
Vivian sedang menghadiri sebuah acara penting di sebuah mall. Hari ini butik mereka mengadakan agenda fashion show untuk baju sehari hari.
para model nampak berjalan melenggang melenggok. Vivian yang duduk menyaksikan itu, merasa sangat senang sekali dengan apa yang ia capai saat ini.
begitu juga dengan Ros dan pak Thamrin.Mereka begitu bangga dengan dengan prestasi yang dicapai oleh anaknya.
Tepuk tangan bergemuruh saat salah satu model memberikan sebuah bunga kepada Vivian. Vivian berdiri mengambil bunga tersebut.
Dia berjalan menuju panggung untuk memberikan apresiasi dan pemotretan dengan beberapa kolega yang hadir.
Saat ia berdiri di atas panggung, tiba-tiba lampu mati. sebuah video nampak berputar di layar yang ada di dinding.
Semua heboh melihat video tersebut. Nampak sosok seorang wanita yang sedang bergelayut manja dengan seorang lelaki tua.
"wah ternyata anaknya Bu Ros adalah seorang wanita simpanan."
"Nggak nyangka aja ya, wanita secantik dia menjual dirinya."
"Segitunya cari uang sampai menjual diri, ternyata pak Beni itu bangkrut karena dia ya, dasar wanita tidak tahu malu"
Begitu banyak bisik-bisik orang-orang menyudutkannya. Vivian hanya menunduk malu karena ia tidak tau dari mana video itu berasal.
Sedangkan pak Thamrin dan Ros begitu kaget melihat video tersebut. Dia tidak menyangka bahwa anaknya begitu memalukan di masa lalu.
Mereka tidak terlalu tau seperti apa masa lalu Vivian dengan detail. Bu Ros lansung pingsan di tempat karena tidak sanggup menanggung malu.
"Ros, Ros." pak Thamrin mencoba membangunkan sang istri.
Reno yang Baru saja datang melihat acara itu berantakan. Apalagi saat melihat tantenya pingsan.
"ada apa ini om?" tanya Reno membantu omnya mengangkat Tante Ros.
"Semua karena anak itu." jawab pak Thamrin menunjuk Vivian dengan kesal.
Reno membawa Tante Ros ke mobil. Dia melihat banyak orang yang melempari Vivian dengan botol minum. Wanita itu tampak pasrah. Sedangkan Reno tidak bisa membantunya kali ini.
__ADS_1
Vivian merasa hari-harinya kembali masa lalu. Di mana semua orang menghujatnya. Dia terpukul melihat bagaimana tatapan kebencian dari sang papa.
Dia memang belum menceritakan begitu detail kepada kedua orang tuanya. Dia hanya menceritakan saat ibunya berniat menjualnya. Tapi tidak dengan masa lalunya yang menjadi simpanan para lelaki hidung belang.
Tidak jauh jauh dari sana, ia melihat Geby sedang tersenyum mengejeknya. Entah kemana Vivian yakin bahwa wanita itu pelakunya.
Vivian berjalan menuju wanita itu. Dia juga tidak tau apa masalah wanita itu dengannya.
"apakah ini ulah kamu?" tanya Vivian to the points.
"Kalau memang iya, kamu mau ngapain?" tanya balik Geby mengejek wanita itu.
"Saya bisa melaporkan kamu karena telah menyebarkan video seperti ini."
"Laporkan kemana? video itu belum melanggar UUD ITE, atau kamu mau aku menyebarkan video yang lebih hot? Aku punya loh video kamu lagi bermain kuda - kudaan dengan salah satu lelaki." ucap Geby tersenyum penuh kemenangan.
Vivian tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh wanita itu. Seingatnya dia tidak pernah membuat video apapun di masa lalu.
"apa tujuan kamu melakukan ini? apakah ini rasa sakit hati kamu karena pernah menjadi istrinya Wandi?" tanya Vivian.
"Itu sih mungkin beberapa persen saja." jawab Wanita itu berubah menjadi emosi. Geby yang tadinya tersenyum berubah ekspresi menjadi begitu dendam.
" Kenapa? bukannya kamu selalu mendapatkan cinta Wandi? Apalagi?" Vivian tidak mengerti apa salahnya kepada wanita itu.
" Karena Kamu telah menjadi wanita perusak keluarga ku " ucap Geby dengan emosi menggebu-gebu.
Vivian terdiam sejenak. Dia ingat siapa papa Geby Diapun baru tau belakangan ini bahwa Geby adalah anak dari Gito.
"Apa dia tau bahwa aku pernah...." tanya Vivian dalam hatinya.
"Kenapa? Kamu kaget tau kalau kamu pernah menjadi simpanan papa aku? kamu menyesal sekarang?" tanya Geby dengan aura begitu dingin.
Vivian tidak tau harus menjawab apalagi. Dia tau bahwa itu salahnya di masa lalu. Dia tidak akan bisa menghapusnya. Dia tidak akan bisa menghentikan kemarahan wanita itu.
"Dan asal kamu tau,aku tidak begitu mencintai Wandi, aku hanya merebutnya karena tau bahwa kamu begitu mencintainya,aku sengaja melakukannya agar kamu merasakan sakit hati yang luar biasa." ucap wanita itu.
__ADS_1
"Kamu..."
"Kamu apa? Aku bisa melakukan karena lelaki itu begitu mencintai aku."
Vivian tau bahwa Wandi begitu mencintai wanita itu. Makanya lelaki itu tega ingin menghabisinya dan calon bayinya.
"Wandi akan melakukan apapun yang aku suruh termasuk mencelakakan kamu serta menceraikan kamu." ujar Geby sambil tertawa.
Vivian merasa tidak ada gunanya berdebat dengan Geby saat ini. Apalagi wanita itu sedang di kuasai oleh dendam.
Vivian lebih memilih pergi untuk memastikan keadaan mamanya. Dia mama dan papanya pasti akan menolaknya sebagai anak.
"ibu - ibu hati dengan wanita ini, ingat wajahnya dengan baik, walaupun dia anak orang kaya, tapi dia itu punya hobi sebagai pelakor." teriak Geby membuat orang - orang melempar berbagai macam ke arah Vivian.
Vivian tetap berjalan walau begitu banyak cacian dan celana untuk dirinya. Dia merasa itu gak wajar sebagai hukum karma di masa lalu. Dia yakin begitu banyaknya doanya di masa lalu sehingga hidupnya tidak akan tenang sampai kapanpun.
Vivian berjalan dengan mata memerah. Entah kenapa air matanya selalu mengalir.
"Aku tidak pantas menangis, ini memang kesalahanku di masa lalu, ini memang karma yang aku terima." ucapnya mencoba menguatkan hatinya.
Vivian berjalan menuju mobilnya dan mencoba menghubungi Reno. Untungnya lelaki itu memberi tau dirinya di mana mamanya di rawat.
Vivian mengendarai mobilnya menuju rumah sakit di mana mamanya di rawat. Saat telah sampai di sana, papanya nampak begitu marah melihatnya.
"buat apa kamu ke sini?" tanya pak Thamrin begitu emosi.
"om sabar, ingat ini rumah sakit." tegur Reno.
"Jika saya tau bahwa dia seperti itu memalukan, mending saya berdoa tidak usah di temukan dengan dia, hanya pembawa aib, mencoreng nama baik keluarga besar kita." ucap papanya begitu emosi.
"Om tahan emosinya, nanti om sakit."
"mohon maaf, nona Vivian yang mana, ibu telah sadar dan ingin bertemu dengan nona Vivian dan keponakannya Reno." ujar suster yang baru saja keluar dari kamar inap.
Pak Thamrin tidak mengerti kenapa sang istri lebih memilih bertemu dengan anaknya yang tidak tau malu itu. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.
__ADS_1
Sedangkan Reno dan Vivian berjalan masuk ke dalam kamar inap. Mereka tidak tau kemana Ros memanggil mereka. Taukah pembaca kenapa Bu Ros memanggil mereka?" apakah pak Thamrin mengusir Vivian atau tetap mengakuinya sebagai anak?
Yuk baca terus kelanjutannya. Jangan berhenti sampai di sini ya. Salam sukses untuk semua pembaca setia author.