
"Pak, ibu gak suka sama perempuan itu, masa dia pake baju aja serba pendek gitu, beda jauh sama Aisyah," ujar Bu Fatimah kepada suaminya.
Setelah siang tadi Bu Fatimah pertama bertemu dengan Erika dan Erika sangatlah jauh dari kriteria perempuan yang Bu Fatimah sukai.
Bukannya membeda-bedakan Aisyah dengan Erika, namun nyatanya Erika memang benar-benar jauh dari kata perempuan shalihah.
"Coba bapak lihat, wajahnya penuh sama make up, bajunya kekurangan bahan, ibu saja risih melihatnya, kenapa bisa pak anak kita bertemu perempuan seperti dia?" Bu Fatimah berbicara sembari bergidik ngeri mengingat pertemuannya dengan Erika tadi.
"Bu, ibu gak boleh seperti itu, Erika itu sekarang menantu kita, sama saja seperti Aisyah, tapi mungkin mereka berdua memang berbeda dalam gaya pakaian, yah ibu sabar saja, semoga ke depannya Erika bisa mendapat hidayah dari Allah." Balas Pak Alam, mencoba menasehati istrinya.
"Tapi pak, ibu tetap gak suka, lihat aja tadi mukanya, gak ada sopan sopannya, masa ibu tadi lihat dia mendelik ke arah ibu pak, astaghfirullah." Bu Fatimah menggelengkan kepalanya sembari mengucap istighfar.
"Mungkin ibu salah lihat saja, toh semua ini sudah terjadi, apa yang bisa kita lakukan, percaya saja Allah memang sudah mentakdirkan semua ini ke dalam rumah tangga anak kita Bu." Balas Pak Alam dengan nada lembut mencoba meyakinkan istrinya.
"Aamiin, semoga Aisyah bisa sabar dan kuat dalam menjalani cobaan ini yah pak, kasian dia tidak tahu apa-apa, tapi tiba-tiba terjebak dalam masalah seperti ini." Bu Fatimah menatap suaminya dengan air mata yang sudah membendung di matanya.
"Semoga saja anak kita bisa menjadi imam yang Sholeh, menjadi suami yang adil bagi kedua istrinya, aamiin." Sambungnya.
Dan di amin kan oleh pak Alam, "Aamiin Bu."
Di ruangan lain, kini Aisyah tengah bersandar di ranjangnya sembari menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya. Lebih tepatnya kamar Adam ketika bujang dulu dan sudah biasa ketika Aisyah berkunjung kesini pasti kamar inilah tempat beristirahat nya.
Namun, siang tadi Aisyah mendengar sedikit perselisihan antara suaminya dan juga Erika. Ketika Aisyah di persilahkan mertuanya untuk beristirahat di kamar suaminya, Erika merasa tak terima, karena ia juga berhak untuk menempati kamar suaminya itu.
Aisyah mendengar Erika berkata bahwa dirinyalah yang lebih berhak mendapatkan kamarnya itu. Namun, Aisyah hanya bisa diam seolah tak mendengar hal itu, ia lebih memilih diam seribu bahasa dan dengan cepat pergi ke dalam kamar untuk beristirahat bersama Ali.
Dirinya tak tahu bagaimana keadaan Erika kini yang masih tetap tak mau mengalah atau sudah bisa tenang akan masalah kecil yang ia besar-besarkan.
Aisyah memilih bodoh amat akan hal itu, yang terpenting kini ia harus bisa melepaskan segala beban di kepalanya, melihat hari ini dimana Erika sudah bertemu dengan kedua orang tua Adam, membuat Aisyah tahu bahwa tak ada jalan keluar baginya, kini Erika sudah pasti menjadi bagian dalam keluarga mas Adam.
Dirinya bukanlah satu-satunya menantu di keluarga ini dan juga bukan satu-satunya istri dari suaminya.
Tapi, daripada memikirkan hal itu berlarut-larut, Aisyah harus kuat, lagipula ia tahu dalam agamanya hal ini bukanlah suatu hal yang dilarang, pada jaman nabi pun Rasullulah memiliki banyak istri-istri hebat, yang begitu sabar dan juga kuat menjalani hari-harinya.
Dan in shaa Allah, dalam hati Aisyah sudah berniat mengikhlaskan semua hal yang sudah terjadi kembali kepada Dzat yang maha tahu, Allah SWT.
__ADS_1
Aisyah yakin, pasti ada hikmah dalam semua hal ini, semoga kesabarannya hari ini dapat menjadi amal shaleh yang menjadi bekal untuknya nanti.
Ketika sedang anteng dalam pikirannya, Aisyah tidak sadar jika kini Adam sudah berdiri di ambang pintu, menatap Aisyah yang masih melamun dalam angan-angan.
"Sedang melamunkan apa?" Ucap Adam mengejutkan Aisyah.
Tentu saja kini Aisyah tengah mengusap-usap dadanya yang berdebar-debar bukan karena cinta, melainkan keterkejutannya akan kehadiran Adam yang tiba-tiba.
"Astaghfirullah mas, bikin kaget saja." Aisyah memukul kecil bahu Adam yang kini mendudukkan bokongnya di samping Aisyah.
"Lagian kamu ngapain ngelamun gitu, nanti kesambet loh." Adam tersenyum lebar melihat wajah Aisyah yang kesal kepadanya.
"Mana ada kesambet, yang ada kamu tuh kesambet setan, bisa-bisanya ngagetin orang!" Kesal Aisyah, mencebikkan bibirnya yang kini terlihat lucu bagi Adam.
"Haha, ya maaf sayangku, lagian kamu tuh lucu kalo ngambek gini, jadi nya kan makin sayang aku tuh." Goda Adam, membuat Aisyah kini mengerutkan keningnya.
"Dih apa? Makin sayang apanya coba! Bisa aja kamu mas, mas!" Balas Aisyah dengan raut wajah jengkel melihat suaminya yang kini tengah menertawainya.
Aisyah kini tersenyum dalam hatinya, merasa mendapati suaminya kembali, setelah sekian lama hilang entah kemana.
"Udah kali mas ketawanya, nanti Ali bangun lagi." Ucap Aisyah mengingatkan Adam akan kehadiran buah hati mereka yang tengah terlelap.
Aisyah pun terkekeh kecil melihat tingkah suaminya itu, dasar.
"Aisyah," panggil mas Adam memanggil namanya, sontak Aisyah pun menatap wajah Adam.
"Ada apa mas?" Tanya Aisyah, melihat wajah suaminya itu yang kini terlihat ragu mau berkata apa.
"Sebenarnya, aku kesini ingin meminta ijin," ucap Adam kembali, dengan nada ragu.
Aisyah pun kembali mengerutkan keningnya, "Meminta ijin untuk apa mas?" Tanyanya tak mengerti.
Adam menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia seakan sulit mengatakan hal itu kepada Aisyah.
"Hm, malam ini boleh tidak jika aku tidur di kamar Erika?" Sambung Adam.
__ADS_1
Deg,
Aisyah yang mendengar penuturan Adam pun hanya bisa terdiam, ia merasakan matanya yang kini menjadi panas, membuat buliran-buliran air mata terkumpul di sudut matanya.
Aisyah segera memalingkan wajahnya, ketika air mata itu jatuh seketika tak memberi aba-aba.
Adam yang melihat Aisyah memalingkan wajahnya mencoba membawa tangannya meraih pundak Aisyah.
"Sayang," ucap Adam.
Aisyah menyeka air matanya dengan cepat, ia tak tahu harus berkata apa. Seakan baru saja ia tertawa melihat tingkah suaminya, tapi kini ia serasa hancur.
Adam merasa khawatir ketika Aisyah terus menghindari tatapannya, sampai akhirnya Aisyah menoleh dan menatap Adam kembali, dengan mata merah.
Namun, seakan menjadi pria bodoh, Adam tak menyadari hal itu.
"Kalo mas memang mau menemani mbak Erika malam ini, silahkan saja, aku gakpapa ko mas." Jawab Aisyah, dengan sebuah senyuman kecil yang ia paksakan.
"Bener gakpapa? Kalo misalka kamu gak mau, nanti aku coba bicara kepada Erika, supaya aku bisa menemani kamu malam ini." Ucap Adam.
Sebenarnya Aisyah ingin sekali mengangguk, mengiyakan tawarannya. Namun, lagi-lagi Aisyah melakukan hal berbalik dengan keinginannya.
Ia menggeleng kecil, "Aku gakpapa ko mas, biar saja mas tidur dengan mbak Erika malam ini." Balasnya lagi dengan senyuman, walau hatinya kini menangis.
Adam pun tersenyum kembali, ia mengusap kecil puncak kepala istrinya itu. "Ya sudah kalo begitu, lagi pula kamu punya Ali, kasian Erika dia sendirian." Ucap Adam yang seketika ucapannya itu membuat Aisyah semakin sakit hati.
"Memangnya jika aku punya Ali kenapa?" Batin Aisyah, toh yang ia inginkan itu suaminya.
Namun, lagi-lagi Aisyah hanya bisa diam, ia tak bisa mengeluarkan rasa kesalnya kepada Adam.
Adam pun mengecup kening Aisyah, ia tersenyum lalu pergi meninggalkan Aisyah sendirian, walau ada Ali anaknya, namun Aisyah merasa ditinggalkan sendirian kembali.
Ia butuh sosok suaminya, sosok pria yang selalu menemaninya di setiap malamnya. Namun kini, sosok pria itu malah menemani wanita lain dan meninggalkannya dalam dinginnya malam.
"Aku merindukanmu mas!" Lirih Aisyah, ketika Isak tangisnya tak bisa ia tahan lagi.
__ADS_1
Semalam itu, Aisyah menangis, ia tahu ia harus bisa terbiasa dengan hal kecil ini, nyatanya Aisyah bukanlah Aisyah istri rasullulah, yang memiliki rasa sabar yang amat besar.
Hatinya yang belum sembuh, kini kembali tergores, apa bisa Aisyah menjalani hari-harinya.