Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai

Apakah Aku Tidak Layak Untuk Di Cintai
Bab 6


__ADS_3

Wandi lansung kesal saat melihat Vivian sedang makan siang dengan Alby. Saking kesalnya dia sampai tidak berselera untuk menghabiskan makanan yang ada di mejanya.


Sedangkan Alby begitu senang bisa makan siang bersama Vivian. Sejak dulu dia sudah sangat menyukai wanita itu. Baginya Vivian adalah wanita idamannya setelah Arum.


"Besok Arum akan menikah, kamu hadirkan?" tanya Alby kepada Vivian.


"Iya, aku nggak enak kalau nggak hadir, mereka terlalu baik sama aku." jawab Vivian.


"Kamu udah bisa mengikhlaskan Arum?" tanya Vivian lagi kepada Alby.


Alby tersenyum mendengar pertanyaan Vivian. Hampir selama dua tahun ini dia mengejar wanita di depannya. Namun wanita itu malah bertanya seperti itu.


"Bagiku saat ini kamu segalanya, Arum udah masa lalu dan hanya teman kuliah." jawab Alby menghentikan aktivitas Vivian yang sedang mengunyah makanannya.


Rasanya mendengar ucapan lelaki itu membuat tenggorokannya sakit saat menelan apa yang ada di mulutnya saat ini.


"Kamu jangan terlalu banyak berharap kepada saya, banyak wanita muda yang pantas untuk kamu." ucap Vivian lalu meneguk air putih dengan cepat.


"Siapa yang pantas untuk aku?"


"Ada teman wanita kamu Gea, sepertinya dia sangat menyukai kamu." ucap Vivian bukan tanpa alasan karena ia sering mendapati wanita itu sedang menatap lelaki itu dengan tatapan cinta.


"Tapi masalahnya aku tidak mencintai dia nona, aku cintanya sama kamu nona." jawab Alby menjelaskan kepada wanita yang duduk di depannya.


Vivian terharu dengan cinta lelaki itu. Tapi dia tidak mau terlalu berharap banyak karena dia tau setelah lelaki itu tau masa lalunya maka akan meninggalkannya.


"Trus kenapa kamu selalu bilang bahwa kamu tidak pantas bersama aku? tolong berikan alasan yang jelas."


"Aku tidak bisa menjelaskan kepada kamu." jawab Vivian mulai malas dengan topik seperti ini.


"Apa karena status sosial kita yang berbeda?" tanya Alby lagi yang tidak puas karena wanita itu tidak menjelaskan kepadanya secara langsung.


"Sampai kapanpun aku tidak akan bisa menjelaskan kepadamu, tolong jangan ungkit ini lagi, kalau tidak kita tidak perlu bertemu lagi." ucap Vivian berdiri dari tempat duduknya.


Vivian berjalan meninggalkan Alby sendirian karena betapa kesalnya dirinya saat ini.


"Soal dia marah." ucap Alby akhirnya mengejar wanita itu.


"Dia sudah mulai dekat dan aku tidak akan membiarkan dia jauh lagi." gumamnya sambil mengejar Vivian.


Wandi melihat Alby yang mengejar Vivian.Dia penasaran apa yang membuat wanita itu begitu kesal.

__ADS_1


Wandi pun akhirnya mengikuti mereka diam - diam. Dia begitu penasaran apa yang terjadi dengan mereka.


Wandi mencoba mengedarkan pandangannya mencari mereka. Namun ia tidak menemukan mereka.


"Ah mungkin mereka sudah pergi." ucapnya akhirnya melangkah kaki menuju mobilnya.


Wandi melajukan mobilnya ingin keluar dari restoran tersebut. Namun tiba - tiba dia melihat Alby sedang memeluk Vivian. Dia merasa kesal melihat wanita itu hanya diam di peluk oleh lelaki itu.


"Ternyata inilah aslinya, memang susah merubah tabiat orang." ucap Wandi memukul kemudi mobilnya.


Entah kenapa lelaki itu malah berhenti menyaksikan mereka. Tiba-tiba Wandi semakin geram karena nampak Vivian mendekatkan kepalanya ke arah Alby.


"Gila memang itu perempuan, masa di tempat umum seperti ini dia mau mencium lelaki." ucapnya akhirnya begitu emosi.


Wandi yang emosi lansung tancap gas meninggalkan lokasi. Dia membawa mobil dengan kecepatan tinggi.


Diapun akhirnya memilih untuk kembali ke kantor karena sudah mendapat berita dari sekretaris bahwa Indri sudah pulang ketika tau Wandi sudah tidak di kantor lagi.


"Maaf ya merepotkan, nggak tau tadi apa yang masuk ke mata." ucap Alby setelah merasa matanya sudah baikan.


Vivian hanya menganggukkan kepalanya karena ia melihat mata lelaki itu begitu merah saat ini.


"Ya udah yuk antarkan aku, nanti aku bisa terlambat." ucap Vivian.


"Ya udah, ayok aku antar kamu." ucap Alby.


Mereka berjalan menuju mobil Alby. Dan alby pun mengantarkan Vivian sampai di depan kantornya.


" Terima kasih atas traktirannya, semoga lancar selalu rezekinya." ucap Vivian sebelum keluar dari mobil.


"Ya aku tunggu traktiran gaji pertama." jawab Alby.


"Baiklah nanti aku traktir makan gorengan di pinggir jalan." ucap Vivian membuat Alby mengerutkan keningnya.


"Kenapa jadi gorengan?"


"Bagi kamu makan di restoran mewah tidak ada artinya, tapi bagi aku itu yang begitu besar, jadi sanggupnya aku ya makan gorengan, kalau nggak mau ya sudah." jawab Vivian sambil tersenyum.


"Kan masih banyak makanan yang murah - murah gitu."


"Ya udah, makan di pinggir jalan ya." ucap Vivian tidak serius.

__ADS_1


Sebenarnya wanita itu hanya bercanda saja. Namun nampak lelaki itu mengambil hati.


"Ya sudah ah, aku mau masuk dulu."


Akhirnya Vivian keluar dari mobil Alby. Setelah Vivian masuk, diapun tancap gas menuju kantornya.


Siang telah berganti dengan malam. Waktu begitu cepat berputar. Wandi masih duduk di ruangannya. Sampai saat ini dia malas untuk pulang ke rumahnya.


"Apa aku pulangnya agak malam atau tidur di sini aja?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.


Sedangkan Vivian nampak sedang duduk di ruang tamu. Dia sebenarnya sambil menunggu Wandi pulang. Entah kenapa saat ini dia ingin bicara dengan lelaki itu.


Namun sudah larut malam begitu tapi tidak ada tanda-tanda lelaki itu pulang.


"Kemana dia? Apa dia keluar kota?" tanya Vivian bertanya pada diri sendiri.


Vivian akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya. Dia berpikir masih punya waktu untuk mengajak bicara besok pagi.


Vivian telah Menganti baju tidurnya dengan piyama yang tipis dan pendek. Dia memang suka memakai baju tipis dan seksi karena nyaman di pakai saat tidur. Namun itu hanya berlaku di dalam kamar saja. Saat keluar dari kamar dia akan memakai baju yang sopan karena ia cukup tau diri tinggal bersama seorang lelaki.


Baru saja terpejam matanya tiba-tiba dia mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dia tau bahwa itu adalah salah satu pelayan di rumah ini.


"Ada apa bi?" tanya Vivian saat membuka pintu dan tidak sempat mengganti bajunya saat itu.


"Tuan sepertinya mabuk nona, tolong dia ada di bawah."


Karena panik akhirnya Vivian berjalan menuju lantai satu. Dia melihat ada seorang wanita yang juga duduk di sebelah Wandi. Wanita itu sepertinya sama mabuk dengan Wandi saat ini.


"Biar saya bantu bawa Wandi ke kamarnya, dan terima kasih telah mengantarkan pulang." ucap Vivian kepada wanita berjibaku seksi tersebut.


"Aku ikut mengantarkannya karena aku calon istrinya, jadi nggak masalah aku masuk ke kamarnya, lagian kamu ini siapa?" tanya wanita itu dengan ngegas.


"Udah kamu pulang aja, biarkan aku sendiri." ucap Wandi yang memang masih sadar apa yang terjadi.


Setelah pengusiran dari Wandi, akhirnya Indri pun terpaksa pulang karena terpaksa. Dia takut yang terjadi yang tidak-tidak saat Wandi mabuk seperti itu.


Vivian membantu Wandi saat membopong menuju kamar. Walaupun agak berat namun dia berusaha semaksimal mungkin.


"Tidurlah, nanti aku akan buatkan bubur agar perut mu aman." ucap Vivian.


Wandi menatap wanita itu dengan tatapan penuh arti. Dia tersenyum mengejek saat melihat baju apa yang di gunakan Vivian saat ini.

__ADS_1


"Jadi malam ini kamu mencoba menggoda aku?"


__ADS_2