungkan niatnya untuk pergi menemui Aisyah dan kembali melewati hari yang panas bersama Erika.
Sedangkan Aisyah, kini hanya bisa menjalani hari harinya dengan sedikit lesu, tanpa hadirnya sosok pria yang selalu ia tunggu tunggu.
"Umma! Ali mau main sama Abi!" Teriak Ali yang kini menangis histeris karena ingin bertemu Abi nya itu.
"Ssstt, Ali sayang, tunggu sebentar yah, Abi sekarang lagi kerja dulu, Ali harus sabar nunggu Abi yah." Aisyah mencoba menenangkan Ali yang kini mulai merindukan sosok Abi nya itu.
"Gak! Umma bohong! Abi gak kerja! Ali lihat kemarin Abi pergi sama orang lain! Ali gak mau! Ali mau Abi! Huaaaa!" Rengek Ali, seakan tahu bahwa kini Abi nya itu tengah memadu kasih bersama wanita lain.
"Ali mau Abi! Umma! Ali mau Abi!"
Aisyah yang sudah mencoba berbagai cara agar anaknya itu mengerti seakan sudah kehabisan ide.
"Ya Allah, harus bagaimana lagi aku ini." Ucap Aisyah kebingungan.
Kini Aisyah yang melihat Ali menangis juga ingin ikut menangis. Merasa bingung harus berbuat apa, juga sedih karena melihat anaknya yang kini juga sama merindukan sosok pria itu seperti dirinya.
Tak kuasa menahan tangis, kini Aisyah pun duduk bersimpuh di hadapan Ali yang masih menangis.
__ADS_1
Ia memeluk putranya itu, dengan air mata yang bercucuran. Sakit rasanya, melihat semua ini.
"Kemana kamu mas! Anakmu merindukan mu! Bahkan aku juga! Tapi kini kamu malah sedang bersama istrimu yang lain, meninggalkan aku dan Ali sendirian. Apa kamu tidak memikirkan kami berdua yang membutuhkan kamu mas!" Batin Aisyah, ia terus memeluk Ali sembari mengeluarkan rasa sakit dan rindu dalam hatinya itu.