Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai

Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai
Bab 29


__ADS_3

Vivian sedang berada di butik yang tidak begitu terkenal. Vivian sangat senang karena akhirnya ada butik yang memanggilnya untuk interview. Dan pemilik butiknya merasa tertarik dengan model baju yang di rancang oleh Vivian.


"Jadi itu baju desain kamu sendiri?" tanya wanita yang sudah tidak muda lagi. Vivian menebak umurnya masih 50 tahunan.


"Iya buk."


"Kamu lulusan desain?"


" tidak Bu, saya lulus ekonomi." jawab Vivian.


Wanita itu merasa takjub yang duduk di depannya. Selain pintar wanita itu juga nampak sangat cantik.


"Kamu sepertinya berbakat, kalau begitu kamu boleh bekerja mulai Minggu depan,saya rasa butik saya ini akan berkembang jika punya desain seperti kamu." ucap wanita itu.


"Benaran buk saya di terima?" tanya Vivian dengan nada tidak percaya. Karena selama ini tidak ada yang mau mempekerjakan dirinya.


"Iya, saya akan mempercayakan sepenuhnya butik ini kepada kami kedepannya karena saya akan berangkat ke London, selama saya pegang ini butik tidak berkembang pesat, saya akan mencoba membuka usaha lain di sana."


Vivian semakin kaget mendengar cerita wanita itu. Dia tidak menyangka wanita itu akan mempercayai butiknya kepada dirinya.


"Baik Bu, makasih telah mempercayai saya, akan berjanji akan membuat butik ini menjadi butik ternama." janji Vivian kepada ibu itu.


"Saya tunggu janjimu Vivian." ucap ibu itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum.


Vivian menyambut uluran tangan ibu itu. Namun dia sampai saat ini belum tau nama wanita itu.


"Maaf Bu dengan ibu siapa?" Vivian memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Saya Ros, panggil saya ibu Ros." jawab wanita itu sambil tersenyum lagi.


Setelah perkenalan singkat, akhirnya Vivian keluar dari butik itu. Vivian memperhatikan butik itu nampak tidak begitu terurus. Dia melihat beberapa baju yang terpajang dengan model terlama.


"Wajar butik ini nampak tidak ramai dan tidak terkenal." gumamnya.


Ketika baru saja masuk ke dalam mobilnya, dia melihat ada sebuah notifikasi masuk. Ternyata ada yang memesan jasanya untuk di antarkan ke alamat tujuan.


Vivian bersemangat untuk menjemput penumpang pertamanya hari ini. Dia bersenandung kecil sambil membawa mobilnya.


Dia memasuki sebuah rumah sakit untuk menjemput penumpangnya. Tujuan penumpangnya adalah ke sebuah perumahan elit di Jakarta. Dia agak merasa aneh saat orang kaya memesan taksi online.

__ADS_1


"Apa pembantunya kali baru pulang antarin sesuatu ke majikannya." gumamnya.


Dia berhenti tepat di depan pintu masuk rumah sakit. Nampak seorang wanita yang di kenalnya menaiki mobilnya.


"Geby." gumamnya.


Vivian lansung memakai topi yang ada atas dasboard mobil. Dia sangat berharap wanita itu tidak mengenalinya.


Sedangkan Geby melirik sejenak kedepan. Dia melihat driver yang ia pesan adalah seorang wanita. Setelah itu dia lansung menatap ponselnya.


Vivian memperhatikan wanita itu dari kaca spion sejenak sedang menelpon seseorang.


"Sepertinya dia menelpon kekasihnya." ucapnya dalam hati.


Vivian hanya menjadi pendengar setia dalam mobil. Dia mendengar pembicaraan wanita itu dengan pacarnya. Tiba - tiba dia agak kaget saat wanita itu menyebut namanya.


"Jadi Vivian belum mengetahui hubungan kita?" Vivian mencoba mencerna apa yang di bicarakan wanita itu. Dan siapa lawan bicaranya.


"Ndi aku mau kamu secepatnya memberi tau dia tentang hubungan kita, atau aku datang langsung ke rumah kamu untuk mengenalkan diri bagaimana hubungan kita." ucap wanita itu kepada lawan telponnya.


Vivian tidak terlalu mendengar jawaban lawan bicara Geby. Namun saat ini dia bisa menebak siapa yang di telpon wanita itu.


"Jadi mereka mempunyai hubungan? Jadi bukan Indri yang menelpon malam itu?" tanya Vivian dalam hati.


"Silahkan mbak ganti tujuan pemesanannya di Aplikasi mbak, harusnya sejak tadi mbak ganti, ini mbak sudah mau sampai." ucap Vivian memberi tau wanita yang duduk di belakangnya.


"Nggak usah cemas kamu, aku tambahin nanti, lagian jika di aplikasi bisa kenapa kamu yang sewot." ucap wanita itu.


Vivian hanya diam mendengar Omelan wanita itu. Dia melihat tujuan baru wanita itu adalah kantornya Wandi.


Geby memain ponselnya kembali sambil menikmati perjalanan. Dia sebenarnya ngantuk karena baru saja selesai operasi Caesar tadi pagi. Dia seharusnya hari ini libur namun karena ada yang urgent akhirnya dia datang ke rumah sakit.


Tiba - tiba dia memperhatikan sosok wanita yang menyopirinya. Tiba-tiba ia ingat dari suara sang driver ia merasa mengenal suara itu.


"Suara siapa ya?" tebaknya dalam hati mencoba mengingat suara itu.


"Suara tadi sepertinya aku pernah mendengarnya, siapa ya?" pikirnya lagi.


Geby baru terpikir untuk melihat aplikasi taksi online di ponselnya. Dia melihat nama yang tertera sebagai sopirnya pagi ini.

__ADS_1


Dia sungguh kaget saat melihat nama yang tertera. Dia adalah istri dari pemilik perusahaan besar.


"Vivian." panggilnya dengan lirih.


ViVian kaget saat mendengar namanya di sebut oleh wanita itu. Dia tidak punya pilihan lagi untuk menghindar.


"Jadi kamu Vivian? kenapa nggak ngomong sejak awal, apa kamu malu jika saya mengetahui bahwa kamu adalah sopir taksi online saat ini." ucap Geby sambi tertawa.


Dia merasa sangat senang saat mengetahui wanita itu begitu sengsara hidupnya. Apalagi dia merasa bisa untuk mempermalukan wanita itu.


"Jika kamu begitu butuh duit, mending kamu jadi sopir saya, saya bisa berikan dua kali lipat gaji kamu sebagai sopir dan pelayan." ucap wanita itu sambil tertawa mengejek.


"Nggak apa-apa mbak, yang penting pekerjaan saya halal." jawab Vivian mencoba untuk tidak terpancing dengan ejekan Geby. Ia tidak mau menambah buruk reputasi dirinya sendiri.


"Apa Wandi begitu membenci dirimu sehingga kamu tidak di biayai sama sekali, sayang sekali udah jadi istri tapi suami nggak peduli." ucap Geby lagi mencoba memprovokasi Vivian.


"Saya rasa saya tidak wajib untuk menjawab pertanyaan dari penumpang saya." jawab Vivian membuat Geby semakin kesal.


"Ya sudahlah,terserah kamu saja." ucap Geby.


Mereka telah sampai di depan kantor Wandi. Geby lansung turun dan membayar ongkos taksi. Dia tersenyum saat melihat Wandi berada di depan kantor. Dia merasa bisa memanfaatkan kehadiran lelaki itu.


"Yang sini dulu, kamu kenalkan sama sopirnya?" tanya Geby memanggil Wandi.


Wandi berjalan menuju mobil yang di tumpangi oleh Vivian. Dia heran kenapa Geby sangat ingin memanggilnya.


"Kenapa sayang?" tanya Wandi.


Wandi melihat Geby sedang menahan bayarannya kepada Vivian. Akhirnya terpaksa Vivian menunggu wanita itu.


",Ayo berikan ongkosnya mbak, saya nggak bisa pergi nih."


"Sabar, ada yang mau bertemu dengan kamu." jawab Geby.


Wandi nampak sangat sock saat melihat Vivian sebagai sopir taksi online.


"kamu Vivian." ucap Wandi sangat kaget sekali saat mengetahui pekerjaan lain dari Vivian.


"Sudah saling sapanya sayang, mending kita masuk, daripada melayani istri kamu yang tidak berguna." ucap Geby menarik Wandi saat itu juga.

__ADS_1


Vivian jadi tau bagaimana hubungan mereka. Apalagi Wandi begitu Patuh dengan wanita itu.


"Ternyata itu pasangan sebenarnya." ucap Vivian lansung tancap gas dari halaman kantor Wandi.


__ADS_2