
Rudi sangat kaget ketika Indri datang ke rumahnya sambil menangis. Ia dan sang istri mencoba mencari tau apa yang terjadi dengan wanita anak kesayangan sahabatnya itu.Namun mereka tidak kunjung mendapatkan apa penyebab wanita itu menangis.
Vania yang baru saja datang tidak begitu kaget dengan tangis wanita itu. Karena sudah biasa ia mendapatkan wanita itu akting menangis di depan orang tuanya untuk mendapatkan perhatian mereka. Vania sudah tau air mata buaya wanita itu pasti ada sangkut pautnya dengan kakaknya Wandi.
"Ayo cerita sama kami, apa yang terjadi dengan kamu Indri?" tanya mamanya Vania.
"Iya ceritakan sama kamu, agar kami bisa Carikan solusinya." ucap Rudi.
"Om bohong sama Indri." jawab wanita itu masih menangis.
"Bohong kenapa? Om bohong soal apa?" tanya Rudi semakin bingung dengan wanita itu.
"Katanya Wandi di jodohkan dengan saya tapi kenapa dia sudah menikah dengan wanita lain, om dan Tante mau menipu saya dan keluarga kan?" tanya Indri dengan emosi. Dia merasa di bohongi dan di bodohi sama keluarga itu.
"Wandi menikah? berita dari mana itu? Om belum pernah menikahkan Wandi, kan om udah sepakat dengan keluarga kamu untuk menikahkan kamu dan dia." jawab Wandi dengan sedikit bingung, karena dia tidak tau Indri dapat berita dari mana asal - usulnya.
"Iya, jangan di dengar berita burung yang nggak jelas asalnya." jawab istri Rudi.
"Ini Wandi dan wanita itu sendiri yang bicara om, Tante."
"apa?" tanya Rudi.
"Hahahaha baguslah kalau kak Wandi menikah dengan wanita pilihannya daripada sama ini." ucap Vania tertawa duduk di kursi yang tidak jauh dari mereka.
"Diam kamu Vania." tegur Mamanya.
Vania semakin ketawa ketika mendapat teguran dari mamanya. Dia melihat betapa shocnya mamanya ketika mendapat berita seperti itu.
"Aku nggak mau tau om, pokoknya bagaimanapun Wandi harus menikah dengan saya, jika tidak maka saya akan bilang kepada papa untuk membatalkan semua bisnis kita." ucap Indri mengancam Rudi.
"Ya elah, biarin aja pa, takut amat sama ancaman nenek lampir ini, masa papa mau jadikan dia mantu, belum apa - apa aja udah ngancam." ucap Vania lalu berlalu dari tempat duduknya.
Dia tidak mau mendengar teguran atau nasihat panjang dari mamanya yang jelas akan lebih membela wanita itu.
__ADS_1
Sedangkan mamanya hanya menatap anaknya. Dia sungguh ingin menjahit mulut Vania saat ini.
"Om akan cari tau tentang pernikahan ini, jika benar maka om akan tetap menyuruh Wandi untuk menikahi kamu dan meninggalkan wanita itu." ucap Rudi mencoba menenangkan Indri.
"Benar ya om."
"Iya,sekarang lebih baik kamu pulang, biar om cara tau lansung." ucap Rud.
Setelah Indri pergi dari rumahnya, Rudi lansung menelpon seseorang. Dia juga kuatir dengan berita yang di bawa oleh Indri.
"Gimana ini pa, apa benar Wandi udah menikah?" tanya istrinya.
"Papa juga nggak tau, ini papa baru hubungi seseorang untuk cari kebenarannya."
"Gimana kalau kita samperin aja pa, takutnya mama dia menikah dengan wanita pelacur yang ada di rumahnya itu."
Wajah Rudi lansung memerah mendengar ucapan istrinya. Dia sungguh tidak akan terima jika anaknya menikah dengan wanita seperti itu.
"Nanti malam kita akan ke sana." ucap Rudi lagi lalu pergi meninggalkan istrinya menuju ruang kerjanya.
Benar saja, malam harinya Rudi berserta istrinya datang bertamu ke rumah Wandi. Mereka hampir tidak pernah datang kerumah itu.
Vivian yang membuka pintu nampak kaget saat melihat kedua orang tuanya Wandi. Dia tidak tau kalau mereka akan berkunjung ke rumah mereka.
"Wandi mana?" tanya Rudi lansung menodong dengan pertanyaan ketika pintu baru saja di buka.
"Mas Wandi belum pulang dari kantor om." jawab Vivian agak takut.
"Kami mau kamu jujur aja, benar kamu dan Wandi telah menikah?" tanya istrinya Rudi dengan wajah tidak senang menatap Vivian.
Vivian ragu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dia sangat di lema karena takut Wandi marah kepadanya. Tapi jika ia ketahuan bohong, ia yakin papanya Wandi yang akan membencinya.
Vivian menganggukkan kepalanya dengan takut - takut. Melihat anggukan kepala Vivian membuat Rudi dan istrinya sangat marah. Nampak kedua wajah mereka memerah.
__ADS_1
"Kamu nggak tau diri ya, kamu nggak sadar betapa dalamnya jurang antara kamu dan dia, atau kamu memang sengaja menggoda dia agar kamu bisa hidup mewah agar kamu tidak perlu lagi mencari lelaki kaya untuk menghidupi gata mewah kamu." ucap mama tiri Wandi dengan perkataan yang sangat kasar.
"Saya tidak pernah berpikir seperti itu." jawab Vivian.
"Jika begitu tinggalkan anak saya, saya akan memberikan uang yang banyak kepada kamu." ucap Rudi dengan sombongnya.
Vivian memegang dadanya mendengar ucapan papanya Wandi. Dia tidak heran dengan sikap papanya kepadanya. Karena dia juga tau bahwa Wandi juga tidak akur dengan lelaki tua itu.
"Baiknya om dan Tante bicara sama mas Wandi saja, jika dia meninggalkan aku maka aku akan pergi." jawab Vivian.
"Dasar wanita tidak tau malu." ucap Rudi.
Rudi menelpon seseorang tanpa peduli Vivian ada di sana. Vivian nampak cemas karena takutnya lelaki paruh baya itu melakukan sesuatu kepada Wandi atau ibunya.
"Ada apa ini?" tanya Wandi sangat kaget ketika melihat papanya dan ibu tirinya datang berkunjung ke rumahnya.
Wandi nampak tidak suka melihat mereka yang telah duduk di ruang tamu seperti sedang mengeksekusi Vivian. Dia paham betul apa yang membawa keduanya ke sini.
"Rupanya berita itu sudah sampai." ucapnya dalam hati.
"Wandi kamu ini anak yang tidak tau di untung, udah di Carikan wanita yang baik bibit bobotnya, wanita terpandang tapi malah menikah dengan wanita ini." ucap mama tirinya.
"Ini hidup saya, Tante tidak perlu mengurus hidup saya." jawab Wandi dengan gaya tidak suka di atur oleh wanita itu. Wanita yang ia benci seumur hidupnya karena telah merusak kebahagiaan keluarganya. Dan wanita itu juga yang dulunya meneror ibu nya serta menyakiti ibunya yang tidak berdaya.
"Lihat pa anak kamu." ucap wanita itu mengadu kepada Rudi.
"Wandi kamu jangan kurang ajar sama mama kamu, dia sudah baik memikirkan masa depan kamu, tapi kamu kenapa malah bicara seperti ini kepadanya." tegur Rudi.
"Dan apa ini, kamu malah memilih menikah dengan wanita pelacur, wanita yang sudah di tiduri banyak lelaki." ucap Rudi lagi.
Perkataan Rudi membuat Vivian menundukkan dirinya. Lelaki itu terus menyerangnya menggunakan masa lalunya yang buruk.
"Apa aku tidak ada waktu memperbaiki diri?" tanyanya dalam hati.
__ADS_1