ANANTARA

ANANTARA
ANANTARA - 39 Perpisahan


__ADS_3

"Maksudmu, kamu ingin kita berpisah?" Mas Adam bertanya, terlihat jelas ia seakan tak percaya dengan apa yang sudah ia dengar.


Aku tahu ini semua begitu tiba-tiba, tapi nyatanya hati dan batinku ini sudah sangat lelah, kelelahan menjalani rumah tangga yang sudah sangat hancur.


"Aisyah! jangan berkata omong kosong!" Mas Adam terlihat kesal.


"Aku tahu kamu sangat marah dan terluka, namun-" suaranya tercekat, terdengar menahan pilu yang kini terlihat di kedua sorot matanya.


"aku mohon, jangan berkata seperti ini," lanjutnya memohon.


Mas Adam melangkah mendekat, memegang kedua pundak ini, mencoba menyadarkan diriku yang sudah hilang akal.


Namun, apa keputusanku ini salah, aku sudah sangat berusaha dan bersabar selama ini, wajar jika kini aku sudah sangat lelah.


Aku menggeleng, "Cukup Mas, jangan paksakan lagi semua ini, semuanya telah berbeda!"


Ku lepaskan tangannya itu, tak ingin lagi kembali luluh hanya dengan sebuah bujukan manis yang nyatanya busuk.


"Untuk apa Mas pertahankan semua ini?!" Aku kembali berteriak histeris tak ingin lagi mendengar semua perkataan manisnya itu.


"Hati Mas sudah berbeda! nyatanya, akulah orang kedua di rumah tangga ini!" teriakku.


"Aku yang selalu kamu nomor duakan, dia!" tunjuk ku lagi kepada Mbak Erika. "Dia yang selalu Mas nomor satukan!"


"Aku sudah sangat lelah Mas, cukup, jangan di paksakan lagi! untuk apa aku bertahan hanya untuk terus Mas lukai?!"


"Apa Mas tidak pernah memikirkan perasaanku ini?"


"Apa pernah Mas pikirkan aku yang selalu menunggu Mas semalaman, menunggu Mas pulang ke rumah ini, namun akhirnya rumah ini bukanlah rumah tempat Mas kembali,"


"Akhirnya! Mas selalu bersama istri kesayangan Mas itu! bukan aku!"


"Apa Mas sadar? apa yang sudah Mas lakukan selama ini?"


"Hanya karena wanita itu, Mas melupakan aku! aku ini istrimu Mas! bukan hanya dia!"


"Lalu, untuk apa Mas terus memaksakan semua ini! silahkan Mas pergi dan hidup bahagia dengannya! biarkan aku pergi!"


"Lihat saja! sebentar lagi, aku akan membuat wanita itu terkurung di balik jeruji! aku akan buktikan bahwa semua omonganku ini bukanlah sebuah omong kosong!"


Aku terus berteriak, mengeluarkan semua isi hati yang menumpuk, mengganjal dan menyesakkan dada ini.


"Sudah cukup Aisyah! cukup!" Mas Adam berteriak, ia berubah menatap nyalang.


"Jangan terus berkata seperti semua ini salah Erika! dia tidak tahu apa-apa!"

__ADS_1


"Sudah aku bilang! Erika itu bukan wanita seperti itu! tidak mungkin dia melakukan hal keji seperti yang kamu ucapkan!"


"Kamu hanya cemburu! jangan bertingkah kekanak-kanakan seperti itu! aku tahu kamu terluka, tapi jika kamu terus seperti ini, aku juga tidak bisa terus diam!"


"Jika kamu ingin berpisah! silahkan, akan aku lakukan apa yang kamu mau!" Balas Mas Adam.


Walau nyatanya aku yang menginginkan perpisahan ini, tapi mendengar langsung Mas Adam yang menyetujui semua ini, membuat diriku seketika merasa lemas.


Sampai akhir pun, Mas Adam tetap membela Mbak Erika, tanpa sadar bahwa apa yang ia katakan sangat menyakitkan.


Kini, aku hanya bisa menatapnya kalut, tahu jika saat ini, aku memang sudah tak memiliki posisi apapun di hati suamiku itu.


Aku mencoba mengulas kan sebuah senyuman di bibir ini, mencoba kuat dengan semua anak panah yang Mas Adam tancapkan.


Mas Adam mengacak rambutnya frustasi, ia menatapku dengan mata merahnya itu.


"Apa kamu benar-benar menginginkan semua ini?" tanyanya.


Ia menatapku dengan tatapan kesal juga marah, seakan tak terima. Aku kini hanya bisa balik membalas tatapan itu, enggan mengalihkan semua tatapan ini darinya.


"Kenapa Mas bertanya seperti itu? Jelas jawabannya ada pada Mas," balasku.


"Sekarang aku tanya," aku menggigit bibirku ini, mengalihkan rasa sakit yang kian menjalar.


Rasanya sulit untuk mengucapkan kata-kata yang kini akan keluar dari mulut ini.


Akhirnya aku memberikan sebuah pertanyaan yang akan memutuskan bagaimana akhirnya rumah tanggaku ini akan berakhir.


Sebuah pertanyaan yang begitu menyayat hati, sampai membuat tubuh ini bergetar, menahan rasa sakit yang teramat.


Mas Adam terdiam, melihat jari telunjukku yang masih terus menunjuk wanita yang berada di sampingnya.


Hati ini terasa begitu perih, menanyakan hal yang akhirnya akan membuat diri ini semakin hancur.


"Bagaimana bisa aku menjawab-"


"Ah, tidak, aku tarik kembali pertanyaanku itu Mas!" tukasku, memotong ucapannya.


Aku menarik kembali tanganku ini, menggerakkannya seakan mengatakan tidak dengan tanganku.


"Maaf, aku baru saja tersadar, Aku bukanlah wanita yang pantas di samakan dengan wanita seperti dia!" ucapku tersenyum getir, kembali menarik jari telunjuk ini menunjuk wanita itu.


Kemudian, kembali beralih menatap suamiku ini, menatap Mas Adam dengan sebuah seringai yang di hiasi air mata.


"Jadi, selama ini pilihan itu ada di tanganku, aku yang akan memilih, memutuskan hubungan kita ini Mas,"

__ADS_1


"Karena sejak awal, aku bukanlah sebuah pilihan!"


"Menurutku-" ucapku, terhenti, mencoba mengenyahkan rasa panas di mata yang akan membuat sebuah air mata kembali terjatuh.


"Perpisahan ini adalah pilihan yang terbaik." ucapku akhirnya.


Ku tatap kedua matanya, meyakinkan diriku bahwa apa yang sudah ku pilih ini menjadi pilihan terbaikku.


Walau nyatanya menyakitkan, tapi hubungan yang sudah lama terjalin ini harus hancur. Aku harus bisa kuat, karena nyatanya walaupun aku bertahan, hanya aku yang terluka di sini.


"Biarkan aku pergi Mas, biarkan aku bahagia."


Mas Adam terdiam, terlihat kedua mata itu kini menjatuhkan air matanya. Mas Adam menangis, ia seakan tak percaya dengan apa yang sudah ku katakan.


Pasti menyakitkan, aku tahu.


Bahkan, semua orang yang ada disini, yang sedari tadi mendengar semua pertikaian ini juga ikut diam tercengang dengan apa yang ku katakan.


Ummi, Abi, Bapak dan Ibu mertuaku, mereka semua ikut terkejut dengan kalimat yang keluar begitu saja dari mulut ini.


Maafkan aku, aku memang sudah menghancurkan tali pernikahan ini, tapi apa boleh buat, untuk apa aku pertahankan lagi semua ini. Jika sebuah perpisahan adalah jalan keluar yang terbaik.


sebuah senyuman mengembang begitu saja di bibir ini, sebuah senyuman yang sangat menyakitkan, senyuman yang rasanya mengiris hati ini.


Tersenyum kepada pria yang selama ini berstatus sebagai suamiku, namun hari ini, aku memutuskan hubungan ini.


Apa aku salah?.


Apa tidak seharusnya aku berbuat sejauh ini?.


Melihatnya terdiam dengan air matanya, begitu sangat memilukan, menyakitkan, tapi aku tak bisa terus-menerus bertahan jika akhirnya kembali terluka.


Aku juga berhak untuk bahagia, aku tak bisa terus-menerus diam dalam keadaan yang tak menguntungkan diriku ini.


"Baik," akhirnya, Mas Adam mengeluarkan suaranya.


"Jika memang itu yang kamu mau," lanjutnya.


"Ayo lakukan,"


Kini, aku yang terdiam, mendengarkan setiap kata perkata yang keluar dari mulutnya.


"Kita lakukan, perpisahan itu!"


"Perpisahan yang kamu inginkan."

__ADS_1


Mas Adam mengatakan semua itu dengan sangat mudah, menyetujui sebuah perpisahan ini.


Apa aku harus senang?.


__ADS_2