
Setelah kepergian Adam, Aisyah terus menangis di balik selimutnya. Menahan Isak tangisnya, takut terdengar oleh pasien lain.
Aisyah kini hanya bisa meringkuk, menangis dengan sebuah tangan yang menutup mulutnya, enggan mengeluarkan suara dari tangisannya itu.
Tanpa Aisyah tahu, kini Rizal tengah berdiri di ujung pintu melihat ke arahnya. Rizal melihat tubuh Aisyah yang bergetar menahan Isak tangisnya.
Ingin rasanya Rizal mendekat dan menghibur Aisyah, tapi Rizal jelas tahu batasannya. Ia tidak bisa ikut campur dalam masalah rumah tangga wanita yang telah mengambil hatinya itu.
Akhirnya, semalaman Rizal hanya bisa berdiam diri menatapi Aisyah dari jauh. Mengawasinya walau tak bisa ada di dekatnya, sampai Rizal melihat, tubuh yang awalnya bergetar menahan tangis, kini getarannya berubah halus.
Menandakan Aisyah yang sudah tertidur karena kelelahan.
Rizal mengembangkan sebuah senyuman, lega melihat Aisyah yang akhirnya tertidur pulas.
Ia langkahkan kakinya mendekat, dan benar saja, Aisyah sudah tertidur dengan mata yang terlihat sembab. Masih terlihat air mata yang menjadi bukti bahwa Aisyah baru saja menangis.
"Kasian," gumam Rizal.
Rizal hanya bisa menatap Aisyah dengan tatapan iba.
"Aku tidak tahu bagaimana hidupmu, tapi yang aku yakini, kamu adalah wanita yang hebat." Rizal kembali bergumam, merasa iba juga kagum.
Rizal tahu dengan jelas, bahwa Aisyah adalah wanita yang sangat kuat dan hebat. Sudah sangat jarang rasanya Rizal melihat wanita seperti Aisyah.
Wanita yang berpakaian sangat sopan, wanita yang terlihat cantik walau tanpa polesan make up, wanita yang bertutur kata lembut.
Bahkan, setiap Rizal mendengar Aisyah berbicara, ia selalu merasa tenang dan adem. Pembawaan Aisyah yang sangat lembut, membuatnya seketika terpana.
Di malam itu, untuk yang pertama kalinya. Aisyah tidak sendirian dalam kesedihannya, ada Rizal yang siap menemaninya walau tanpa Aisyah ketahui.
Akhirnya, semalaman Rizal pun terus duduk di samping Aisyah, menyandarkan punggungnya ke tembok, menahan kantuk mengawasi Aisyah yang terlelap.
***
Aisyah mengerjap, mendengar suara adzan subuh. Tak butuh waktu lama, ia pun segera bangun, tetapi di saat ia terbangun Aisyah sadar bahwa kini ia sudah berada di ruangan yang berbeda.
Ia masih tertidur di ranjang rumah sakit, namun bukan di bangsal IGD, melainkan sebuah kamar rawat inap, yang entah kapan ia pindah kesini.
"Mungkin, tadi malam aku di pindahkan kesini." Pikir Aisyah, tak mengambil pusing.
Ia segera turun dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah itu, Aisyah dengan cepat melaksanakan shalat subuh walau harus sembari duduk di atas ranjangnya.
"Alhamdulillah," ucapnya setelah selesai menunaikan ibadah shalat subuh.
"Sudah shalat?" Ucap Rizal tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.
Tentu Aisyah sedikit terkejut, ia menoleh dan menatap Rizal yang kini berjalan masuk ke dalam ruangannya.
"Mas Rizal, Alhamdulillah sudah Mas." Balas Aisyah, yang masih mengenakan mukena.
Rizal hanya tersenyum, ia berjalan ke samping Aisyah, lalu menyimpan sebuah nampan yang berisikan obat di nakas samping ranjang.
"Mas Rizal sendiri yang kasih obat?" Tanya Aisyah heran, karena setahu Aisyah, biasanya suster lah yang akan memberikan obat-obatan seperti ini.
Rizal tersenyum kikuk, ia juga menggaruk tengkuknya sembari menyengir cengengesan.
__ADS_1
"Iya, lagi rajin." Balas Rizal.
"Mas ijin periksa dulu yah," Rizal meminta ijin sebelum memeriksa Aisyah.
Aisyah membalas dengan anggukan sembari tersenyum tipis.
Dengan cekatan Rizal langsung saja menyuntikan sebuah obat ke dalam infusan Aisyah, ia juga mengecek suhu dan tekanan darah Aisyah dengan telaten.
Setelah selesai memeriksa Aisyah, terdengar Rizal menghembuskan nafasnya dengan berat.
Aisyah menoleh, menatap Rizal yang kini menatapnya dengan raut wajah khawatir.
"Jadi, kapan kamu akan menjalani pengobatan? Kalo terus di tunda seperti ini, keadaan kamu akan semakin memburuk, bukannya membaik." Jelas Rizal.
Aisyah hanya terdiam, memikirkan perkataan Rizal.
"In shaa Allah secepatnya Mas," balas Aisyah singkat, dengan sebuah senyuman semu.
"Huh, seminggu, itu waktu yang saya beri sebagai Dokter kamu. Setelah satu Minggu, kamu harus langsung menjalani pengobatan." Sahut Rizal dengan nada tegas.
Aisyah hanya bisa kembali tersenyum kecil sembari mengangguk.
"Ya sudah, kamu istirahat saja, setelah cairan infus ini habis, kamu bisa pulang." Seru Rizal.
"Baik, terima kasih Dok." Balas Aisyah.
Rizal mengerutkan keningnya, "Dok? Bukannya Mas Rizal?" Ucap Rizal menggoda Aisyah.
Aisyah terkekeh, "Sekarang kan di rumah sakit, Mas Rizal Dokter disini, jadi lebih baik panggil Dokter kan." Sahut Aisyah dengan senyuman lebarnya.
***
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Aisyah di bolehkan pulang. Aisyah sudah mengabari Adam untuk segera menjemputnya.
Tak memakan waktu, kini Adam sudah berdiri di hadapannya, tapi lagi-lagi Adam datang bersama Erika.
Membuat Aisyah seakan tak bisa di buat bernafas lega sedikitpun olehnya.
"Makannya, jadi istri itu harusnya jaga kesehatan, bukannya sakit-sakitan terus. Jadinya kan, ngerepotin Mas Adam!" Tukas Erika di saat Adam mencoba membatu Aisyah untuk turun dari ranjang.
Perkataannya tentu sangat menusuk, membuat Aisyah kini hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan berat.
Menahan rasa pedih juga amarah dalam hatinya.
"Erika, bicara apa kamu ini!" Tegur Adam.
"Ya emangnya aku salah? Gara-gara Aisyah, Mas harus batalin meeting sama klien penting Mas kan. Bukannya yang kaya gitu bikin repot orang aja yah?" Sahut Erika tak merasa salah.
Adam kini memutar bola matanya jengah, mendengar ucapan Erika yang benar-benar tak bisa di saring.
"Erika sudah cukup!" Sergah Adam, mencoba menutup mulut istrinya itu.
Ia kemudian menoleh ke arah Aisyah, menatap istrinya itu sembari menggelengkan kepalanya.
"Mas tidak sama sekali merasa di repotkan, kamu itu istri Mas, sudah sepatutnya Mas menemani kamu, menjaga kamu dan merawat kamu." Jelas Adam.
__ADS_1
"Jangan terlalu di pikirkan omongan Erika," tambahnya.
Aisyah hanya mengangguk, tak banyak menghiraukan semua celotehan-celotehan yang keluar dari mulut Erika.
"Ali dimana Mas?" Tanya Aisyah yang tak mendapati sosok putranya itu.
"Ali Mas titip di rumah Ibu, lagian kemaren Ibu juga kirim pesan, kangen sama cucunya." Sahut Adam.
Aisyah lagi-lagi mengangguk, tak banyak bicara. Kini ia berjalan dengan bantuan Adam yang terus memapahnya. Walau Aisyah sudah bilang bisa berjalan sendiri, Adam kukuh membantu Aisyah di sampingnya.
Membuat Erika kini cemberut, mengikuti Adam dan Aisyah di belakang dengan langkah kaki yang terus ia hentakkan sembari terus menggerutu kesal.
Namun, Aisyah melihat Adam seperti menghiraukan semua gerutuan-gerutuan Erika. Adam terus saja memapahnya dengan sangat telaten, membawa Aisyah menuju mobil.
"Terima kasih Mas," ucap Aisyah setelah duduk di kursi mobil. Adam tersenyum hangat membalasnya.
"Ko Aisyah duduk di depan sih Mas!" Erika kembali berucap tak terima dengan hal kecil seperti ini.
"Masya Allah, Erika kamu kan bisa duduk di belakang, apa bedanya?" Ujar Adam yang benar-benar jengah dengan semua sikap Erika di hari ini.
"Yah beda lah Mas! Di depan yah di depan! Kalo di belakang yah di belakang! Aku maunya duduk di depan, di samping Mas!" Pekik Erika kesal.
Adam membulatkan matanya terkejut dengan sikap Erika yang sangat seperti anak kecil. Membesarkan sebuah masalah sepele yang sangatlah tak ada artinya.
"Erika, Mas mohon, jangan mencari masalah disini." Ujar Adam mencoba sabar.
"Cari masalah kata Mas? Mas yang cari masalah!" Bentak Erika, tak mau mengalah.
"Erika, sudah cukup. Ayo masuk, jangan permasalahkan hal kecil seperti ini!" ucap Adam mencoba membawa Erika masuk.
Namun, bukan Erika namanya jika tidak melawan dan kukuh dengan omongannya.
Erika dengan sekuat tenaga melepaskan cekalan tangan Adam. Ia mengacak-acak rambutnya bak orang gila, sembari berteriak-teriak tak mau masuk ke dalam mobil.
"Gak! aku gak mau Mas! aku gak mau! aku mau duduk di depan!" pekiknya.
"Erika!"
Adam terus mencoba menenangkan Erika dan membawanya masuk, tapi entah energi darimana Erika terus berhasil lepas dari cekalan Adam dan kembali meronta tak mau masuk jika tak duduk di depan.
Aisyah yang melihat hal itu kini merasa jengkel dan jengah, ingin rasanya menutup telinganya ini.
Apa harus mempermasalahkan hal kecil seperti itu, pikir Aisyah.
Akhirnya, tanpa berpikir panjang, Aisyah turun dan berjalan ke arah belakang mobil. Ia langsung duduk di belakang tanpa berucap satu patah kata pun.
Adam dan Erika sontak menoleh, melihat Aisyah yang kini sudah duduk manis di belakang, menyandarkan kepalanya sembari memejamkan mata.
Erika tersenyum menang, ia pun langsung berlari dan masuk ke kursi depan dengan raut wajah bahagia, tanpa harus susah payah di suruh oleh Adam.
Berbeda dengan Adam yang kini memijat pelipisnya pening. Ia juga menghela nafasnya sejenak sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.
Setelah mobil itu melaju, ada seseorang yang kini tersenyum sembari terkekeh geli.
"Ternyata, ada wanita gila di dalam rumah tangga Aisyah." Kekehnya dengan sebuah seringai.
__ADS_1