
Aisyah melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, diikuti Adam juga Erika. Ia langsung saja naik ke lantai dua, menuju kamarnya.
Ia berniat beristirahat sejenak, walau sudah seharian diam di atas ranjang rumah sakit. Rasanya tetap saja beda, lebih nyaman membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk di rumah sendiri.
"Hah," Aisyah menghela nafasnya.
Mencoba mengenyahkan segala pikiran yang membuatnya pusing.
"Aisyah! Aisyah!" teriak Erika.
Aisyah yang mendengar panggilan itu kini hanya bisa menghembuskan nafasnya sedikit kasar.
Baru saja merasa tenang, pikirnya.
Aisyah bangkit dan melangkah keluar kamar, mendekat ke arah Erika yang kini terus memanggil namanya.
"Aisyah!" pekik Erika.
"Kenapa, mau apa kamu panggil Aisyah?" tanya Adam. "Biarkan Aisyah beristirahat," lanjutnya, menegur Erika.
"Apa sih Mas, lagian ini kan rumahnya Aisyah, aku kan gak enak kalo harus pegang ini pegang itu." sahutnya.
"Makannya aku mau minta tolong, lagian Aisyah kan udah dari kemaren istirahat, tiduran di Rumah Sakit," seru Erika merasa tak terima mendapat teguran dari Adam.
Erika kesal, melihat Adam yang memperhatikan Aisyah.
Aisyah berjalan menuruni tangga, berjalan ke arah Erika dan Adam.
"Ada apa Mbak?" tanya Aisyah.
Erika menoleh, lalu berkata, "Tolong buatin sarapan dong, Aku laper nih."
"Mas Adam juga belum sarapan, Kamu tolong cepet bikinin makanan yah," lanjut Erika, menyuruh Aisyah dengan seenaknya.
Adam membelakak, takjub mendengar apa yang Erika ucapkan. Begitu mudahnya Erika berucap seperti air yang mengalir, tanpa merasa bersalah atau tak enak.
"Erika!" tegur Adam.
Erika balik melotot, tak terima terus mendapatkan teguran dari suaminya itu.
"Apa sih Mas!" ketus Erika.
Adam langsung saja memalingkan wajahnya, menatap Aisyah. "Sudah, Kamu istirahat saja. Biar Mas beli makanan dari luar." ujar Adam kepada Aisyah.
Aisyah mengangguk, tak berniat menolak perintah suaminya itu. Toh, Aisyah juga masih merasa sedikit lemas, tak menyangka Erika seberani itu menyuruhnya untuk memasak.
Aisyah benar-benar tak habis pikir.
"Gak, Aku gak mau beli di luar Mas! Aku ini lagi hamil, harus makan-makanan yang bersih, yang sehat."
"Kalo beli di luar Kita kan gak tau, makanannya sehat apa ngga!" seru Erika.
Adam memijit pelipisnya, jengah dengan sikap Erika.
"Ya sudah kalo begitu Kamu sendiri saja yang masak!" sentak Adam tak tertahan.
Erika seketika diam, menatap Adam dengan mata yang berkaca-kaca. Tak terima mendapat bentakan dari suaminya.
"Jahat Kamu Mas!" Erika meremas bajunya, menahan rasa sakit tak terima dengan perlakuan Adam.
Adam menghembuskan nafasnya kasar, tak sadar sudah menyentak Erika. Ia langsung saja membawa kedua tangannya memegang pundak Erika, mencoba meminta maaf.
__ADS_1
"Maaf, maafkan Mas sudah berteriak seperti itu," ungkap Adam.
Aisyah yang melihat hal itu, kini membalikkan tubuhnya memilih pergi daripada harus melihat drama di antara Adam juga Erika.
Padahal hanya masalah makanan dan memasak. Harus sampai seperti itu, pikir Aisyah.
Ia langkahkan kakinya menuju dapur, toh Aisyah juga merasakan hal yang sama, lapar. Akhirnya Aisyah langsung saja mencari bahan-bahan masakan yang ada di kulkas dan bersiap untuk membuat sarapan.
Terdengar suara bising dari arah ruang tengah, di mana Adam dan Erika mungkin masih melanjutkan dramanya.
Tetapi, Aisyah tak menghiraukan hal itu, dan lanjut berkecimpung dengan bahan-bahan masakannya.
***
Tok... Tok... Tok...
"Assalamualaikum," ucap seseorang mengetuk pintu rumah Aisyah.
Aisyah yang masih berada di dapur tak mendengar hal itu. Berbeda dengan Adam dan Erika yang kini baru saja berbaikan dan duduk di ruang tengah.
"Siapa?" tanya Erika.
Adam akhirnya bangkit, berjalan menuju pintu depan, berniat melihat siapa gerangan yang sudah mengetuk pintu rumahnya.
"Dokter Rizal?" seru Adam di saat melihat Rizal yang kini berdiri di depan pintu rumahnya.
Rizal tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya.
"Selamat siang, saya baru pindah kemaren ke rumah depan." ujar Rizal, sembari menunjuk rumahnya.
Adam terdiam kikuk, aneh juga bingung. Di saat itu, Rizal dengan cepat menyodorkan sebuah bingkisan berisikan buah-buahan.
Adam menerima bingkisan itu dengan sebuah senyuman tipis. "Ah, te-terima kasih Dok," balasnya sedikit terbata.
"Panggil Rizal saja, Pak..." ucap Rizal, sembari berniat menyebut nama tetangganya yang belum ia ketahui.
"Adam," sahut Adam. "panggil Adam saja," ujarnya.
Rizal tersenyum lebar, ia mengangguk dengan wajah yang terus celingak-celinguk melihat ke dalam rumah Aisyah.
Adam yang melihat hal itu mengerutkan keningnya, bingung dengan tingkah Rizal yang belum juga pergi meninggalkan rumahnya.
"Mau mampir dulu?" tanya Adam.
mata Rizal membulat dengan sebuah binar, ia langsung saja mengangguk antusias.
"Boleh!" jawabnya semangat.
Adam pun langsung mempersilahkan Rizal untuk masuk ke dalam rumahnya. menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, melihat Rizal yang begitu bergembira masuk ke dalam rumahnya.
"Aneh," gumam Adam.
Rizal masuk dan langsung duduk di ruang tamu dengan wajah yang masih celingak-celinguk mencari keberadaan Aisyah.
"Mau teh atau kopi?" tanya Adam, menawarkan minuman.
Rizal tersenyum lalu berucap, "Teh saja."
Dengan jawaban itu, Adam berlalu pergi meninggalkan Rizal yang kini duduk sendirian di ruang tamu.
Rizal mengedarkan pandangannya, melihat ruang tamu Aisyah yang terlihat begitu bersih dan tertata rapih. Setelah melihat ruangan ini, Rizal seakan yakin, bahwa biru adalah warna kesukaan Aisyah.
__ADS_1
Rizal juga melihat sebuah foto yang terpajang di ruangan ini. Foto berisikan wajah Aisyah bersama Adam dan Ali, rasanya sedikit sedih melihat foto itu.
Rizal merasa tersadarkan bahwa wanita yang ia cintai sudah di miliki pria lain. Namun, dengan cepat Rizal mengenyahkan rasa sedih itu.
"Gakpapa, harus PD, jodoh di tangan Allah." batin Rizal, menyemangati dirinya sendiri.
Seakan tak sadar bahwa kini ia telah mendambakan wanita yang sudah bersuami.
***
"Aisyah, Mas kan sudah bilang, Kita beli makan di luar saja." Adam merangkul Aisyah dari samping.
mengejutkan Aisyah yang tengah mengaduk-aduk sayur lodehnya.
"Mas, bikin kaget aja," seru Aisyah. "gakpapa Mas, lagipula Aku lagi kangen pengen makan sayur lodeh." lanjutnya.
Aisyah membawa satu sendok air sayur dan menyuapkannya ke arah Adam. "Gimana? tanya Aisyah, menunggu pendapat Adam.
Adam tersenyum, "Enak." balasnya lanjut mengecup kening Aisyah.
Aisyah terdiam, sudah lama rasanya ia tak berkomunikasi se-intim ini dengan suaminya. Aisyah juga seakan sudah melupakan kekesalannya kepada Adam kemarin, dengan mudah.
"Oh iya, Mas lupa. Tolong buatkan teh, ada tamu di depan, sama kopi spesial biasa untuk Mas." ujar Adam berbisik di telinga Aisyah.
"Jangan lupa camilannya yah," tambah Adam.
Adam pun melenggang pergi dengan senyuman manis yang kini membuat Aisyah tersenyum-senyum sendiri.
***
"Ada siapa Mas?" tanya Erika di saat melihat Adam yang baru kembali dari dapur.
"Ada tetangga baru, dia bawakan bingkisan, katanya mau silaturahmi." balas Adam sembari menyodorkan bingkisan buah yang di berikan Rizal.
"Asyik, boleh Aku buka kan Mas?" seru Erika kegirangan melihat bingkisan buah yang besar itu.
Adam mengangguk kecil, lalu beranjak pergi ke arah ruang tamu. Kembali menemani Rizal yang kini masih terduduk manis di sofa ruang tamunya.
Mereka pun akhirnya mengobrol, membicarakan banyak hal yang mengalir begitu saja.
"Hahaha..." keduanya tertawa, seakan sudah berteman lama.
Tak berselang lama Aisyah datang, membawa nampan berisikan secangkir teh dan kopi, tak lupa beberapa camilan yang berada di dalam toples.
Aisyah berjalan dengan sedikit menundukkan kepalanya, ia seakan belum sadar jika tamu yang Adam maksud adalah Rizal.
Setelah memindahkan semuanya dari nampan ke atas meja, Aisyah beralih bangkit berniat kembali ke belakang.
Namun, mata Aisyah berpapasan dengan dua bola mata yang kini menatapnya dengan tatapan kagum.
"Mas Rizal," batin Aisyah dengan mata yang membulat.
Aisyah langsung saja menyadarkan dirinya, berjalan mundur ke arah Adam.
"Kenapa Mas tidak bilang, tamu yang Mas maksud itu Dokter Rizal." ucap Aisyah kepada Adam.
Adam terkekeh, "Mas juga kaget, melihat Dokter Rizal yang ternyata sekarang menjadi tetangga baru kita."
Aisyah kini menoleh, melihat Rizal yang tersenyum lebar ke arahnya. Dalam hati, Aisyah takut, jika saja Rizal akan memberitahukan keadaanya yang sebenarnya kepada Adam.
Berbeda dengan Rizal yang tersenyum lebar, puas akhirnya bisa melihat Aisyah.
__ADS_1