
Aisyah POV
Kini aku berjalan di belakang Ibu dan Bapak mertuaku, mengikuti langkah demi langkah kemana pun mereka pergi di sekitar kebun binatang ini.
Ya, mas Adam mengajak kami ke rumah para binatang ini. Awalnya aku sangat senang, melihat Ali yang meloncat-loncat kegirangan ketika Abi nya itu mengatakan akan mengajaknya ke kebun binatang, namun kini rasa senang itu hilang, sesaat dimana mas Adam mengucapkan kalimat yang enggan untuk ku ingat.
Kini aku hanya bisa berpura-pura baik-baik saja, tersenyum semu bak bunga layu ketika Ali memintaku untuk melihat binatang-binatang yang menurutnya menarik.
Hatiku semakin terasa hancur, disaat melihat genggaman tangan yang terus tergenggam erat di antara mas Adam dengan mbak Erika. Sedangkan kini hanya genggaman tangan Ali lah yang menguatkan aku.
"Umma, lihat Umma, itu jerapah Umma!" Teriak Ali dengan sangat antusias, mencoba memperlihatkan binatang berleher panjang itu kepadaku.
Lagi-lagi hanya sebuah senyuman yang terasa sangat berat, yang bisa ku berikan kepada puteraku itu. Aku tak bisa berkata-kata, jika satu saja kata ku ucapkan, aku yakin mulutku ini tak bisa bertahan lagi, Isak tangis lah yang akan keluar darinya.
Hancur sudah semuanya, hati yang teramat pedih tak bisa lagi untuk di perbaiki. Melihat suamiku kini bersama wanita yang lebih ia cintai.
"Aku disini mas," batinku berteriak.
"Sekali saja lihat aku di belakangmu ini mas, aku ini juga masih istrimu, tolong, ingatkah kamu jika aku masih ada disini." Kembali, suara dalam hatiku yang terus menerus berteriak meminta untuk dilepaskan.
Sampai pada saat bapak dan ibu mengajak kami untuk singgah di tempat makan sepulang dari kebun binatang, di saat aku tengah duduk berhadapan dengan pria yang ku cintai ini.
Mata kami bertemu, untuk yang pertama kali setelah seharian ini menghabiskan waktu bersama, walau terasa sendirian.
Ia menyuguhkanku sebuah senyuman hangat, namun hati ini selayaknya abu arang yang sudah terbakar habis. Hanya bisa diam tak bergeming, melihatnya yang kini menatapku dengan dahinya yang mengerut.
"Kamu mau pesan apa?" Ucap pria itu, untuk pertama kalinya juga.
Setelah seharian ini, aku yang selalu berada di belakangnya, melihatnya bersama istri lainnya.
Tak ada niatan ku untuk membalas pertanyaan nya, namun lagi-lagi mulut ini berkhianat.
"Apa saja," sebuah kata yang terlontar begitu saja, dengan sedikit parau, menahan gejolak dalam dada.
Terlihat mas Adam mengangguk begitu saja, walau dengan tatapan yang masih mengarah padaku, ia kembali tersenyum.
Namun, nyatanya hati ini lebih terluka, tak bisa terobati begitu saja dengan hal kecil yang ia berikan.
"Aisyah, kamu kenapa nak?" Tanya ibu mertuaku yang kini duduk di samping kiri ku.
__ADS_1
Aku pun menoleh, melihat wajahnya yang kini menatapku dengan mata sedikit menyipit.
"Gak papa ko Bu," Balasku mencoba terlihat baik-baik saja.
Ku paksakan sebuah senyuman tercetak di bibirku, walau sulit. "Memangnya kenapa Bu?" Tanyaku balik padanya seakan meyakinkan bahwa diriku ini memang baik-baik saja.
Ibu menggelengkan kepalanya pelan, ia tersenyum hangat, membawa tangannya memegang salah satu tanganku seolah-olah tengah menguatkan diriku.
Tiba-tiba mata ini terasa panas, aku langsung saja menundukkan wajahku, menatap nanar pada tanganku yang tengah ia genggam.
"Tolong aku Bu, tolong aku." Ucapku lirih, terdengar samar di telinganya.
Dada ini bergemuruh, terasa sesak membuat nafasku tersengal-sengal. Untungnya Ibu mertuaku memahami keadaanku saat ini, ia seakan berdialog kepada orang-orang disana, memintaku untuk menemaninya ke toilet.
Aku pun hanya mengangguk kecil, lalu pergi dengan rangkulannya, memapah ku ke arah toilet.
"Lepaskanlah, ibu tahu ini sangat menyakitkan." Ucap Ibu kepadaku, ia menepuk-nepuk lembut punggungku.
Tak kuasa lagi menahannya, aku menangis sesenggukan, rasanya begitu sakit, dada ini terasa sangat sesak, membuatku mulai memukul-mukul kecilnya.
"A-aisyah tidak bi-bisa Bu, Aisyah tidak sanggup." Ucapku dengan terbata-bata.
Sesekali ia menyeka matanya, seakan tak ingin aku melihatnya. "Bagaimana jika Aisyah menyerah Bu, ini terlalu menyakitkan Bu." Ucapku lagi, ia terlihat menggelengkan kepalanya.
"Jangan nak, ibu memohon padamu, anak ibu masih membutuhkan kamu, tolong maafkan Adam nak." Balasnya, ia juga terisak dalam tangisnya.
Ada rasa iba, namun hati ini memang tak sanggup, bagaimana kedepannya aku bisa kuat jika sampai sini saja hati ini sudah hancur.
"Adam masih membutuhkan kamu nak, ibu mohon, bertahanlah demi ibu." Ucapnya, seakan menguatkan ku.
"Lihat Ali, nak Ali masih membutuhkan Abi nya, tolong setidaknya kuatlah untuk dia." Sambungnya, seakan memberikan alasan kepadaku untuk tetap bertahan.
Tak bisa berkata-kata lagi, hanya Isak tangis yang keluar dari mulut ini. Ibu pun membawaku ke dalam pelukannya, sebuah pelukannya hangat yang kini setidaknya membuatku sedikit terobati.
Setelah puas mengeluarkan semua air mata ini sampai terasa kering, walau nyatanya rasa sakit di hati masih belum terobati.
Aku dan ibu pun kembali ke meja dimana mas Adam tengah bercanda ria bersama mbak Erika, Ali juga bapak.
Ku tarik nafas ini, mencoba menguatkan diriku sendiri, sebuah senyuman tersungging di bibir tipisku ini.
__ADS_1
Ibu mengusap lembut punggungku, ia kembali mencoba menguatkan aku yang rapuh. Aku pun hanya mengangguk kecil, sampai akhirnya aku kembali duduk di hadapan pria tersangka yang telah membunuh hati ini.
Aku pun mencoba melewati semua itu dengan senyuman, selama itu mas Adam terlihat beberapa kali menatap dan tersenyum kepadaku.
Sampai akhirnya hari ini selesai dengan sedikit berat, aku pun dengan cepat berjalan ke arah kamar bersama Ali yang berjalan bergandengan denganku.
Terdengar suara langkah kaki mengikuti ku dari belakang, awalnya ku biarkan, tetapi sesaat aku memasuki kamar dan menutup pintu, pintu itu kembali terbuka, menampakkan mas Adam yang kini berjalan ke arahku.
"Ada apa mas?" Ucapku tiba-tiba tanpa rem.
Mas Adam tersenyum kecil, ia terus mendekat sampai tubuhnya hanya berjarak sejengkal dari tubuhku.
Tanpa aba-aba mas Adam menjatuhkan badannya memelukku, aku pun hanya bisa diam tak bergeming dengan pupil mataku yang melebar tergemap mendapatkan sebuah pelukan dari mas Adam.
"Aku merindukanmu Aisyah." Ucapnya lembut tepat di telingaku.
Sedikit membuat bulu kudukku merinding, bukan karena takut, tetapi terkejut dengan ucapannya.
"Aku merindukan kamu, bagaimana bisa aku hidup tanpa kamu jika begini." Ucapnya lagi, ia menelusukkan wajahnya ke leherku.
Aku yang masih diam tak bergeming, membuatnya kini melepaskan pelukannya, ia memegangi kedua lenganku, menatapku dengan sedikit meneliti.
"Apa kamu tidak merindukan suamimu ini?" Tanyanya, dengan nada yang mendayu-dayu seakan sedang menggodaku.
Kalian tahu apa yang kini aku lakukan.
Aku terkekeh kecil, namun sebuah buliran air mata juga ikut menghiasi kekehanku ini, di lanjutkan dengan sebuah isak tangis, yang kini membuat mas Adam menatap ku dengan khawatir.
"Aisyah, kenapa? Kenapa menangis?" Ia menangkup wajahku, pandanganku yang semakin melebur, tertutup air mata yang terus keluar tanpa jeda.
"Maafkan aku, maafkan aku." Ucapnya, aku kembali mendapatkan sebuah pelukan.
Sedangkan Ali kini menatapku dan mas Adam dengan bingung, sesaat setelah itu ia ikut menangis, menemaniku, seakan tahu bagaimana perasaanku saat ini.
Aku dan mas Adam pun berjongkok menyetarakan tinggiku dengannya. "Ssstt.. sayang, kenapa menangis, ya Allah sebenarnya kenapa dengan kalian berdua?" Ucap mas Adam kebingungan mendapati aku dan Ali menangis bersamaan.
Ia pun kembali membawaku ke dalam pelukannya, namun yang berbeda kini Ali juga berada dalam satu pelukannya.
Ia menepuk-nepuk punggungku lembut, begitu juga dengan punggung Ali. Di satu saat mas Adam begitu menghancurkan hatiku, tetapi ada saat dimana ia bisa kembali membuat hatiku yang sudah hancur ini kembali tertata.
__ADS_1
Apa bisa aku melanjutkan semua ini?