
Wandi mencari wanita yang telah bekerja sama dengan papanya. Dia menjadi tau siapa dalang di balik semuanya. Termasuk kecelakaan yang menghilangkan nyawa anaknya.
"Indri keluar kamu." teriak Wandi ketika sampai di depan rumah wanita itu.
Para security mencoba menghadang Wandi karena di anggap membahayakan tuannya.
"Biarkan saya masuk, saya harus bicara dengan Indri." ucap Wandi dengan emosi.
Indri nampak ketakutan karena dia sudah tau tujuan lelaki itu mencarinya. Saat ini dia di rumah hanya sendiri. Untuk itu dia meminta tolong kepada satpam untuk menahan lelaki itu.
"Mati aku, kenapa dia bisa tau, padahal semua sudah aku susun dengan rapi." gumamnya sambil mengintip dari jendela kaca lantai kamarnya.
Indri mencoba menghubungi papanya agar cepat pulang. Dia yakin papanya bisa menyelesaikan semua dengan baik.
Di tempat lain, dua orang sedang di mabuk asmara. Dia begitu geram mendengar ponselnya berbunyi.
"Siapa sih, ganggu saja." ucapnya kesal karena merasa mengganggu kegiatan panasnya.
"Biarin aja sayang, paling dari kantor." jawab seorang wanita yang juga sedang terbuai dalam gejolak asmara.
Tiba-tiba pintu ruang kerjanya juga ada yang mengetuk. Pak Dirman semakin geram karena ada saja yang menggangu kesenangannya siang ini.
"Kemana sih sekretaris kamu? Kok bisa ada yang mengetuk pintu ruangan kamu." Wanita itu juga nampak geram.
Mereka tidak mempedulikan suara ketukan pintu. Namun tidak lama kemudian, pintu terbuka dengan di dobrak.
Pak Dirman kaget karena di balik pintu ada istrinya dengan beberapa orang lelaki. Dia segera memungut pakaiannya yang sudah terletak di lantai.
"Wow hebat, jadi ini wanita yang kemaren ketauan, sekarang mengulang lagi dengan suami orang, sepertinya mau di viralkan." ucap istri Dirman sambil tersenyum dan memvideokan mereka.
Pak Dirman masuk segera memakai celananya. Sedangkan wanita itu tidak bisa menggunakan bajunya karena di tahan oleh sang istri.
"Jadi ini yang kamu lakukan di belakangku Mayang? Apa kamu kekurangan uang makanya mendekati suami saya untuk memerasnya." ucap wanita itu sambil memvideokan dengan ponselnya.
"Hati - hati gaes dengan wanita seperti ini, dia pelakor yang siap memeras duit suami anda, tolong jaga suaminya dari wanita seperti ini." ucap istri Dirman.
Mayang mencoba menutupi tubuhnya dengan tangannya. Namun percuma karena tangannya tidak bisa menutupi semuanya.
__ADS_1
"Kenapa harus di tutupi? Bukannya memang ini yang kamu gunakan untuk merayu suami orang."
"Sudah hentikan Yuna, kamu jangan membuat malu." bentak Dirman begitu malu di permalukan seperti ini oleh sang istri.
"Saya mempermalukan? Bukannya kamu yang mempermalukan diri kamu sendiri." ucap Yuna tidak mau kalah.
Dirman lansung membanting ponsel sang istri. Orang bayaran Yuna berjalan mendekat. Namun langkah kakinya terhenti.
"Berani kalian ikut campur, saya habisi keluarga kalian yang ada di rumah." ancam Dirman memegang ponsel miliknya.
Mereka ketakutan karena tau betapa kejamnya Dirman. Mereka tidak ingin keluarga dan nyawa mereka sendiri terancam. Dirman bisa aja melakukan melalui anak buahnya.
"Hei kenapa kalian takut? Kalian sudah saya bayar." ucap Naya dengan marah.
"Pulanglah, sayang nyawa kalian, nanti saya akan berikan 3 kali lipat dari yang dia berikan." ucap Dirman lagi membuat mereka menjadi lebih yakin untuk mundur.
Yuna begitu kesal karena saat ini tinggal dia sendiri. Jika begini maka dia yakin, dia yang akan menjadi bulanan suaminya.
"Sekarang lebih baik kamu pulang, atau kamu mau liat kami." ucap Dirman membuat Yuna menggelengkan kepalanya.
"Sayang apa nggak apa-apa jika istri kamu sudah mengetahuinya? Nggak apa-apa dia di sini melihat kita?" tanya Mayang mulai bersuara mengejek Yuna.
"Biarin aja dia menonton kita, toh biar dia belajar bagaimana cara memuaskan suami." ujar Dirman kembali memeluk Mayang.
"Kalian sudah gila, sejak kapan kalian berhubungan." teriak Yuna merasa sakit hati karena harga dirinya di injak-injak oleh suami dan wanita itu.
"Kamu mau tau?" tanya Mayang berjalan mendekati wanita itu.
"Kami berhubungan sudah lama, bahkan sebelum perjodohan anak kita, kami sengaja mengatur perjodohan ini agar keluarga kita lebih dekat, khususnya aku dan suami kamu." jawab Mayang tertawa melihat air mata Yuna.
Telpon Dirman kembali berdering. Dia melihat yang memanggil tertera anaknya.
"ya hallo ndri, ada apa?"
"Pa cepat pulang,ini Wandi datang ke rumah mengancam aku." adu anak satu - satunya.
"Baik,papa akan pulang secepatnya."
__ADS_1
Mayang agak kecewa karena lelaki itu mau pulang. sementara dia belum mendapatkan apa-apa dari lelaki itu.
"Mas kok pergi? kita belum selesai." rengek Mayang membuat Yuna geli sendiri.
"Kita bisa lanjut nanti malam sayang, kan kita nggak perlu sembunyi - sembunyi lagi."jawab Pak Dirman.
Sebelum meninggalkan ruangannya, Dirman mengeluarkan segepok uang. Dia tau bahwa wanita itu menginginkan uang.
"Pergilah berbelanja sepuasnya kamu."
"Makasih mas." ucap Mayang sambil tersenyum senang.
Dirman keluar dan di ikuti oleh Yuna. Walaupun hatinya begitu sakit namun dia begitu mengkuatirkan anaknya di rumah.
Mereka telah sampai di rumah. Mereka melihat Wandi yang sempat di hadang oleh sekuriti.
"Ada apa ini Wandi? Kenapa kamu membuat onar di sini?" tanya Diman kepada lelaki itu.
"Saya ingin membuat perhitungan dengan anak om yang pandai - pandainya mengarang soal perceraian saya." jawab Wandi.
"Ohw itu." jawab Dirman membuat Wandi semakin geram mendengar jawaban Dirman.
"Cuma begitu jawaban om? Bagaimana om mendidik anak om?"
"Kenapa kamu marah sama saya? Jika kamu mau marah, marah sama papa kamu, itu semua yang melakukan Indri dan papa kamu, bukannya kamu memang juga ingin bercerai dengan wanita itu?" tanya Dirman tersenyum.
"Tapi bukan berarti kalian bisa ikut campur urusan saya."
"Kalau begini siapa yang mau di salahkan? Jika kamu mau kembali kan tinggal rujuk, kenapa harus marah - marah sih." ucap Dirman menertawakan Wandi.
Wandi terdiam mendengar ejekan Dirman. Apa yang di ucapkan lelaki itu ada benarnya. Akan tetapi dia tidak akan bisa kembali dengan Vivian karena sudah berjanji akan menikah dengan Geby.
"Sudahlah pulang sana, nggak usah sok menjadi korban di sini, toh Indri juga korban kamu, harusnya kamu berterima kasih kepada Indri karena bisa membuat kamu berpisah dari wanita itu." ucap Dirman mengejek lagi.
"Atau kamu ingin kembali ke dia karena tau dia anak orang paling kaya, kekayaannya mengalahkan kekayaan pak Gito calon istri kamu." kali ini bukan sekedar mengejek tapi sudah menjatuhkan harga dirinya.
Wandi akhirnya berbalik meninggalkan rumah itu. Ternyata dengan marah - marah datang ke rumah itu tidak berguna sama sekali.
__ADS_1