Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai

Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai
Bab 9


__ADS_3

Vivian sedang duduk melamun di teras rumahnya. Saat ini yang ada di benaknya adalah bagaimana mencari pekerjaan secepatnya.


Sudah dua minggu dia berada di tempat kedua orang tuanya. Yah dia mendapatkan dimana kedua orang tuanya tinggal. Vivian akhirnya memutuskan untuk ikut mereka tinggal di sana.


Di sebuah kota kecil yang tidak jauh dari Jakarta. dia juga tidak menyangka bahwa kedua orang tuanya bersembunyi tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya yang lama.


Setelah memutuskan hubungan dengan Beni, lelaki itu memang selalu mengincar Vivian dan kedua orang tuanya.


Teror yang begitu banyak di dapatkan oleh kedua orang tuanya membuat mereka lebih memilih pergi bersembunyi untuk hidup yang aman.


Setelah hampir dua tahun, barulah mereka mengabarkan Vivian di mana keberadaannya. Dan tepat saat itu, Vivian butuh tempat untuk menenangkan dirinya saat ini.


"Aku mau kerja di mana ya? dan mau kerja apa?" gumamnya masih bingung.


Sedangkan kedua orang tuanya hanya membuat warung kelontong kecil - kecilan sisa usaha mereka sebelumnya.


Ayah dan ibunya bingung melihat anaknya yang sejak tadi melamun. Mereka tidak tau apa yang membuat anaknya melamun seperti itu.


"Kamu ada masalah?" tanya Ayahnya kepada Vivian.


"Nggak ada yah, aku hanya ingin memikirkan mau kerja apa." jawab Vivian sambil tersenyum.


"Kamu bantu - bantu ayah dan ibu aja di warung, menurut ayah kita masih bisa hidup dari warung ini walaupun secukupnya." ujar sang ayah.


Entah kenapa sang ayah sangat tidak ingin Vivian kembali bekerja di perusahaan besar. Apalagi tragedi di masa lalu terjadi lagi di hidup mereka.


"Tapi bagaimana dengan ibu yah? Ibu pasti tidak akan setuju aku membantu kalian di warung." ucap Vivian.


Vivian sangat tau karakter ibunya yang haus dengan kekayaan. Bahkan dua Minggu dia tinggal bersama, dia selalu mendengar ocehan ibunya yang selalu mengeluh hidup mereka seperti ini.


"Nggak usah kamu pikirkan ibu kamu itu,biarkan saja ibumu mengomel, nanti reda sendiri." ayahnya mencoba untuk mencari solusi atas anaknya.


Vivian tidak ingin keberadaan dirinya membuat sang ayah dan ibunya bertengkar terus menerus. Dia memutuskan akan tetap mencari pekerjaan atau membuka usaha kecil-kecilan.

__ADS_1


"Yah, bagaimana jika aku buka usaha salon aja, aku kan mengerti tentang kecantikan." ucapnya tiba-tiba terlintas seperti itu.


Namun tiba-tiba senyumannya hilang mengingat bahwa dia Bahkan tidak memiliki yang yang cukup untuk membuka salon.


"Emang kalau buat salon kecil saja butuh biaya berapa? Nggak usah besar dahulu."


Vivian mencoba merinci apa saja yang akan dibutuhkannya.


"Paling dikit 10 juta yah, itupun cuma salon kecil aja." jawab Vivian.


Walaupun salon kecil namun ia tidak punya uang sebanyak itu saat ini. Dia benar-benar kehabisan tabungannya. Apalagi selama beberapa lama ini dia hanya bergantung hidup dari Wandi.


"Ayah sebenarnya masih punya tabungan segitu untuk jaga-jaga, dan soal ini ibumu nggak tau sama sekali, kamu bisa gunakan itu sebagai modal awal, bukalah di sini biar kita tidak terlalu jauh."


Vivian awalnya menolak ide ayahnya. Namun ayahnya memaksa uang itu di gunakan untuk usahanya sendiri.


"Baiklah ya, aku akan mencari lokasi yang strategis untuk usaha ini." ucap Vivian mencoba tersenyum kepada ayahnya.


Vivian akhirnya lansung mencari tempat yang cocok untuk usahanya. Dia susah memikirkan dengan matang bahwa usahanya akan di bangun tidak terlalu dekat dengan usaha orang tuanya.


"Makanya kamu cari lelaki kaya raya, jangan hanya mau jadi simpanan saja." begitulah kira-kira ucapan yang sering di lontarkan oleh ibunya.


"Akhirnya ketemu juga tempat yang pas untuk memulai usaha ini." ucapnya dengan senang bersiap untuk menyulap tempat tersebut menjadi yang lebih bagus.


"Sepertinya aku juga butuh spanduk agar orang-orang bisa tau."


Vivian mengeluarkan ponselnya untuk mencari seseorang yang mencetak sebuah spanduk. Tapi tiba - tiba tangannya memencet sebuah postingan yang ada di media sosialnya.


"Maaf El dan Arum, aku tidak bisa datang ke pernikahan kalian saat ini, doaku selalu menyertai kalian." ucapnya dengan nada agak sedih.


Awalnya ia berpikir akan menjadi Bridesmaids di acara pernikahan mereka. Namun faktanya dia malah tidak bisa menghadiri pesta tersebut karena situasi dan kondisi seperti ini.


Berbekal dengan ilmu pengetahuannya tentang kecantikan, membuat ia dengan mudah mendapatkan pelanggan.

__ADS_1


Walaupun belum banyak yang datang ke salonnya, namun dia bersyukur setidaknya masih ada beberapa orang yang datang ke salonnya. Baik itu Potong rambut atau spa atau yang lainnya.


"Alhamdulillah setidaknya hari ada 5 pelanggan yang potong rambut dan satu yang smoothing." ucapnya penuh dengan syukur.


Namun tadinya ketika ada salah satu pelanggan memberikan satu gagasannya.


Dia melihat baju yang di gunakan Vivian sungguh indah dan menarik. Pelanggan menyuruh Vivian menjual baju yang sesuai dengan badan pelanggan, sehingga aka menghasilkan uang tambahan.


Vivian sangat senang dengan ide tersebut. Untuk yang itu ia ingin memulainya dengan Kecik - kecilan.


Sementara di tempat lain El dan Arum sedang mengadakan pesta pernikahan mereka.


Antrian panjang para tamu nampak bergantian untuk menyalami sang pengantin. Pengantin nampak sangat cantik dan tampan sekali.


Pernikahan ini di adakan di hotel ternama. Tampak tamu yang hadir adalah pengusaha kaya raya dan beberapa artis entertainment.


Dengan kekayaan El yang semakin meningkat membuat banyak pengusaha yang datang. Termasuk Pak Gito dan anaknya Geby. Mereka memberikan selamat kepada sang pengantin.


Walaupun pak Gito agak kecewa karena El memilih wanita lain daripada anaknya. Namun dia tetap datang bersama Geby. Dia bisa saja menarik modalnya kepada El, namun Geby melarangnya berbuat seperti itu.


"Selamat ya El, semoga bahagia selalu." ucap Geby.


"Doa yang sama, semoga kamu juga menemukan jodoh yang pas." jawab El.


Di sana El juga melihat kedatangan Alby dan mamanya Nirma. Walaupun Nirma masih begitu tidak suka dengan Arum karena kesalahpahaman di masa lalu, namun dia masih menghormati El sebagai pengusaha baru yang sedang berkembang.


Di sana juga Nirma bertemu dengan Rio setelah lama berpisah. Dia tidak menyangka akan bertemu Rio setelah lama berpisah.


"Rio." panggil Nirma.


Nirma tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Sampai saat ini dia masih tidak bisa melupakan Rio. Lelaki itu begitu melekat di hatinya.


Rio yang tadi tengah berbincang dengan Rendi juga terkejut. Lama dia terdiam saat melihat Nirma. Namun dia berusaha kembali bersikap biasa saja.

__ADS_1


"Eh ada Bu Nirma juga di sini, apa kabar Bu?" tanya Rio dengan formal.


Nirma merasa kecewa karena Rio bertanya seperti itu. Sedangkan Alby hanya dia menyaksikan keduanya dari jauh. Karena saat ini dia tengah bersama teman - temannya.


__ADS_2