
Wandi terdiam saat melihat video yang tengah viral di salah satu media sosial. Di mana seorang wanita yang tengah di lempar oleh ibu - ibu dengan batu dan botol Aqua.
Nampak jelas di sana Vivian meringis memegang kepalanya. Dia mencoba untuk menyelamatkan dirinya dari serangan ibu - ibu yang menyebutnya seorang wanita pelakor.
Entah mengapa hati Wandi sangat miris melihat wanita itu di perlakukan seperti itu. Dia merasa tidak tega. Apalagi saat membaca komentar negatif netizen yang menghujatnya.
"Kenapa bisa seperti ini? siapa dalang di balik ini?" tanya Wandi bertanya kepada dirinya sendiri.
Wandi mencoba mencari tau di mana keberadaan video tersebut. Setelah membaca beberapa komentar barulah ia tau kalau Vivian saat ini berada tidak jauh dari Jakarta yaitu Bogor.
"Dasar anak bandel, udah enak tinggal sama aku malah cari masalah dia,itulah akibat tidak mau patuh sama aku." Omelan Wandi dengan kesal.
Walaupun dia merasa kesal namun dia tetap iba melihat nasib wanita itu. Wandi memutar kembali video tersebut agar bisa mencari dalang di balik video tersebut. Namun ia tidak menemukan siapapun yang ia kenal.
"Ah biarin sajalah, dia yang memilih pergi." ucapnya meletakkan ponselnya di atas meja.
Tiba-tiba ponselnya berdering dengan tertera nama ibunya.
"Ya hallo Bu." jawab Wandi.
"Wandi ibu liat ada video Vivian di lempar batu sama ibu - ibu, apakah kamu tidak melindungi Vivian nak?" tanya ibunya.
"Buk dia udah nggak tinggal sama aku, dan bisa jadi dia kembali ke setingan pabriknya, jika nggak mana mungkin ibu - ibu itu mengamuk." jawab Wandi menjelaskan kepada ibunya.
"Tidak Wandi, ibu melihat Vivian tidak seperti itu, ibu yakin bahwa ada yang sengaja membongkar masa lalunya, dan ada yang memprovokasi ibu - ibu itu dengan masa lalu Vivian." jawab Ibunya.
"Kenapa ibu yakin sekali seperti itu?" tanya Wandi yang tidak percaya bahwa ibunya begitu percaya dengan Vivian.
"Ibu tau nak, Ibu dulu juga pernah yang mengalami hal yang sama, seseorang memprovokasi warga, padahal sebenarnya bukan seperti itu, walaupun kasus ibu dan Vivian berbeda." cerita ibu Wandi.
Wandi masih ingat bagaimana mama sambungnya memfitnah ibunya. Ia masih ingat ketika itu orang - orang mengatakan ibunya sebagai diri dalam pernikahan papa dan mama sambungnya. Padahal kenyataannya sangat berbeda.
"Bu, masalah ibu dengan dia berbeda, lagian dia sudah besar biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa ikut campur aku buk." Wandi menjelaskan kepada ibunya karena bagaimana pun dia tidak mungkin selamanya melindungi Vivian.
__ADS_1
"Dia sudah ibu anggap sebagai anak ibu sendiri, jika kamu tidak bisa melindungi dia biarlah ibu yang akan melindungi dia, buat apa kita waktu itu menolongnya jika hidupnya masih dalam masalah masa lalunya." ucap ibu Wandi lansung memutuskan teleponnya.
Wandi menarik rambutnya karena kesal. Jika ibunya sudah seperti itu maka kemungkinan ibunya merajuk kepadanya. Dan itu akan susah payah membujuknya.
"Vivian awas kamu nanti...." ucapnya dengan nada kesal.
Wandi menelpon salah satu orang kepercayaannya. Dia sepenuhnya menyerahkan masalah Vivian kepada orang tersebut. Dia saat ini sedang dekat dengan Geby. Jadi dia tidak ingin wanita itu merusak semuanya.
"Oke masalah Vivian beres, dan jika dia masih terlindungi, maka ibu akan mau bicara lagi dengan aku." ucapnya dengan senang.
Setelah itu dia barulah fokus menyelesaikan pekerjaannya. Namun tiba-tiba pintu terbuka.
"Maaf nona di larang masuk." masih terdengar suara sekretarisnya melarang wanita itu untuk masuk. Namun Wandi paham jika wanita itu adalah wanita kepala batu.
"Biarkan saja Zi, kamu kembali ke meja kamu." perintah Wandi.
Wanita itu tersenyum penuh dengan kemenangan karena Wandi membiarkan dirinya masuk. Sebelum sang sekretaris keluar, dia sempat mencibir ke arah sekretaris Wandi.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Wandi dengan Aira dingin.
Mendengar suara wanita itu membuat Wandi merasa mual. Suara manjanya benar - benar menjijikan di telinganya.
"Aku sibuk,dan aku juga bukan siapa-siapa kamu, ingat itu." jawab Wandi menatap tajam wanita itu.
"Tapi orang tua kita udah sepakat dengan perjodohan kita, dan sebentar lagi kita akan menikah." jawab Indri.
"Itu tidak akan terjadi jadi berhentilah bermimpi."
"Kita liat aja, kamu pasti akan datang ke aku, dan kamu akan setuju dengan pernikahan ini." ucap Indri mulai kesal karena Wandi tidak pernah menyambutnya dengan ramah.
"Dan sampai kapanpun itu tidak akan pernah terjadi, jadi lebih baik kamu pergi dari sini." ucap Wandi mengusir Indri.
Indri tidak beranjak dari tempatnya. Dia malah mengeluarkan ponselnya menelpon seseorang. Tidak lama kemudian ponsel Wandi juga berbunyi. Kali ini yang menelponnya adalah sang papa.
__ADS_1
"Ya pa." jawab Wandi.
Wandi mendengarkan ucapan papanya dalam telpon sambil menatap Indri yang sedang tersenyum penuh kemenangan. Rasanya saat ini Wandi ingin mencekik wanita itu.
"Baru saja keluar urusan Vivian,malah ada masalah dengan wanita ular ini pula." gumam Wandi dengan kesal.
Wandi akhirnya meninggalkan ruangannya untuk menemani Indri kemanapun ia mau. Wandi semakin jengkel saat wanita itu mengandeng tangannya.
Wanita itu berjalan dengan penuh percaya diri di hadapan para karyawannya Wandi. Dia seolah memamerkan bahwa ia adalah calon istri bos mereka.
"Tersenyum lah kamu sementara waktu, karena sampai kapanpun kamu tidak akan bisa membuat aku menjadi milikmu." ucap Wandi sambil berjalan keluar dari kantornya.
"Mau kemana ndi?"
Tiba-tiba di sana sudah ada Geby berdiri di hadapannya. Wandi tidak menyangka bahwa wanita itu akan datang ke kantornya. Dia takut jika wanita itu salah paham terhadap dirinya saat ini.
"Kamu siapa bertanya seperti itu?" tanya Indri dengan belagunya.
Indri menatap wanita yang berdiri di hadapannya. Wanita itu tampak cantik namun tidak lah secantik dirinya. Karena dari dandanan wanita itu nampak biasa saja. Tidak seperti dirinya wanita kaya raya.
"Kamu yang siapa? aku tidak perlu menjelaskan siapa aku kepada kamu." jawab Geby merasa tidak mau kalah dengan wanita itu.
Wandi memang tau jika Geby adalah wanita yang tidak mau kalah. Jika dari penampilan wanita itu memang sangat sederhana. Sehingga banyak yang tidak tau bahwa dia adalah salah satu anak konglomerat.
"Wandi, siapa wanita ini sehingga berani lancang bicara seperti ini?" tanya Indri kepada Wandi.
"Dia adalah calon istri aku." jawab Wandi membuat Geby tersenyum.
Geby tau bahwa Wandi sengaja mengucapkan kata itu karena dia ingin wanita itu tau bahwa cinta tidak bisa di paksakan.
"Kamu sudah dengar itu, jadi jangan harap kamu bisa membawa dia, karena aku tidak pernah takut dengan keluargamu yang kekayaan tidak seberapa itu." ucap Geby sengaja menyombongkan dirinya di depan wanita bernama Indri tersebut.
Setelah itu Geby lansung menarik Wandi agar ikut dengannya. Dan Indri hanya bisa terdiam menyaksikan kepergian mereka berdua.
__ADS_1
"Awas kamu Geby, akan aku kacau hubungan kalian secepatnya." ucap Indri dengan kesal.