Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai

Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai
Bab 35


__ADS_3

Sudah seminggu Vivian memulai bekerja di butik. Walaupun awalnya terasa berat namun ia sangat yakin bahwa ia akan sukses di butik ini.


Dalam seminggu ini Vivian telah mengubah beberapa suasana butik. Dia juga mulai merancang baju - baju dengan model terbaru.


Ada juga beberapa baju lama yang menurutnya bagus di permak lagi agar memperlihatkan kemodernan itu baju.


"Sepertinya baju - baju ini bisa laku lagi dengan mengembalikan fashion lama ke era sekarang." ucapnya kepada beberapa karyawan di sana.


Di butik itu sendiri hanya ada 4 karyawan saat ini termasuk dirinya. Teman - temannya juga tertarik dengan ide Vivian. Dia sangat yakin bahwa butik ini akan bersinar kembali di tangan Vivian.


"Gimana caranya? Apa kamu punya solusi?"


"Kita akan adakan fashion show, nggak usah besar - besaran terlebih dahulu,kita buat mungkin di alun-alun, dengan model kita sendiri." jawab Vivian.


"Kenapa kita nggak sewa beberapa model saja?" tanya Nita salah satu karyawan di sana.


"Saat ini butik kita keuangannya sedang tidak baik-baik saja, kecuali ada yang mau menanam modal." jawab Vivian yang paham betul keuangan butik saat ini.


"Bagaimana kamu coba saja dengan pak Reno untuk menanam modal di sini." Usul mbak Wati karyawan yang paling senior di sini.


Vivian ragu untuk meminta Reno untuk menanamkan modal. Apalagi dia juga tidak begitu mengenal bagaimana sosok Reno.


"Aku nggak berani karena tidak terlalu mengenal pak Reno mbak." jawab Vivian.


"Mbak Reno itu baik kok, dan sepertinya dia juga suka sama kamu." kali ini yang bicara adalah Nita.


"Hahahaha mengada - ada sekali, mana mungkin pak Reno suka wanita seperti saya." jawab Vivian sambil tertawa.


"yang ada pak Reno jijik sama saya jika tau masa lalu saya." ucapnya dalam hati.


"Kenapa tidak mungkin? Kamu cantik dan berbakat." kali ini yang bicara adalah mbak Tami yang dari tadi hanya duduk diam sambil mengerjakan pekerjaannya.


"Udah ah, kenapa bahas pak Reno, kita fokus pada butik aja." Vivian lansung mengalihkan pembicaraan. Dia merasa tidak nyaman saat membicarakan Reno dengan dirinya.

__ADS_1


"Ayo kita buat perencanaan yang matang." ujar mbak Wati dengan semangat.


"Oke,tapi Nita harus semangat buat posting di media sosial, apapun kegiatan serta baju terbaru kita." ucap Vivian kepada Nita.


Nita menganggukkan kepalanya dengan semangat. Dia lansung membuat desain brosur untuk iklan di media sosial.


Vivian dan yang lainnya nampak membuat perencanaan. Dan mereka juga membicarakan desain mana yang akan mereka gunakan.


"Oke semangat semua, sepertinya kita akan lembur beberapa hari ini untuk menjadikan desain ini menjadi baju." ucap Vivian dengan semangat.


Yang mempunyai skill menjahit di sini hanya mbak Wati dan Mbak Tami. Sedang-kan kelebihan Nita adalah promosi dan membuat iklan di media sosial. Sedangkan Vivian membuat desain sebagus mungkin.


Malam harinya Vivian hanya tinggal sendiri. Teman - teman. Kerjanya sudah pulang ke rumah. Mbak Wati dan Mbak Tami sudah menikah. Sedangkan Nita tinggal bersama dengan orang tuanya.


Vivian merasa perutnya mulai keroncongan. Hari ini dia tidak punya apa-apa di kulkas karena kesibukannya membuat desain.


"Harus keluar sebentar cari makan." Vivian melihat jam di dinding menunjukkan pukul 21. 30.


Vivian turun dari lantai dua untuk mencari makanan di sekitar butik. Dia melihat suasana di depan butik masih ramai orang berlalu lalang.


Baru beberapa langkah dari butiknya, tiba-tiba dia di kagetkan oleh seseorang. Lelaki itu menyeringai melihat Vivian yang nampak pucat.


"Selamat bertemu lagi cantik." ucap lelaki itu tersenyum penuh dendam.


Lelaki itu sangat dendam dengan wanita itu. Namun sejauh ini wanita itu selalu di lindungi oleh orang - orang suruhan Wandi.


"Mau apa lagi kamu? Kita sudah tidak ada urusan lagi." ucap Vivian cukup takut.


"Kita masih belum selesai di masa lalu, aku begini karena ulah kamu, aku tidak akan membiarkan kamu hidup tenang sedangkan aku banyak kehilangan uang."


Vivian yang sudah lama tidak bertemu dengan Beni merasa mulai ketakutan. Apalagi lelaki itu nampak begitu dendam dengan dirinya.


"Om mau apa lagi dari saya? nggak mungkin om mau tubuh saya lagi yang tidak lain bekas anak buah om dulu, apakah om tidak puas menyiksa aku?" ucap wanita itu merasakan sakit hati mengingat kelakuan Beni yang begitu kejam. Dia masih ingat bagaimana lelaki dan anak buahnya menggilir dirinya bergantian seperti binatang. Namun sayangnya Vivian tidak bisa memenjarakan Beni saat itu karena tidak ada bukti yang cukup kuat. Di tambah Beni yang waktu itu memiliki kekuasaan.

__ADS_1


"Saya memang sudah tidak mau tubuh kamu lagi, tapi pasti ada di luar sana yang mau, jadi aku bisa menjual kamu dan menikmati hasil uang penjualan kamu." ucap Beni tertawa senang.


"Jangan coba macam - macam jika tidak mau saya teriak di sini." ancam Vivian.


"Hahahaha apakah mereka akan menolong kamu jika yang membawa kamu adalah orang ini." ucap Beni lansung bertepuk tangan.


Lalu tidak lama kemudian keluarlah ibu Vivian dari dalam mobil hitam milik Beni. Vivian cukup kaget melihat ibunya bersama dengan Beni.


"Ibu ngapain ibu bersama dia?" tanya Vivian.


"Ibu terpaksa karena kamu keras kepala, ibu juga tidak sanggup hidup miskin, maka dari itu ibu setuju dengan Beni, kami bisa berbagi keuntungan, karena ibu yakin kamu ini masih laku terjual dengan harga tinggi." ucap Ibunya membuat Vivian mengurut dadanya.


Dia tidak percaya bahwa punya ibu seperti ibunya. Sejak dulu ibunya hanya ingin menikmati uang dari dirinya, walau bagaimanapun dirinya. Ibunya nampak tidak begitu peduli dengan dirinya selama ini.


"Saya baru tau ada ibu di dunia ini yang tega menjual anaknya menjadi pelacur, harusnya ibu menjadi pelindung malah menjadi awal kehancuran aku." ujar Vivian mencoba meluapkan kemarahannya.


Dia begitu ingat bagaimana pertama dia menjadi simpanan om - om waktu muda.


"Dulu juga ibu yang menjadikan aku sebagai wanita simpanan om - om kaya, sampai akhirnya aku hidup seperti ini, apa ibu tidak puas melihat aku di hina banyak orang?" tanya Vivian sambil menangis.


Beberapa orang yang lewat hanya memperhatikan mereka tanpa mau ikut campur. Vivian tidak ingin masuk kedalam lembah dosa lagi. Dia memperhatikan sekeliling untuk mengambil ancang-ancang kabur.


Namun saat dirinya melarikan diri, ternyata anak buah Beni menangkapnya dari belakang. Vivian mencoba memberontak bahkan mencoba meminta tolong.


Ketika ada yang mendekat untuk membantunya, ibunya selalu berdrama bahwa mereka satu keluarga.


"Maaf mengganggu semua, saya akan ingin membawa anak saya pulang ke rumah." ujar ibunya membuat orang-orang percaya.


Vivian hanya pasrah dengan hidupnya saat ini. Dia berpikir mungkin hidupnya hanya di takdirkan sebagai pelayan nafsu orang lain.


"Hentikan." seseorang muncul sebagai pahlawan saat ini. Vivian merasa bersalah telah berprasangka buruk kepada Allah.


Siapakah lelaki yang menghadang mereka? yuk baca bab berikutnya.

__ADS_1


Nb : Terima kasih kepada semua pembaca yang setia membaca sampai bab berikutnya, semoga Allah membalas semua kebaikan dengan beribu kebaikan. Terima kasih 🙏


__ADS_2