
Adam berjalan bersampingan dengan Aisyah yang kini memejamkan matanya tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit. Keringat membasahi pelipisnya, cemas melihat sang istri yang kini terbaring lemas.
Langkah itu akhirnya berhenti, ia hanya bisa melihat, mengawasi Aisyah yang kini tengah di tangani oleh tim medis. Tangannya memeluk punggung kecil itu, mengusap pelan, menenangkan sang putra yang berada dalam pangkuannya.
"Ali jangan nangis lagi yah, Umma gakpapa ko, sekarang Umma udah di periksa dokter," ujar Adam, mencoba menenangkan Ali yang sedari tadi terus menangis.
"Ali takut Abi! Umma kapan bangun Abi?" Tanya Ali dengan isak tangis.
Adam terus mengusap lembut punggung putranya itu, kemudian menurunkannya, menyuruh Ali untuk berdiri tegap, bersama dengan dirinya yang kini berjongkok menyetarakan tingginya.
"Ali sayang, Abi yakin, Umma Ali itu kuat, in shaa Allah, sebentar lagi Umma pasti bakalan bangun," kedua tanganya ia letakkan di pundak mungil sang anak.
Adam juga mengembangkan senyuman, meyakinkan Ali bahwa Ummanya itu baik-baik saja. Ali pun mengangguk, ia dengan cepat menyeka air matanya itu.
"Iya Abi," sahutnya, masih sesenggukan.
Adam pun mengusap puncak kepala Ali dan berkata, "anak pintar,".
Kemudian, mereka berdua pun duduk di sebuah kursi tak jauh dari ranjang di mana Aisyah terbaring. Adam kini hanya bisa menatap ke arah Aisyah sembari mengucap doa di dalam hati, berharap istrinya itu baik-baik saja.
Drrtt... Drrtt... Drrtt...
Ponselnya bergetar, Adam langsung saja merogoh saku celananya, membawa benda pipih itu ke samping telinganya.
"Assalamualaikum, kenapa?" Adam mengangkat telpon yang mana Erika lah yang menghubunginya.
"Mas dimana? Mas udah di rumah sakit?" Sahut Erika, menanyakan keberadaan suaminya itu.
Adam menghembuskan nafasnya sedikit berat, ingat janjinya kepada Erika, "iya, mas sudah di rumah sakit," balas Adam.
"Ya sudah, mas cepet dong ke sini! Sebentar lagi no antrian aku, awas aja kalo mas telat sampe ke sini!"
Adam memijat pelipisnya, bingung dengan keadaannya, di sisi lain istrinya tengah terbaring tak sadarkan diri, satu istrinya lagi kini tengah mengantri untuk memeriksakan kehamilannya yang pertama.
Jadi, dimana seharusnya Adam berada?.
"Mas! Ko diem sih! Awas aja sampe kamu gak bisa ke sini! Emangnya si Aisyah itu beneran pingsan! Kenapa ribet banget sih, pake pingsan segala, kalo sakit yah ke dokter, malah nyusahin orang aja!" Gerutu Erika kesal, Adam kini hanya bisa memejamkan matanya merasa jengah.
"Ya sudah, sebentar lagi mas ke sana," ucap Adam.
Tentu Erika kini tersenyum senang, ia merasa menang dari Aisyah. "Oke, mas cepet yah ke sini! Jangan lama!" Ujarnya lagi, Adam pun mengiyakan lalu segera menutup panggilannya itu.
Dengan wajah lelah, Adam kini menoleh ke arah Ali, ia tersenyum, "Ali sayang, kita pergi ke atas dulu sebentar yuk, di atas ada Tante Erika, Ali mau ikut kan," bujuk Adam.
__ADS_1
Awalnya Ali menolak, enggan untuk meninggalkan Ummanya, tapi sebisa mungkin Adam membujuk Ali, sampai berbohong bahwa Erika tengah tersesat untuk menengok Ummanya itu.
"Makanya, kita harus cepet jemput Tante Erika, biar dia bisa cepet tengok Umma, dan doain Umma supaya cepet bangun, yah nak," bohong Adam yang berhasil membuat Ali mengangguk setuju.
Sebelum melenggang pergi, Adam menoleh ke belakang, menatap Aisyah yang masih memejamkan matanya, ada sedikit rasa bersalah, meninggalkannya dalam keadaan seperti itu.
Namun, apa boleh buat, Aisyah bukanlah istri satu-satunya yang membutuhkan dirinya saat ini. Maka dari itu, dalam keadaan seperti ini pun, Aisyah harus ikhlas membagi sang suami dengan madunya.
Setelah Adam pergi, kini Aisyah hanya sendirian, terbaring di ranjang dengan di kelilingi suster yang tengah memasang infus di lengannya.
Tak lama, datanglah seorang pria memakai jas putih, kedatangannya mampu mengalihkan semua perhatian di bangsal itu. Mengapa bisa?.
Bagaimana tidak, dengan parasnya yang begitu tampan, rambut yang tebal berwarna hitam legam, tubuhnya yang bak model internasional, pria setampan itu adalah seorang Dokter.
Dokter Rizal, dokter yang terkenal akan ketampanannya di rumah sakit itu.
Penampilannya yang begitu memukau tentu membuat orang-orang menggila, ada Dokter setampan itu, batin semua orang yang mengagumi parasnya.
"Bagaimana sus?" Ucap Dokter Rizal, ia kemudian membawa stetoskopnya, lanjut memeriksa Aisyah yang masih terpejam.
"Dia di temukan pingsan di rumahnya dok," balas sang suster yang di balas dengan sebuah anggukan.
"Sudah cek darah dan rotgen?" Tanyanya lagi, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Aisyah.
"Ya sudah, jika hasilnya sudah keluar langsung kirimkan ke ruangan saya." Ucap Rizal lalu berjalan ke arah pasien yang lainnya.
"Cantik," gumam Dokter itu, dengan sebuah senyuman kecil.
"Kenapa dok?" Tanya suster yang samar-samar mendengar gumamnya.
Dokter Rizal malah tertawa dan melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan pertanyaan sang suster.
RUANGAN DOKTER KANDUNGAN
Di sisi lain, kini Adam tengah tersenyum lebar, mendengar penjelasan Dokter yang kini mengatakan bahwa Erika benar-benar tengah mengandung.
"Alhamdulillah, jadi istri saya hamil Dok?" Adam berbinar, senang dengan berita yang di bawa Dokter kandungan itu.
"Iya Pak, benar, istri Bapak tengah mengandung, usia kehamilannya baru 3 Minggu pak," jelas dokter lagi.
Tentu Erika kini tersenyum lebar, sama senangnya dengan Adam, anak yang ia tunggu-tunggu akhirnya kini tumbuh di dalam perutnya.
Erika menoleh, menatap kedua mata Adam, keduanya pun saling menukar tatap bahagia, "aku hamil mas," ucap Erika, Adam mengangguk mengusap lembut puncak kepalanya.
__ADS_1
"Iya sayang, Alhamdulillah,"
"Tante Erika punya adek bayi?" Ucap Ali, sembari mendongak menatap Abinya.
Adam tersenyum, ia mengangguk kecil, "iya sayang, Tante Erika bakalan punya Dede bayi, sekarang adek bayinya masih ada di perut Tante Erika," balas Adam, memberi balasan atas pertanyaan yang Ali lontarkan.
"Sebentar lagi Ali bakalan punya adek, Ali senang gak?" Lanjut Adam, balik bertanya pada putranya itu.
"Adek?" Ucap Ali dengan kening berkerut.
"Jadi, bukan Umma yang punya adek bayi di perutnya? Tapi, Tante Erika?" Tambah Ali, Adam kini terdiam mendengar penuturan putranya itu.
Adam kembali mengembangkan senyumannya, "iya sayang, yang hamil itu Tante Erika, bukan Umma," jelas Abi nya.
Ali sontak menggeleng, "Ali gak mau! Ali gak mau punya adek dari Tante Erika! Ali maunya dari Umma!" Teriak Ali tiba-tiba.
Adam terkejut, sama halnya dengan Erika juga dokter yang kini mendengar pembicaraan antara anak dan ayahnya itu.
Adam seketika berusaha menenangkan Ali, ia tak menyangka Ali akan bereaksi seperti itu. "Sstt, sudah yah nak, sudah, jangan nangis seperti ini," bujuk Adam, ia membawa Ali ke dalam pangkuannya.
Berbeda dengan Adam yang sibuk menenangkan Ali, kini Erika menatap mereka dengan raut wajah kesal, matanya yang melotot dengan dahi yang berkerut, di tambah dengan bibir yang ia tekuk ke bawah.
"Makasih yah dok, saya pamit pulang," ujar Erika akhirnya, merasa tidak enak dengan Dokternya.
Ia pun bangkit dan berjalan mendahului Adam, hentakan kaki Erika jelas terdengar, memberi tanda bahwa ia marah besar.
"Dasar anak nakal! Bisa-bisanya nangis keras kaya gitu di depan Dokter!" Bentak Erika selepas keluar dari ruangan Dokter kandungannya.
Ali yang mendengar ucapan Erika semakin membesarkan tangisannya, Adam yang kewalahan pun kini menatap Erika dengan sedikit tajam.
"Bicara apa kamu Erika!" Tukas Adam.
"Apa mas? Memangnya aku salah bicara, anak kamu itu memang nakal, bisa-bisanya dia nangis kejer begitu di dalam, malu aku mas, memang yah, Aisyah itu gak bisa didik anaknya, sama aja kaya ibunya bikin malu!" Sahut Erika, seakan tak merasa salah dengan ucapannya.
Adam takjub, mendengar penuturan Erika yang sangat mulus keluar dari mulutnya itu.
"Astaghfirullah," lirih Adam, mencoba meredakan emosinya.
Bagaimanapun Erika itu adalah istrinya, apalagi kini Erika sedang mengandung, Adam hanya berpikir mungkin itu adalah hormon ibu hamil, yang sering kali sensitif pada hal kecil.
Maka dari itu, Adam mencoba sabar dan memaklumi sifatnya itu. Untunglah Adam beruntung, dia adalah antrian yang terakhir, jadi tidak banyak orang di luar ruangan yang melihat perdebatan keluarga kecilnya itu.
Adam kembali menenangkan putranya itu yang masih terisak sesenggukan, ia hiraukan Erika yang kini masih menatapnya tajam.
__ADS_1