
Sudah 2 hari ini Vivian merasa tubuhnya tidak enak badan. Kepalanya begitu terasa berat dan perutnya juga merasa mual. Vivian mencoba mengabaikannya dengan terus bekerja.
Vivian saat ini tengah memakainya masker rambut kepada seorang ibu-ibu. Entah kenapa dia begitu mual ketika mencium aroma masker tersebut.
Vivian mencoba menahan mualnya agar pekerjaannya selesai. Dia tidak ingin menyinggung perasaan kliennya.
Namun sepertinya kliennya menyadari bahwa Vivian sedang tidak enak badan. Dia melihat dari kaca bahwa wanita tampak pucat sekali.
"Mbak sakit ya?" tanya ibu - ibu itu.
"Nggak enak badan aja Bu, mungkin masuk angin kali karena kemarin terlambat makan." jawab Vivian.
"Oh masuk angin, kirain mbak hamil." ucap ibu itu membuat Vivian terdiam sejenak.
Dia baru menyadari bahwa bulan ini belum datang bulan. Akan tetapi dia mencoba menepis pikiran tersebut.
"Sepertinya ibu sedang ada masalah ya?" Vivian mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Sejak datang tadi dia sering melihat sang ibu sering melamun.
"Saya baru pertama pergi ke salon mbak, itupun saya lakukan agar saya terlihat cantik lagi." cerita ibu itu mengalir begitu adanya.
"Emang kenapa Bu? Suami protes?" tanya Vivian dengan hati - hati. Dia takut menyakiti hati ibu tersebut.
"Semenjak saya punya anak saya kurang memperhatikan penampilannya saya mbak, saya juga tidak pandai dandan, apalagi saya sibuk mengurus anak-anak yang masih kecil, saya curiga mbak suami saya selingkuh." ucap wanita tersebut.
Vivian terdiam mendengar cerita ibu itu. Dia baru menyadari bahwa ternyata begitu menyakitkan bagi istri sah ketika suaminya punya wanita lain.
"Suami ibu ngaku selingkuh?"
Ibu itu menggelengkan kepalanya.
"Saya melihat chat dia dengan perempuan lain, untuk itu aku datang kesini mbak untuk memperbaiki diri agar rumah tangga kami bisa bertahan."
Vivian hanya mendengarkan cerita ibu itu. Walaupun dia hanya ibu rumah tangga biasa, namun Vivian yakin bahwa ibu ibu sebenarnya cantik namun tidak terawat.
Vivian merasa kasihan melihat ibu itu. Karena ibu itu masih mempertahankan rumah tangganya demi anak. Padahal ibu itu tau suaminya mempunyai selingkuhan.
"Apa daya mbak saya nggak sanggup beli skincare mahal mbak, apalagi suami saya memberi saya uang pas - Pasan semenjak punya wanita lain." ucapnya.
"Saya akan mencoba membuat ibu percaya diri lagi, saya akan membantu ibu untuk mempertahankan apa yang ibu punya, tapi Bu apakah ibu yakin mempertahankan rumah tangganya ibu?" tanya Vivian lagi.
Vivian ingin tau jawaban ibunya. Karena menurut Vivian bertahan seumur hidup dengan lelaki yang bajingan akan membuat ibu itu sengsara. Karena seumur hidup itu lama.
__ADS_1
Vivian berjanji pada dirinya sendiri akan membuat ibu ini tampil percaya diri. Setelah memakai masker, Vivian menyarankan rambut ibunya di buat seperti yang Vivian mau. Karena ibunya nampak kurus, Vivian ingin membuat rambut oval agar mukanya terlihat cabi.
Vivian juga menyodorkan baju - baju yang cocok untuk di pakai ibunya agar lebih menarik lagi. Dia Setelah itu Vivian juga memberikan perawatan wajah agar wajah ibu itu tidak terlalu kusam.
Ibu itu akhirnya tersenyum saat melihat dirinya cantik kembali. Dia merasa bahwa dirinya lebih muda dari sebelumnya.
"Terima kasih mbak, saya janji akan datang setiap bulan akan datang ke sini, dan karena mbak sudah banyak memberikan saya diskon maka saya akan mempromosikan salon ini kepada teman - teman saya." ucap ibu dengan senang.
"Sama - sama Bu, tetap berjuang ya Bu untuk kebahagiaan ibu." ucap Vivian sambil tersenyum.
Vivian tersenyum senang saat melihat ibu itu keluar dari salonnya. Kepala Vivian mulai terasa berat kembali. Dia segera merebahkan tubuhnya di kamarnya yang kebetulan juga ada di sana.
"Apa benar aku hamil?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil memegang perutnya.
Vivian tidak tau harus berbuat apa jika benar dia benar-benar hamil. Dia tau bahwa ini akan menjadi ejekan orang sekitar jika tau dia hamil sedangkan dia belum menikah.
Air mata Vivian jatuh ketika memikirkan nasibnya. Setelah ia berubah ada saja yang menguji dirinya.
"Ya Allah kuat aku ini, sungguh banyak ujianMu." ucap Vivian.
Vivian dan kedua orang tuanya memang berbeda keyakinan. Vivian kala itu memilih mengikuti keyakinan El. Dan setelah itu, dia tetap memeluk agama Islam.
Ketika saja baru keluar, tiba-tiba seorang ibu dan anak remaja masuk ke dalam salonnya.
"Ada yang bisa saya bantu buk?" tanya Vivian dengan ramah.
"Mbak anak saya ini mau kursus, kira - kira mahal nggak mbak?" tanya ibu itu kepada Vivian.
"Duduk dulu buk." ucap Vivian menawarkan duduk kepada ibu dan anaknya agar bisa berbicara dengan baik.
Vivian menimbang sebentar sebelum bicara. Mengingat salonnya baru saja dua Minggu di buka.
"Sepertinya saya akan butuh anak ini jika ada urusan mendadak, apa saya gratiskan dengan syarat tertentu." bathinnya menimbang jalan terbaik.
"Saya bisa saja memberikan gratis buk untuk kursus dengan syarat anak ibu siap mengabdi di tempat saya selama 6 bulan lamanya." jawab Vivian setelah membaca bismillah dalam hatinya.
"Saya setuju mbak, kira - kira apakah besok bisa di mulai?" tanya Ibu itu dengan senang sekali.
"Boleh besok datang ke sini." jawab Vivian membuat ibu dan anak itu kesenangan.
Setelah itu ibu dan anak itu akhirnya berpamitan, Vivian memutuskan menutup salon untuk sementara. Dia merasa ada yang lebih penting saat ini.
__ADS_1
Vivian berjalan menuju apotek yang agak jauh. Dia tidak mau di apotik terdekat karena takut ada pegawainya yang ia kenal.
Vivian akhirnya bisa membeli beberapa testpack dengan berbeda merek. Tanpa ia sadari bahwa ada sepasang mata yang tengah memperhatikan dirinya dengan baik.
"Ketemu juga kita di sini setelah kamu menghilang."
Vivian menatap lelaki itu dengan rasa entah gimana. Dia sangat tidak ingin bertemu lelaki manapun yang ia kenal.
"Alby... kamu ngapain di sini?" tanya Vivian setelah kaget.
"Tentu saja mencari kamu untuk membalaskan dendamku." ucap Alby terus terang.
Vivian mengernyitkan keningnya karena tidak paham maksud Alby.
"Ada apa ini bi?"tanya Vivian dengan agak ketakutan.
"Jangan pura - pura bego kamu, wanita yang telah menjadi simpanan papaku selaman beberapa tahun." ucap Lelaki itu dengan rasa benci kepada Vivian.
Vivian cukup kaget ketika mendengar ucapan Alby. Dia paham bahwa suatu ketika akhirnya Alby juga akan mengetahuinya sendiri.
"Kenapa kamu tega menghancurkan kekuar saya? Apa karena ini?" tanya Alby mengeluarkan beberapa uang kertas lalu melemparkannya ke tubuh Vivian.
"Maafkan aku bi, aku tau bahwa semua tidak akan merubah apapun, maafkan aku." ucap Vivian dengan mata memerah karena di hina lelaki itu di pinggir jalan.
"Selamanya aku gak akan pernah memaafkan kamu, dan aku yakin hidup kamu akan lebih sengsara dari ini, akan aku pastikan itu." ucap Alby.
Vivian tau bahwa ini akan terjadi pada dirinya.
"Ibu - ibu tolong liat wanita ini dengan baik - baik." ucap Alby dengan suara yang keras sehingga mengundang perhatian orang lain.
"Wanita ini adalah wanita simpanan ayah saya, tolong jaga suami ibu baik - baik jika tidak ingin di ambil oleh wanita ini." ucap Alby membuat Vivian begitu malu dan panik saat ini. Dia mencoba untuk menutupi wajahnya karena dia melihat ada beberapa kamera yang sedang memvideokan dirinya.
"Huuu cantik - cantik pelakor." teriak salah satu ibu - ibu sambil melempar sebuah Aqua gelas.
Aksi tersebut di ikuti oleh ibu - ibu yang lainnya. Dan yang lebih parahnya ada yang melemparnya dengan batu.
"Aduh." Vivian mencoba mengusap keningnya yang terasa sakit saat sebuah batu mengenai kepalanya.
Alby hanya diam ketika melihat kepala wanita itu berdarah. Tapi dia begitu merasa tidak kasihan sama wanita itu mengingat apa yang di lakukan wanita itu sehingga rumah kedua orang tuanya bubar.
Vivian mencoba menyelamatkan dirinya agar tidak terjadi yang lebih parah lagi. Sedangkan Alby hanya menatap wanita itu pergi dari kerumunan itu.
__ADS_1