ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 15 Kedatangan Abi dan Ummi


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Adam dengan istri-istrinya akan pulang. Sedari pagi, Aisyah sudah membenahi segala barang bawaannya untuk pulang nanti.


Sedang kini Erika tengah merajuk di kamarnya, ia menagih janji Adam untuk mengantarnya pergi ke dokter kandungan. Namun ternyata, Adam tidak bisa mengantarnya hari ini, karena ada sedikit masalah di kantornya, menyebabkan Adam harus cepat-cepat pergi ke kantor setelah mengantar kedua istrinya ini pulang.


"Mas, kok mas gitu sih! Mas kan sudah janji sama aku!" Ucap Erika yang merasa tak terima.


Adam membalikkan tubuhnya menatap sang istri, ia memijit bagian atas hidungnya seakan pusing dengan ocehan Erika.


"Sayang, mas minta maaf, tapi mas juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan mas sekarang." Balas Adam, ia menatap Erika dengan alis yang bertautan.


"Ya tapi kan, mas sudah janji! Mas bisa kan menyuruh asisten atau sekretaris mas saja! Kenapa harus aku yang mengalah mas!" Erika seakan tak mengerti keadaan suaminya kini.


"Erika, tolong mengerti sekali ini saja, mas tahu kamu pasti kesal, tapi mas memang tidak bisa menyerahkan pekerjaan ini kepada siapapun lagi, tolong," ucapnya membujuk Erika.


Adam kini ikut duduk di samping Erika, menatap wajah kesal istrinya itu. "Mas janji, setelah pekerjaan ini selesai mas pasti akan mengantarmu ke dokter kandungan secepatnya." Tawar Adam, ia seakan tengah membujuk anak berusia 5 tahun.


Erika yang masih mencebikkan wajahnya pun kini mulai luluh dengan tawaran Adam, ia menyipitkan matanya, lalu bertanya, "Apa mas janji?"


Adam mengangguk dengan cepat, matanya yang berbinar seakan meyakinkan Erika akan ucapannya itu.


"Baiklah, tapi mas tidak boleh berbohong lagi! Mas harus cepat menyelesaikan pekerjaan itu dan menemani aku ke dokter kandungan!" Ucap Erika akhirnya, Adam pun akhirnya bisa bernafas lega.


Ia memeluk Erika yang masih cemberut, istrinya itu memang agak sedikit keras kepala, tapi menurut Adam Erika itu menggemaskan. Berbeda dengan Aisyah yang selalu mengerti dan jarang merajuk seperti Erika, Adam merasa Aisyah terlalu dewasa.


Walau terkadang sifat itu sangat membantu dan tidak menyulitkannya, tetapi Adam juga sebenarnya suka dengan sifat manja Erika yang jarang ia temukan dari Aisyah.


"Ya sudah, kamu siap-siap dulu, mas tunggu di luar yah." Ucap Adam, lalu pergi ke depan untuk menemui kedua orang tuanya.


Akhirnya, setelah beberapa jam perjalanan kini Aisyah sudah berada di rumahnya. Aisyah melihat Adam yang mencoba membantunya menurunkan tas dari dalam bagasi.


"Maafkan mas harus langsung pergi," ucap Adam merasa bersalah kepada Aisyah.


Aisyah pun menggelengkan kepalanya pelan, ia tersenyum dan berkata, "Aku tidak apa-apa mas, lagipula mas sudah lama mengambil cuti, mas harus kembali mengurus pekerjaan mas."


Seperti yang Adam bilang, Aisyah itu pasti akan mengerti dengan keadaannya, berbeda dengan Erika.


Adam pun kembali tersenyum, ia mengusap puncak kepala istrinya itu. "Setelah pekerjaan ini selesai, mas janji akan secepatnya pulang dan menemani kalian berdua." Ucap Adam lagi, ia menatap istri dan anaknya itu, memberikan mereka kecupan kecil sebelum akhirnya berpamitan pergi.


"Dahh, Abi!" Teriak Ali, melambaikan tangannya kepada Adam yang sudah berada di dalam mobil bersama Erika.


Ada rasa pilu, ketika melihat sang suami yang kini pergi meninggalkannya bersama wanita lain. Kalian pasti sudah sangat bosan mendengar hal ini, tapi nyatanya hati Aisyah memang belum sepenuhnya ikhlas.


Sulit, bagaimanapun Aisyah hanyalah wanita biasa, yang sulit untuk mengikhlaskan keadaannya kini, sebagai seorang wanita yang harus membagi suaminya dengan wanita lain.

__ADS_1


Di hari itu, Aisyah sibuk membersihkan rumahnya yang sudah selama beberapa hari ia tinggalkan. Sampai pada sore hari, ia berharap menunggu kepulangan suaminya itu, namun ternyata Adam tak kunjung datang.


Ternyata, sang suami mengiriminya sebuah pesan yang menyatakan bahwa ia akan menginap di rumah istrinya yang lain. Kembali rasa sedih menjalar di hatinya, walau begitu Aisyah mencoba tak terlalu memikirkannya. Ia pun lebih memilih beristirahat daripada terus berlarut-larut dalam kesedihannya.


Keesokan harinya, Aisyah bangun seperti biasanya, melakukan kegiatan yang terus berulang di setiap harinya. Namun, pagi ini ia kedatangann seorang tamu, yang tak lain ialah orang tuanya sendiri.


"Abi, Ummi, kenapa tidak bilang dulu kepada Aisyah jika mau kesini?" Ucap Aisyah sembari menyuguhi kedua orang tuanya itu dengan secangkir teh hangat.


Sebenarnya, Aisyah sama sekali belum menceritakan apa yang sudah terjadi dalam rumah tangganya selama sebulan ini kepada mereka. Aisyah sebenarnya takut, ia takut jika Abi dan Umminya itu akan kecewa kepada Adam. Maka dari itu, Aisyah mencoba merahasiakan hal itu dari kedua orang tuanya.


"Memangnya tidak boleh jika Ummi dan Abi menjenguk anak sendiri?" Ucap Umminya, Aisyah terlihat tersenyum canggung.


Ia sebenarnya senang bisa bertemu Ummi dan Abinya itu, setelah sekian lama tak bertemu, tetapi, ada rasa gundah dalam hati, takut-takut jika hal yang ia rahasiakan akan terungkap.


"Dimana suamimu nak? Apa dia sudah berangkat kerja?" Tanya sang Abi, Aisyah pun mengangguk, mengiyakan pertanyaan Abi nya itu.


"Mas Adam sudah berangkat kerja, memangnya ada apa sampai Abi dan Ummi datang jauh-jauh kemari?" Tanya Aisyah, membuat Abi dan Ummi nya itu saling bertatapan.


Akhirnya sang Abi pun kembali menatap Aisyah, terlihat raut wajah khawatir yang tersirat. "Aisyah, sebenarnya Abi dan Ummi mu ini ingin menanyakan sesuatu." Jawab Abi nya.


Aisyah sedikit menelan ludahnya dengan sedikit susah payah, ia bertanya kembali kepada Abi nya itu, "Bertanya apa Abi?" Ucapnya.


"Nanti saja, sepulang suamimu, lagipula Abi dan Ummi mu ini juga sudah lama tidak bertemu dengan cucu kesayangan kami, dimana dia nak?" Jawab Abi Aisyah, seakan enggan memberitahukannya kepada Aisyah.


Tak lama Aisyah kembali dengan sang anak, Ali berlari kecil, ia dengan cepat memeluk kedua kakek dan neneknya itu. Bercerita banyak hal, tentang pengalaman barunya, seharian itu, Abi dan Ummi Aisyah bermain dengan cucu mereka.


Menghilangkan rasa rindu yang teramat kepada cucu kecilnya itu. Sedangkan Aisyah, merasa kebingungan, ia terus saja mengirimi suaminya itu pesan.


Memberitahukan tentang kedatangan orang tuanya itu, ia takut jika Adam tidak akan pulang ke rumahnya hari itu. Maka Aisyah terus mengirimi Adam pesan, berharap Adam bisa pulang ke rumahnya hari itu juga.


Disaat Aisyah yang kini telah gundah, menunggu kepulangan Adam. Erika kini tengah merajuk-rajuk kepada suaminya itu, ia terus mengikuti kemana Adam pergi di dalam apartemennya.


"Tidak mas! Tidak! Aku tidak mengizinkan mas untuk pulang ke rumah Aisyah!" Seru Erika, ia selalu saja menjadi benalu disaat Adam hendak menemui Aisyah.


"Selalu! Selalu saja seperti ini! Tidak bisakah kamu dewasa seperti Aisyah!" Balas Adam, ia seakan bosan dengan sifat kekanak-kanakkan Erika.


Kini Erika membelakak, merasa tidak terima dengan ucapan Adam yang membandingkan dirinya dengan Aisyah.


"Apa katamu mas! Dewasa!" Serunya dengan wajah yang memerah.


"Kamu mulai membandingkan aku dengan wanita itu! Kejam kamu mas!" Lanjutnya, ia menatap Adam dengan tajam, mendorong tubuh Adam pelan, seakan tak terima.


Adam yang sadar bahwa dia sudah salah mengucapkan kata-katanya, kini merasa frustasi. "Erika! Tolong, jangan memulainya! Aku hanya meminta ijin mu untuk menemui Aisyah! Jangan terus seperti ini! Aku tidak mau bertengkar denganmu, sayang."

__ADS_1


Adam mencoba untuk bersabar, meredakan emosinya. Ia harus ekstra sabar dalam berurusan dengan istri satunya ini.


"Siapa yang memulai duluan! Kamu sendiri mas! Kamu membandingkan aku dengan wanita murahan itu!" Balas Erika, ia berteriak kencang kepada suaminya itu.


"Baik, baik aku mengaku aku salah, tapi aku mohon sudah cukup, tolong mengerti." Adam mencoba mengalah, ia tak ingin memperpanjang masalah kecil ini.


Tapi, Erika sepertinya enggan untuk mengakhiri pertengkaran mereka ini dengan begitu saja.


"Cukup! Apa maksudmu cukup! Kamu seakan menyalahkan aku yang memulai semua ini! Padahal kamu mas! Kamu yang membuat semua ini menjadi rumit!" Teriaknya lagi, masih merasa tak terima.


Adam merasa kebingungan, harus bagaimana lagi ia menyikapi sifat keras kepala Erika. Memang tidak mudah, tapi Adam harus bisa bersabar.


Ia mencoba mendekat, membawa kedua tangannya meraih pundak Erika, tetapi Erika kembali menolak upaya Adam itu.


"Lepaskan aku mas!" Ucapnya, sembari melepaskan tangan Adam itu.


"Erika aku mohon! Tolong! Tolong mengerti! Selalu saja akhirnya seperti ini. Setiap kali aku membahas tentang Aisyah, pasti ada pertengkaran, aku tidak ingin terus seperti ini!" Ucap Adam yang sudah sangat kebingungan.


Ia seperti memohon kepada istrinya itu untuk menghentikan semua pertikaian kecil ini.


"Itu masalahnya mas! Masalahnya adalah wanita itu! Seharusnya dari awal wanita itu tidak ada! Mengapa mas harus membawa dia ke dalam kehidupanku!" Erika kembali berteriak bak wanita gila. Ia mengacak rambutnya frustasi, seperti tak mengkhawatirkan lagi penampilannya di depan Adam.


"ERIKA! SUDAH CUKUP!" Balas Adam, dengan nada yang sedikit tinggi, membuat Erika kini diam tak bergeming.


Adam yang menyadari bahwa dirinya sudah membuat Erika terkejut, kini mulai merendahkan nadanya. "Maafkan aku," ucapnya.


Kini Erika menumpahkan air matanya, seakan terkejut dengan bentakan yang keluar dari mulut Adam tadi.


"Maafkan aku, maafkan aku sudah terlalu kasar kepadamu." Adam membawa Erika ke dalam pelukannya, ia merasa bersalah.


Akhirnya, Adam mencoba menenangkan dulu istrinya itu, sampai setelah Erika tenang, Adam mencoba membujuknya. Ia berjanji, setelah hari itu Adam akan cepat pulang dan menemaninya kembali.


"Kamu janji mas!" Ucap Erika memastikan.


"Aku janji, setelah orang tua Aisyah pulang, aku akan cepat kembali kesini dan menemanimu, aku janji." Balas ada mencoba meyakinkannya.


Masih dalam pelukannya, Erika kini menyandarkan kepalanya ke dada Adam. Bak anak kecil yang tengah merajuk pada ayahnya.


"Pegang janji mu mas! Aku tak mau kamu berlama-lama dengan wanita itu! Setelah urusanmu selesai, kamu harus cepat kembali!" Ucapnya lagi, Adam pun mengangguk patuh.


Ia tak sadar jika kini, Adam telah bersikap lebih condong pada istri satunya ini. Ia berada dalam genggaman tangan Erika, tak memikirkan perasaan Aisyah yang juga ingin di perlakukan sama seperti Erika.


Namun, apalah daya Adam yang tidak bisa menolak permintaan Erika, bodoh. Ya, Adam adalah laki-laki bodoh yang berpikir bahwa dirinya bisa adil kepada kedua istrinya, tetapi, nyatanya nihil.

__ADS_1


Lagi dan lagi, Aisyah lah yang menjadi korban.


__ADS_2