
Suasana hening pun terjadi di kediaman Aisyah, dimana kini dirinya tengah duduk bersampingan dengan sang suami. Namun, keduanya hanya saling menukar tatap, tanpa berucap sedikitpun.
Mengapa?.
Mungkin, karena keduanya tengah merasa gelisah dan kebingungan. Melihat dua orang paruh baya yang kini duduk berhadapan dengan mereka.
"Jadi, kedatangan Abi dan Ummi mu kesini untuk menanyakan sesuatu."
Akhirnya sang Abi mengeluarkan suaranya, mengucapkan kalimat yang membuat Adam kini menelan ludahnya dengan sedikit susah payah.
Aisyah menoleh, menatap suaminya yang kini terlihat sedikit pucat. Begitupun Aisyah, ia tahu benar tentang apa yang akan Abi nya itu tanyakan kepada mereka berdua.
"Sebenarnya Abi, tidak ingin ikut campur dengan masalah rumah tangga kalian, tapi Abi juga tidak bisa seperti bodoh amat terhadap masalah ini." Lanjutnya, kini terlihat mata yang memicing, memancarkan sorot mata yang serius.
Adam hanya bisa diam, mendengarkan ucapan mertuanya itu dengan seksama, ia hanya duduk tak bergeming dengan wajah menunduk.
"Terutama, ketika kemarin, Abi dan Ummi pergi ke Rumah sakit untuk check up, Abi dan Ummi mu ini tidak sengaja bertemu dengan menantunya," Abi Aisyah itu kini menyipitkan matanya, menelisik ke arah Adam.
"Tetapi yang Abi lihat, kamu pergi dengan wanita yang mana bukanlah Aisyah, siapa dia?" Sambungnya, masih dengan tatapan yang ia arahkan kepada menantunya itu.
Kembali, Adam dengan susah payah menelan ludahnya. Tak berani berkata satu patah kata pun, lidahnya terasa kaku untuk berucap.
Aisyah yang melihat Abi nya itu menunggu balasan dari suaminya, kini berbalik menoleh, melihat Adam yang masih diam tak bergeming.
Ia pun berusaha menyenggol suaminya itu, membuat Adam sedikit terkejut dan menatap Aisyah.
Adam melihat istrinya itu, kedua sorot mata Aisyah yang terlihat meyakinkan Adam, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Setelah melihat tatapan Aisyah itu, Adam pun membulatkan hatinya, ia harus menyelesaikan semua permasalahan ini.
"Aku bukanlah laki-laki pecundang! Cepat atau lambat Abi dan Ummi pasti tahu, jadi aku harus terus terang." Batinnya, menguatkan dirinya sendiri.
Adam pun beralih menatap kedua mertuanya itu, dimana mereka tengah sabar menunggu jawaban darinya.
"Sebelumnya, Adam ingin meminta maaf, kepada Abi dan Ummi." Dengan mata sayunya ia ucapkan permohonan maaf, Abi dan Ummi Aisyah pun kini terlihat saling bertukar pandang.
__ADS_1
"Sebenarnya, sebelum menikahi Aisyah, Adam sudah menikahi seorang wanita." Lanjutnya, ia semakin menundukkan kepalanya, takut-takut jika sang mertua tak menerima ucapannya.
Abi dan Ummi Aisyah kini terlihat sedikit terkejut, sebenarnya mereka sudah tahu beberapa hari kebelakang, disaat sang besan datang ke rumah mereka untuk meminta maaf atas kecerobohan anaknya.
Namun, seakan tak cukup mendengar penjelasan dari besannya itu, mereka memilih menanyakan langsung kepada tokoh utama nya, apalagi setelah melihat langsung menantunya itu bersama wanita lain.
Kini Abi dan Ummi Aisyah hanya bisa diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Adam. Walau ada rasa tak rela, mendengar kenyataan bahwa kini Puteri mereka telah di madu oleh suaminya sendiri.
Namun, apalah daya, kini tangan mereka telah lepas, melepaskan Puteri nya itu kepada Adam yang kini malah menyakiti hati Aisyah.
Tak berlarut, Abi dan Ummi Aisyah menatap wajah Puteri nya itu. Tersorot jelas, raut wajah sayu namun, sebuah senyum hangat yang Aisyah lukiskan di bibirnya, mampu membuat kedua orang tuanya itu sedikit tenang.
"Abi dan Ummi sudah tidak bisa berbuat apa-apa, keputusan ada di tangan Aisyah. Sejujurnya Abi sangat kecewa kepada kamu Adam, namun yang sudah terjadi biarlah, sekarang terserah pada kalian, menjalani semua ini kedepannya." Ucap Abi Aisyah kepada Adam.
Adam mengangguk patuh, ia menoleh menatap Aisyah, ada rasa bersalah yang terus mengganjal di hatinya. Membuat wanita sebaik Aisyah, harus menjalani kehidupan rumah tangga yang rumit bersamanya.
"Aisyah ikhlas Bi, Abi dan Ummi gak usah khawatir, inn shaa Allah, Aisyah bisa menjalani semua ini bersama dengan mas Adam." Timpal Aisyah, kepada sang Abi dan Ummi nya.
"Adam janji, Adam akan memperlakukan Aisyah dengan adil, inn shaa Allah Abi dan Ummi tidak perlu khawatir," lanjut Adam ikut menimpali.
"Baiklah, jika itu yang sudah kalian pilih, semoga Allah selalu senantiasa melindungi rumah tangga kalian, aamiin."
"Pesan Abi, jika ada masalah apapun, hadapi lah dengan hati dan pikiran yang dingin, jangan terbakar amarah." Lanjut Abi.
Aisyah dan Adam mengangguk, mematuhi ucapan sang Abi.
"Adam, Ummi titip Aisyah yah, kalian sudah menjadi suami istri selama 8 tahun, namun, takdir tiada yang tahu, di usia pernikahan kalian yang sudah lama ini, kalian di uji dengan sebuah cobaan, tapi Ummi yakin, inn shaa Allah, kalian berdua pasti bisa menjalaninya." Ucap Ummi dengan matanya yang berkaca-kaca.
Aisyah yang melihat Ummi nya itu pun tak kuasa menahan air matanya juga. Tetes demi tetes air mata pun terjatuh dari matanya.
Hari itu pun, akhirnya terselesaikan, dimana kini Aisyah dan Adam sudah merasa lebih lega.
Sore itu sang Abi dan Ummi nya pun berpamitan untuk pulang. Aisyah sempat menawarkan Abi dan Ummi nya itu untuk menginap, tetapi sang Abi menolak tawarannya itu, dengan alasan Rayyan adik Aisyah yang paling kecil sendirian di rumah.
__ADS_1
Walau usianya sudah mencapai 18 tahun, tapi bagi Abi dan Ummi, Rayyan masih lah anak kecil. Aisyah dan Adam pun akhirnya membiarkan mereka pergi.
Dengan Isak tangis Ali yang tak ingin kakek dan neneknya itu pergi. Kelihatannya Ali masih amat sangat merindukan sosok kakek neneknya itu.
"Cup, cup, inn shaa Allah nanti kita main ke rumah kakek dan nenek yah nak." Ucap Aisyah, mencoba membuat Ali berhenti menangis ketika mobil orang tuanya itu sudah melaju meninggalkan rumahnya.
Ali yang kini berada dalam pangkuan Adam pun menggelengkan kepala, menolak tawaran Umma nya itu.
"Ali gak mau nanti! Ali maunya sekarang! Ali kan masih mau main sama kakek!" Isak Ali.
"Cup, cup, sudah yah, Abi janji, lebaran tahun ini kita main ke rumah kakek dan nenek yah." Bujuk Adam, Ali terlihat menoleh dan menatap kedua sorot mata Abi nya itu.
"Abi janji yah! Jangan bohong!" Ucapnya, sembari menyodorkan jari kelingkingnya di depan wajah Adam.
Adam pun terkekeh kecil, melihat wajah putera nya itu yang menggemaskan. Kemudian ia pun mengangguk, mengiyakan sembari membalas sodoran jari kelingking Ali.
"Abi janji, makannya Ali jangan nangis lagi yah."
Ali pun kini mengangguk semangat, karena ia sudah mendapatkan janji sang Abi. Ali pun meminta turun dari pangkuan Adam, ia berjingkak-jingkak menuju kamarnya sembari terus bersenandung.
"Yey, yey, lebaran ke rumah kakek, yey, yey, lebaran ke rumah nenek, yey, yey!" Senandungnya.
Adam dan Aisyah pun kini terkekeh melihat tingkah menggemaskan Ali, tidak mereka sangka bahwa kini putera kecil mereka sudah tumbuh menjadi anak yang pintar merajuk.
"Anak kamu tuh," ucap Adam kepada Aisyah, sembari membawa Aisyah ke dalam pelukannya.
Aisyah kini menatap wajah suaminya itu yang terlihat tengah menggoda dirinya.
"Dih, anak siapa? Anak mas juga tau!" Balas Aisyah tak terima, dengan kekehannya.
"Iyalah anak aku juga, kalo bukan anak aku gak akan sepintar itu!" Adam melingkarkan tangannya di pinggang Aisyah.
Menatap mata indah istrinya itu, mereka berdua kini saling asyik bercanda ria di tengah ruang tamu. Seakan melupakan masalah yang tengah terjadi.
__ADS_1
Layaknya dulu,